Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 124


__ADS_3

Saat Erwin dan Rima hendak memasuki mobil tiba-tiba secara kebetulan ( menurut Sarah), ia  datang dan segera menghampiri Erwin.


"Mas Erwin …," seru Sarah memangil Erwin.


Erwin segera berbalik ke arah sumber suara, dan terlihat Sarah lah yang datang menemuinya.


"Ada apa?" jawab Erwin dingin.


"Mas, bisa kita bicara sebentar, aku sangat membutuhkan bantuanmu." Pinta Sarah.


Sebenarnya Erwin sangat males berhubungan dengan Sarah.


"Maaf Sarah, saya sedang ada urusan jadi tidak punya Waktu untuk membahas hal yang tidak penting." Tegas Erwin dan segera akan masuk ke dalam mobilnya.


Tapi Sarah tidak membiarkannya begitu saja, ia menarik tangan Erwin untuk menghentikannya.


"Mas Erwin, aku mohon sebentar saja tolong aku."  Sarah masih memohon.


"Mas, mungkin Mbak Sarah sangat membutuhkan pertolonganmu." Rima ikut bicara agar Erwin memberinya kesempatan.


Mendengar ucapan Rima, Erwin terhenti, "Baiklah, silahkan berbicara." Akhirnya Erwin mempersilahkan Sarah untuk mengutarakan maksudnya.


"Mas, apa sebaiknya kita cari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara." saran Sarah.


"Silahkan berbicara atau tidak sama sekali," tidak ada penawaran lagi bagi Sarah.


"Oke, oke, baiklah, aku akan bicara sekarang di sini." Tegas Sarah .


Kemudian Sarah menceritakan apa yang sedang dia alami, dia mengaku telah di aniaya oleh Hendri, ia menjelek-jelekkan Hendri di hadapan Erwin.


Dan maksudnya Sarah menemui Erwin,bia ingin minta bantuan atau perlindungan agar Erwin membantunya untuk melawan Hendri, sebab dia lah yang terzalimi dalam kasus ini, menurut ceritanya.


"Maaf, Sarah saya tidak ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain, seperti apapun kasusnya, silahkan laporkan kepada pihak yang berwajib, aku tidak ada wewenang apapun atas dirimu."


"Tapi, Mas, aku butuh support, darimu, tolong  aku mas beradalah di pihakku."  Sarah terus-menerus memohon.


"Maaf, Sarah, aku tidak bisa." Tegas Erwin dan segera masuk ke dalam mobilnya.


Sedang Sarah terus merengek meminta bantuan Erwin, "Mas, tolong aku, Mas, aku tidak punya siapapun lagi untuk menolongku meminta keadilan untuk ku." ucap Sarah berusaha untuk membujuk Erwin.


Tapi Erwin tidak mempedulikannya, sedangkan Rima merasa terenyuh mendengarnya, ia merasa tidak tega kepadanya yang memelas belas kasihan.


"Mas, apa sebaiknya kamu membantunya," ucap Rima merasa tidak tega melihatnya.


"Tidak usah hiraukan dia, itu urusan rumah tangganya, tidak ada urusannya dengan kita, tidak ada keuntungannya juga yang ada malah akan menyeret kita dalam perselisihannya dengan suaminya, kita bisa terbawa-bawa dalam kasus mereka, iya kalau dia yang benar, kalau dia yang salah kita akan rugi ikut campur membela orang yang salah." jelas Erwin memberi pengertian kepada Rima.


Agar Rima tidak terpengaruh dengan air mata buayanya Sarah. Rima mengangguk mengerti.



Sedangkan di sekolah Sisil, semua siswa dan siswi sedang beristirahat, Hendri berada disana sengaja menunggui putrinya, Hendri ingin memperbaiki semuanya, ia ingin mengganti hari-hari kelam putrinya dengan kebahagiaan di hari-hari berikutnya.


Hendri duduk bersama putrinya beserta Sisil dan juga mila (baby sitter baru sisil). 


Mereka makan bersama membuka kotak bekal masing-masing, mereka juga saling mencicipi bekal mereka satu sama lain.


Cika dan Sisil terlihat bahagia mereka menikmati momen langka tersebut, Cika melupakan hari-hari kelamnya dengan canda tawa dari Sisil dan Beby sitternya.


Ia merasa sangat terhibur berkumpul bersama mereka, karena sebelumnya, hari-hari Cika selalu dihantui bayang-bayang Sarah yang terus menerus memberikan ancam kepadanya, agar tidak boleh melanggar semua peraturannya.


Termasuk tidak boleh bergaul dengan Sisil, maka dari itu Cika selalu menjaga jarak dengan semua orang.


Tapi kali ini, ia bebas bergaul dengan siapa pun dengan pengawasan dari Papi-nya.


Sampai akhirnya bel masuk pun berbunyi, menandakan bahwa jam istirahat telah selesai.

__ADS_1


Para siswa dan siswi mengakhiri aktivitas bermain mereka. Dan berbondong-bondong kembali masuk ke kelas masing-masing untuk melanjutkan kegiatan belajar mereka.


Setelah mereka semua masuk suasana halaman sekolah menjadi sepi kembali.


Hendri menghampiri Mila yang sedang duduk memainkan ponselnya, dan Hendri berbasa-basi kepada mila, "Permisi!" ucapnya mengejutkan Mila.


Seketika itu Mila mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang menyapa. Mila  langsung melempar senyum ketika melihat orang itu adalah Hendri, Papi dari teman Sisil.


"Iya, Tuan, ada apa ya?" Mila membalas, bertanya kembali.


Hendri ingin bertanya, sedari tadi ia merasa penasaran mengapa Rima digantikan olehnya.


"Kemana Mbak Rima, yang biasa mengasuh Sisil?"  tanya Hendri.


"Oo, mbak Rima, sudah naik pangkat sekarang dia, sudah jadi nyonya Erwin."  Balas Mila, memberi tau.


Hendri mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud Mila.


"Apa maksudmu?" tegas Hendri.


"Iya, karena Mbak Rima sudah menikah dengan Tuan Erwin, jadi sekarang dia sibuk mengurus suaminya dan aku yang menggantikan tugasnya, semoga saja nasibku bisa seberuntung dia, baby sitter naik pangkat jadi Nyonya he, he, he,!" Balasnya lagi sambil cengengesan.


"Oo jadi mereka sudah menikah," Hendri terkejut mendengarnya tidak menyangka akan hal itu.


Mila mengangguk kan kepala dengan cepat. "Iya,"


"Apa kamu sudah mengenal Sisil sejak lama? Karena aku lihat kamu sudah sangat akrab dengannya."  tanya Hendri lagi seakan sedang menginterogasi Mila.


"Aku baru mengenalnya pagi ini." jawab Mila


"Kenapa kalian terlihat sangat akrab, seperti sudah lama saling mengenal, putriku juga sepertinya menyukaimu," ucap Hendri.


"Itulah keahlianku, he, he, he!" jawab Mila ngasal, Hendri merasa tertarik dengan kepribadian Mila, yang di rasanya sangat unik.


Tapi melihat tingkah Mila yang cengengesan seperti itu Hendri merasa terhibur.


Saat keduanya sedang berbincang lebih lama, sebab tanpa di sadari Hendri menjadi candu berbicara dengan Mila, dia merasa punya semangat baru dengan gaya bahasa Mila yang santai dan ceplas-ceplos.


Dan ketika itu, Erwin dan Rima tiba disana. Mereka berdua turun dari mobil dan segera masuk, melihat Hendri sedang berbincang dengan Mila, Erwin dan Rima segera menghampirinya.


"Mila!" sapa Rima.


Mila segera bangkit dari duduknya, ketika melihat tuan dan nyonya-nya yang datang menemuinya.


"Eeh, Tuan, Nyonya!" gumam Mila.


"Tuan Erwin, Mbak Rima!" Hendri ikut menyapa mereka.


Erwin dan Rima, membalas sapaan Hendri dengan sebuah senyuman.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini, ada yang ingin saya sampaikan." Ucap Hendri merasa beruntung bisa bertemu dengan Erwin dan Rima di sana.


"Oo ya, apa yang ingin anda sampaikan?" tanya Erwin, tapi Erwin sudah curiga bahwa Hendri akan membahas masalahnya dengan Sarah, seperti yang Sarah lakukan.


Tapi mungkin Hendri tidak akan mengemis bantuan darinya, seperti Sarah.


"Boleh kita duduk dulu, sambil menunggu anak - anak keluar." Hendri mengajak Erwin untuk duduk terlebih dahulu agar pembicaraan mereka lebih santai.


"Oke, baiklah." Erwin menyetujui ajakan Hendri.


Setelah mereka duduk, barulah hendri bercerita tentang apa yang telah terjadi kepada dirinya, putrinya, dan juga Sarah.


Hendri Sangat berterima kasih kepada Erwin dan juga Rima, yang telah membantunya untuk mengungkapkan kejahatan istrinya.


Hendri menceritakan dari awal mula kejadian, ketika ia memasang kamera tersembunyi, dan dia pergi dari rumah seperti biasa, namun, sebenarnya dia tidak benar-benar pergi.

__ADS_1


Hendri mengintai Sarah dari kamera tersembunyi yang sudah ia pasang, dan barulah hendri tau semua kelakuan jahatnya.


Namun naasnya, Sarah sengaja melukai dirinya sendiri dan membuat fitnah jika dirinya telah dianiaya lalu mengancam Hendri untuk tidak membawa masalahnya ke jalur hukum, jika Hendri tatap melakukannya maka Sarah akan melaporkannya balik atas tindakan kekerasan atau KDRT.


Tapi Hendri tidak akan gentar hanya karena ancaman Sarah, ia punya bukti yang lebih akurat dari pada visum yang dilakukan oleh Sarah.


Setelah mendengar kan cerita Hendri, Erwin lebih mempercayai Hendri daripada pengakuan Sarah, ya, memang terdapat kesamaan dari cerita keduanya, tapi cerita Hendri lebih detail.


"Sebenarnya sedikit banyaknya saya sudah tau tentang hal ini." celetuk Erwin.


Hendri sedikit terkejut mendengarnya, bagaimana bisa Erwin tau masalah keluarganya.


"Oo ya, kalau boleh tau anda dapat informasi dari mana?" Tanya Hendri penasaran.


"Sarah!" jawab singkat Erwin.


"Apa! Sarah?" Hendri mengulang apa yang di ucapkan oleh Erwin yang menyebutkan nama Sarah.


"Dia sengaja mengadu kepada anda atau bagaimana?" tanya Hendri kembali, karena tidak mengerti mengapa Erwin biasa tau masalah keluarganya dari Sarah.


"Iya, sesuai dengan yang Anda ceritakan barusan, Sarah, mengaku telah mendapatkan kekerasan, KDRT, dan dia meminta perlindungan dari saya, dia minta support kepada saya, agar bisa menang melawan Anda dengan kekuasaan yang saya miliki," 


"Sebab dia tau, banyak kawan saya yang bekerja di kantor kejaksaan. Mungkin menurutnya saya bisa membantunya melalui kawan-kawan saya." Erwin Menjelaskan.


Hendri sungguh tidak menyangkanya  Sarah akan berbuat demikian.


"Tapi Anda tenang saja saya tidak menyanggupinya," tegas Erwin.


"Oke, Terim kasih ya, pak Erwin, tas semuanya." Hendri berterima kasih atas kebaikan Erwin.


"Oo iya, saya dengar anda dan Mbak Rima sudah menikah, apakah itu benar?" Hendri bertanya langsung tentang berita tersebut.


Erwin menatap Rima yang sedari tadi duduk di sampingnya. Rima tersenyum mendapat tatapan dari suaminya.


"Iya, kami sudah menikah dan akan melakukan resepsi dalam waktu dekat ini." Kemudian jawab Erwin.


"Oo, selamat ya, anda beruntung tuan bisa menikahi mbak Rima yang baik hati dan sangat menyayangi putri, Anda," Hendri memberi ucapan selamat dan memuji Rima.


"Iya, Alhamdulillah … " ucap syukur Erwin.


Sedangkan Rima orang yang dipujinya, hanya tersipu malu.


"Oke, saya tunggu undangannya ya." ucap Hendri


Dan tiba-tiba bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa waktu pulang sekolah telah tiba.


Tidak lama para siswa dan siswi, berhamburan keluar dari dalam kelasa, para orang tua dan juga pengasuh sudah siap menyambut mereka, dan membawa mereka pulang ke rumah mereka masing-masing.


Seperti Sisil dan Cika, mereka segera menghampiri para orang tuanya, Sisil begitu gembira karena Papinya juga ikut menjemputnya kali ini.


Kedua bocil itu berlari ke arah para orang tuanya dengan senang gembira, Erwin dan juga Hendri begitu antusias menyambut keduanya.


"Papi …!" seru dua bocil itu serentak.


Erwin dan hendri segera berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya, untuk menyambut putri mereka masing-masing.


"Sayang …!" jawab para Papi.


Dua bocil itu langsung menghambur pelukan.


"Mmmm … putri papi masih wangi ya." ucap Erwin gemes sambil menciumi pipi mungil putrinya, yang masih wangi khas bayi.


"Iya, dong aku wangi, Emangnya papi bau acem." 


"Eeh , kok gitu sih, ah Papi ngambek deh kalau kaya gitu!" seru Erwin berlaga merajuk, padahal itu hanya untuk menggoda putrinya. 

__ADS_1


__ADS_2