Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 121


__ADS_3

Entah mengapa ada perasaan tidak rela di hati Rima, ketika mama Nirmala, menerima Mila sebagai babysitter Sisil, ia merasa posisinya tersisihkan, ia merasa Mila akan merebut perhatian Sisil darinya.


Karena pernikahannya dengan Erwin juga hanya karena Sisil, ia sendiri tidak yakin dengan pernikahannya apakah bisa langgeng selamanya, mengingat perasaan antara dirinya dan Erwin belum bisa menyatu.


Sebab pernikahan mereka pernikahan tanpa cinta, Erwin tidak memiliki perasaan sama sekali terhadapnya, Rima sendiri tidak yakin dengan perasaan yang ia miliki saat ini, karena hanya ada ketegangan yang ia rasakan saat bersama Erwin, saat berinteraksi dengannya.


Tapi apa boleh buat, Rima harus tetap menerima dan menjalankan semua peraturan yang sudah terlanjur ia sepakati dari awal, saat melakukan pernikahan bersama Erwin dengan alasan demi Sisil, Rima sudah siap menerima setiap konsekuensinya.



Mama Nirmala juga memperkenalkan semua anggota keluarganya yang lain, mulai dari suaminya-Papa Arga, para putranya, Akira sebagai menantunya, dan yang terakhir adalah Sisil anak yang akan dia asuh sebagai cucunya.


Mama Nirmala meminta Rima untuk membawa Mila ke kamarnya, kamar yang dulu di tempat olehnya kini akan di tempat oleh Mila, Rima benar merasa tersisihkan.


Kemudian Rima segera mengajak Mila untuk bergantian pakai memakai seragam babysitternya, karena Mila akan bekerja pada hari ini Juga.


Rima kembali ke meja makan untuk meneruskan sarapan paginya, kemudian Erwin pamit lebih dulu untuk segera pergi ke kantornya.


"Mas, ini bawa obatnya, nanti siang pas makan siang di minum ya!" Rima menghentikan langkah suaminya dan mengingatkannya.


"Iya,." Jawab Erwin sambil berlalu.


Rima bisa merasakan betapa dinginnya sikap Erwin kepadanya. Membuat hatinya sakit, diperlakukan seperti itu.


Semua memperhatikan perilaku Erwin kepada Rima semua juga bisa merasakan perasaan Rima.


Tidak lama Mila kembali menghampiri semua orang, dia sudah memakai seragam babysitternya, dan sudah siap untuk melakukan tugas-tugasnya.


"Hay, Sisil." Sapa Mila sambil tersenyum ramah, lalu ia mendudukkan bokongnya di kursi, duduk di sebelah Sisil.


"Hay, kak Mila." sahut Sisil.


"Hari ini, sekolahnya bareng aku ya." Mila dengan mudahnya berinteraksi dengan Sisil.

__ADS_1


Iya periang, membuat Sisil bisa mengimbanginya, ikut cerita dan riang gembira ketika bercakap dengannya, sehingga mereka langsung terlihat akrab.


Dan lagi, lagi Rima merasakan hatinya bertambah sakit melihat keakraban Sisil dan Mila.


Rima hanya berdiam diri tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dirinya juga bingung harus melakukan apa?.


Papa Arga sudah berangkat kerja menyusul Erwin, kini Gian dan Akira yang pamit untuk pulang ke rumah orang tuanya, 


"Akira, sebaiknya kamu tinggal di sini dulu untuk beberapa hari," mama Nirmala menginginkan Akira tetap tinggal di sana. Untuk sementara waktu.


"Nanti kita akan main lagi ke sini mah." Akira tetap ingin pulang, kasihan Ibunya merasa kesepian di rumah.


Mama Nirmala pun tidak dapat menolaknya selain merelakan kepulangannya.


Rima membantu Akira dengan memapahnya mengantarkannya sampai teras rumah, setelah Akira berpamitan kepada Sisil dan juga babysitternya barunya.


Saat berjalan berdampingan, Akira banyak memberikan masukan untuk Rima, agar bisa bertahan di dalam setiap keadaan.


Rima merasa punya kekuatan, atas suporter dari Akira, karena Rima tidak punya siapapun di sana yang mendukungnya, selama ini ia hanya bekerja dan bekerja, ia tidak punya teman dekat. Selain Sisil, bahkan dengan ART di rumah itu pun hanya sekedar kenal tidak ada yang jadi karib nya .


"Terima kasih, Non~" 


"Ssst … Akira menaruh telunjuk di bibirnya, sebagai isyarat untuk mendoakan ucapan Rima 


"Ini, nih yang membuat situasi canggung, mbak Rima sendiri yang membuat situasi antara mbak Rima dan mas Erwin tidak nyaman." Akira mengingatkan Rima.


"Jangan dibiasakan, lihat tuh babysitter Sisil yang baru hanya butuh beberapa menit saja dia bisa akrab dengan Sisil, padahal ucap-ucapannya cuma kata-kata sederhana, tapi karena pembawaannya riang, SKSD (Sok Kenal, Sok Dekat) jadi suasana mencair dan mudah akrab,"


"Bukan  memintamu untuk seperti itu, tapi mencontoh, mencoba bersikap seperti itu ketika berhadapan dengan orang lain, tentunya harus percaya diri dulu."


"Aku perhatikan mbak Rima terlalu, minder, terlalu berhati-hati takut melakukan kesalahan, sehingga suasana terasa canggung, dan terkesan malah salah semua, apa yang di rasakan oleh mbak Rima." 


"Jika terus-menerus seperti ini, mas Erwin akan jenuh atau bosa, dan malah akan merasa ilfil dengan sikap mbak Rima yang sangat kaku." Akira mengingatkan, sambil berjalan menuju teras rumah. Sedangkan Gian sudah lebih dulu ke luar karena akan menyiapkan mobilnya.

__ADS_1


"Mas Erwin orang baik, Mbak, dia bisa mengimbangi-mu, beda dengan aku dulu sampai harus main fisik, aku pernah terpelanting, pernah kejedot pintu, kata-kata kasar menyakitkan, aku bisa melewatinya berusaha memahami kesakitan yang suamiku rasakan, lihat sekarang, Mbak, suamiku menyayangiku.". Akira menjadikan pernikahannya sebagai contoh untuk Rima.


Sebab rumah tangga Akira lebih rumit dan lebih menyakitkan di awal pernikahan mereka.


Rima mencerna setiap ucapan Akira, 'Apa yang dikatakan oleh Akira semua benar, dia harus berusaha untuk terbiasa dengan keadaan, jika seperti ini terus aku juga akan tersiksa sendiri.' Batin Rima setelah memahami ucap Akira.


"Mm, Kira …!" Rima berseru


"Iya." sahut Akira, sambil tersenyum karena Rima tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Nona.


Akira juga senang, Rima mengikuti sarannya untuk bersikap lebih santai atau tidak tegang agar mencairkan Suasana.


"Lalu aku harus bersikap seperti apa?" tanya Rima meminta pendapat.


"Apa aku harus jadi wanita agresif?" sambung Rima.


Akira melebarkan senyumnya, "Mbak, cukup memahami saja, apa yang bisa membuat suami Mbak senang, boleh agresif, tapi jangan berlebihan juga, tapi kalau Suami Mbak suka sih tidak apa-apa, menurut saya karena Mbak dan mas Erwin belum saling memahami sebaiknya bersikaplah sewajarnya saja." Panjang lebar Akira menjelaskan memberi penggambaran kepada Rima.


"Oke, Ra. terima kasih, nanti boleh ya saya sharing lagi sama kamu." Rima menyudahi percakapannya dengan Akira.


"Iya, Mbak, kalau ada apa-apa hubungi aku saja, insyaallah kalau bisa bantu, aku pasti akan membantu." 


Karena mereka telah sampai di terasa dan Gian sudah menunggu istrinya.


Gian segera menyambut istrinya membukakan pintu mobil untuknya lalu membantu istrinya masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati, Sayang!" gumamnya.


Akira tersenyum, ia merasa senang atas sikap baik suaminya dan perhatiannya, yang selalu siaga menjaganya.


Setelah di dalam mobil, Akira membuka kaca mobilnya tersenyum dan mengangguk hormat kepada Rima.


"Hati-hati ya, Ra - mas Gian!" seru Rima sebagai salam perpisahan.

__ADS_1


Akira dan Gian, tersenyum kepadanya "Iya mbak, terima kasih." sahut Akira dan Gian secara bersamaan.


__ADS_2