Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 153


__ADS_3

Buat kalian yang sudah sempat baca bab sebelumnya dan merasa bingung karena alur cerita tidak nyambung mohon baca ulang ya, karena author telah melakukan revisi di 2-3 bab sebelumnya, ada perbaikan kata-kata yang typo, dan banyak penambahan kata-kata agar lebih jelas dan menyambung alur ceritanya.


Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya 🙏sebab author masih belajar banyak perbaikan yang author harus lakukan, Terim kasih atas dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejakmu mu dengan cara like, vote, komen, subscribe, serta bintang limanya ya kawan.


pelukan ciuman othor dari jauh untuk kalian semua ....! 🫂🫂🫂 😘😘😘


……


Gian masih berdiri di atas balkon ia masih menikmati suasana paginya, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya, dengan berulang kali menghirup udara pagi yang sejuk secara perlahan lalu menghembuskannya secara perlahan pula, sambil memejamkan matanya.


Dalam hatinya ia berdoa, "Tuhanku, engkau memberi ku keyakinan bahwa istri dan anakku masih hidup, dan kini engkau memberi ku secercah harapan akan kembalinya mereka dalam hidupku, Tuhan tolong berikan aku petunjuk permudah jalanku untuk menemukannya jika engkau menghendaki kami untuk kembali bersama." Dan ketika ia selesai berdoa.


Alangkah terkejutnya saat membuka matanya dan Gian melihat ke bawah balkon, doanya seperti sedang di dengarkan oleh Tuhan dengan munculnya sosok yang selama ini ia cari dan ia rindukan, tepat berada di pandangan matanya.


….


Sesuai rencana Bi Atun dan sesuai juga dengan keinginan Shilla, ikut serta bersama Bi Atun, yang kini telah sampai di pekarangan sebuah villa.


Dan di sana Bi Atun meminta agar Shilla menunggunya terlebih dulu di pekarangan villa tersebut.


"Nona Shilla, Anda tunggu dulu sebentar ya di sini, biar saya masuk dulu lewat belakang, saya ingin memastikan situasi di dalam aman tidak untuk anda dan juga untuk Dede Anjas." Bi Atun mengintruksi Shilla agar mau menunggunya.


Shilla mengerti dengan maksud Bi Atun ia menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia mengerti.


Kemudian bi Atun segera berlalu meninggalkan Shilla bersama putranya.


Selepas kepergian Bi Atun, Shilla mengedarkan pandangannya, ia melihat sekeliling pemandangan di villa itu begitu menakjubkan, tamannya di hiasi tanah dan pepohonan hijau yang tertata rapi begitu sedap dipandang mata, shilla begitu menikmati keindahan alam di sekitarnya.


Sampai Shilla tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dengan seksama.


Di atas balkon villa, Gian begitu tercengang melihat sosok seorang wanita sambil menggendong balita di pelukannya.


Gian merasa pandangan yang sedang ia saksikan hanyalah sebuah halusinasi, ia tidak begitu yakin dengan apa yang ia lihat ia tetap memaku dengan tatapan tetap terfokus kepada sang wanita.


Tidak lama Bi Atun dan asisten rumah tangga di villa itu menghampiri Shilla.


"Nona, mari masuk situasi di dalam aman kok nona, anda dan putra anda bisa beristirahat di daerah belakang villa di sana ada semacam aula bisa untuk anda dan putra anda bermain serta beristri." Ajak Ais nama adik Bi Atun yang menjadi asisten rumah tangga di villa itu.


Shilla tersenyum dan mengangguk, lalu mengikuti langkah Ais dan juga bi Atun untuk masuk ke dalam villa.


Saat melihat Bi Atun dan  asisten rumah tangga di villanya Gian baru merasa  benar-benar yakin jika dirinya tidak sedang berhalusinasi.


"Oo Tuhanku, Ini sungguh nyata, Akira ada di sini …!" gumam Gian, lalu ia berlari keluar kamarnya menuruni anak tangga satu persatu dengan tergesa-gesa.


Gian melihat dari  arah pintu Akira sedang berjalan memasuki villanya, mereka berjalan dari arah yang berlawanan.


Kemudian tanpa aba-aba lagi Gian langsung menyambar tubuh Shilla dan putranya dengan sebuah pelukan, ia mendekapnya dengan erat, dengan nafas yang tersengal-sengal, Shila dapat merasakan detak jantungnya deruan nafasnya, dan cairan hangat membasahi pundaknya. Iya, Gian menangis terisak-isak karena rasa bahagia yang ia rasakan.


Awalnya Shilla sempat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Gian, yang tiba-tiba saja memeluk dirinya namun kehangatan dekapan Gian terasa tidak asing lagi baginya.

__ADS_1


Ia merasa pernah merasakan kehangatan yang sama, aroma tubuh yang sama pula, sehingga Shilla memaku memorynya sekilas menangkap bayangan yang serupa.


Shilla berusaha mengingat hal itu, tapi bayangan itu tidak jelas hanya kilasan klise tanpa warna yang hanya bisa ia tangkap dalam ingatannya, dan itu membuat kepalanya terasa berdenyut.


Kemudian Shilla berusaha mengurai pelukan Gian, mendorong tubuh Gian memisahkan jarak antara dirinya dengan Gian.


Bi Atun segera meraih Ajas dari pangkuan Shilla, agar balita itu bisa tetap aman kondisinya.


"Akira Sayang, aku sangat merindukanmu." ucap Gian mencurahkan kerinduannya.


"Siapa anda?" tanya Shilla.


Mendengar ucapan Shilla barulah Gian mengurai pelukannya, tapi kedua tangannya tetap memegangi pundak Shilla.


Gian melihat wajah wanita di hadapannya, untuk meyakinkan dirinya tidak salah orang. Iya, wanita itu benar-benar mirip Akira tidak ada satu bagian dari wajahnya yang berbeda dari keseluruhan yang ada pada diri wanita itu tidak ada yang berbeda hanya rambutnya, Akira biasa berambut pendek paling panjang sebahu. Namun, wanita di hadapannya berambut panjang melebihi pundaknya.


Tapi itu tidak merubah wajahnya, ia tetap mirip Akira.


"Kamu tidak mengenaliku?" Gian balik bertanya.


"Apa anda mengelaku?" Shilla sendiri bingung dengan keadaan yang sedang ia hadapi.


"Tentu saja aku mengenalmu, aku suamimu, Giantha Mahendra, aku Gian Akira!" 


"Nama ku Shilla, dan kau bukan suamiku suamiku Anjai dia sedang berada di luar kota saat ini." Sangkal Shilla, lalu ia menatap Bi Atun meminta penjelasan dari BI Atun.


Tapi Gian tetap yakin kalau wanita itu adalah Akira, "Sayang aku suamimu, apa yang terjadi kepadamu, mengapa kamu melupakanku?" 


Bi Atun sendiri merasa bingung, "Ya, yang saya tau anda memang Shilla, tapi saya tidak tahu tentang anda sebenarnya." 


Gian beralih bertanya kepada wanita yang bernama Bi Atun itu, "Bu, sebenarnya apa yang terjadi kepada istri saya?" 


Dan mendengar keributan Mama Nirmala dan Papa Arga segera keluar  dari kamarnya untuk memastikan apa yang sebenarnya yang sedang terjadi.


Mama Nirmala dan juga Papa Arga begitu tercengang melihat wanita yang mirip Akira itu berada di villa yang mereka sewa.


"Akira, kamu di sini, Nak!" 


Shilla tidak menjawab ia hanya mengenakan kepalanya sebagai isyarat ia tidak mengerti dengan keadaan.


Gian kembali berfokus kepada Bi Atun, karena terlihat jelas winta yang mirip Akira itu terlihat bingung, dan jawabannya tetap mengatakan bahwa dirinya bukan Akira melainkan Shilla.


Dan hanya wanita paruh baya yang bersamanya yang dapat menjelaskan semuanya.


"Bu, tolong jawab pertanyaan saya, apa yang terjadi kepada istri saya?" Gian mengulang pertanyannya, dan mendesak jawaban dari BI Atun.


Sama halnya seperti Shilla, Bi Atun juga bingung harus berkata apa.


"Saya tidak tahu Tuan, yang saya tahu Nona ini memang bernama Shilla dan suaminya bernama Anjai," terang bi Atun mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Gian kembali menatap Shilla, "Sayang, kamu istriku kamu hilang satu tahun yang lalu dalam keadaan hamil besar dan anak kita kembar sayang, mana satu lagi putra kita, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" Gian terus mendesak Shilla untuk mengingat semuanya.


Dan memang bayangan-bayangan tentang apa yang dikatakan oleh Gian itu muncul dalam ingatan Shilla, tapi seperti biasa bayangan itu hanya berupa klise yang tidak jelas rupanya.


Dan hal itu membuat Shilla tertekan, kepalanya kembali berdenyut, sampai keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuh Shilla, wajahnya menjadi pucat pasih, ia mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Ssst, aduh … kepalaku sakit sekali!" pekik Shilla tidak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan. Lalu seketika tubuhnya lunglai ambruk begitu saja ia kehilangan kesadarannya.


Dengan sigap Gian segera menangkap tubuh rapuh wanita yang sangat ia rindukan itu.


"Akira … Sayang kamu kenapa?" Gian benar-benar panik.


Lalu Gian merebahkan tubuh Akira di kamar tamu, Bi Atun segera menghubungi dokter yang biasa menangani Shilla untuk segera datang agar segera menangani kondisi Shilla.


Sambil menunggu Dokter, Gian dan kedua orang tuanya menginterogasi bi Atun mengorek informasi yang bi Atun tau tentang Shilla dan Anjai serta Anjas.


Bi Atun menceritakan bahwa ia tidak tau tentang asal-usul Anjai dan juga shilla.


Yang bi Atun tau, Anjai datang ke villa itu dengan membawa seorang bayi dan seorang perawat untuk mengurus bayi yang bernama Anjas yang sekarang usianya sudah satu tahun lebih.


Lalu sekitar beberapa bulan Anjai membawa pulang Shilla dalam keadaan koma, saat melakukan operasi sesar Shilla kehilangan kesadarannya dan terjadi koma kepadanya hampir satu tahun lamanya.


Ketika Shilla sadar dari komanya, Shilla kehilangan ingatannya, dan mereka melakukan pernikahan kembali di bawah tangan, agar rumah tangga mereka sah di mata agar, sebab menurut Anjai selama satu tahun tidak memberikan nafkah batin maka pernikahan mereka bisa dianggap tidak sah, walaupun mereka sudah melakukan pernikahan sebelumnya, di tambah kondisi Shilla yang lupa ingatan.


Tapi sebenarnya itu hanya alasan agar Anjai bisa menikahi Shilla atau bisa berhubungan b a d a n secara sah.


Padahal tetap saja apa yang dilakukan oleh Anjai itu dosa karena dia tau sesungguhnya Shilla adalah istri orang lain, tapi ia tetap memaksakan diri untuk menikahinya.


Gian merasa panas di dadanya seperti sedang terbakar mendengar apa yang telah diceritakan oleh Bi Atun tentang awal mula Bi Atun mengenal Anjai dan Shilla. Gian mengepalkan tinjuannya, wajahnya merah padam, ia juga mengeraskan rahangnya menahan amarah.


"Kurang a j a r, dasar b a j i n g a n kau Riza!" gerutu Gian mengumpat Riza.


Mama Nirmala mengelus punggung putranya untuk menenangkannya, "Sabar Gian, tenangkan dulu diri." 


Gian benar-benar tidak terima ketika mendengar cerita bi Atun tentang pernikahan yang dilakukan oleh Riza dan Akira, ia merasa cemburu dan sangat sakit hati, ia merasa di khianati, mereka bersenang-senang menikmati indahnya nya surga dunia sedangkan dirinya menderita merana dalam kesepian dan kesedihan.


Gian menghantamkan tinjuan di atas meja kayu dengan cukup keras dan mungkin terdapat luka memar di daerah tangan Gian yang ia hantamkan.


"Gian … !" pekik kedua orang tuanya menahan pergerakan Gian agar tidak melukai dirinya sendiri.


Gian dan orang tuanya jadi yakin Shilla adalah Akira, dan Anjai pasti adalah Riza.


Kemudian datanglah Dokter, yang bi Atun hubungi ia segera memeriksa kondisi Akira.


Setelah itu dokter menghampiri orang yang sedang berada di sekitar pasien, lalu menerangkan tentang kondisi Shilla saat ini.


Agar mereka semua jangan memaksa Shilla untuk mengingat masa lalunya, karena itu hanya akan membuat tekanan kepada Shilla, dan bisa membuat Shilla gila dan tidak bisa menerima tekanan yang ia terima.


"Tapi ingatnya bisa kembali kan, Dok?" tanya mama Nirmala.

__ADS_1


"Seperti yang sudah saya katakan kepada Tuan Anjai, jika ingin ingatannya kembali harus secara perlahan mengingatkan setiap momen yang pernah ia alami, kemungkinan besar ingatnya akan perlahan kembali dan akan lebih jelas dan beliau akan bisa mengingat sedikit atau banyaknya ingatan yang ia dapatkan tergantung kalian merangsang ingatnya untuk pulih." Dokter kembali menyampaikan apa yang telah ia sampaikan kepada Anjai.


Gian tidak merespon apapun yang dikatakan oleh dokter. Hatinya sudah terlihat panas mendengar kebenaran tentang Akira dan Riza yang telah menikah.


__ADS_2