
Meskipun rasa cinta belum muncul di hati Erwin, tapi jika berdekatan dan bersentuhan secara intim, sebagai lelaki dewasa normal hasratnya pasti terpancing.
Seperti kali ini Erwin begitu mengebu ingin bercumbu, meskipun dalam keadaan sakit.
Erwin sampai meminta Rima untuk berpindah duduk di sampingnya, di tepi ranjangnya.
Rima terkejut dengan permintaan Erwin, " untuk apa Tuan?" tanya Rima.
"Ayolah …!" Erwin sedikit memaksa.
Rima tidak dapat menolaknya, lalu ia mengikuti keinginan Erwin. Rima bergerak berpindah dan meletakkan bokongnya di atas ranjang di mana Erwin sedang terbaring.
Erwin langsung menarik Rima kedalam pelukannya, jujur saja sebenarnya Rima terkejut dengan perlakuan Erwin, ia ingin memberontak tapi ia juga takut Erwin kecewa kepadanya.
"Tuan~" Rima ingin protes tapi, Erwin menaruh telunjuknya di bibir Rima agar Rima jangan banyak bicara.
Erwin malah mendongakkan wajah Rima, lalu ia mengecup bibir Rima.
Rima kembali merasakan senam jantung, di dada seperti sedang ada pesta kembang api dag, dig, dug, der.
Rima begitu gugup ketika Erwin melakukan hal itu, ia bingung apakah harus membalasnya, tapi dalam keadaan seperti itu rasanya tidak mungkin pikir Rima.
Saat sedang larut dalam dekapan Erwin, dan keduanya hanyut dalam kehangatan.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk, tok, tok, tok
Rima dan Erwin langsung terhenyak ketika menyadari itu, mereka sesat mengehentikan aktivitasnya.
Erwin melepaskan tautan bibirnya lalu mengurai pelukannya. Rima tau apa yang harus ia lakukan, Rima bangkit dari tepi ranjang itu, lalu berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu melihat siapa yang datang mengetuk pintu.
Dan ternyata orang itu adalah sopir pribadi Erwin.
"Ada apa pak?" tanya Rima.
"Begini, Rima. Tadi tuan Gian sebelum pergi menyuruh saya untuk pulang, agar mengambilkan semua keperluan kamu dan tuan Erwin selama di sini." terang pak sopir.
" Oo iya, pak!" jawab singkat Rima.
"Iya, tapi apa saja yang kamu dan tuan Erwin butuhkan agar saya bisa dengan mudah menyebutkannya saat meminta kepada ART di rumah untuk menyediakannya." sambung pak sopir.
Pak sopir sebenarnya ragu menyebut Rima harus dengan sebutan apa, karena dia tau Rima sekarang istri dari majikannya.
Pak sopir juga curiga Rima dan tuan Erwin telah melakukan sesuatu, sebab pak sopir melihat jelas gelagat Rima yang tidak seperti biasanya, wajahnya tampak memerah, Rima terlihat beberapa kali menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
Saat ditanya oleh pak sopir Rima juga terlihat tidak fokus, karena Rima hanya diam.
"Rima, Rima!" seru pak sopir beberapa kali memanggil nama Rima yang terlihat bengong tidak merespon dirinya.
"Rima, kamu tidak apa-apakan?" tanya pak sopir dengan nada suara yang sedikit tinggi untuk menyadarkan Rima dari lamunannya.
"Ooh iya, pak. Sorry ada yang sedang saya pikirkan, tadi bapak ngomong apa ya." Rima memberi alasan, dan meminta pak sopir mengulang kembali apa yang ditanyakan olehnya.
__ADS_1
Sesuai dengan pinta Rima, pak sopir kembali bertanya tentang keperluan tuan Erwin dan juga Rima.
"Oo iya." jawab Rima, sambil menganggukkan kepalanya, Rima mulai menyebutkan barang apa saja yang diperlukan olehnya dan tuan Erwin, diantaranya adalah perlengkapan tidur seperti selimut tikar dan bantal. Serta beberapa makanan dan minuman, dan beberapa baju ganti, serta perlengkapan mandi tentunya.
Pak sopir menyimak dengan antusias, karena cukup banyak barang-barang yang diperlukan oleh Rima dan tuan Erwin, pak sopir takut ada yang ia lupakan ia sampai mencatatnya di handphonenya.
"Oke, kalau begitu saya permisi dulu ya, nanti saya akan segera kembali." Pak sopir pamit setelah mencatat semua keperluan Rima dan tuannya.
"Iya hati-hati ya, Pak." Pesan Rima, dan mengizinkan pak sopir itu untuk pergi.
Setelah pak sopir pergi Rima kembali ke ruangan dan melihat Erwin memejamkan matanya.
Rima pikir, Erwin sedang tertidur, jadi Rima tidak mau mengganggunya seperti tadi, Rima memilih untuk duduk di sofa yang tersedia di ruang itu, dan berjarak agak jauh dari bed dimana Erwin sedang terbaring.
Tapi tiba-tiba terdengar Erwin berkata, "Kenapa kamu duduk di situ, kamu takut saya akan melakukannya?"
Karena Erwin sebenarnya tidak tidur, jadi dia tahu jika Rima menghindarinya. Rima tersentak mendengar ucapan Erwin, meskipun lemah tapi ia jelas mendengarnya.
Rima yang baru saja mendudukkan bokongnya di sofa, segera bangkit kembali lalu menghampiri Erwin, "Bukan begitu, Tuan, saya takut mengganggu istirahat anda." sahut Rima sambil berjalan ke arah Erwin.
Erwin dengan mata terpejam, menampilkan senyum miringnya di bibirnya, melihat senyuman itu Rima langsung mengerutkan keningnya.
Rima merasa heran apa arti dari sebuah senyuman itu, Rima memberanikan diri untuk bertanya, "Anda kenapa,Tuan?"
"Apa kamu tidak sadar, aku begini karena kamu, dengan begitu kamu memang sudah mengganggu hidupku." Penjelasan Erwin.
Seketika itu, Rima sangat terkejut dengan penuturan Erwin, ternyata memang benar dirinyalah penyebab Erwin jatuh sakit, seperti dugaannya.
Rima segera mengambil tindakan dan berdiri tepat di hadapan Erwin dengan wajah menunduk menatap lantai.
Dengan nada takut dan penuh penyesalan, dan rasa malu, Rima mengungkapkan perasaannya, ia mengaku menyesal semuanya karena dirinya tidak dapat menghindar dari kejadian semalam, Rima meminta maaf kepada Erwin karena telah berani menyentuhnya.
Erwin mengerutkan keningnya mendengar semua penuturan Rima, "Apa yang kamu katakan?" tanya Erwin mengapa Rima bicara seperti itu.
"Semua salah saya,Tuan. Harusnya saya tidak membantu anda mengantarkan anda ke kamar anda, saya tahu anda sedang mabuk saat anda menuntut hak anda, dan bodohnya saya tidak dapat menolaknya," Rima menjelaskan.
"hiks … hiks … tolong maafkan saya, Tuan." Rima menangis, ia sungguh malu kepada Erwin dan juga dirinya sendiri, sebab Rima berfikir dialah pemicu terjadinya malam pertama di antara mereka.
Erwin menggelengkan kepalanya, sambil menatap Rima dengan mata sayu-nya. Rima yang sedang menangis sudah pasrah jika Erwin menuntutnya atas kesalahannya.
Erwin semakin tidak tega kepada Rima, ia sudah berkorban banyak untuknya dan untuk Sisil, mengabdikan dirinya untuk mengasah Sisil walaupun dengan bayaran, tapi kasih sayangnya, perhatiannya tulus kepada kepada Sisil.
Kini Rima juga telah kehilangan segel keperawanannya karena ulah Erwin, sudah pasti anunya masih terasa sakit, tubuhnya juga masti merasakan rasa pegal linu setelah petempur pertama mereka semalam, belum lagi beban pikiran yang mengganggu pikirannya tentang hal semalam, itu semua sudah pasti membuat Rima tersiksa.
Tapi Rima tetap setia dan menjalankan tugasnya dengan baik sebagai babysitter Sisil. Hati Erwin terenyuh melihat keadaan Rima ia berpikir begitu berat hidup yang di jalani oleh Rima, blm lagi makian-makian yang dilontarkan Sarah tadi siang pasti sangat menyakitkan baginya.
"Rima, mendekatlah," pinta Erwin.
"Ampun, Tuan, tolong maafkan saya, saya siap menerima apapun hukuman anda." Rima memelas meminta maaf.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Rima, semua sudah terjadi dan ini bukan kesalahanmu, kamu malah korban disini aku yang salah," ucap Erwin.
__ADS_1
"Tapi, Anda, begini karena saya, mungkin anda terlalu membenci saya makanya anda jatuh sakit seperti itu, saya rela pergi dari kehidupan anda, tapi asalkan Sisil bahagia," ucap Rima.
Erwin malah mengulum senyum sinis, membuat hati Rima makin bergetar, nyata sudah kebencian Erwin terhadapnya. Padahal Erwin merasa lucu mendengar semua ucapan Rima.
"Tidak usah repot-repot ingin pergi, Rima, dan menjadikan Sisil sebagai alasanmu, jika aku memang membencimu dan tidak Sudi lagi melihatmu, aku bisa dengan mudah kembali ke jepang, meneruskan bisnisku disana." Tegas Erwin, malah sengaja membuat perasaan Rima ketar ketir karena merasa takut ditinggalkan oleh Erwin.
Mungkin dengan alasan tidak enak hati, karena telah jadi penyebab kepergian Erwin. Jika itu benar-benar terjadi.
"Biar saya saja yang pergi, Tuan. Saya Ikhlas kok, karena saya memang bukan siapa-siapa!" sambung Rima.
"Sisil tidak akan bisa jauh darimu, dia akan terus mencari-cari mu, Rima. Karena kamu Ibunya, dan kamu memang ibunya." tegas Erwin lagi.
"Rima, maukah kamu tetap menjadi ibu bagi Sisil, dan menjadi istri yang baik bagiku?" tanya Erwin meminta kepastian dari Rima.
Seketika itu Rima menghentikan tangisannya, terdiam dan mencerna ucapan Erwin, Rima membulatkan matanya dan seketika itu Rima kesulitan menelan Salivanya ketika ia mulai memahami maksud dari pertanyaan Erwin.
Dari pertanyaannya berarti Erwin menginginkan Rima menjadi istri seutuhnya untuk dirinya dan ibu sambung untuk Sisil.
Rima sungguh tidak percaya dengan kesimpulannya tentang maksud dari pertanyaan Erwin.
"Tuan, apa maksudnya?" Rima balik bertanya untuk meyakinkan dirinya.
Dengan ragu Rima menatap Erwin, ia mencari kesungguhan dari raut wajah Erwin.
Erwin kembali tersenyum, namun kali ini senyumnya terlihat ikhlas, dan sangat manis merekah di bibir sensualnya.
Tanpa sadar Rima ikut tersenyum manis membalas senyuman Erwin.
"Mendekatlah, Sayang …." Erwin mulai membuka diri, dan mulai membiasakan diri dengan menyebut Rima dengan sebutan sayang.
Ya Tuhan alangkah bahagianya Rima ketika mendengar Erwin menyebutnya dengan sebutan Sayang, rasanya ingin sekali Rima kopral saat itu juga, saking senangnya.
Tapi Rima menyembunyikan rasa senangnya di balik wajahnya yang memerah seperti buah tomat yang sudah matang yang sudah siap untuk dijadikan bahan makanan, saking malunya Rima.
"Ayok sini mendekatlah." Erwin kembali meminta Rima untuk mendekat kepadanya.
Dengan rasa ragu Rima perlahan melangkah mendekat ke arah Erwin. Setelah di hadapan Erwin, Rima tetap saja berdiri.
"Ayok sini duduklah." Erwin berbicara, sambil mengusap-usap tepi ranjangnya, meminta Rima agar duduk di sebelahnya.
Rima benar-benar merasa malu, ia gugup karena salah tingkah, tapi ia tetap duduk mengikuti instruksi dari Erwin.
Setelah Rima sudah duduk di samping Erwin menghadap ke arahnya, Erwin menggenggam tangannya lalu mengusap sisa-sisa air mata di pipi Rima dan di sudut matanya.
"Sayang, tolong kasih aku kesempatan untuk menjadi imammu," kemudian ucap Erwin.
Rima tidak dapat berkata-kata lagi, melainkan tangis harinya yang malah pecah. Rima menangis tersedu, ia merasa semua itu hanya mimpi belaka, ia tidak yakin dengan apa yang di pinta darinya.
Bahwa Erwin ingin mempertahankan pernikahan mereka dan ingin memperbaiki semuanya.
"Eeh, kok nangisnya makin kenceng sih?" tegur Erwin.
__ADS_1
"Hiks … hiks … Anda sungguh-sungguh kan, Tuan. dengan semua ini? Anda tidak sedang mempermainkan perasaan saya-kan?" Rima belum yakin.
"Kamu tidak percaya kepada saya, kamu tidak yakin? Makanya saya minta kesempatan kepadamu untuk membuktikan kesungguhanku."