Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 9


__ADS_3

Gian telah mengambil keputusan untuk pulang ke rumahnya saat itu juga dan membawa Shkira bersamanya.


Padahal ibu dan ayahnya tidak rela Gian membawa Shakira, mereka sangat mengkhawatirkan keadaan putri bungsu mereka.


Tapi sebelum pergi Gian berbicara kepada kedua orang tua Shakira terlebih dahulu, "Ayah, ibu, jangan khawatir, aku tidak pernah main-main dengan pernikahan ku dengan Akira, sebagai suaminya aku akan bertanggung jawab kepadanya memenuhi kebutuhannya lahir batin aku berjanji." ucap Gian meyakinkan keduanya.


Dengan berat hati mereka merelakan kepergian Shakira.



Kini Gian dan Akira telah tiba di kediaman papa Arga.


Mereka di sambut dengan antusias, terutama mama Nirmala begitu senang dengan ke datangan menantunya.


"Hay sayang… akhirnya kalian datang juga, kami sudah menunggu dari tadi." ucap mama Nirmala sambil merentangkan kedua tangannya, memberi pelukan kepada anak dan menantunya.


Tapi mama Nirmala melihat wajah Akira begitu sendu, sembab dan pucat.


"Nak Akira! Kamu tidak apa-apa kan sayang…?" tanya Mama Nirmala curiga melihat keadaan Akira.


Akira tidak menjawabnya ia hanya tersenyum tipis.


Dan malah Gian yang menjawabnya, "Akira tidak apa-apa kok mah! Ia hanya butuh istirahat, mungkin dia kelelahan setelah melakukan malam pertama." Gian menutupi semuanya dari kedua orang tuanya.


Sebab Gian tau, kedua orang tuanya akan membela Shakira di banding membela dirinya.


Mendengar kata malam pertama kedua orang tuanya tersenyum simpul karena merasa malu mendengarnya.


Tapi mereka senang, jika Gian dan Akira sudah melakukan hal itu, mereka berharap rumah tangga Gian dan Akira langgeng selamanya.


Lalu papa Arga dan mama Nirmala, menyuruh Gian segera membawa Akira ke kamarnya untuk istirahat.



Seminggu berlalu Akira lewat menempuh hidup baru, menjadi istri Gian dan tinggal di rumah Gian bersama kedua orang tuanya Gian.


Sikap Gian saat ini memang sudah tidak kasar lagi kepada Akira, namun ia begitu dingin kadang tidak pernah ada kata yang keluar dari mulut mereka berdua jika sedang bersama, bahkan Gian tidak pernah menyentuh Akira lagi setelah kejadian di rumah ayah Ayus.


Untungnya kedua orang tua Gian sangat baik memperlakukan Akira, mereka begitu perhatian penuh kasih sayang kepada Akira seperti kepada anak kandung mereka sendiri.


Karena itu Akira bisa bertahan di sana, di samping itu juga ada seorang anak kecil perempuan bernama Sisil keponakan Gian.


Sisil seorang anak piatu, yang ditinggal mamanya meninggal karena mengidap penyakit kanker sehingga mama Sisil harus meninggal dunia sedari Sisil masih bayi.

__ADS_1


Sisil dirawat dan diasuh oleh Papi Nya, Edwin kakak Gian besama kedua orang tuanya, yaitu Pak Arga dan mama Nirmala.


Tapi Edwin sering di luar negri, ia menjalankan bisnis keluarga di sana.


Sehingga Sisil lebih dekat dengan kakek dan Neneknya serta Gian.


Dan ketika Akira tinggal di sana, Sisil merasa senang karena merasa ada teman baru, begitu juga dengan Akira ia tidak merasa kesepian meskipun Gian bersikap dingin kepadanya.


Akira dan Sisil begitu dekat, meskipun baru kenal satu Minggu.


Hari ini adalah jadwal Akira kembali bertugas menjalankan profesi nya sebagai polwan.


Akira bersiap memakai seragam polwan nya. Begitu gagah dan kerennya.


Ketika Akira bercermin melihat penampilannya sendiri di cermin, berlenggak lenggok di depannya, memutar-mutar menengok ke kiri dan ke kanan tubuhnya, untuk memastikan penampilannya apakah sudah perfect?


Ketika itu Gian yang sedang duduk di sofa di kamarnya ia sedang memainkan laptopnya, begitu tercengang melihat penampilan Akira.


'Gila ternyata keren juga wanita tomboi ini jika berpenampilan seperti itu' Gian membatin.


Tapi Gian pura-pura menyembunyikan perasaan kagumnya.


Akira juga lupa jika di kamar itu ada sosok Gian, yang ternyata memperhatikan gerak, geriknya, Akira yang sedang memutar-mutar badannya di depan cermin sekilas melihat pantulan wajah Gian di cermin yang sedang melihat ke arahnya.


Seketika itu Akira menghentikan aksinya lalu segera menoleh ke arah Gian untuk memastikan apa kah benar Gian sedang memperhatikannya.


Karena rasa gengsinya Gian tidak ingin Akira tau jika dirinya sedang memperhatikannya.


Padahal Akira sudah tau dan memang sudah melihatnya dari pantulan cermin yang menangkap bayangannya.


Tapi Akira bersikap sangat cuek, dan tidak perduli, sebab Gian sendiri bersikap seperti itu kepadanya.


Kemudian datang seorang ART mengetuk pintu ketika itu.


Tok,,, tok,,, tok,,,! suara pintu kamar Gian di ketuk.


"Siapa?" tanya Akira untuk memastikan siapa yang mengetuk pintu.


"Saya Nona…!" jawab ART.


"Iya Bi ada apa?" tanya Akira setelah membuka pintu.


"Nyonya dan tuan besar sudah menunggu Anda dan tuan Gian di meja makan untuk sarapan." ART menerangkan.

__ADS_1


"O.. iya Bi nanti kami akan segera ke sana." jawab Akira.


Setelah mendapat jawaban dari Akira ART tersebut segera pergi meninggalkan kamar itu.


Akira kembali ke dalam kamar dan memberi tau Gian apa yang telah di sampaikan oleh ART barusan.


Seperti biasa Gian tidak menjawab apapun yang di katakan oleh Akira.


"Iis dasar bisu." gumam Akira dengan suara berbisik, tapi Gian masih bisa mendengarnya, sehingga Gian langsung menoleh ke arah Akira lalu menatap Akira dengan tatapan tajam.


Dan seperti biasa pula Akira sama sekali tidak mempedulikannya, ia sengaja membuang pandangannya tidak membalas tatapan tajam Gian.


Karena tidak mendapat respon Gian berjalan bergegas untuk menemui keluarganya di meja makan, karena memang mereka sudah di tunggu di sana.


Gian dan Akira berjalan beriringan, Gian berjalan di depan Akira. 


Sebagai pasangan suami istri, sikap mereka terlihat begitu janggal, harusnya mereka berjalan berdampingan.


Mama Nirmala dan papa Arga memahami hal itu, Karena mereka berdua belum begitu mengenal satu sama lain.


Ketika keduanya ( Gian dan Shakira) berjalan menuju meja makan, Sisil berlari ke arah mereka menyambut kedatangan mereka.


Gian yang berjalan di depan Akira langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk bersiap menyambut membalas keponakan kesayangannya.


Iya, Gian begitu menyangi Sisil, seperti menyayangi putrinya sendiri, begitu juga sebaliknya Sisil pun sangat menyayangi Gian di banding dengan papinya sendiri, sebab papi Sisil tinggal di luar negeri karena itu Sisil jarang bertemu dengannya. Hubungan Sisil dan Gian cukup dekat, sehingga setiap melihat Gian Sisil selalu merasa senang.


Gian pun tidak pernah menolak apa pun yang di inginkan oleh Sisil, meskipun ia sedang sibuk tapi demi Sisil Gian akan selalu mengusahakannya apapun itu.


Dan kemudian ketika Sisil mendekat ke arah Gian yang sedang berjongkok, Sisil melewati Gian begitu saja.


Gian sampai tercengang menyadari itu, 'kenapa bisa Sisil mengabaikan ku begitu saja' pikir Gian Sambil bangkit dan menoleh ke belakang tubuhnya.


Melihat kemana arah Sisil berlari, dan ternyata Sisil lebih memilih memeluk Akira yang berjalan di belakang Gian.


"Sial! Karena dia (Akira) Sisil mengabaikan ku." 


Akira tersenyum lebar sambil menyambut pelukan Sisil, lalu menggendongnya dan membawanya ke meja makan.


Setelah dia meja makan Akira mendudukkan Sisil di sampingnya.


Sisil memperhatikan Akira dengan seksama, lalu bertanya.


"Tante baik… (sebutan Sisil untuk Akira) ko pake seragam kaya Sisil, anteu baik mau sekolah kaya Sisil juga ya?" tanya Sisil penasaran, karena ia baru melihat Akira memakai seragam polwan nya, seperti seragam sekolah TK seperti seragam yang sedang Sisil kenakan saat itu.

__ADS_1


Akira dan nenek, kakek Sisil tersenyum mendengar pertanyaan Sisil.


Tetapi tidak untuk Gian, ia tetap berekspresi datar dan malah terkesan jutek kepada Sisil dan Akira, karena merasa tersaingi, Akira telah merebut perhatian Sisil darinya.


__ADS_2