Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 18


__ADS_3

Akhirnya Akira menyerah dan tidak lagi merayu Sisil lagi, Akira malah menyuruh salah satu ART untuk menelpon majikannya (Gian) yang sedang bekerja, untuk melaporkan sikap Sisil seperti itu.


Lalu baby sitter Sisil lah yang melakukan panggilan telepon tersebut.


Tut… Tut… Tut…! Bunyi sambung telepon yang belum diangkat oleh Gian.


Berkali-kali baby sitter melakukan panggilan telepon untuk menghubungi Gian namun tidak ada jawaban.


Baby sitter melaporkan, "Non saya Sudah berkali-kali menghubungi tuan Gian, tapi tetap tidak ada jawaban." Baby sitter memberi tahu Akira dan Sisil.


Mendengar itu Sisil malah mengamuk, menangis meraung-raung sebab ia merasa kecewa, padahal Sisil sudah sangat berharap kalau ia bisa menghadiri acara bersama Akira dan juga Gian.


Namun pada kenyataannya, ia harus kecewa karena jangankan Gian ikut hadir bersamanya, Gian malah tidak menerima panggilan telepon sama sekali.


Itu lah mengapa Sisil menangis meraung-raung.


Akira begitu bingung menghadapi Sisil saat itu, "Ini tuh gimana bi?" tanya Akira kepada babysitter Sisil yang biasa menanganinya.


"Ya jika seperti ini, non Sisil sulit untuk di bujuk, kecuali keinginannya dipenuhi." terang Beby sitternya.


Akira termenung, untuk mencari cara bagaimana caranya agar Sisil bisa tenang.


Akira mencoba untuk merayu dan membujuk Sisil kembali, tapi Sisil tetap menangis.


Akira benar-benar menyerah, ia menggelengkan kepalanya ketika Beby sitter Sisil melihat ke arahnya.


"Nona Akira coba anda yang menghubungi tuan Gian, jika anda yang melakukannya siapa tau tuan Gian mau menerima panggilan telepon dari anda." Saran dari Beby sitter.


Akira mengerutkan keningnya, sebagai isyarat bahwa ia sedang protes.


"Apa harus aku yang melakukannya?" tanya Akira untuk meyakinkan dirinya.


"Iya Nona." Tegas Baby sitter.


Akira terlihat berpikir, ia merasa sangat gengsi untuk melakukan hal itu.


Tapi melihat Sisil yang terus menangis Akira pun merasa tidak tega.


Pada akhirnya, Akira terpaksa melakukan panggilan telepon untuk menghubungi Gian menggunakan handphone miliknya sendiri.


Kemudian Akira meminta nomor handphone Gian kepada babysitter Sisil, karena Akira memang tidak punya nomor handphone Gian.


Dengan ragu-ragu Akira mulai menghubungi nomor Gian.

__ADS_1


Hati Akira terasa deg-degan tidak karuan.


Entah perasaan apa yang ia rasakan, yang jelas Akira merasa resah ketika itu.


Selang beberapa waktu, terdengar suara di ujung telepon "Halo selamat siang dengan Giantha Mahendra di sini, maaf ini siapa?" sapa Gian ketika menerima sambungan telepon dari Akira.


DEG,,,, jantung Akira makin berdetak tidak karuan ketika mendengar suara itu.


"H-halao…!" sahut Akira.


"Iya,,, ini siapa, jangan main-main dengan saya…?" Kemudian ancam Gian, karena merasa sedang dipermainkan.


Dan itu membuat Akira makin gugup.


"I-ini saya Akira!" terang Akira kemudian.


Gian mengerutkan dahinya, merasa heran mengapa Akira menghubunginya.


"Kamu…!" seru Gian.


"Iya…!" Sahut Akira.


"Ada apa…?" tanya Gian tanpa basa-basi lagi.


Tapi sebelum di serahkan kepada Sisil, babysitter lebih dulu bicara kepada Gian, menerangkan keadaan Sisil.


Setelah itu, barulah handphone itu diserahkan kepada Sisil.


Gian mulai berbicara kepada Sisil, membujuknya menenangkan Sisil yang sedang menangis terisak-isak.


"Sisil jangan nangis ya,,, Oke om pulang sekarang, om ikut bersama Sisil ke acara pesta ulangtahun sekolah Sisil tapi ingat Sisil nya gak boleh nakal…"ucap Gian penuh kelembutan.


"Hiks,,, Hiks… om yang nakal, dari tadi di telpon sama bibi tapi gak mau ngangkat." jawab Sisil masih terisak-isak.


"Oo iya maaf tadi om sedang di ruangan meeting jadi gak bisa menerima panggilan telepon." Gian menerangkan.


Kemudian Gian mengakhiri sambungan telponnya.


Gian menatap Nomor handphone yang baru saja menghubunginya dalam benak nya ia berpikir, "Apakah ini nomer handphone gadis tomboi itu" 


Gian berpikir seakan Akira orang lain dengan mengatakan gadis tomboi kepada Akira, padahal gadis tomboi itu adalah istrinya dan ia telah merenggut kegadisannya.


Gian menyimpan nomor itu, ia pikir suatu saat ia mungkin membuatkannya.

__ADS_1


Gian pun melihat foto profilnya Akira di nomor yang ia save, yang menampakan full wajah Akira dengan rambut pendeknya sambil tersenyum, terlihat begitu cantik dan manisnya Akira di foto itu, dan menjadi daya pikat bagi Gian sehingga tanpa Gian sadari ia ikut tersenyum, seakan membalas senyuman Akira yang nampak di foto profilnya.


"Astaga… apa-apa aku ini…? bisa-bisanya aku tersenyum melihat Foto profilnya gadis tomboi ini!" Gian menepis perasaannya.


kemudian Gian menutupi layar handphonenya, dan menyimpannya di saku celananya.


Gian keluar dari ruang kantornya, dan memberi tau asistennya bahwa ia izin pulang lebih awal sebab ada urusan keluarga, Gian juga melihat asistennya untuk menunda semu pekerjaannya hari itu.


….


Selang beberapa waktu Gian sampai di rumahnya.


Ia segera menemui Sisil, kebetulan saat itu Sisil sedang duduk di pangkuan Akira dengan posisi menghadap ke tubuh Akira dan membenamkan wajahnya di dada Akira.


Akira mengelus-elus punggung Sisil dengan penuh kasih sayang untuk menenangkan Sisil yang sempat menangis terisak-isak.


Terlihat Sisil begitu nyaman dengan posisi seperti itu, dengan perlakuan lembut Akira.


Sisil seakan merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri, yang selama ini ia rindukan, bahkan Nene, kakeknya sendiri yang merawatnya dari bayi tidak pernah memperlakukan Sisil seperti itu, sebab mereka terlalu sibuk untuk melakukan hal itu.


Sedangkan baby sitter seperti apa pun kasih sayang yang mereka berikan tetap saja Sisil bisa merasakan tidak setulus Akira kepadanya.


Melihat itu hati Gian kembali merasa terenyuh.


Gian mendekat ke arah mereka, lalu mengelus punggung Sisil.


"Sisil sayang…!" sapa Gian.


Kedatangan Gian sebelumnya sama sekali tidak diketahui Akira maupun Sisil, sehingga keduanya begitu terkejut ketika menyadarinya.


Sisil langsung menegakan kepalanya lalu menoleh ke arah Gian.


"Om sudah pulang!" Sisil begitu senang.


Beda dengan Akira, ia memang terkejut tapi ia berusaha untuk menutupi rasa itu.


Akira berusaha untuk bersikap biasa saja dan setenang mungkin, tapi Akira tetap menghindari kontak mata dengan Gian. Dengan memalingkan wajahnya.


"Sayang… om siap-siap dulu ya!" ucap Gian kepada Sisil sambil mengelus punggungnya, sementara matanya tetap fokus melihat ke wajah Akira yang tidak ingin menatapnya.


"Iya om tapi cepetan ya, aku sudah terlambat hadir!" jawab Sisil.


"Oke…!" Lalu Gian berlalu begitu saja tanpa bicara sepatah kata pun kepada Akira.

__ADS_1


padahal sambil berjalan menuju kamarnya, dalam benak Gian dipenuhi tentang Akira, "Sepertinya gadis tomboy itu sangat membenci ku, padahal aku ingin sekali menanyakan kabarnya, tapi melihat responnya seperti itu kepada ku, aku jadi ragu." ucap Gian dalam hatinya.


__ADS_2