Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 35


__ADS_3

Jangan pernah melihat ke belakang mengenang hari kemarin, tersenyumlah untuk masa depan, sambutlah hari esok membuka lembaran baru.


...🌹🌹🌹🌹...


Hari berganti hari Akira lalui dengan penampilan barunya, sesuai dengan arahan mama mertuanya.


Karena ia selalu mengingatkan Akira untuk mengenakan pakaian, makeup dan aksesoris yang sengaja ia belikan untuk Akira.


Karena tidak hanya memberikannya sebagai oleh-oleh, Sebab setelah itu mama Nirmala kembali membelikan barang-barang yang Akira butuhkan tapi sesuai keinginannya.


Dan meminta Akira untuk mengenakannya.


Awalnya, Akira memang terpaksa mengenakan semua itu, tapi hari demi hari Akira pun menjadi terbiasa dengan semua itu.


Ya, siasat mama Nirmala dan papa Arga memang berhasil, Gian begitu menyukai penampilan baru Akira.


Hari demi hari Perasaan yang Gian rasakan terasa nyata, ia begitu mencintai Akira dan menyayanginya.


Apa lagi saat Akira sedang bersama Sisil, bercanda tawa, penuh perhatian dan kasih sayang, Gian begitu mengagumi Akira.


Sikap Gian berubah drastis ketika ia menyadari perasaannya adalah perasaan kepada Akira adalah perasaan cinta.


Ia sering mengutarakan rasa penyesalannya kepada Akira atas sikap kasarnya selama ini kepada Akira.


Gian juga sering mengucapkan kata maaf meminta maaf atas segala kesalahannya.


Meskipun Akira tidak pernah menanggapinya.


Karena Akira selalu mencari cara untuk menghindari pembicaraan Gian yang mengarah ke arah sana.


Akira sudah mengikhlaskan apa yang terjadi pada dirinya.


Ia hanya ingin hidup tenang dan tidak ingin mengungkit yang sudah terjadi, tapi bukan berarti Akira mau menerima Gian.


Karena sikap Akira tetap dingin kepada Gian, ia bersikap baik hanya untuk menghargai kedua mertuanya dat di depan sisil.


Agar Sisil tidak merasa sedih, jika melihat hubungan Gian dan Akira tidak harmonis.


Hidup Akira penuh sandiwara, ia terpaksa melakukan sesuatu yang hatinya sendiri tidak ingin melakukannya.


Seperti harus tersenyum kepada Gian setiap waktu di depan orang rumah.


Ya di depan semua orang hubungan mereka terlihat lebih membaik.


Orang tua Akira pun kini sering berkunjung menemui Akira dan kadang Akira yang berkunjung ke menemui kedua orang tuanya.


Gian membebaskannya, tapi tidak untuk kembali bekerja, karena Akira pun sudah terlanjur menundukkan diri.

__ADS_1


Gian pun tidak ingin Akira berdekatan dengan pria lain apalagi dengan Riza.


Hari ini, harusnya mama Nirmala ingin Akira ke kantor Gian untuk mengantarkan makan siang untuk putranya


"Akira!" seru mama Nirmala memanggil Akira yang sedang membereskan kamar Sisil.


"Iya mah…!" sahut Akira lalu menghampiri mama mertuanya.


"Ada apa mah?" tanya Akira penasaran, mengapa dirinya dipanggil.


"Ini mama masak makan kesukaan Gian, rencananya Mama mau bawakan ke kantornya untuk Gian nanti makan siang, tapi sayang nya Mama di minta hadir di sekolah Sisil ada rapat wali murid dadakan, jadi mama gak bisa anterin makan ini kekantor Gian." Terang mama Nirmala.


"Mama bisa minta tolong?" Lanjut mama Nirmala.


"Minta tolong apa mah?" Tanya Akira memastikan.


"Kamu bisa bantu mama? Tolong antarkan makan siang ini ke kantor Gian!" permintaan mama Nirmala.


Akira menghela nafas panjang, lalu menghempaskan secara kasar.


Karena Akira sudah dapat menduganya, mama Nirmala pasti akan meminta hal itu kepadanya.


Tapi Akira mencoba untuk protes dan memberikan penawaran kepada mama Nirmala, untuk menghindari hal yang tidak ia inginkan yaitu datang ke kantor Gian menemui Gian.


"Mah…!" Seru Akira ragu.


"Bagaimana kalau aku yang datang ke sekolah Sisil, ikut rapat wali murid, biar mama saja yang antar makan siang buat kak Gian." Tawar Akira.


"Lah, kok gitu sih! Kamu gak mau nganterin makan siang untuk suami mu?" Tegas Mama Nirmala membuat akira salah tingkah, serba salah.


"Bukan begitu mah…" Akira bingung, karena tidak mungkin Nia menjawab ia, karena tidak enak hati.


"Lalu apa? Ya kalau kamu tidak mau tidak apa-apa, kamu boleh ke sekolah Sisil, tapi kamu anter makan untuk papa juga sebab papa juga ingin di kirim makan siang masak Mama." Mama Nirmala kembali menegaskan.


Mama Nirmala sengaja membuat Akira jadi tambah bingung dan serba salah.


Dan pada akhirnya Akira terpaksa memilih untuk mengantar makan siang untuk Gian, dari pada mengantar makan siang untuk papa mertuanya, ia malah akan tambah canggung.


"Ya sudah aku antar makan siang untuk kak Gian aja deh." Pilihan Akira.


Mama Nirmala tersenyum penuh kemenangan.


'Yes…! rencana ku berhasil.' mama Nirmala bicara dalam hati merasa menang.


"Oke…" jawab Mama Nirmala.


"Tapi aku ganti baju dulu ya mah." Akira pamit untuk bersiap.

__ADS_1


"Eeh tunggu!" Mama Nirmala menghentikan Akira.


"Ada apa lagi mah?" Akira 


Mama Nirmala menyuruh salah satu ART nya untuk menggantikan dirinya menyiapkan makan siang di kota bekal atau rantang untuk Akira bawa ke kantor Gian.


Mama Nirmala sendiri malah menggandeng Akira dan mengikuti Akira ke kamar Gian.


Akira makin bingung dengan sikap mama Nirmala seperti itu kepadanya.


Sesungguhnya Mama Nirmala ingin mendandani Akira, ia yang memilihkan pakaian dan aksesoris atau perhiasan yang mana yang harus Akira pakai.


Seperti biasa Akira hanya bisa pasrah dengan kelakuan mertuanya.


Setelah sesuai Akira segera pergi dengan diantar sopir pribadi mama Nirmala.


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan, akhirnya Akira sampai di kawasan perkantoran.


Tapi Akira tetap duduk anteng di dalam mobil padahal Mobil tersebut sudah berhenti.


"Nona Akira kita sudah sampai." sopir memberi tau Akira.


Padahal Akira sudah tau kalau mereka memang sudah sampai.


Tapi Akira malas sekali untuk turun dan menemui Gian.


Sikap baik Gian akhir-akhir ini yang suka senyum-senyum kepada Akira, membuat Akira makin takut dan merasa risih dengan sikap Gian yang seperti itu kepadanya.


Karena sekarang saat tidur Gian suka sekali memeluk Akira, tapi Akira selalu berusaha menjaga jarak dengannya dan selalu menghindari darinya.


"Nona..!" seru sopir lagi menegur Akira.


"O-oo iya pak saya tau." Sahut Akira, lalu mulai turun sambil menenteng paper bag yang berisi kotak makan siang untuk Gian.


'Andai saja papa Arga, dan serigala berbulu domba (Gian yang Akira maksud) satu kantor saat ini, mungkin aku gak usah repot-repot ke sini. tinggal di bawa aja sekalian sama Mama Nirmala,  makan siang untuk papa Arga dan si serigala berbulu domba.' Akira ngedumel sendiri.


Memang Gian dan papa Arga bekerja di tempat yang berbeda. Papa Arga sedang menangani masalah di kantor cabang, sedangkan Gian bekerja di kantor pusat.


Ini kali pertama Akira menginjak kaki di gedung itu, dimana Gian bekerja.


Akira melangkah dengan elegan, dengan penampilan yang berkelas.


Tapi akira bukan lah orang yang sombong.


Akira tersenyum kepada para karyawan yang sedang bekerja di sana.


"Anda siapa?" 

__ADS_1


__ADS_2