Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 98


__ADS_3

Kini Rima berdiri di hadapan semua keluarga, tapi Erwin menggiring Rima untuk duduk di sebelahnya sesuai interuksi dari Gian.


Dengan terpaksa akhirnya Rima duduk bersama mereka, ya, memang butuh waktu untuk Rima menyesuaikan diri, yang dari awalnya hanya sebagai babysitter sekarang statusnya menjadi Nyonya.


Dan statusnya lebih tinggi dari Akira, karena ia sekarang telah menjadi kakak ipar bagai Akira.


Tapi itu tidak menjadikan Akira iri kepadanya, dan tidak menjadikan Rima sombong atau besar kepada.


Justru Rima merasa minder dengan statusnya barunya, karena status baru itu ia dapatkan tidak dengan tulus. Dengan pernikahan yg di paksakan, meskipun dalam hatinya Rima benar mencintai Erwin, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.


Rima juga sadar diri atas cintanya, maka dari itu Rima tidak berharap Erwin akan membalas cintanya, karena itu juga Rima tidak berniat berjuang mendapatkan cinta Erwin, Rima tidak ingin mengejar atau mengemis cint dari Erwin.


Biarlah semua berjalan dengan sendirinya, seperti Akira dengan Gian, cinta tumbuh dengan sendirinya.


Jika berjodoh tuhan akan menyatukan mereka, seperti Akira juga meskipun Akira berusaha untuk pergi tapi tuhan tetap membuat Akira bertahan bersama Gian dengan hadirnya buah hati di antara mereka.


Rima juga pasrah dan sadar diri, ia tidak mau memaksakan perasaan Erwin untuk mencintainya, yang malah akan menggiring opini buruk tentangnya. Rima tidak ingin orang beranggapan dirinya memanfaatkan keadaan. Karena ingin menjadi nyonya di sana.


Saat duduk dengan mereka semua Rima benar-benar merasa tegang, ia terlihat sangat gugup, tapi Rima berusaha bersikap setenang mungkin.


"Rima, sekarang kamu bukan lagi babysitter Sisil, sekarang kamu adalah ibunya Sisil, jadi kebiasaanmu sebagai babysitter harus dihilangkan!" Mama Nirmala mulai berbicara.


"Kamu tidak usah merasa sungkan lagi kepada saya, dan yang lainnya, karena kami sekarang bukan majikanmu, tapi kami ini keluargamu." 


"Saya berharap kamu bisa menyesuaikan dirimu dengan status barumu, saya juga berharap pernikahan kalian langgeng selamanya." Doa dan harapan mama Nirmala.


"Maaf Nyonya ~ " ucapan Rima terpotong, karena Mama Nirmala menghentikannya, dengan mengangkat satu tangannya dengan gerakan menyetop. Seketika Rima berhenti berkata-kata.


"Sekarang jangan panggil saya nyonya lagi, panggilan saya Mama, seperti yang lain." perintah mama Nirmala


"Tapi ~" Rima sungkan untuk memanggil Mama Nirmala dengan sebutan Mama.


"Tidak ada penawaran lagi Rima, jika kamu tidak mau memanggil saya dengan sebutan Mama , berarti kamu tidak menghargai saya sebagai Mama metuamu." Mama Nirmala memaksa Rima.


"Ba- baik, ma- Mama …." Rima ragu-ragu mengucapkannya, ia sampai terbata karena sungkan.


Tapi Mama Nirmala tersenyum mendengarnya, ia memaklumi jika Rima sungkan kepadanya.


"Nanti juga terbiasa mbak Rima." Akira tetap menyebut Rima dengan sebutan Mbak meskipun usia mereka hampir sama karena status Rima memang kakak iparnya.


Rima hanya tersenyum kaku, membalas ucapan Akira.


"Sekarang kamarmu di kamar, Erwin."


"Ma-maaf, ma-mah, pernikahan saya dan tuan Erwin bukan pernikahan sungguhan." Rima ingin menerangkan.


Tapi ucapan Rima membuat semua orang bingung terutama Mama Nirmala dan Papa Arga.


"Apa maksudmu Rima?" Mama Nirmala meminta penjelasan.


"Ya, pernikahan kami hanya sebatas di atas kertas, hanya untuk membebaskan saya dari pernikahan yang telah di atur oleh kedua orang tua saya, Agar tuan Erwin bisa dengan leluasa membawa saya dan tetap menjadikan babysitter Sisil, tidak lebih dari itu, Nyonya." terang Rima, yang mengerti semuanya.


Erwin memandang Gian, dan menyangka Gian telah memberi tau Rima semuanya .


"Tidak Rima, itu tidak benar, pernikahanmu sah di mata hukum dan agama, karena kami akan segera mengirimkan semua berkas-berkas untuk melengkapi data administrasinya nanti, dan pernikahan kalian sudah tercatat di KUA"  Gian menjelaskan sekaligus menyangkal tuduhan Erwin.

__ADS_1


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu Rima?" Kali ini Papa Arga yang bertanya, karena ia merasa tidak setuju dengan pemikiran Rima seperti itu mempermainkan pernikahan.


"Itu yang bisa saya tangkap dari pemikiran tuan Erwin, atas sikapnya kepada saya." jawab Rima seakan bisa menebak isi pikiran orang lain.


"Wah, hebat sekali kamu Rima bisa membaca pikiran orang lain , apa kamu punya indera ke enam, atau kamu punya mata batin, sehingga kamu dapat membaca isi hati orang lain?" Erwin yang bicara, seakan mengolok Rima.


Dengan Erwin bersikap seperti itu, jadi terlihat jelas jika dirinya memang tidak menyukai Rima dan dengan begitu tentu saja Erwin tidak menghendaki pernikahannya.


Itu artinya apa yang dikatakan oleh Rima tentang penilaiannya terhadap Erwin benar.


"Saya tidak perlu menjelaskan, anda semua bisa melihat dan menilai dari sikap tuan Erwin kepada saya seperti apa, semu tentunya tau jawabannya." tegas Rima, membuat semua orang tercengang dengan jawaban Rima.


"Wah, ternyata dia tidak sebodoh dan selemah yang kukira." Erwin membatin, ia baru melihat sisi lain dari Rima.


"Maaf semuanya, memang telah terjadi pernikahan antara saya dan tuan Erwin, tapi itu tidak merubah apapun, saya tetap babysitter Sisil, karena pernikahan kami tidak di dasari cinta dan tuan Erwin sendiri tidak menghendaki pernikahan ini, jadi jangan pernah berharap lebih dari pernikahan ini." 


Setelah itu hanya ada keheningan, karena Erwin sendiri tidak dapat berkata-kata lagi.


Rima menyudahi pembicaraan ia ingin pamit untuk beristirahat, karena ia merasa sangat lelah sekali.


 Saat Rima mengangkat bokongnya hendak bangkit dari duduknya, mama Nirmala menghentikannya.


"Rima … sebaiknya kita makan malam bersama dulu." 


"Maaf Nyonya, saya sangat lelah, saya ingin istirahat dulu mumpung Sisil sedang istirahat, takutnya Sisil rewal nanti otomatis saya akan menemaninya nanti." Rima menolak dan tetap bangkit dari tempat duduknya.


"Mbak Rima, tapi perutmu pasti lapar." Akira mengkhawatirkan Rima akan kelaparan.


Sambil tersenyum Rima menjawabnya, "Tenang saja nona, seperti biasa saya akan mencari makan sendiri jika saya lapar." Rima berucap jangan mengkhawatirkannya, seperti biasa Rima juga tidak pernah makan bersama mereka.


"Mbak Rima, tapi maksudku tidak seperti itu." Akira merasa tidak enak hati.


"Tenang saja, Nona, aku memang sudah biasa seperti ini." Rima tidak menganggap itu suatu masalah.


"Ya sudah permisi Tuan-tuan, dan Nyonya - Nona." Kemudian Rima berlalu pergi ke kamar Sisil.


Padahal hatinya sangat sakit bersikap setenang tadi untuk menutupi perasaannya.


Rima tersedu ketika di kamar Sisil, ia berusaha menahan tangisnya.


Tapi ternyata, Erwin mengikutinya dari belakang. Rima segera menghapus air matanya, lalu menarik nafas panjang.


Ia kembali berpura-pura baik saja, ketika terdengar ada seseorang membuka pintu, dan ternyata Erwinlah orangnya.


Saat Erwin masuk, Erwin melihat Rima sudah membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi, orang yang ada di ruangan itu.


Dan ternyata Erwin datang membawa sepiring nasi beserta lauk pauknya, tidak ketinggalan segelas minuman air putihnya.


Itu semua Erwin bawa untuk Rima makan, semua keluarga yang meminta Erwin untuk melakukannya, karena hati Erwin tetap dingin kepada Rima, karena tidak ada sedikitpun rasa suka di hati Erwin kepada Rima.


Ia malah beranggapan Rima lah yang telah mengatur semuanya, agar dirinya menikah Rima.


"Rima … aku bawakan nasi untukmu makan." ucap Erwin sambil meletakkan nasi itu di atas meja.


Tanpa berbalik Rima menjawab, "Tidak usah repot-repot, Tuan, kan sudah saya bilang nanti saya ambil sendiri jika saya memang merasa lapar." sahut Rima.

__ADS_1


"Tapi ini sudah saya bawakan." Ketus Erwin yang merasa tidak dihargai.


"Ya sudah terimakasih …." sahut Rima lagi, tapi tetap dalam posisinya, tidak berbalik sama sekali.


Rima sengaja seperti itu, karena Rima tidak ingin Erwin melihatnya menangis.


"Ya sudah, silahkan makan dan beristirahat." kemudian ucap Erwin lalu pergi begitu saja.


Rima sungguh kecewa atas sikap Erwin, tapi ia kembali mengintruksi dirinya, 


"Tenang Rima, kamu harus kuat, kamu harus sadar diri, kamu jangan pernah berharap dia akan balik mencintaimu, kamu memang tidak pantas untuknya." Rima bicara menguatkan dirinya sendiri.


Rima memilih untuk tidur karena ia memang sangat lelah, dan tidak menyentuh sama sekali nasi yang Erwin bawakan untuk dirinya.



Karena ini urusan hati tidak ada yang dapat memaksakannya, meskipun Papa dan Mamanya serta Gian dan juga Akira sudah memberikan pengertian kepadanya.


Tapi Sulit sekali bagi Erwin bersikap manis kepada Rima meskipun hanya bersandiwara.


Sebenarnya Erwin juga merasa bersalah kepada Rima, tapi entah mengapa perasaannya selalu kesal jika di hadapan Rima. Dan ia malah membandingkan Rima dengan almarhum istrinya yang sangat ia cintai dan terlihat sempurna.


Jelas tidak sebanding dengan Rima, orang yang tidak ia suka dan terlihat selalu salah di matanya.



Pagi hari sisil sudah terbangun dari tidurnya, ia terlihat lebih baik matanya sudah terbuka lebar tidak seperti kemarin, meskipun ia berusaha membuka matanya tapi tetap tidak bisa, walaupun terbuka hanya sedikit, ukuran lima watt jika di ibaratkan dengan pancaran lampu bohlam.


Akira juga sudah terbangun dan segera menghampiri Sisil di kamarnya, sedangkan Gian masih tidur nyenyak di kamarnya, maka dari itu Akira pergi meninggalkannya karena tidak ingin mengganggu suaminya .


Di saat bersama Erwin juga ikut masuk bersama Akira, Rima yang sedang membersihkan tubuh Sisil terkejut dengan kedatangan mereka berdua.


"Hay … selamat pagi cantiknya antue …!" sapa Akira.


Sisil tersenyum melihat antue dan Papinya.


"Selamat pagi, Antue, selamat pagi papi." Sisil membalas sapaan Akira.


"Pagi sayang."Erwin pun membalas sapaan Sisil.


Akira juga menyapa Rima, yang masih mengenakan baju tidurnya, sepertinya Rima belum membersihkan dirinya, ia lebih memilih untuk membersihkan Sisil terlebih dahulu.


"Sisil, Mbak tinggal dulu ya, Sisil di temani sama anteu dan Papi dulu ya." Rima ingin pamit untuk membersihkan dirinya.


"Tapi, Mbak gak bakal pergi jauh ninggalin Sisil kan, Mbak?" Sisil ketakutan.


" Nggak ko sayang, mbak cuma mau mandi dulu ya." Rima memberi tahu Sisil.


Akira juga ikut membujuk dan meyakinkan Sisil agar Sisil mau ditinggal sebentar oleh Rima.


Dan akhirnya Sisil mengerti dan mengiyakan atau mengizinkan Rima untuk pergi.


Padahal Rima, memang sengaja ingin menghindari Erwin, tanpa berkata apapun Rima pergi dari kamar itu.


Erwin melihat di atas meja nasi yang ia bawakan untuk Rima ternyata masih utuh.

__ADS_1


__ADS_2