
Karena Akira pun tidak dapat membantu Gian akhirnya, Gian hanya bisa pasrah dan menunggu sampai proses pemeriksaan selesai.
Ketika itu, Riza menghampiri Akira dan memberikan air mineral kepada Akira.
"Bu…!"seru Riza, itu sebutan Riza kepada Akira saat sedang bertugas, begitu juga dengan Akira menyebut Riza dengan sebutan bapak, dan itu berlaku kepada setiap para anggota polisi/atau polwan.
"Ini minum dulu cuaca panas banget pasti kamu aus!" ucap Riza sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Akira.
Kebetulan Akira memang sedang merasa kehausan, Akira langsung mengambilnya air minum itu, tapi sebelum Akira mengambilnya Riza pun membukakan tutupnya terlebih dahulu untuk memudahkan Akira, sehingga Akira langsung meneguknya.
"Terimakasih…" ucap Akira setelah dan sesudah meneguk air mineral itu.
Riza tersenyum karena Akira mau menerima bentuk perhatian darinya, padahal sebelumnya Akira selalu menghindari kontak langsung dengan Riza.
Cuaca terik di siang hari bolong, makin terasa panas bagi Gian ketika ia harus menyaksikan, perhatian yang diberikan Riza kepada istrinya.
"Sialan… apa maksudnya mereka seperti itu? mau manas-manasin aku… sorry gak ngaruh bagiku." ketus gimana, padahal pada kenyataannya ia memang terbakar api cemburu.
Yang panasnya melebihi cuaca saat itu, sebenarnya Riza tidak berniat untuk memanas-manasi Gian, itu memang bentuk perhatian yang sering Riza berikan kepada Akira.
Begitu juga dengan Akira, tidak ada pikiran untuk membuat Gian cemburu kepadanya, karena Akira pikir tidak akan ada rasa cemburu di hati Gian untuk nya, karena memang di antara mereka berdua tidak pernah ada rasa cinta atau rasa apapun, selain rasa kebencian.
Kebersamaan mereka hanya karena suatu keterpaksaan, bahkan dalam perjanjian sebelum pernikahan, mereka bisa hidup bebas tanpa memikirkan ikatan pernikahan.
Tapi karena rasa kecewa dan sakit yang dirasakan oleh Gian sehingga ia ingin menuntut balas, lalu ia berubah pikiran dan membuat semua berubah dari rencana Akira.
Yang berniat menuntut cerai setelah pernikahan di laksanakan.
Tapi pada kenyataannya, di malam pertama Gian malah menunaikan kewajibannya secara paksa.
Dan itu yang membuat Akira merasa terikat dengan pernikahan mereka, sesungguhnya perasaan cinta di hati Akira untuk Gian tidak ada sama sekali, cintanya sudah terpatri hanya untuk Riza seorang.
Tapi karena semua kejadian yang terjadi membuat Akira menarik diri dari cintanya.
__ADS_1
Memilih menghindar untuk menjaga perasaan semua orang termasuk perasaannya sendiri.
Akira lebih memilih untuk berdamai dengan keadaan, yaitu sabar tabah dan menerima menjadi istri seorang Gian, meskipun tidak pernah dianggap atau pun dihargai.
Bukan karena Akira lemah tapi lebih karena ia memikirkan kedua orang tuanya, Akira tidak ingin Gian membuktikan ancamannya, dan membuat kedua orang tuanya lebih menderita lagi.
Dengan kepergian Shafira, di hari pernikahannya cukup menjadi beban pikiran bagi kedua orang tuanya, di tambah mereka terpaksa menjadikan putri bungsu mereka sebagai penggantinya, membuat mereka merasa bersalah kepada Akira, dan itu menambah beban mental bagi kedua orang tuanya.
Untuk itu Akira sungguh menjaga perasaan kedua orang tuanya. Akira tidak ingin menambah beban kedua orang tuanya.
Biarlah ia yang mengalah, berpura-pura baik-baik saja, meskipun dalam hatinya ia selalu menangis, teringat cintanya yang harus kandas begitu saja, apa lagi ketika ia teringat malam pertamanya bersama Gian.
Akira sungguh membenci kejadian itu, kadang ketika ia melihat Gian ingin sekali Akira menghajarnya.
Tapi ketika perasaan emosi itu muncul, ketika itu pula bayangan kedua orang tuanya selalu melintas di benaknya, sehingga Akira selalu menahan diri, dan berusaha untuk lebih sabar dan santai.
walaupun Akira dan Gian suami istri, Tapi mereka tidak nampak seperti sepasang suami istri, baik Gian maupun Akira mereka sama-sama bersikap cuek.
Sampai semua rangkaian pemeriksaan selesai Gian dan sopirnya pergi.
Akira termenung, merasakan kepedihan hatinya, "Aku memang istrinya tapi itu hanya sebatas istri pengganti, yang tidak pernah dianggap ada." Batin Akira, setelah melihat kepergian Gian.
Riza melihat Akira dengan wajah sendunya, kemudian Riza menghampirinya.
"Akira kamu baik-baik saja?" Riza tau Akira memendam sebuah rasa sakit, Akira tertekan dalam pernikahan nya.
Akira terhenyak ketika Riza menegurnya, "Eeh,,, i-iya aku tidak apa-apa." Jawab Akira gugup.
Dan tidak lama pimpinan tim mereka mendapatkan laporan bahwa mobil yang membawa obat-obatan terlarang tersebut sudah tertangkap di titik jalur lain.
Sehingga tugas dianggap selesai lalu mereka kembali ke kantor polisi tempat mereka bertugas.
….
__ADS_1
Di sisi lain…
Selang beberapa waktu, Gian tiba di tempat acara rapat, dan benar saja Gian sudah terlambat hampir satu jam.
Saat Gian memasuki ruangan rapat, ternyata rapat sudah usai keputusan sudah ditentukan, dan sudah dipastikan bukan Gian lah pemenang terdengar tersebut.
Tender milyaran yang harus nya menjadi miliknya melayang begitu saja.
Gian sungguh kesal dan kecewa menerima kenyataan tersebut.
"Maaf semuanya saya mendapat kendala di jalan sehingga saya telat sampai." ucap Gian ketika masuk ruangan.
Semua orang disana menatap Gian dengan terbengong, terutama pemilik tender, ia merasa serba salah karena tender yang seharusnya diserahkan kepada Gian, kini telah menjadi milik PT lain.
" Maafkan kami pak Gian keputusan sudah di ambil dan surat konterak kerjasama sudah di tandatangani oleh kedua belah pihak." Ucap pihak pemilik tender.
Gian sudah dapat menduganya, hanya saja Gian perlu meluruskan mengapa ia bisa telah hadir di acara tersebut, agar imagenya tetap baik di dalam dunia bisnisnya.
"Oo iya,,, saya sudah menduganya, karena keterlambatan saya, pasti keputusan sudah di ambil." Ucap Gian berusaha berbesar hati.
"Ya,,, maafkan kami pak Gian, mungkin lain waktu kami bisa menjalin kerjasama dengan Anda." Pihak pemilik tender, merasa tidak enak hati dan memohon maaf.
Karena itu Gian pun langsung pergi dari tempat itu dengan rasa kesal dan kecewa.
"Sialan…!" Pekik Gian kesal ketika dia sudah berada di dalam mobilnya.
"Ini semua gara-gara wanita tomboi dan gerombolannya yang menahan perjalanan ku tadi, aku sampai harus mengalami kerugian sebesar ini…" Gian menyalahkan Akira karena tidak menolongnya atau membelanya sehingga ia bisa terlambat hadir di acara pentingnya.
"Sial.. sial… dasar sial… awas kau wanita tomboi… aku akan pastikan kamu menerima akibatnya nanti…!" Ancam Gian dan menjadikan Akira sebagai kambing hitam dalam masalahnya.
"Jalan pak…!" Kemudian Gian meminta sopir pribadinya untuk melajukan mobilnya.
Setibanya di kantornya Gian langsung memasuki ruangannya.
__ADS_1
Di ruangannya Gian dengan emosi mengacak-acak barang-barang yang ada di atas mejanya, ia juga menjambak-jambak rambutnya, sambil berteriak, "Sial… sial… dasar wanita tomboi sialan." Gian begitu frustasi karena telah mengalami kegagalan, yang disebabkan oleh peristiwa penyetopan jalan dan pemeriksaan pihak kepolisian.