Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab 31


__ADS_3

Sementara orang tua Akira disana, sementara itu juga Gian pamit untuk pulang, berniat membersihkan diri dan mengambil pakaian ganti untuk Akira.


"Ayah, ibu… mumpung kalian disini menemani Akira, aku pamit pulang dulu sebentar, sekalian mau ngambil baju ganti buat Akira." ucap Gian meminta izin, dengan tutur kata yang sangat sopan dan ramah.


Akira sampai ternganga melihat sikap Gian seperti itu, terlihat sangat aneh menurut Akira.


Ditambah Gian seperti nya perhatian sekali, ingin membawakan pakaian ganti untuk Akira, padahal akira tidak pernah memintanya.


Gian menatap Akira dan merasa lucu melihat ekspresi Akira, yang sepertinya syok tidak menyangka akan sikap baik Gian.


Gian tersenyum melihat Akira seperti itu, Akira makin terkesima melihat senyum itu.


Akira sampai menjatuhkan rahangnya dengan bola mata yang hampir menonjol keluar.


Pasalnya Akira tidak pernah melihat Gian tersenyum kepadanya.


"Ya Tuhan kak Fira… kenapa kakak rela melepaskan pria seganteng ini, demi apa coba?" Akira malah teringat akan kakaknya dan menyayangkan tindakannya yang kabur di hari pernikahan meninggal Gian.


"Uhum..!" Gian berdehem dan menyadarkan Akira dari lamunannya.


Ketika tersadar Akira begitu canggung, karena menyadari tingkahnya sendiri, yang mengagumi ketampanan Gian.


'Apa-apaan kamu Akira, berpikiran seperti itu, ingat dia orang yang sudah menghancurkan hidupmu!' Akira bicara dalam hati, dan menepis rasa kagum.


"Yang… aku pulang dulu ya." ucap Gian pamit kepada Akira dengan memanggil Akira dengan sebutan sayang membuat Akira makin merasa aneh.


Awalnya Akira mengerutkan keningnya dan ingin protes dengan sebutan sayang yang Gian ucapkan kepadanya.


Namun Akira menyadari di sana ada kedua orang tuanya, mungkin Gian seperti itu hanya untuk pencitraan di depan mereka, seperti yang pernah Gian lakukan ketika di depan para sahabatnya saat di acara ulang tahun sekolah Sisil.


Akhirnya Akira mengerti dan mengimbangi permainan Gian, dengan membalas perlakuan Gian dengan sebuah senyuman.


"Iya say…!" jawab Akira tapi terkesan seperti main-main, tidak ada keseriusan atau pun ketulusan, berbeda dengan Gian terlihat tulus dan sungguh-sungguh mengucapkan kata sayang dari dalam lubuk hatinya.


Ya, memang seperti itu adanya, Akira dan Gian tidak sedang bersandiwara dalam masah ini saat itu.


Gian memang tulus karena ia sedang merasakan perasaan yang berbeda kepada Akira yaitu ia mulai menyayangi Akira.


Beda lah nya dengan Akira, tidak ada kepercayaan di hati nya kepada Gian, karena seringnya ia dipermainkan.


Akira hanya sedang berusaha mengimbangi permainan Gian.


Setelah kepergian Gian, Akira berbincang dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Tapi tidak bisa leluasa menceritakan apa yang telah Akira alami bersama Gian, karena disana ada Sisil dan babysitter nya.


Namun Akira memang sengaja tidak ingin menceritakan semua peristiwa buruk yang ia alami karena tidak ingin menambah beban kedua orang tuanya.


Tapi ayah tidak bisa menahan diri lagi, untuk bertanya menanyakan perihal pekerjaan Akira.


Karena ayah Ayus dan ibu Dewi telah tau tentang kabar kalau Akira mengajukan permohonan pensiun dini.


"Apa benar itu semua nak?" tanya ayah dengan lemah lembut.


Akira tersenyum, untuk menyembunyikan kegetiran di hatinya. karena sebenarnya ia sangat tidak rela dipaksa resign dari pekerjaannya bahkan itu adalah cita-citanya sedari kecil.


"Iya ayah…" jawab Akira.


"Loh kenapa nak?" Tanya ayah tidak mengerti.


"Apa alasannya?" tanya ibu meminta penjelasan.


Akira tertunduk, karena bingung harus menjelaskan sesuatu yang tidak ia mengerti bagaimana cara menjelaskannya.


Akira tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya, karena dari awal ia dan Gian sudah bersandiwara untuk merahasiakan semuanya dari kedua orang tuanya, demi untuk menjaga perasaan mereka.


Tapi Akira tetap berusaha menjawab dan mencari alasan agar kedua orang tuanya bisa mengerti, dan tidak memikirkan tentang keputusannya mengundurkan diri dari pekerjaannya karena apa.


"Kasihan Sisil ayah, ibu, dia sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya." Lanjut Akira untuk lebih meyakinkan ayah dan ibunya.


"Oo begitu rupanya." sahut ayah.


Akira mengangguk, " Iya." untuk menegaskan.


Tapi ibu merasa kurang yakin dengan alasan Akira, sebab mengingat Akira sangat menyukai profesi nya, bahkan itu cita-citanya sejak kecil, tidak mungkin hanya karena alasan itu akira rela untuk resign ( berhenti).


Ibu sangat hafal dengan sifat Akira, tidak akan ia melakukan sesuatu yang besar untuk hal kecil.


"Akira…!" seru ibu.


Akira yang sedang tertunduk, langsung mendongakkan wajahnya ke arah ibunya.


"Iya Bu." Sahut Akira.


"Apa kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu nak?" tanya ibu tidak yang yakin dengan penjelasan Akira.


Lagi-lagi Akira berusaha tegar dan menyembunyikan perasaannya di balik sebuah senyuman.

__ADS_1


"Iya ibu, aku sudah yakin dengan semua keputusan ku." jawab Akira berharap sang ibu percaya kepadanya.


'Padahal semua ku lakukan hanya demi untuk kalian.' batin Akira.


Namun ketika itu ternyata Gian sudah kembali dan mendengar kan semua obrolan mereka bertiga.


Gian sengaja menguping pembicaraan mereka, karena Gian ingin tau jawaban Akira.


Ternyata Akira menjawab sesuai keinginannya, Akira tidak mengatakan yang sebenarnya, bahwa Gian lah dalang di balik semua itu.


Setelah Gian merasa puas dengan jawaban Akira, ia segera masuk ke dalam ruangan sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum…!" 


Seketika itu obrolan ayah, ibu, dan juga Akira terhenti, mereka fokus dengan kedatangan Gian, karena mereka tidak menyangka ternyata Gian sudah kembali.


"Waalaikumsalam…" kemudian jawab ketiganya.


Gian datang dengan menenteng beberapa paper bag, yang berisi pakaian ganti Akira, makan dan minum untuk mereka semua di sana.


"Eeh kamu sudah kembali?" Akira berbasa-basi.


"Iya…" jawab gimana, lalu menyodorkan paper bag yang ia bawa kepada Akira.


Akira mengambilnya dan mengecek apa saja isinya.


Untuk makan dan minum Akira segera menyuguhkan nya di atas meja  untuk nya, ayah dan ibu nya, serta untuk Gian dan juga babysitter .


Setelah itu ia Akira pamit meninggalkan mereka semua, untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Iya silahkan…!" Semua mempersilahkan Akira.


Sementara itu Ayah dan ibunya berbincang dengan Gian.


Tidak lama Akira kembali, dengan wajah dan penampilan yang fresh.


Akira kembali duduk berbincang bersama, sesekali Akira juga menghampiri Sisil di ranjangnya, memberi kan perhatian kepadanya.


Kali ini Sisil tidak rewel ia lebih baik diam, meskipun ingin bertanya atau butuh sesuatu ia lebih memilih untuk bertanya dan meminta bantuan kepada babysitter nya.


Sisil seperti itu karena Sisil mengerti Akira, di juga Gian sedang berbicara dengan orang tua jadi tidak boleh di ganggu.


Itu ajaran dari Nenek dan kakeknya, yang selalu mengajarkan untuk sopan ketika ada orang tua yang sedang ngobrol.

__ADS_1


__ADS_2