
Polisi segera mengantarkan keduanya untuk masuk melihat jenazah tersebut. Saat sudah di dalam ruangan. Polisi perlahan menyibakkan kain putih yang menutupi jenazah tersebut.
…
Nampak Lah sesosok jenazah dengan rupa yang mengerikan. Sontak seketika itu, Ayah Ayus, dan Ibu Yuli histeris ketika melihat sosok m a y a t yang katanya adalah putrinya bungsunya, dalam keadaan yang hampir tidak berbentuk manusia.
Ayah Ayus, dan Ibu Yuli tidak sanggup melihat keadaan jenazah tersebut, saking syoknya, keduanya sampai pinggang tidak sadarkan diri.
Polisi segera memanggil bantuan untuk mengangkat keduanya membawanya keluar dari dalam ruangan.
Mereka berdua segera dilarikan ke IGD, saat itu giliran yang lain yang ingin melihat jenazah, tapi pak polisi ber wanti-wanti "Jika tidak kuat harap kalian jangan memaksakan diri, di khawatir seperti Ayah dan ibunya barusan."
Erwin juga berusaha untuk membujuk Mama Nirmala untuk jangan nekat ingin melihat.
"Mah, pikirkan lagi, Mama akan tertekan melihat kondisinya." cegah Erwin karena khawatir Mama akan melami nasib yang sama seperti ayah Ayus, dan juga Bu Yuli.
"Tapi Mama ingin melihatnya." Mama Nirmala tetap memaksa.
"Mah, percaya sama aku, Mama tidak akan kuat, biar papa aja yang melihatnya.
Kali ini polisi mengizinkan mereka semua bersama-sama untuk melihatnya.
Sesampainya di ruangan seperti sebelumnya, pak polisi kembali menyibakkan kain berwarna putih yang menutupinya.
"Astaghfirullah ….!" Seru semua orang, dan benar saja mama Nirmala limbung seketika.
Lisa, dan shafira berteriak Dan menjerit-jerit ketika melihatnya.
"Itu bukan bukan adikku, adikku orang baik tidak mungkin meninggal secara mengenaskan seperti itu."
Lisa rapuh tidak berdaya, ia pun terkulai lemas terduduk di lantai, menangis sesenggukan, "Akira, maafkan aku, Ra, andai aku tidak membiarkanmu berdua dengan si brengsek Riza , semua ini tidak akan pernah terjadi," ucap Lisa sambil menangis sesenggukan, ia menyesali semua yang terjadi.
Hendri tidak tega melihat Lisa seperti ini, lalu ia menolongnya membantunya untuk bangkit, padahal mereka belum saling mengenal saat itu, sedangkan yang lain sudah keluar sedari tadi ketika pak polisi membukakan kain putihnya, karena mereka semua histeris melihat kondisi m a y a t.
Mereka semua tidak pernah menyangka kondisinya akan separah itu, akan rusak separah itu.
Setelah Semuanya melihat jasad itu, mereka pergi dari ruangan itu, shafira segera menyusul Ayah dan Ibunya di ruang IGD,
Mama Nirmala, beserta keluarganya yang lain melihat kondisi Gian yang koma karena syok dan terguncang.
Mama Nirmala makin menangis pul, "cobaan apa lagi, itu Tuhan hiks … hiks …!" Rima tetap mendampingi mama mertuanya padahal dirinya juga sangat terguncang menyaksikan semua kejadian.
Lisa masih menangis di koridor rumah sakit di temani Hendri, dan ketika itu Erwin melintasi mereka berdua.
Erwin menegur, "Lisa, pak Hendi, sebaiknya kalian berdua kembali ke hotel saja, saya titip Sisil ya pak Hendri, Lisa, kalian juga bisa lebih dulu kembali ke kota Jakata, nanti kami akan menyusul secepatnya," Erwin mengintruksi mereka berdua.
__ADS_1
"Baik, Tuan Erwin!" jawab patuh Hendri. Dan segera mengajak Lisa untuk kembali ke hotel dan segera berkemas untuk kembali ke jakata sesuai perintah Erwin.
Dengan langkah berat Lisa mengayunkan kakinya, dengan dipapah oleh Hendri berjalan perlahan tapi pasti.
Semua orang merasa terpukul dengan kejadian meninggalnya Akira, hal ini menjadi duka bagi seluruh orang terdekatnya, tidak hanya Gian sang suami yang merasa tidak siap kehilangan Akira semua orang-orang terdekatnya Akira juga merasakan hal yang sama.
…
Karena jasad sudah dapat dipastikan dari keadaannya yang sedang mengandung dan dari cincin dan bukti kuat cincin yang ditemukan di sekitar area kejadian dengan sidik jari Akira, jadi diputuskan jasad itu memang jasad Akira.
Erwin dibantu oleh para anak buahnya, mengurus semua keperluan dan persiapan pemakaman.
Polisi juga sudah menyerahkan jasad Akira ke pihak keluarga untuk segera di semayamkan. Erwin juga mengurus kepindahan Gian saat itu juga ke kota Jakata. Untuk memudahkan keluarga menjenguknya.
Semua sudah diurus dan siap di berangkatkan. Semua keluarga juga siap tidak siap mereka harus kembali ke kota Jakata mereka harus mengurus pemakaman Akira.
Iring-iringan mobil ambulance berjalan cepat membelah jalanan, suara sirine ambulance menggema memecah kebisingan kota itu, membuat telinga siapa saja yang mendengarnya merasakan nyeri di buatnya hingga menusuk ke jantung, menimbulkan rasa sesak yang menghimpit dada.
Dan membuat suasana di sepanjang jalan terasa mencekam. Karena tidak hanya satu mobil ambulance yang melintasi jalan saat itu, melainkan dua mobil ambulans.
Mobil ambulans yang mengangkut jenazah Akira berjalan di depan, sedangkan mobil ambulans yang kedua membawa Gian yang sedang koma. Disusul beberapa mobil pribadi milik keluarga.
Suara sirine yang menjerit-jerit dan saling bersahutan membuat suasana makin mencekam, menggambarkan suasana hati para keluarga Yang sedang merasakan duka yang mendalam.
Ayah Ayus dan Bu Yuli, nyaris tak sadarkan diri selama perjalanan, tubuh mereka benar-benar drop, untung shafira dan Lucky seorang dokter jadi bisa menangani keduanya selama dalam perjalanan.
"Tuhan, ampuni aku, atas segala dosa-dosaku, cukupkanlah ujian ini untukku dan juga untuk anak-anakku.Tuhan.” pinta mama nirmala dalam doanya, di sepanjang jalan.
Iring-iringan mobil ambulance itu sampai di area pemakaman , karen keadaan sudah terdesak jenazah harus segera dikuburkan, jadi jenazah langsung dibawa ke tanah kusir untuk segera dimakamkan,
Mobil ambulan Gian dan akira berpisah di persimpangan jalan, untuk mobil yang membawa jenazah akira berbelok ke area pemakaman sedangkan mobil ambulan yang membawa Gian tetap mengambil jalur lurus menuju ke rumah sakit.
sedangkan untuk para pengiringnya, para keluarga ikut berbelok untuk menyaksikan pemakaman akira. di detik-detik itu mamah nirmala menangis pilu perasaannya begitu sakit bagai teriris sembilu, disaat-saat terakhir Akira, Gian sebagai suaminya tidak dapat menyaksikan pemakaman istrinya dan bayi-bayinya. karena keadaan nya sedang koma.
Persiapan pemakaman sudah diurus oleh para anak buah Erwin sehingga saat jenazah tiba sudah siap untuk di kebumikan.
Lisa, Hendri, Mila dan juga Sisil serta chika sudah berada di sana menunggu kedatangan jenazah dan para keluarga yang lainnya.
Keranda segera dikeluarkan dari mobil ambulans lalu para petugas segera mengangkutnya mendekat ke liang lahat. diletakkan lah keranda di samping liang lahat, petugas gali kubur segera turun untuk segera melakukan prosesi pemakaman.
Saat petugas menyibakkan kain berwarna hijau sebagai penutup keranda nampak se-bujur kaku jasad akira yang telah terbungkus rapi dengan kain kafan dan sudah siap untuk di kuburkan.
Melihat pemandangan itu bukan hanya Ayah Ayus dan Bu Yuli serta Mama Nirmala yang tidak sadarkan diri , kali ini hampir semua keluarga terjatuh pingsan tidak sanggup menyaksikan prosesi pemakaman mengingat kematian akira yang mengenaskan dengan jasad yang mengerikan.
hal itu yang membuat merak tidak kuasa menahan perasaan sedih dan rasa sesak yang menyerang mereka membuat tubuh mereka lunglai.
__ADS_1
Untuk kedua orang tua akira diamankan di bawa ke mobilnya. begitu juga mama Mama Nirmala ia juga diamankan di bawa ke mobilnya, sedangkan untuk Shafira dan juga Lisa tetap disana tapi mereka menyaksikan prosesi pemakaman dengan terduduk sambil menyelonjorkan kaki mereka yang tidak dapat menopang berat badan mereka karena terkulai lemas.
Tapi mereka berusaha untuk bertahan agar dapat menyaksikan prosesi terakhir dalam hidup akira, dan mereka ingin mendoakan kepergian akira.
prosesi pemakaman berjalan dengan lancar meskipun diiringi derai air mata dari para pengiringnya.
Setelah semua selesai, semuanya bubar dan dilanjutkan acara tahlil di kediaman Papa Arga, untuk mendoakan almarhumah akira dan juga putra dan putrinya.
sedangkan untuk Gian masih terbaring di rumah sakit, ia seperti sedang tertidur lelap dalam dukanya.
…
Tiga hari berlalu setelah kepergian akira suasana masih diselimuti duka. kedua orang tua akira mendapatkan perawatan di rumah sakit, karena kondisi mereka semakin hari semakin bertambah buruk, tubuh ayah dan ibu Akira, tidak mendapat asupan gizi yang baik, Karena seiring dengan perginya Akira seiring dengan itu hilang sudah semangat hidup bagi kedua orang tuanya.
Nafsu makan pun hilang, semua makanan terasa pahit, bahkan air putih juga terasa hambar. kejiwaan mereka tergantung karena menyaksikan jenazah putri mereka yang mengerikan.
Mereka terbayang-bayang Saat tubuh mulus putrinya terbakar bersama dua bayi kembar dalam perutnya, itu yang membuat jiwa mereka terganggu.
Sehingga mereka harus mendapatkan penanganan tim medis sampai detik ini.
"Ya, Tuhan, dosa apa hambamu ini, sehingga tiada henti cobaan yang kami hadapi." Keluh Ibu Yuli.
Ya, batinnya begitu tersiksa, cobaan yang dia hadapi tidak henti, dari awal kaburnya shafira di hari pernikahannya.
Dia harus menyaksikan putri bungsunya dipaksa menikah dengan pria yang tidak dicintainya, di siksa jiwa raganya, semua itu lumayan membuat luka derita dalam dirinya sebagai seorang Ibu.
Baru saja ia bisa sedikit bernafas lega, melihat kebahagiaan putri bungsunya dengan membaiknya hubungannya dengan Suaminya dan akan adanya kelahiran dua bayi darinya.
Namun kembalinya shafira menambah beban derita baginya, Sahfira kembali dengan penyakitnya dan perselingkuhannya yang sangat menguras tenaga, dan emosinya, belum karena ia harus menahan rasa malu atas gunjingan masyarakat akibat perbuatan putri sulungnya.
Shakira lah putri bungsunya yang selalu hadir untuk memberi semangat dan dukungan untuknya, menguatkan dirinya.
Karena itu, dengan perginya Akira maka hilanglah kekuatannya. Karena itu derita kali ini lebih berat daripada derita yang pernah ia lalui.
Dihari ketiga ini, Gian mulai tersadar dari tidur panjangnya, ia mengeratkan jari jemarinya perlahan tapi pasti, mengerjapkan matanya, lalu membukanya secara perlahan.
Pandangannya buram ia belum bisa melihat jelas sekelilingnya, kepalanya masih terasa berdenyut, ia menggerakkan satu tangannya secara perlahan karena otot-ototnya masih terasa kaku, lalu ia memegangi kepalanya.
"Aw … kepada ku sakit sekali," keluhnya.
Suster yang sedang berjaga di sana segera menghampirinya, "Tuan, anda sudah siuman?"
"Dimana aku?" Gian merasa asing dengan background ruangan itu.
__ADS_1
"Anda, di rumah sakit, Tuan, Anda telah koma selama 3 hari ." Suster memberi tahu.
"Kenapa aku?" Gian kembali bertanya, karena ia belum mengingat apapun.