Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 83


__ADS_3

"Iih, tuan Gian gandengan tangan terus kaya mau nyebrang aja, bikin hatiku panas aja." salah satu dari para karyawan membatin tidak suka melihat kemesraan yang Gian pamerkan.



Akira menoleh sekelilingnya, ia melihat satu persatu wajah karyawan suami, tapi ada satu di antara mereka yang tanpa sengaja Akira lihat wajahnya sangat sinis menatap ke arah tangan mereka (Akira dan Gian).


Akira tau pasti karyawan itu merasa cemburu kepadanya, sebab menurut cerita Siska para karyawan Gian banyak yang tergila-gila kepada bos merek, bukan hanya Siska.


Akira memahami itu, tapi Akira tidak menegurnya, ia malah mengalihkan pandangannya memandang wajah suaminya, yang masih mengulum senyum di bibir.


Tanpa sadar Akira pun ikut tersenyum, dan pada saat itu Gian pun menoleh kearah istrinya karena ia merasa sedang diperhatikan oleh istrinya.


Seketika itu senyuman Gian langsung merekah, begitu juga Akira membalas senyuman suaminya.


Mereka tersenyum tanpa ada pembicaraan dan tanpa isyarat, membuat yang melihat mereka berdua tamba iri.


Ternyata Gian yang sedang salju, bisa sehangat itu jika sedang merasakan jatuh cinta.


Saat sedang menjalin hubungan dengan Shafira Gian tidak seperti itu tapi kenapa saat ini Gian terlihat begitu bahagia.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Siska benar tentang Akira, ia begitu istimewa, ia bisa merubah sikap Gian yang sedingin salju menjadi mencari, wajah Gian yang biasa ditekuk kaku seperti kanebo kering, kini terukir senyuman di bibirnya membuat Gian tampak lebih sempurna ketampanannya.


"Kenapa melihat Tuan Gian tersenyum seperti itu hatiku yang malah berbunga-bunga." Batin para karyawan.


"Andaikan senyum itu ditujukan untukku aku bisa meleleh dan bisa jatuh pingsan." Batin karyawan lainnya.


Namun Gian sendiri tidak memperdulikan mereka.


Setelah sampai di lantai dasar pintu lift terbuka, dan mereka langsung keluar.


Sebelum pergi Akira masih saja berbasa-basi kepada para karyawan yang terdiri dari para wanita semua.


Akira berbasa-basi pamit kepada mereka semua, karyawan meresponnya sambil menunduk hormat.


Namun Gian protes atas sikap istrinya yang terlalu ramah kepada karyawannya.


"Kenapa harus bersikap seperti itu, kamu itu istriku jadi sudah sewajarnya mereka yang memang harus menghormati kita."


"Ya apa salahnya menghormati mereka, mereka juga harus kita hormati karena mereka perusahaan bisa berkembang, sebab itulah perusahaan dan karyawan sama-sama saling menguntungkan." ucap Akira.


"Coba jika mereka hanya main-main dalam bekerja, pasti perusahaan akan merasa dirugikan." Sambung Akira.


"Itu masalah gampang, tinggal pecat saja karyawan seperti itu lalu cari lagi orang yang benar-benar pengen kerja." tegas Gian.


"Bukannya dalam hubungan kerjasama juga harus cari yang sehati, demi lancarnya dan nyaman saat berinteraksi dalam menjalin hubungan saat bekerja." jawab Akira.


"Iya sih, kalau tidak sehati akan terjadi perselisihan." Akhirnya Gian satu pendapat dengan istrinya.


"Ini yang aku kagumi darimu, pemahamanmu selalu masuk dalam logikaku." Lanjut Gian memuji istrinya.


Akira tersenyum, dan membuat Gian makin bucin kepadanya.



Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu mereka sampai di cafe, di tempat Lisa bekerja.


Mereka segera masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka berdua, dan seperti biasa pelayanan segera menghampiri mereka di meja yang telah mereka pilih.


Keduanya segera memesan makanan dan minuman serta makanan penutupnya.


Sementara menunggu Akira menghubunginya Lisa lalu memberitahukan bahwa Akira ingin menemuinya.


"Oke, nanti aku kesana." tegas Lisa yang masih sibuk mengerjakan pekerjaan.


Tidak lama pesanan mereka datang, pelayanan segera menghidangkannya.


"Silahkan Tuan - Nona" ucapnya mempersilahkan.


"Iya, terimakasih." Akira menimpali.

__ADS_1


"Ada lagi Tuan - Nona?" Pelayanan itu memastikan apa ada yang ingin mereka pesan lagi.


"Untuk saat ini sepertinya sudah cukup." balas Gian .


"Nanti jika ada kami akan memanggil kembali." Kali ini Akira yang berucap.


"Oke baiklah, saya permisi dulu." Pelayanan undur diri.


"Iya silahkan …" Akira dan Gian mempersilahkan secara bersamaan.


Saat mereka sedang menikmati makanan mereka, entah secara kebetulan, atau secara sengaja tiba-tiba Erwin ada di sana dan menegur mereka.


"Wah, asik nih, lagi makan siang gak ngajak-ngajak aku!" seru Erwin mengejutkan mereka.


"Eeh, kak Erwin di sini juga?" Akira tidak menyangka.


"Dasa pengganggu, dimana-mana selalu ada." gerutu Gian karena kesal.


"Ha … ha … ha … biasa aja kali, mungkin kita jodoh." Erwin malah bergurau.


"Jodoh apaan, cari di biro jodoh sana, kalau mau cari jodoh jangan di sini." Ketus Gian.


Erwin makin terkekeh melihat adiknya kesal kepada dirinya.


"Ha … ha … ha … Lo yang biasa aja dong, siapa tau di sini memang ada calon jodohku." Celetuk Erwin makin menggoda Gian.


Tapi ucapan Erwin membuat Akira berpikir, dan timbul sebuah ide di benaknya.


"KAk Erwin beneran mau cari jodoh di sana?" Akira serius dengan pertanyaannya.


Erwin dan Gian malah saling menatap karena merasa Akira konyol, menanggapi candaan Erwin dengan serius.


Seketika tawa Erwin dan Gian pecah, Akira menjadi kesal lalu mengerucutkan bibirnya.


"Iih … kok aku di ketawain begitu, aku kan nanya serius." Akira kesal.


"Ho'oh … " Erwin menimpali.


"Iya Aku tau itu, tapi aku serius bertanya, karena kalau kak Erwin beneran cari jodoh mau aku kenalin sama temenku." terang Akira.


" Beneran, boleh deh." Erwin mengiyakan sebab apa salahnya berkenalan dengan seorang wanita, masalah jodoh itu tergantung nanti.


"Oke kalau begitu, sebentar lagi orangnya kesini." Akira antusias.


"Berarti aku boleh ikut duduk di sini ya!" Kemudian Erwin duduk tanpa menunggu jawaban di persilahkan atau tidak oleh Gian.


"Heh, siapa yang menyuruhmu untuk duduk, pergi sana cari tempat lain, ganggu aja." protes Gian tidak mengijinkan Erwin untuk duduk bersama mereka.


"Bodo Amat, aku dah terlanjur duduk kok." Erwin menghiraukan Gian.


Gian merasa geram dan ingin mengusir Erwin dari sana.


"Udah, udah dong, sayang … malu dilihat orang." Akira menenangkan suaminya.


Dan akhirnya Gian mengalah, Erwin tersenyum penuh kemenangan, lalu dirinya memesan makanan dan ikut makan bersama mereka.


Kebetulan setelah mereka selesai makan Lisa baru menemui Akira.


"Hay … maaf telat, tadi aku tanggung menyelesaikan pekerjaanku dulu." Lisa menyapa Akira lalu disambut kedatangannya oleh Akira, seperti  biasa mereka cipika-cipiki melepas kangen.


"Wah … keren bodyguardnya ganteng-ganteng banget lu Ra!" seru Lisa melihat dua pria tampan yang satu meja bersama Akira.


"Eeh iya, perkenalkan ini suamiku - Gian." Akira menujunya suaminya.


"Dan yang ini kakak iparku - Erwin" Akira beralih menjuk Erwin.


Kemudian Lisa menjabat tangan keduanya.


"Aku kira kamu datang sendiri seperti biasa, ternyata bawa dua cowok tampan." Lisa masih saja memuji ketampanan kakak beradik di depannya, dengan gaya bahasa blak-blakan.

__ADS_1


"Aah, tidak usah berlebihan." Sanggah Erwin dengan nada kepedean.


"Tuh kan, jadi besar kepada dia " Gian mengerti dengan tingkah laku kakaknya, padahal sebelumnya Erwin orang yang berwibawa, mengapa bisa terkesan bar-bar seperti itu, Akira heran dan tidak mengerti dengan perubahannya.


"Dasar adik tidak punya akhlak … sirik aja bawaannya." protes Erwin.


Mereka berempat berbincang dengan akrab seperti sudah lama saling mengenal, diselangi canda tawa dari keempatnya.


Sebab, gaya bahasa mereka yang ceplas - ceplos, dan terbuka membuat mereka sudah merasa akrab.


Tapi Akira tidak membahas tentang rencananya, yang ingin menjodohkan Erwin dengan Lisa, biarlah jodoh mereka yang menentukannya.


Akira hanya memperkenalkannya, jika mereka memang jodoh mereka akan berusaha sendiri.


Akira hanya memberikan nomor headphone Lisa kepada Erwin.


Akira ingin Erwin yang mengejar Lisa, sebab Lisa memiliki trauma terhadap lelaki karena ia pernah dikecewakan, dan dari semenjak itu Lisa seperti menutup diri kepada sosok lelaki.


Jadi jika ingin mendapatkan Lisa harus sungguh-sungguh meyakinkan dirinya.


Karena jam makan siang pun sudah habis dan malah mereka melebihi dari jam makan siang, saking asiknya ngobrol membahas tentang hal yang mungkin sepele, tapi lumayan menjadi hiburan untuk mereka setelah penat melewati jam kerja masing-masing.


….


Kini mereka sudah kembali dan sudah sibuk dengan pekerjaannya kembali.


Akira sendiri yang tidak bekerja, hari ini ia berniat menemani suaminya sampai selesai jam kerjanya.


Tapi baru beberapa waktu ia berada di ruangan Gian ia sudah merasa sangat bosan.


Sebab Gian mengacuhkannya, Gian fokus menatap layar laptopnya dan lembaran kertas memeriksa setiap laporan yang diserahkan para pekerjanya.


Sesekali Akira menatap wajah suaminya yang terlihat sangat serius, sampai Gian tidak bisa merasakan bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh istrinya.


"Dasar orang ganteng, bagaimanapun gayanya, bagaimanapun ekspresinya, dipandang dari berbagai arah tetap saja ganteng." gumam Akira dalam hatinya.


Dan tanpa sadar Akira tersenyum sendiri, karena ia begitu mengagumi sosok Gian.


"Kok hari ini aku merasa bucin banget ya sama dia, karena hari ini aku baru tau banyak yang memujinya." Akira menyadari dirinya mencintai suaminya.


"Eeh, Akira kemarin kamu kemana aja, dari kemaren dia udah ganteng kali." Akira bicara dalem hati, seakan bicara pada dirinya sendiri.


"Iya, iya … selama ini aku tidak peka, entah perasaan apa yang aku rasakan kepadanya, kemarin aku selalu sedih, dan merasa kesal, baru hari ini aku benar-benar bahagia dan sangat takut kehilangan." Akira menjawab pertanyaannya sendiri seperti sedang ngobrol dengan sosoknya yang lain.


Sambil terus memandangi wajah suaminya dan tersenyum sendiri.


Tapi ketika itu, Gian sekilas melirik ke arahnya, barulah Gian menyadari dirinya sedang di tatap oleh istrinya sambil tersenyum sendiri.


Gian menajamkan pandangannya ke arah istrinya, ia merasa heran melihat tingkah istrinya yang seperti itu, tidak biasanya Gian melihatnya seperti itu tersenyum sendiri.


"Hey … kenapa kamu, senyum-senyum sendiri, apa kamu sudah gila?" Gian sengaja menegurnya.


Seketika itu Akira menjadi panik dan gugup karena tertangkap basah sedang mengagumi suaminya.


'Iya, aku sudah gila karenamu' jawab Akira dalam hati, sebenarnya Akira ingin menjawab seperti itu, tapi ia merasa sangat malu.


Pipinya memerah seperti buah tomat yang sudah siap untuk dijadikan bahan makanan.


"A-ah, a-aku tidak apa-apa kok, hanya teringat sesuatu yang lucu saja." Akira mencari alasan untuk menutupi rasa malunya.


"Ah, yang benar kamu, pasti kamu sedang mengagumi ketampanan suamimu ini kan." Gian malah bangkit dari tempat duduknya untuk mendekati istrinya.


"Waduh, mau ngapain dia malah nyamperin aku." Akira panik.


....


Apakah yang akan dilakukan oleh Gian sampai Akira merasa panik ?


simak di cerita selanjutnya ya ... !

__ADS_1


__ADS_2