
Hari berganti hari, tidak terasa tiga bulan sudah berlalu, kini Shilla sudah terbiasa dengan kehidupan barunya.
Proses perceraiannya dengan Gian masih dalam proses, tinggal menunggu sidang akhir atau sidang keputusan yang akan digelar 2 Minggu yang akan datang.
Pagi ini Shilla sedang menyuapi putranya makan, lalu datang Shafira menghampirinya sambil mengendong anak pungut nya.
Shafira sudah terlihat akrab dengan Shilla, mereka sering berbincang satu sama lain, terlebih Shafira yang sering bercerita tentang Akira yang dulu, tapi saat Shafira bercerita tentang hubungannya dengan Gian shafira mengarang cerita, membuat cerita seakan Gian yang meninggalkannya, seakan dia juga korban dari Gian, Shilla sengaja melakukan hal itu karena ingin membuat Shilla semakin membenci Gian.
Ya semua itu memang terjadi sesuai keininan Shafira, Shilla memang tidak Sudi lagi melihat Gian, bahkan dalam persidangan pun mereka tidak pernah bertemu.
Dari semenjak kejadian Shilla pulang ke rumah ke dua orang tuanya, Shilla dan juga Gian tidak pernah bertemu, jika ingin bertemu putranya, mama Nirmala yang mengambil atau kedua orang tua Akira yang mengantarkannya untuk bertemu dengan Gian.
Saat ini Shilla sedang fokus dengan putranya, tiba-tiba Shafira menyapanya "Hay, Akira! selamat pagi?"
Shilla segera melihat ke arahnya yang sudah berdiri di sampingnya, Shilla hanya tersenyum memberi respon kepada kakaknya.
"Boleh duduk?" Shafira meminta izin untuk duduk di sebelah Shilla.
"Oo silahkan …!" Shilla memberinya Izin.
Keduanya duduk bersama sambil menimang putra putri mereka masing-masing, ayah dan ibu mereka begitu bahagia melihat momen seperti itu, mereka pikir momen itu tidak akan pernah terjadi, sebab Akira sudah meninggalkan mereka, tapi pada akhirnya, ternyata Akira masih hidup meskipun ia hilang ingatan.
Shilla membuka pembicaraan antara dirinya dan juga kakaknya (Shafira).
"Putrimu cantik sekali!" ucap Shilla.
Shafira tersenyum mendengarnya, "Iya, dia memang cantik sekali, meskipun bukan putri kandung ku, tapi aku sangat menyayanginya." Shafira menimpali.
Tapi Shilla menatap wajah putri Shafira dengan seksama, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. "Tapi kok, dia mirip dengan~" Shilla menghentikan ucapannya.
"Mirip siapa?" tanya Shfira ingin menegaskan.
"Ooh, tidak! lupakan saja." Shilla tidak ingin meneruskan ucapannya.
Namun, shafira tersenyum menyeringai sebab ia tahu sebenarnya Shilla ingat berkata apa.
'Ia pasti menyadari anak ini mirip siapa!' Shafira bicara dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
Kebetulan, pagi itu hari libur dan itu waktunya Anjas bersama keluarga Mahendra, Mama Nirmala baru saja tiba di sana untuk mengambil Anjas dan membawanya bersamanya bermain bersama keluarga besar Mahendra.
Semua perlengkapan keperluan Anjas sudah Bu Yuli siapkan sebelum Mama Nirmala datang untuk menjemputnya, jadi ketika mama Nirmala datang semua sudah siap.
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi, Mama Nirmala mengambil cucunya dari pangkuan Shilla, karena itu sudah jadi kesepakatan antara dua keluarga jadi Shilla tidak bisa protes lagi ketika Mama Nirmala mengambil putranya.
Namun kedatangan mama Nirmala kali ini tidak hanya untuk menjemput cucunya melainkan ia juga mengundang keluarga besannya untuk menghadiri acara tujuh bulan Rima yang akan digelar Minggu depan.
Dengan senang hati mereka menerima undangan dari Mama Nirmala.
Pada saat Mama Nirmala akan melangkah pergi, putri Shfira merentangkan tangannya, ia menggapai-gapaikan tangannya sambil menangis ingin meraih Mama Nirmala,
Melihat itu Mama Nirmala menghentikan langkahnya, lalu menyapa putri kecil itu, "Hay Sayang, kenapa? kamu ingin ikut dengan ku juga?" sapa Mama Nirmala kepada putri kecil itu, sebenarnya ia juga merasa gemes dengan anak itu.
Shafira tersenyum melihatnya, tapi senyumnya sulit di artikan, senyumnya terlihat menyeringai, tapi samar-samar.
Kemudian ia meraih putri kecil itu, seakan tidak mengizinkan mama Nirmala menyapanya.
Kemudian Mama Nirmala berlalu begitu saja sambil menggendong cucunya, dan sebenarnya mama Nirmala datang bersama Gian, Tapi ia tidak turun dari mobilnya, karena untuk menghindari Shilla yang membenci dirinya.
Saat Gian melihat putranya bersama Mamanya, ia sangat antusias melihatnya ia segera turun dari mobil dan menyambut putranya, mengambilnya dari pangkuan mama Nirmala lalu menciumi pipi gemoy nya dengan perasaan sangat gemas.
Dan ternyata Shilla menyaksikan hal itu dari kejauhan, dan entah mengapa hatinya merasakan rasa sakit ketika melihat Gian hanya menunggu di luar rumah, ia merasa kecewa.
"Kenapa tuhan, kenapa aku merasa kecewa, bukankah aku memang membencinya, bukankah ini yang aku inginkan, lalu perasaan apa ini tuhan?" Shilla bertanya dalam hatinya.
Tapi ketika itu Anjai menghubunginya, dan memberitahu bahwa Anjai sedang dalam perjalanan menyusul Shilla ke kota Jakata.
Dan ketika tiba Anjai segera menemui shilla di rumah kedua orang tuanya, sesungguhnya ayah Ayus dan Bu Yuli begitu geram melihat kedatangan Anjai, tapi demi untuk menghargai perasaan shilla mereka harus menahan rasa itu.
Sebenarnya Anjai tau respon baik kedua orang tua Shilla hanya akting semata, hanya demi untuk terlihat baik di mata Shilla.
Dalam hatinya, Anjai mencibir sikap baik kedua orang tua Shilla, dalam hatinya juga Anjai merasa bangga pada dirinya sendiri, sebab sekuat tenaga orang-orang memisahkannya dengan Akira, tapi dengan mudahnya tuhan mempersatukan mereka dengan hilangnya ingat Akira, bahkan sekarang anjai lah yang menguasai Akira.
Tapi ketika Shilla melihat Anjai, ia melihat banyak perubahan dalam diri Anjai, ia terlihat sangat kurus, dan terlihat banyak bekas luka di tubuh, wajah dan sekitar tangannya.
Aura wajahnya juga terlihat berbeda, lebih antagonis, sebelumnya wajah Anjai selalu terlihat manis dengan seulas senyum manis di bibirnya, hidungnya penuh keceriaan dan kebahagiaan.
Namun, saat ini senyumnya itu berubah menjadi senyum masam yang nampak di pandang mata, Shilla sendiri sangat merasakan perbedaan konteras sikap dan aura antagonis Anjai.
"Sayang, kamu kenapa banyak sekali bekas luka, apa mereka menyiksamu?" Shilla bertanya karena rasa penasarannya.
"Tidak ada yang melukaiku, Sayang! Ini hanya kecelakaan kecil saja." Anjai mengelak.
Padahal bekas luka itu ia dapatkan karena ulahnya sendiri, ketika emosinya sedang memuncak ia akan melukai dirinya sendiri, setelah merasa sakit karena terluka barulah emosinya akan mereda, dan itu terjadi selama Shilla tidak berada di sisinya.
__ADS_1
Anjai memang sudah gila, dari sejak ia belum membawa kabur Akira, tapi ketika Akira bersamanya kejiwaannya kembali normal. Ia begitu terobsesi kepada Akira sehingga karena itulah ia menjadi gila.
Dan saat itu ayah Ayus, mengajak Mereka untuk makan bersama, Bu Yuli mengajak Shilla untuk menemaninya menyiapkan hidangannya.
Semetara, ayah Ayus ini berbicara berdua dengan Anjai, ternyata itu adalah cara untuk menjauhkan Shilla dari Anjai.
Setelah Shilla pergi ke dapur bersama ibunya, ayah Ayus tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera berbicara kepada Anjai.
"Riza, sebelumnya ayah mohon maaf atas kesalahan yang pernah ayah perbuat kepadamu, Nak!" Ayah Ayus membuka pembicaraan.
"Tapi ayah mohon, jangan Ambi keuntungan dari hilangnya ingat Akira dengan memperdaya nya, kamu tau apa yang kamu lakukan ini salah, nak!" Lanjut ayah Ayus menegur Riza.
Mendengar teguran dari ayah Ayus, tidak ada rasa gentar sedikitpun di hati Riza , ia malah merasa semakin tertantang dan ingin melawan ayah Ayus, setelah sebelumnya ia yang tidak berdaya, karena tidak ada satu orang pun yang mendukung cintainya bersama dengan Akira, bahkan Akira sendiri menjaga jarak darinya dan mengalah melepaskan cintanya bersama Riza hanya demi kedua orang tuanya, yang terus memelas kepada Akira agar tetap bersama Gian.
Riza terlihat santai menanggapi Ayah Ayus, ia terlihat tertawa kecil, entah apa yang membuatnya seperti itu, mungkin ia merasa geli, atau merasa menang dalam situasi sekarang ini.
"He, he, he, ayah Ayus dulu kalian yang memperdaya Akira karena kalian bilang dia putri kalian, kalian memaksa Akira menikah dengan Gian dan memaksa Akira untuk melupakan cintanya kepadaku." kemudian ucap Riza,
"Tapi lihatlah sekarang, di saat ia melupakan kalian semua, dia hanya mengingatku, harusnya kalian itu sadar betapa jahatnya kalian, Akira tersiksa dan menderita selama ini, ia terlihat baik-baik saja dan bahagia itu semua palsu ayah Ayus! ia hanya sedang berkorban demi untuk kalian yang sangat egois." lanjut Riza.
Ucap Riza menjadi satu tamparan kerasa bagi ayah Ayus, sehingga ia tidak dapat lagi berkata-kata, karena apa yang di ucapkan oleh Riza memang benar adanya.
"Aku tidak pernah memperdaya putrimu ayah Ayus, aku mengatak apa yang sebenarnya kepada Akira, bahwa kalian semua memang memisahkan ku dengannya, bahkan kami hampir saja menikah, bukannya rencana awal kalian menikahkan Shafira dengan Gian karena agar aku dah Akira bisa cepat menikah juga, karena kalian tidak ingin Akira melangkahi kakaknya, tapi mengapa pada akhirnya kalian malah menikahkan Akira dengan Giantha Mahendra, tanpa memikirkan sedikit pun tentang perasaanku." keluh Riza.
"Sakit sekali ayah, hatiku ketika itu, ketika aku di usir, dan ketika aku datang di pagi hari melihat kondisi Akira ketika itu, aku berusaha untuk ikhlas dan mengalah tapi sayangnya, ayah aku tidak bisa, rasa sakit di hatiku, menggerogoti pikiranku," masih keluh Riza tentang penderitaannya.
"Apalagi ketika berkali-kali Akira terpaksa menolak ku, hanya demi kalian, hanya diam kalian betapa sakitnya aku, andai kalian tidak terlalu egois mungkin aku dan Akira bisa memperjuangkan cinta kami." Riza menyangkan atas sikap kedua orang tuanya.
Riza mengutarakan apa saja yang ia rasakan dengan penuh emosi, ia pun sampai meneteskan air mata ketika bercerita tentang kepedihan hatinya.
Ayah Ayus mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Riza, ia mengaku bersalah dan mengatakan itulah takdir tuhan.
Riza semakin emosi ketika mendengar perkataan ayah Ayus yang mengatakan itu semua takdir tuhan.
"Ya, ini memang takdir tuhan, dan pada akhirnya aku bisa bersama dengan Shilla dan menikahinya, dengan hilangnya ingat Akira, tuhan memberi ku izin untuk aku bisa bersamanya." Terbit lah seulas senyum penuh kebahagiaan di bibirnya Riza, ketika mengucapkan kata-kata itu.
Dan ternyata Shilla mendengar semua percakapan antara ayahnya dan juga Riza.
Shilla bisa merasakan betapa sakitnya perasaan Riza ketika itu, Shilla menjadi semakin mengiba kepada Riza, dan yakin dirinya memang mencintai Riza dari sejak awal, tapi mereka terpisah karena kehendak orang tuanya.
Shilla berlari ke arah Riza dan langsung memeluk tubuh Riza.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku di masa lalu, karena aku telah menyakitimu." Ucap Shilla sambil memeluk tubuh Riza dan membenamkan wajahnya di dada bidang Riza.