Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 75


__ADS_3

"Oo tentu saja, aku terlalu berharga disakiti oleh mereka yang hanya tai kuku untukku, aku masih muda, cantik, punya segalanya, aku bisa bahagia dengan caraku sendiri, rugi bagiku meratapi hidup hanya karena dua sampah seperti mereka." Vera menanggapi Akira dengan sombong dan angkuh.


….


"Ya, hebat sekali kamu, aku ikut mendoakan yang terbaik untukmu." Akira mendoakan Vera.


Vera tersenyum kecut, "Hmmm … !" Ia merasa Akira sedang mengejeknya.


Akira mengutarakan bahwa ia menyayangkan kelakuan kakaknya, ia juga memohon maaf atas kelakuan kakaknya.


"Kami sungguh merasa malu dan bersalah atas semua yang terjadi, jujur kami keluarga tidak tahu tentang semua ini, saya dan ayah merasa curiga ketika dia memaksa pergi sendiri dalam keadaan sakit." Akira menjelaskan.


Vera tersenyum getir mendengar ucapan Akira.


"Mereka sudah lama menjalin hubungan, aku sudah curiga sejak lama, tapi baru kali ini aku mendapatkan bukti nyata." ucap Vera lirih.


Meskipun ia berusaha tegar menghadapi semua pengkhianatan suami dan sahabatnya. Tapi ia tetap wanita biasa punya sisi lemah dan sudah pasti hatinya sangat rapuh.


"Aku mengerti kamu pasti sangat terguncang dengan kejadian ini, tapi aku yakin kamu bisa melewatinya, kamu wanita kuat, tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya."


"Ini artinya kamu adalah wanita pilihan, kamu istimewa." Akira bermaksud untuk menguatkan Vera.


Namun Vera, menangis mendengarnya, "Hiks … hiks … aku hanya wanita biasa yang lemah, aku telah gagal menjadi seorang istri …" Vera merutuki dirinya.


"Tidak, itu tidak benar justru kamu hebat kamu terpilih menjadi wanita kuat, untuk melewati semua ujian ini,"


"Semoga setelah ini, akan ada kebahagiaan untukmu, dengan begini Tuhan tunjukkan suamimu macam apa, bukan lelaki yang bertanggung jawab, dia bukan imam  yang baik untukmu, harusnya kamu lega telah tau kebusukannya." Akira terus saja memberi semangat kepada Vera, padahal Akira baru kali ini melihatnya.


"Ya sudah, kami pergi dulu, kamu tidak apa-apakan kami tinggalkan?" Akira ingin memastikan bahwa Vera akan baik-baik saja.


Vera mengangguk, meyakinkan Akira. Dengan berat hati Akira pergi meninggalkan Vera seorang diri.


Selepas kepergian Akira, Vera menangis histeris, ia meraung-raung, melampiaskan kekecewaannya, sakit hatinya, kebenciannya.


Ia luluh lantakkan semua barang-barang yang ada di sana sehingga semua barang-barang yang awalnya tertata rapi pada tempatnya kita berserakan di lantai.


Setelah melampiaskan semua rasa yang ia rasakan, tubuhnya pun ambruk di lantai, ia terduduk, Vera menangis sejadi-jadinya, ia menjambak-jambak rambutnya, Vera sangat prustasi.


"Aaa ~ aku, benci kalian, benci sekali …."



Meninggalkan Vera dengan luka hatinya.


Kini Akira dan yang lainnya sudah berada di rumah Ayah Ayus, Akira dan Gian baru saja sampai karena mereka datang belakangan.


Akira masuk dan melihat suasana disana begitu tegan, Sahfira masih saja menangis, sambil bersimpuh di kaki Ayahnya.


"Ayah, maafkan aku Ayah!"  Shafira memohon ampun dari Ayahnya.


"Kami sungguh merasa sangat kecewa kepadaku Shafira." 


"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" Lanjut ayah bertanya.


"Sudah lama." jawab shafira dengan nada suara lirih.

__ADS_1


"Apa karena ini kamu, lari dari pernikahanmu dengan Gian?." Ayah Ayus hanya ingin memastikan.


Shafira mengangguk, sebagai jawaban mengiyakan pertanyaan Ayahnya .


"Ya Tuhan Shafira …!" seru Ibu  Yuli tidak  menyangka.


Gian begitu kecewa kepada Shafira ketika tau yang sebenarnya.


"Kamu tau apa yang kamu lakukan itu adalah dosa Shafira?" Ayah Ayus masih mencecar Shafira dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Iya, Ayah  aku tau hidupku penuh dosa." Shafira menyadari kesalahannya.


"Kenapa Shafira, kenapa Nak, kamu melakukan ini semua, kami sebagai orang tua tidak pernah mengajarkan anak-anak kami untuk berbuat demikian." Ibu Yulia tidak habis pikir dengan apa yang putri sulungnya lakukan.


Shakira tidak dapat menjawabnya lagi, ia masih terduduk di lantai menundukkan kepalanya sambil terus menangis.


Akira mendekatinya dan membantu membangunkannya dan membawanya untuk kembali duduk di sofa.


"Sekarang kalian mau bagaimana, jalan satu-satunya kalian harus segera dinikahkan." Ayah Ayus harus segera mengambil tindakan.


Lucky yang awalnya hanya diam seribu bahasa, kini ia angkat bicara, "Sesungguh aku memang sangat mencintai Shafira, karena itu aku melakukan hal ini, aku juga yang melarikannya keluar negeri karena aku tidak rela Shafira menikah dengan lelaki lain, jadi aku siap untuk menikahi Shafira saat ini juga." tegas lucky.


Akira tercengang mendengar ucapan Lucky, "Apa kamu tidak memikirkan perasaan istrimu?" Akira bertanya Betapa egoisnya lelaki ini dengan tegas dan seakan bangga dia mengutarakan perasaannya.


Ia tidak memikirkan perasaan seorang perempuan yang sedang terluka.


Bukannya ia, meminta maaf dan berusaha menyembuhkan lukanya memperbaiki segalanya, dia malah ingin menambah luka dengan segera menikahi kekasih gelapnya, Sungguh Akira tidak menduganya.


"Kenapa harus memikirkan perempuan macam dia, perempuan sombong dan angkuh, kamu lihat sendiri kan tadi? dia tidak memperlakukanku seperti manusia apalagi sebagai seorang suami."


"Lalu jika begitu kenapa kamu jadikan dia istrimu, kenapa kamu tidak menikahi kakak sedari dulu, malah kamu mempermainkan dua wanita sekaligus seperti ini, hah!" Pekik Akira.


Susana mulai memanas, karena Akira tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh lucky sangat menyinggung perasaan, sebab kakaknya yang jadi korbannya.


"Itulah, yang membuat aku menyesal, aku butuh dia untuk menuju tujuanku, tapi ternyata aku hanya dijadikan bonekanya saja, karena tetap dialah yang berkuasa."


Lucky pikir dengan menikahi Vera yang memiliki akses kesuksesan baginya akan mudah ia kendalikan karena mencintainya.


Tapi pada kenyataannya Lucky selalu ditekankan oleh Vera, di rendahkan, di ungkit selalu kastanya sebagai orang miskin.


Bahkan untuk menyalurkan hasratnya saja itu harus sesuai keinginan Vera, semua Vera yang mengatur, jika Vera berkata tidak apapun tidak akan terjadi.


Dengan Shafira, Lucky bisa mendapatkan kepuasan yang hakiki, permainan ranjang selalu dia yang mendominasi, bermain saling memuaskan.


Shafira juga selalu menuruti setiap keinginannya, termasuk lari dari pernikahannya, dan tinggal di luar negeri.


"Bersama Shafira aku merasa bahagia." tegas Lucky sepertinya tidak ada penyesalan sedikitpun di hatinya.


"Tapi kakakku yang jadi korban keegoisanmu!" Akira berteriak makin geram.


"Lihat dia kehilangan segalanya, karirnya, wibawanya, kehormatannya. cintanya dan bahkan kepercayaan diri keluarganya, dia sudah kehilangan itu semua." Akira mengingatkan betapa Shafira orang yang paling dirugikan dalam hal ini.


Shafira memejamkan matanya dengan kasar, menahan perihnya kebenaran yang diutarakan oleh Akira tentang kerugian yang dialaminya.


Akira sudah mulai tidak terkendali dia yang terlihat begitu emosional saat ini.

__ADS_1


Ayah segera menengahi, karena Susana sudah memanas dan itu tidak baik bagi semuanya, keputusan akan mengalami jalan buntu dan jika Akira terlalu emosi juga tidak baik bagi kesehatannya dan juga kesehatan bayinya.


Ayah menyudahi perdebatan, "Cukup Akira tenangkan dirimu, semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali seperti dulu." Ayah menenangkan Akira.


"Ayah sudah mengambil keputusan, untuk kebaikan kalian berdua ( Shafira dan lucky) karena kalian juga saling mencintai sebaiknya kalian segera di nikahikan sekarang juga, Ayah akan menghubungi ketua RT minta bantuannya untuk mengurus persiapan pernikahan kalian." terang Ayah.


Shafira melirik ke arah Gian ketika Ayahnya selesai berbicara.


"Gian, aku masih mencintaimu, perasaan cintaku kepadamu semakin hari semakin bertambah kuat, aku tersiksa dengan perasaan ini, hiks … hiks …." Shafira malah berharap bisa kembali kepada Gian.


Dasarnya Shafira sendiri tidak tahu diri, tidak bisa melihat keadaan dirinya sendiri, sudah ketahuan berkhianat, tertangkap basah sedang bermain gila, masih saja berharap Gian akan merasa iba bersimpati kepadanya, memaafkannya dan memungutnya kembali.


Gian memang merasa kasihan kepadanya dan menyayangkan semua kelakuannya.


Tapi itu hanya sebatas rasa kasihan saja, jika untuk kembali kepadanya rasanya itu tidak mungkin.


Gian malah merasa bersyukur bisa mengetahui itu semua saat ini, ia jadi lebih yakin atas perasaannya kepada Akira, Gian jadi merasa bangga memiliki Akira, dan Tambah mengaguminya.


"Maaf Shafira, Diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku sudah memiliki Akira wanita yang sangat aku cintai dan sebentar lagi kami akan segera mendapatkan momongan, jadi lupakanlah anggap saja diantara kita tidak pernah ada apa-apa." Gian menolak dengan tegas.


"Bahkan aku berterima kasih kepadamu, telah lari di hari pernikahan kita saat itu, sehingga aku bisa mengenal Akira, dan menikahinya, karena aku sangat beruntung memilikinya, selain dia cantik alami, dia pintar, dia sabar, sangat tulus rela berkorban demi orang-orang yang di sayangi." Gian malah memuji istrinya di depan semua orang.


Shafira melirik ke arah adiknya dengan tatapan tajam, beranggapan semua ini bisa terbongkar Karena ulahnya.


Menurutnya Akira sengaja ingin menjatuhkannya di depan semua orang terutama di mata Gian agar hanya dirinya yang dapat memiliki Gian.


"Hhmm, hebat kamu Akira, aku akui kamu pintar, aku kalah Akira." tiba-tiba shafira berucap seperti itu, membuat semua orang bingung.


"Apa maksudmu kak?" Akira minta penjelasan.


"Iya, kamu sengaja melakukan ini semua, sebenarnya kamu sudah tau tentang hubunganku dengan lucky sudah sejak lama, tapi kamu diam tidak memberi tahu siapapun, aku kira kamu memang berhati emas Akira, bisa menyimpan rahasia tidak mengambil keuntungan dari itu.'


"Tapi nyatanya kamu berhati busuk kamu membongkar semuanya, didepan semu orang, kamu seperti menjebakku, Kamu jahat Akira!" tuding Safira.


"Tidak, itu tidak benar karena kejadiannya tidak seperti itu." Akira berusaha untuk menyangkal.


Namun kembali Ayah Ayus yang menjelaskan, kebenarannya mengapa mereka bisa berada di apartemen itu, dan memergokinya sedang berbuat mesum.


Karena Ayah curigai dengan sikapnya yang memaksa pergi sendiri, padahal selama ini ia selalu membutuhkan bantuan untuk melakukan sesuatu.


Dan Ayah merasa khawatir akan terjadi sesuatu kepadanya, maka Ayah mengajak Akira untuk ikut dengannya membuntutinya.


"Akira tidak tahu apa-apa, bahkan ia tidak berniat untuk mengikutimu jika Ayah tidak mengajarkannya."


Ayah membela Akira, dan itu membuat Shafira makin muak kepada Akira karena semua orang membelanya dan memujinya.


"Bohong … kalian bohong …!" teriak Shafira dan malah ingin menyerang Akira.


Ayah langsung berdiri menghalangi pergerakan Shafira, Gian langsung merangkul Akira dan melindunginya.


Lucky juga ikut memegangi Shafira, lalu Ayah Ayus memintanya untuk membawa Shafira ke kamarnya.


....


Bagaimana kelanjutan ceritanya apakah Sahfira akan selalu membenci Akira.

__ADS_1


__ADS_2