Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 30


__ADS_3

"Stop…! tidak dengar apa yang dikatakan oleh security tadi, jangan buat keributan." Akira mengingat kan Gian, Agar tidak membuat akira berteriak lagi, intinya Akira tidak ingin di paksa.


….


"Oke, Oke…!" Gian mengiyakan perkataan Akira, dan mengikuti gerakan Akira mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat bahwa ia tidak akan menyeret Akira.


Tapi Gian tetap meminta Akira untuk ikut dengan nya. Tentu saja Akira menolak dengan berbagai alasan.


Salah satunya Akira tetap ingin tinggal karena takut Sisil sadar dan mencari dirinya.


Akira juga malas selalu berdebat dengan Gian.


"Emang kakak mau ajak aku kemana sih, dan mau ngapain, aku sudah tidak punya tenaga untuk terus berdebat dengan mu." Akira bertanya, sekaligus menolak ajakan Gian.


"Jika memang hanya ingin mengerjaiku, ku mohon ini bukan waktu yang tepat untuk itu, aku sungguh lelah." Akira ingin menyerah.


"Ya sudah kalau begitu, nurut aja." Saran Gian sambil menggandeng tangan Akira.


"Aku sungguh lelah untuk berjalan saja rasanya aku tidak sanggup." Ucapan Akira mampu menghentikan langkah Gian.


Kemudian Gian berjongkok di hadapan Akira, dan meminta Akira untuk naik ke punggungnya.


"Ayo cepat naik!" perintah Gian.


Akira sungguh syok dengan tingkah Gian, 'Apa maksudnya dia seperti ini ' Akira membatin.


Kemudian Akira menggelengkan kepalanya, jelas Akira menolak, tidak ada hujan tidak ada angin mengapa tiba-tiba Gian ingin menggendong Akira, membuat hatinya makin curiga saja.


Padahal Gian hanya ingin mengajak Akira untuk sarapan.


Hanya saja cara Gian memang mencurigakan, bagi Akira yang sering ia sakit.


Karena egonya Gian tidak mampu untuk mengutarakan apa yang ingin ia Sampai, bahwa ia ingin mengajak Akira untuk sarapan bersama.


Untungnya ketika itu, babysitter mengejar mereka, dan memberitahu jika Sisil sudah bangun dan mencari keberadaan Akira.


Akira bergegas untuk menemui Sisil, Akira tidak ingin membuat Sisil kecewa lalu menyangka dirinya akan meninggalkan Sisil.


Gian mengikuti Akira untuk ikut menemui Sisil dengan begitu Gian membatalkan rencananya untuk sarapan.


Tapi Gian sempat menyuruh babysitter untuk membelikan sarapan untuk dirinya dan juga Akira.


Di ruang ICU. ketika Akira masuk menemui Sisi.


Sisil terlihat lebih baik daripada semalam, kini Sisil sudah bisa membuka matanya, dan berbicara lebih kerasa.


"Anteu…!" seru Sisil ketika melihat Akira.


"Iya sayang…!" sahut Akira.


"Jangan tinggalkan Sisil lagi ya anteu!" Sisil takut Akira pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Maafkan anteu sayang… anteu habis dari toilet dulu tadi." terang Akira, agar Sisil tidak salah paham kenapanya.


"Anteu janji tidak akan meninggalkan Sisil lagi kan?" tanya Sisil sekaligus Sisil meminta Akira untuk berjanji bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan sisil lagi.


"Iya anteu janji." jawab Akira, tapi sebelum itu Akira melihat dulu ke arah Gian seakan meminta persetujuan dari Gian agar memberikannya izin untuk tetap bersama Sisil.


Gian mengerti dengan maksud Akira, lalu ia menganggukkan kepalanya memberi isyarat mengiyakan maksud Akira.


"Om…!" Seru Sisil 


"Iya sayang…"  sahut Gian.


"Tolong jangan pisahkan aku dengan anteu lagi, aku janji tidak akan meminta untuk pergi liburan dengan hadiah itu, asal om jangan pernah pisah kan aku dengan anteu baik."  Pinta Sisil dan janji Sisil.


Gian mengangguk dan berjanji tidak akan memisahkan Sisil dengan Akira.


Gian juga berjanji akan mengabulkan keinginan Sisil bahwa ia akan ikut berlibur ke luar negeri bersama  Sisil dan juga Akira.


"Apa! Om mau berangkat?" tanya Sisil untuk menegaskan jawaban Gian.


"Iya sayang kita akan berangkat bertiga… sekarang kamu harus cepat sembuh, agar pas kita berangkat nanti kamu sudah benar-benar sehat." Jawab Gian untuk meyakinkan Sisil dan memotivasi agar Sisil bisa lekas sembuh.


"Om serius…!" Sisil masih kurang yakin.


"Iya sayang om serius, makanya ayo cepat sembuh." Jawab Gian meyakinkan kan Sisil.


Sisil tersenyum bahagia ketika mendengarnya.


Karena kondisi Sisil sudah stabil, ia di pindah kan ke kamar rawat inap, tapi dengan fasilitas terbaik di rumah sakit itu.


Akira merawat Sisil dan menemaninya dengan sabar, penuh perhatian dan kasih sayang.


Setelah di ruang rawat inap, Akira menyuapi Sisil dan membantunya minum obat.


Babysitter masuk dan menyerahkan pesanan Gian.


"Permisi tuan…!" 


"Iya masuk" 


"Ini makanannya"


Gian langsung mengambilnya lalu segera memberikannya kepada Akira, karena Gian tahu Akira pasti lapar dan haus juga.


Kemudian Gian bertanya mengapa babysitter lama sekali.


Babysitter menjawab "Maaf tuan lama, soalnya itu kan makanya ada beberapa jenis berbeda jadi saya harus nyari di tempat yang berbeda juga, di tambah saat saya kembali ke ruang tunggu di ICU, katanya Non Sisil sudah di pindahkan, karena itu jadi lama tuan." Babysitter menerangkan apa alasannya.


"Oo ya sudah." Gian pun mengerti.


Bebysitter kemudian menghampiri Sisil lalu berbasa-basi menanyakan kondisi Sisil.

__ADS_1


Gian meminta Akira untuk bergantian dengan babysitter.


Agar Akira bisa sarapan terlebih dahulu. Karena memang Akira sangat lapar dan haus.


Ia segera bangkit dari duduknya di gantikan oleh babysitter.


Kemudian Gian meminta Akira duduk di sofa masih di ruangan itu.


Saat itu Akira hanya bisa mengikuti apa yang Gian instruksikan, Karena Akira tidak ingin ada perdebatan antara dirinya dan juga Gian di depan Sisil.


Untuk lebih menjaga perasaan Sisil, lagi pula sikap Gian pun tidak menyebalkan seperti biasanya.


Di sofa, Akira dan Gian menikmati sarapannya, Akira langsung menuguk air minumnya terlebih dahulu, karena dari awal ia sudah haus.


Glek… glek… gleg… air itu berhasil melewati tenggorokan Akira, begitu sejuk Akira merasakannya.


Gian hanya menatap Akira, di saat itu perasaan Gian sudah merasa luluh, Gian merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.


Padahal kepada Shafira sendiri wanita yang katanya ia cintai, ia tidak pernah merasakan perasaan seperti itu.


Rasa kagum atasa kesabaran Akira dalam menghadapi semua sikap kasar Gian selama ini, Akira pun begitu sabar menghadapi sifat manja Sisil.


Karena itu di hati Gian menyimpan penyesalan dan rasa bersalah.


Itu lah mengapa Gian memiliki perasaan yang berbeda kepada Akira, ia merasa sangat kasihan bahkan menyayangi Akira ketika itu.


Akira sadar betul ia sedang diperhatikan oleh Gian dalam diam. Tapi karena sifat Akira juga yang cuek Akira tidak menghiraukannya.


Sampai pada saat ibu, dan ayah Akira berkunjung kerumah sakit untuk menjenguk keadaan Sisil.


"Assalamualaikum…!" Ayah dan ibu memberi salam ketika hendak masuk.


Bebysitter langsung bangkit dari tempat duduknya, dan melihat siapa yang datang.


 Dan ternyata ayah Ayus dan juga ibu Dewi.


Merek sudah masuk lebih dulu, sebelum dipersilahkan masuk.


"Akira…!" seru ibu ketika melihat putranya sedang duduk menikmati sarapannya.


Akira yang sedang fokus kala itu, langsung melihat ke arah sumber suara.


"Ayah… Ibu…!" Akira balik berseru, lalu menghampiri keduanya kemudian mencium tangannya dan di ikut oleh Gian suaminya.


Sikap Gian begitu baik dan sangat menghargai serta menghormati kedua orang tua Akira.


Berbeda jauh dengan Gian ketika terakhir bertemu dengan mereka begitu sombong dan angkuh karena hatinya diliputi rasa kecewa, sakit hati, dan kebencian serta dendam. Karena merasa dikhianati oleh Shafira.


Namun kali ini, hati gimana sudah luluh dan lebih menghormati mereka.


Akira pun tidak menyangka Gian akan bersikap seperti itu kepada kedua orang tuanya, karena yang Akira tau sebelumnya, Gian sangat membenci apa yang berhubungan dengan Shafira.

__ADS_1


 


__ADS_2