Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 147


__ADS_3

Mama Nirmala sungguh geram melihat tingkah Mila seperti itu, ia segera merelai tangan Mila yang mencekal tangan Gian.


Karena Gian sudah berusaha mengibaskan tangannya agar Mila melepaskannya tapi Mila mencelanya dengan sangat kuat sehingga sulit untuk Gian terlepas dari cengkeraman Mila, ditambah Mila membawa bayi, jadi Gian sedikit menahan emosinya, ia takut tindakannya membuat bayi Mila celaka.


Sudah pasti Mila akan menuntutnya dan akan menjadikan itu sebagai senjata untuk menekannya lagi nantinya.


.....


Mama Nirmala juga sengaja merelai agar tidak terjadi sesuatu kepada Mila dan putranya, sebab bisa saja Gian hilang kendali dan bertindak kasar kepada Mila dan bayinya.


"Mila, tanggung jawab seperti apa yang kamu inginkan dari kami, hah! Kurang apa kami selama ini membiayai hidupmu dan putramu!" Sanggah Nyonya Nirmala.


Mila menjadi naik pitam mendengar ucapan Mama Nirmala yang membela putranya-Gian, tidak memikirkan kondisinya yang di abaikan oleh Gian sebagai seorang istri.


"Mama, bukan orang b o d o h  kan? tentunya Mama tahu dong tanggung jawab seorang suami itu tidak hanya sekedar materi, dia harus memberikan nafkah lahir batin, Mah! kepadaku dan juga bayiku." Mila mengingatkan Nyonya Nirmala.


Tapi bukannya marah atau merasa kesal mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Mila, mama Nirmala malah terlihat santai dan sedikit menyunggingkan senyum.


"H'm …" senyum mama Nirmala yang terkesan mencibir Mila.


"Mila, sudah bagus ya Gian mau menikahimu meskipun dengan terpaksa, bayimu jadi punya status anak siapa, padahal dia bukan putra Gian," ucap Mama Nirmala,


"Masih untung juga kami mau memberi tunjangan, membiayaimu dan putramu sampai sekarang." Lanjut mama Nirmala.


"Atas dasar apa mama bicara seperti itu?" tanya Mila.


"Ya, karena kami sudah tau bayi itu bukan anak Gian, saya sudah tau semua kelakuan mu," Mama Nirmala bicara apa adanya.


"Sesat sebelum kamu melahirkan bayimu, aku sempat berpapasan dengan kekasihmu ayah dari bayimu itu, kalian telah memadu kasih siang itu, aku lihat lelaki itu keluar tergesa dengan pakaian yang acak-acakan, dan kamu tau tidak, kenapa saya bisa berada di kamarmu tanpa sepengetahuan mu?" terang Mama Nirmala, sekaligus bertanya,


"Karena kekasihmu, ayah dari bayimu itu lupa menutup pintu, mungkin saking tergesa nya dia, sayang sekali seharusnya aku lebih awal datangnya ke apartemen mu saat itu, munkin aku bisa menangkap basah kelakuan bejad mu dengannya, dan apa yang aku lihat ketika itu?" masih mama Nirmala yang berbicara,


"Di kamarmu berserakan pakaianmu, kamu tidur tanpa busana dengan perut buncit mu, dan yang bikin aku tercengang, tanda merah yang terdapat di tubuhmu," mama Nirmala membeberkan satu persatu bukti yang ia lihat,


"Aku punya bukti tanda merah itu, karena aku sempat mengambil gambarnya," tegas Mama Nirmala.


Panjang lebar mama Nirmala menjelaskan semuanya kecurigaannya.


"Iya, memang saat itu aku habis bercinta dengan lelaki yang Mama maksud itu, karena aku wanita normal, aku butuh belaian dan kehangatan yang tidak aku dapatkan dari suamiku," pengakuan Mila secara terang-terangan di hadapan semua orang.


Mama nirmala tersenyum kecut mendengarnya, "H'm, menjijikan," gumam Mama Nirmala.


"Tapi, putraku ini adalah putra Gian, Gian adalah ayah dari bayiku!" tegas Mila bersikukuh.


"Dengan pengakuanmu tadi, itu cukup membuat kami ragu, siapa sesungguhnya ayah dari bayimu itu, di tambah pengakuan mu yang katanya anakmu lahir prematur tapi pada kenyataannya bayimu lahir dengan bulan yang pas, lebih tepatnya lahir pada waktunya." mama Nirmala kembali mengingatkan.

__ADS_1


Mila terdiam wajahnya merah padam, ia mengeraskan rahangnya menahan emosinya sebab Mama Nirmala, telah membongkar semua kebohongannya.


Tapi Mila tetap berdalih bahwa bayinya adalah putra Gian, dengan mengatakan prediksi dokter itu bisa salah karena dokter juga manusia, atau bisa saja dokter dan Mama Nirmala itu bersekongkol untuk membuat kebohongan tentang bayinya karena bayinya memang terlahir sehat.


Mama Nirmala menggelengkan kepalanya, melihat dan mendengar tindakan Mila yang kukuh mengaku bahwa bayinya adalah putra Gian.


Gian sendiri terlihat santai, sebab ia yakin bayi Mila bukanlah bayinya.


"Oke, kita lakukan tes DNA, untuk membuktikan kebenarannya." Gian menantang Mila.


Seketika itu, ekspresi wajah Mila berubah kontras yang awalnya merah padam kini menjadi pucat pasih. Mila ketar ketir mendapat tantangan dari Gian, karena Mila sadar betul putranya bukan putra Gian.


Tapi Mila tetap berakting menyanggupi tantangan Gian agar  kebohongannya tetap meyakinkan. "O-oke aku setuju, karena aku yakin kamu adalah ayah dari bayiku." Mila bicara seperti itu dengan sangat gugup.


"Tidak perlu." Sergah Mama Nirmala.


"Tunggu sebentar." Lanjut Mama Nirmala lalu pergi meninggalkan mereka menuju kamarnya.


Membuat semua orang merasa bingung dengan sikap mama Nirmala, tapi mereka yakin ada sesuatu yang ingin mama Nirmala tunjukan.


Setelah beberapa saat mereka menunggu, mama Nirmala kembali dengan membawa lembaran kertas di tangannya,  kemudian mama Nirmala menunjukkan apa isi yang tertera di kertas itu.


"Ini hasil tes DNA bayi Mila dan Gian," ternyata sebelumnya mama Nirmala telah melakukan tes DNA secara diam-diam.


Semua orang penasaran dengan hasil dari tes DNA tersebut, Gian lebih dulu melihatnya kemudian ia tersenyum kecut setelah melihat hasilnya.


Terakhir Mila yang melihat kertas itu, rawat wajah Mila berbeda dengan ekspresi wajah yang lainnya, ia terlihat tegang dan panik.


"Tidak mungkin, ini pasti salah." Mila meragukan apa yang tertera di kertas itu, sebab di sana mengatakan bahwa tidak ada kecocokan antara DNA Gian dan bayi Mila.


"Tapi itu hasil tes yang akurat." Ucap mama Nirmala, lalu memperjelas semuanya.


Mila tetap tidak terima dia tetap menyangkal tentang kebenaran dan keakuratan hasil tes tersebut, ia malah menuduh Mama Nirmala melakukan kecurangan sengaja membuat semua itu untuk memanipulasi data-datanya.


"Apa maksudmu, aku tidak selicik dirimu!" pekik mama Nirmala tidak terima dengan tuduhan Mila.


"Ya apapun bisa terjadi, karena kalian punya kuasa, aku juga tidak sebodoh yang kalian kira bisa percaya begitu saja." Padahal Mila tau hasil tes DNA itu memang benar, tapi Mila sengaja bersikap seperti itu. Untuk mempermainkan keluarga Mahendra.


Gian sudah merasa jengah dengan permainan wanita licik macam Mila.


"Apa sebenarnya yang kamu mau?" tanya Gian ingin mengakhiri pertikaian dan menyudahi semuanya. Ia juga bermaksud bernegosiasi dengan Mila agar tidak lagi mengganggu hidupnya.


"Aku ingin kamu mengakui putraku sebagai putramu, dan memberikan hak-haknya." Tuntut Mila.


"Itu tidak akan mungkin, anak h a r a m mu bukan keturunan dari keluarga kami." Mama Nirmala menimpali dengan tegas.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu aku tetap akan menuntut kalian bila perlu aku akan menempuh jalur hukum." Mila menantang.


Tapi tantangan Mila menjadi ide cemerlang bagi keluarga Mahendra, tentunya Gian dan keluarganya menyanggupinya, karena mereka sudah memiliki punya bukti-bukti tentang kebohong Mila.


Mila merasa menyesal telah memberi tantangan seperti itu, karena ia seperti terjebak oleh ucapannya sendiri.


"Oke, jika itu yang kamu inginkan, silahkan pergi dan sampai jumpa di meja hijau!" ucap Gian dengan mantap.


Sebab sebelumnya Gian sudah mengumpulkan semua data tentang Mila, dan siapa ayah dari bayinya. Kini semua data-data sudah berada di tangan Gian bahkan Gian juga telah melakukan tes DNA, antara Jimi dan anak Mila tapi Gian masih menunggu hasil.


Mereka melakukan semua itu secara diam-diam karena mencegah Mila berbuat curang.


Dengan hati penuh penyesalan dan rasa kesal Mila keluar dari rumah itu, ia masuk ke dalam mobilnya yang dulu mama Nirmala berikan kepadanya, ia meletakkan bayinya di box bayi mengambil posisi senyaman mungkin untuk bayinya.


Meskipun emosinya sedang kacau balau, tapi tetap ia ingin memberikan yang terbaik untuk bayinya, ia tidak ingin terjadi sesuatu, atau apapun kepada bayinya.


Setelah posisi bayinya di rasa aman, Mila segera duduk di bangku kemudi untuk mengemudikan mobilnya.


"Sial … sungguh sial … aku terjebak dalam permainanku sendiri, semua ini gara-gara ayah, ia selalu menekankan ku untuk melakukan hal ini, menuntut hakku dan anakku, tapi apa yang ku dapat sekarang aku bisa masuk penjara jika seperti ini." Mila merutuki nasibnya.


ya, ayah Mila selalu datang menemuinya di apartemennya, dan selalu menghasut Mila agar menjadikan pernikahannya dengan Gian berstatus resmi, untuk mendapatkan semua haknya dan hak anaknya.


Karena yang ayah Mila tau anak itu memang anak Gian, jadi sudah seharusnya anak itu mendapatkan apa yang sudah seharusnya ia dapatkan, dalam surat ahli waris keluarga.


Jika Mila dan Gian bercerai pun anak mereka tetap tercantum sebagai ahli waris keluarga Mahendra. Itu menurut pemikiran ayah Mila, dengan demikian ia selalu mendesak Mila untuk membuat status pernikahannya menjadi legal.


Namun pada kenyataannya Mila malah akan terjebak dalam permainannya sendiri.


"Ini juga karena ulah mu Jimi, kamu selalu mempermainkan ku, kamu datang saat kamu menginginkan ku, tapi aku kau buang setelahnya, tapi b o d o h nya aku selalu terbuai oleh sentuhannya." Mila uring-uringan bicara sendiri menyesali kelakuannya.


"Andai saja Jimi mau bertanggung jawab, menikahi ku dan mengakui putraku, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi." Mila bicara dengan nada sendu penuh penyesalan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, mereka sudah pasti akan menang, mereka sudah punya banyak bukti tentang kebohonganku," Mila sudah pesimis dan akan kalah sebab ia sadar betul dirinya memang bersalah.


Tapi Mila mengingat sesuatu, ekspresi wajahnya kembali berbinar lalu ia menepikan mobilnya.


"Aku masih punya bukti foto dan video yang ku punya, itu bisa jadi bukti kuat kalau Gian telah berbuat tidak senonoh kepadaku, aku bisa sebarkan bukti itu dan membuat keluarga Mahendra merasa malu." Mila masih bicara sendiri dengan pedenya.


Kemudian ia meraih rasanya yang ia lakukan di samping kursi kemudi, lalu ia merogoh tas itu untuk mencari ponselnya.


Kemudian ia membuka kunci ponsel yang menggunakan sidik jarinya sebagai passwordnya.


Ia mulai menekan aplikasi galeri di layar ponselnya, untuk melihat penyimpanan foto dan video bukti-bukti saat dirinya sedang bermain-main dengan Gian malam itu.


Tapi setelah Mila merasa panik, sebab apa yang ia cari di ponselnya tidak ia temukan.

__ADS_1


"Astaga, kemana semua foto dan video itu, kenapa menghilang." Mila baru menyadari Bahwa semua bukti yang ia simpan di dalam ponselnya sudah tidak ada.


__ADS_2