
Tapi selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Sisil selalu mengigau menyebut Akira.
"Anteu… aku ingin ikut anteu."
"Anteu… jangan tinggalkan aku…"
Sisil selalu mengulang ulang kata-kata itu.
Sampai setibanya di rumah sakit, Gian segera membawa Sisil ke ruangan IGD untuk supaya Sisil segera mendapatkan penanganan.
Ya, tim medis segera memeriksa keadaan Sisil, mengecek suhu tubuh, detak jantung dan mata, mulut, dan sebagainya secara detail.
Dan karena kondisi Sisil sangat lemah dan tidak sadarkan diri, akhirnya tim medis memutuskan agar Sisil di rawat di ruang ICU, dengan peralatan medis yang lebih menunjang untuk kondisi Sisil saat itu.
Dokter pun keluar dari ruangan dan menanyakan orang tua dari di anak.
Gian langsung menghampiri Dokter tersebut karena dokter mencari orang tua Sisil.
"Anda ayah dari pasien anak Sisil?" tanya dokter untuk memastikan.
"Bukan dokter saya om nya, tapi saya yang bertanggung jawab atas pasien anak Sisil." jawab Gian meyakinkan dokter.
"Oo baiklah tuan, saya ingin menyampaikan kondisi pasien saat ini." terang dokter.
"Iya Dokter silahkan, saya memang ingin mengetahuinya, bagaimana kondisi keponakan saya."
Tidak basa-basi lagi, dokter langsung mengatakan kondisi Sisil yang lemah dan tidak sadarkan diri, dokter pun memberi tahu bahwa Sisil harus di rawat di ruang ICU, dokter pun memberikan alasan nya kenapa.
Gian benar-benar syok mendengar penuturan dari dokter.
"Lakukan apapun dokter asal keponakan saya bisa selamat." ucap Gian kepada dokter.
"Baik tuan, silahkan tandatangani surat persetujuannya." Permintaan dokter.
Gian dengan patuh segera menandatanganinya.
" Oo ya tuan siap orang yang di maksud oleh Sisil? Saran saya tolong hadirkan orang tersebut karena kemungkinan besar orang tersebut bisa membantu memulihkan kesadaran Sisil, sepertinya Sisil mengalami depresi, karena perasaan bersedih yang luar biasa hebatnya, rasa takut jika bisa memicu hal tersebut."
"Dan di karena Sisil selalu menyebut si orang yang Sisil maksud, berharap ke hadirnya, saya rasa itu bisa cukup membantu menenangkan pikiran dan perasaan yang sedang Sisil rasakan."
"Jadi saran saya segeralah hadir kan orang tersebut." Panjang lebar dokter memerankan dan memberi saran kepada Gian.
"Baik dok saya akan usahakan orang tersebut segera hadir di sini untuk menemui Sisil.
"Oke… terima kasih tuan saya permisi untuk segera melakukan tindakan selanjutnya." Lalu dokter pun segera pergi dari sana, dan segera membawa Sisil ke ruang ICU,
__ADS_1
…
Sedangkan Akira saat ini sudah pulang kerumah orang tuanya, ia begitu senang melihat keduanya, yang terlihat sehat.
Kepulangan Akira, disambut oleh kedua orang tuanya, mereka pun tak kalah senangnya seperti Akira, melihat putri bungsu mereka pulang.
"Kamu pulang nak?" ucap ibu.
Akira tersenyum lebar lalu memeluk ibunya, bergantian dengan ayahnya.
"Iya aku pulang, aku kangen sekali sama ayah dan ibu." ucap Akira sambil memeluk keduanya.
Ayah dan ibu pun menanyakan keberadaan suami Akira, dan bertanya mengapa Akira pulang seorang diri.
"Ibu jangan bahas suamiku dulu ya Bu, aku pengen membersihkan diri dulu, nanti ku ceritakan semua sama ibu dan ayah." Akira menghindari pertanyaan ayah dan ibunya, karena merasa lelah dengan masalah yang sedang ia hadapi.
Akira pun segera beranjak dari menuju kamarnya, ia segera membersihkan diri dan berniat ingin istirahat.
Tapi baru saja ia mereka tubuhnya di atas tempat tidurnya, yang sangat ia rindukan.
Tiba-tiba handphonenya berdering, menandakan panggilan telepon masuk.
Awalnya Akira cuek, dengan suara handphonenya dan tidak ingin menjawab panggilan itu, tapi ternyata apa yang Akira ingin kan tidak terjadi.
Membuat akira tidak bisa Istirahat dengan tenang.
Akhirnya Akira meraih handphonenya dan melihat nomor handphone siapa yang melakukan panggilan, berkali-kali itu.
Ketika melihat nomor itu, Akira memang tidak pernah menyimpan omer handphone tersebut sehingga tidak ada nama atau pun foto profilnya.
Tapi Akira sudah hapal nomor handphone siapa itu, dan dari caranya menghubungi Akira yang tidak henti-henti, meskipun sudah Akira hiraukan namun seakan memaksa.dari situ Akira sudah bisa menebak siapa orangnya.
"Pasti beruang kutub, yang hatinya belum." gumam Akira menebak.
Dan memang tebakannya benar orang itu adalah Gian, yang berusaha menghubungi Akira untuk meminta Akira segera datang ke rumah sakit demi untuk kesembuhan Sisil.
Sesungguhnya Akira sudah bisa menebak juga apa yang akan Gian bicarakan, pasti Gian akan memaksanya untuk segera kembali, karena Gian tidak akan semudah itu melepaskannya, pikir Akira.
Tapi karena suara handphone itu sungguh mengganggu, Akira juga penasaran apa yang ingin Gian katakan, jadi akhirnya Akira menerima panggilan tersebut.
Saat baru saja Akira menerima panggilan itu, dan ia belum sempat berkata apapun, tanpa basa-basi lagi Gian langsung menyambarnya dengan pertanyaan, dengan nada tinggi.
"Dimana kamu sekarang?" Gian.
"Apa kamu tuli, tidak mendengar handphone mu berdering sedari tadi karena aku sudah berkali-kali menghubungi mu, apa kamu memang sengaja tidak ingin menerima panggilan telepon dari ku." lanjut Gian masih penuh emosi.
__ADS_1
Akira hanya bisa mendengarkan pertama-tama dari Gian lebih tepatnya Omelan-Omelan Gian.
"Hey…! Kenapa diam saja ayo jawab Aku!" Masih Gian yang berbicara, mendesak jawaban dari Akira.
"Sudah ngomel nya?" tanya Akira.
Lalu Akira mengatakan bahwa dirinya sedang di rumah orang tuanya.
Tapi saat Akira akan menjelaskan ingin memberi alasan mengapa ia lama tidak menerima panggilan telepon dari nya, Gian malah memotong ucapan Akira.
"Sudah gak usah panjang lebar." seketika itu Akira langsung dikirim dan mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap Gian, 'Dasar aneh! Tadi dia sendiri yang minta aku untuk menjelaskan, sekarang dia minta aku untuk diam.' pikir Akira.
"Sekarang kamu segera datang ke rumah sakit Harapan Ibu." kemudian perintah Gian.
"Mau ngapain aku ke rumah sakit?" tanya Akira tidak mengerti.
"Sudah jangan banyak tanya kamu segera kisini, Jika kamu peduli dengan keadaan Sisil." Ketus Gian.
"Hey… kamu tuh ngomong apa sih? Aku tidak akan datang jika tidak tahu apa alasannya, untuk apa dan ada apa?" Tegas Akira.
"Sisil sakit!" Jawab Gian singkat lalu ia mematikan sambungan teleponnya.
"Apa." Pekik Akira.
"Hey…! Kok bisa sih Sisil sakit, padahal sebelumnya dia baik-baik saja!" pekik Akira merasa tidak yakin dengan apa yang di lakukan oleh Gian.
Namun percuma, Gian tidak akan menjawabnya sebab Gian sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Untuk memastikan keberadaannya, Akira langsung bergegas pergi.
Dengan tampilan tomboynya Akira segera meraih kunci motor sportnya yang ia simpan di dalam laci meja riasnya.
Kali ini Akira memilih mengendarai motor sportnya, di dari pada motor dinasnya.
Karen Akira memang pencinta motor, jadi dia punya beberapa motor sebagai koleksinya.
Akira memilih motor Yamaha R25 ABS milik nya karena motor ini salah satu motor kesayangan
Yamaha R25 ABS adalah salah satu tipe dan gaya motor sport yang paling didambakan. Tak hanya tampil sporty, ia juga memiliki sistem rem ABS. Tenaga pengereman mesin R25 bekerja lebih maksimal.
Selain itu, motor jenis ini dibekali mesin 250cc yang dilengkapi dengan mesin DOHC 4-tak berpendingin cairan.
Dengan mesin jenis ini, R25 dapat menghasilkan output maksimum 26,5 kW dan untuk torsinya mencapai 10.000 rpm.
itulah alasannya mengapa Akira sangat menyukai motor sepotnya itu dan memilih untuk mengendarainya saat itu.
__ADS_1