Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 72


__ADS_3

Dengan amarah yang Shafira pendam, membuat matanya memerah, Gigi ia rekatkan, kebenciannya kepada Akira makin bertambah setelah mendengar jawaban Akira yang terkesan seperti tidak perduli dengan kondisinya.


Akira terkesan sangat egois ketika berbicara, menolak merelakan Gian kembali kepada Shafira.


Semua orang juga merasakan hal yang sama menilai Akira seperti penilaian shafira.


Akira begitu karena ia memang sengaja melakukannya, sebab ia sudah tau kebusukan kakaknya.


Gian dan kedua orang tuanya tidak menyangka Akira akan menjawab dan memberikan penolakan seperti ini.


Karena yang mereka tau selama ini Akira selalu peduli kepada orang lain, rela berkorban untuk itu.


Tapi kali ini terasa berbeda, Akira seakan menantang shafira.


Semua menatap Akira dengan rasa herannya.


Akira menyadari itu, dan itu membuatnya gugup, "Eh, ma-maksudku akukan sedang hamil sekarang, mana bisa aku berpisah dengan suamiku, karena aku dan bayiku juga akan sangat membutuhkannya." Akira menjadi serba salah.


Demi pencitraan Shafira bersikap mengalah, agar ia terkesan lemah tidak berdaya, Shafira memanfaatkan keadaan.


"Maafkan aku Akira, jika terkesan egois mementingkan keinginanku sendiri dan tidak memikirkanmu sebagai istri dari Gian." Shafira seakan menyadari kesalahannya.


Akira mengangguk dan apa yang Shafira lakukan berhasil mengambil simpati dari semua orang.



Waktu berjalan seiring bergantinya hari dan malam.


Setelah kepulangan Safira dari rumah sakit, Akira kini tinggal di rumah orang tuanya untuk menemani dan membantu merawat Shafira.


Meskipun banyak sekali terjadi derama yang diciptakan oleh Shafira, tapi Akira tetap bertahan agar semua berjalan lancar sesuai rencananya.


Akira ingin membongkar kebusukan shafira tentang perselingkuhannya dengan lelaki yang berpenampilan Dokter yang pernah Akira lihat tempo hari di rumah sakit.


Kini semua orang lebih bersimpati kepada Shafira, karena Sahfira selalu bersikap lemah dan tertindas, ia memutar balikkan fakta.


Sehingga Akiralah yang kini terkesan seperti orang jahat, di mata keluarganya terutama di mata Gian.


Di malam hari sekitar jam sepuluh malam, Gian baru saja sampai di rumah mertuanya.


Namun ketika ia masuk kedalam rumah, ia melihat seseorang di arah dapur.


Gian kira itu istrinya, lalu menghampirinya dengan langkah perlahan untuk memastikannya ia melihat siapakah orang itu.


Tapi ketika Gian sudah sampai di dapur ia melihat orang itu ternyata adalah Shafira sedang mencari air minum hangat.


"Shafira …." gumam, Gian merasa iba melihatnya.


"Gian …." Shafira, membalas gumaman Gian.


"Sedang apa kamu menyalakan komputer?"  tanya Gian memastikan apa yang sedang Shafira lakukan.


"Aku ingin minum air hangat, termos ternyata kosong." jawab Shafira.


Dan itu mengundang perhatian Gian, karena Gian ingin membantunya.


"Sini aku bantu, kamu duduk saja dulu." Gian meletakkan tas kantornya di atas meja lalu menghampiri shafira, dan menggiringnya untuk duduk.


Kemudian dia yang menyalakan kompor dan merebuskan air untuk Shafira.


Setelah air mendidih Gian menuangkan rebusan air itu ke dalam gelas, tapi ternyata air itu kebanyakan.


Sebab Shafira meminta Gian untuk mencampurnya dengan air dingin, sehingga suhunya menjadi suam-suam kuku.


"Dari pada air panas itu mubazir lebih baikku buatkan teh untukmu." tawaran Shafira.


Awalnya Gian menolak, "Tidak usah ini sudah malam aku lelah ingin beristirahat." 

__ADS_1


"Justru teh ini bagus loh untuk melepas rasa lelah, agar kamu merasa lebih rileks." Shafira sedikit memaksa dan tetap membuatkan teh untuk Gian.


Dengan sekejap teh itu sudah siap untuk di minum dan langsung Shafira sajikan untuk Gian.


Pada akhirnya Gian tidak dapat menolak lagi.


Kini mereka duduk bersama di mini bar yang terdapat di dapur tersebut.


Mereka berdua bercerita, mengenang masa lalu ketika mereka sedang memadu kasih, sesekali diselingi canda tawa dari keduanya.


Dan mereka berdua larut dalam suasana, tidak dipungkiri, Gian juga masih memiliki sedikit rasa kepada Shafira, rasa simpatinya menjadikannya lemah kembali kepada Shafira.


Karena hubungan yang pernah mereka jalani bukan waktu yang sebentar maka, Shafira memang banyak tau kelemahan Gian, dan cara meluluhkan hatinya.


Seperti sekarang ini, setelah berbagai macam cara Gian lakukan untuk menghindari Shafira, tapi karena seringnya mereka bertemu bahkan berinteraksi, tidak hanya dengan saling menatap, tapi sering bersentuhan.


Sebab Gian kerap kali, membantu shafira membopongnya, ketika kondisinya benar-benar sedang drop atau saat tidak sadarkan diri.


Jadi rasa yang tertinggal di hati Gian meskipun kerap kali Gian menepisnya, karena keseringan rasa itu tetap tumbuh dengan sendirinya.


Tapi saat itu, Akira memang sempat terlelap, tapi tidak bisa nyenyak tidur, sebab ia masih menunggu kepulangan suaminya.


Akira kembali terbangun dari tidurnya, ia melihat jam menunjukkan pukul sebelas malam, ia melihat sekitar ruang tidurnya berharap suaminya sudah berada disana tapi pada kenyataannya tidak ada.


Akira merasakan tengokannya kering, rasa dahaga menguasai dirinya.


Ia melihat di atas nakas teko kaca yang biasanya tersimpan stok air minum disana, kali ini terlihat kosong.


Dengan rasa malas Akira bangkit dari tempat tidurnya, lalu meraih teko kaca tersebut untuk ia isi, Akira berjalan keluar kamar menuju dapur.


Namun samar-samar Akira mendengar suara orang yang sedang berbincang dan suara tawa pun terdengar pecah.


Akira sungguh penasaran dengan suara yang ia dengar, sepertinya suara itu sudah pamiliyar di telinganya.


Namun Akira tetap menelusuri dan mencari  untuk mendapati berasal dari mana suara tersebut .


 


Seperti niat awalnya Akira tetap berjalan ke arah dapur.


Namun dari arah sana suara semakin jelas terdengar, dan sesampainya di sana, kecurigaannya benar.


Hati Akira kembali merasa sakit, melihat Gian dan shafira berbincang tertawa bersama.


Terlihat begitu akrab, Shafira juga sempat menyandarkan kepalanya di pundak Gian.


Meskipun ini bukan kali pertama bagi Akira melihat suami dan kakak nya terlihat dekat, tapi setiap melihat itu Akira tetap merasakan rasa sakit di hatinya.


Akira berdehem, "U'humm …." mengejutkan keduanya.


Lantas keduanya langsung berbalik melihat Akira yang sudah ada di belakang mereka.


Gian begitu terkejut, ia sampai gugup salah tingkah. "Sayang, kamu belum tidur?" Gian berbasa-basi.


Namun Akira bersikap biasa saja ia terlihat tenang dan seperti tidak merasakan kecemburuan.


Padahal jika Gian tau Akira ingin sekali menjerit, melepaskan rasa sakit dan Sesak di dadanya.


"Aku sudah tidur tapi aku terbangun karena aku haus, kebetulan air di kamarku juga habis." Akira menjawab apa adanya.


Lalu ia berlalu melewati suami dan kakaknya lalu ia mengisi tekok kaca yang ia bawa dari kamarnya.


Saat itu Gian ingin membantunya untuk menuangkan air, tapi tiba-tiba Shafira mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan Gian, dan satu tangannya memegang kepalanya.


"Ssst, aduh!" Ia kembali beraksi.


Akira sudah biasa melihatnya, dan sudah tidak heran lagi dengan aksi modus kakaknya.

__ADS_1


Dia begitu hanya ingin mendapat perhatian dari Gian. Sehingga Gian mengurungkan niatnya untuk membantu istrinya.


Dan malah berfokus kepadanya, "Kenapa Shafira?" tanya Gian mengkhawatirkan kondisi Shafira.


"Kepalaku sakit sekali, bisakah kamu menolongku? Tolong antarkan aku ke kamarku." pinta shafira.


Akira tersenyum kecut, karena dia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh Shafira dari suaminya.


Dan seperti biasa Gian langsung membantunya dengan membopong tubuh Shafira dan membawanya ke kamarnya.


Setelah Gian dan Shafira berlalu, Akira yang masih berada di dapur memejamkan mata, meringis lalu menangis.


"Tuhanku, sampai kapan semua ini berlalu, mengapa aku bisa menderita seperti ini, bukan sekali atau dua kali, bahkan dari awal pernikahan ini aku sudah sangat tersiksa." Akira bicara sendiri dalam tangisnya. Ia sungguh mengeluh dengan rasa sakit hati yang ia rasakan.


"Mengapa Tuhan, tidak "Engkau" biarkan aku pergi dari mereka, agar kami bisa bahagia satu sama lain, mengapa harus ada bayi di rahimku." Akira menyesalinya.


Andai tidak ada bayi di perutnya Akira sudah memilih untuk pergi.


Akira berusaha untuk tenang mengatur emosinya menarik nafas, mengusap air matanya.


"Tuhan, aku pikir aku akan kuat melewati semua ini tapi nyatanya, aku hanya wanita biasa, aku lemah aku tidak berdaya." 


Sambil berjalan gontai dengan tatapan mata kosong ia langkahkan kaki menuju kamarnya.


Gian masih di kamar Shafira, seperti biasa Shafira tidak akan melepaskan Gian begitu saja.


Ia akan mencari alasan agar Gian tetap bersamanya, dengan cara yang tidak bisa Gian tolak.


Dengan lesu Akira naik kembali ke atas ranjangnya, dengan tatapan kosong dan ekspresi wajah datar, tapi air mata terus saja mengalir dengan sendirinya dari matanya.


Menggambarkan perasaannya yang teramat sakit.


Menunggu suaminya kembali kepadanya yang kini  sedang dikuasai oleh kakaknya.


Sebenarnya Shafira memang meminta Gian tetap bersamanya, menemaninya sampai ia tidur seperti biasa.


Tapi kali ini, Gian lebih memikirkan perasaan istrinya.


"Aku panggilkan ayah dan ibumu ya, agar menemanimu, aku kebelet mau ke kamar kecil dulu." Gian berusaha mencari alasan agar bisa melepaskan diri dari Shafira saat itu, tanpa menunggu jawaban apapun darinya Gian bergegas keluar dari kamar Shafira yang memang tidak pernah di tutup pintunya jika Gian berada di sana.


Gian segera masuk ke dalam kamar istrinya, ia melihat Akira sudah terbaring di tempat tidur tapi tidak memberi respon saat Gian masuk.


Namun Gian tau Akira belum tidur. Gian langsung naik keatas ranjangnya lalu memeluk istrinya yang membelakanginya.


Dan menciumi tengkuk istrinya, "Sayang, maafkan aku ya, aku tidak berniat untuk seperti itu, aku tau kamu pasti sangat terluka atas kejadian tadi." 


Akira memang belum tidur tapi ia tetap diam tidak memberi respon apapun kepada suaminya, hanya air matanya yang terus mengalir tanpa henti.


"Sayang, pernikahan macam apa yang kita jalani ini, sejujurnya aku ingin hidup bahagia bersamamu dan juga anak kita." Gian tetap bicara meskipun Akira tidak memberi respon kepadanya.


"Kadang aku berpikir ingin pergi membawamu jauh dari orang-orang yang mengusik kehidupan kita, aku tau kamu orang yang paling tersakiti di sini, karena itu aku pun juga merasakannya aku lelah Akira …" lanjut Gian, lalu ia kembali menciumi tengkuk istrinya.


"Aku tau kamu belum tidur, mungkin kamu sangat kecewa kepadaku sehingga kamu tidak sudi meresponku." Gian masih bicara sendiri.


Mendengar ucapan Gian yang terakhir, Akira langsung berbalik menghadap suaminya yang sudah melepaskan pelukannya.


Kini Akira yang memeluknya dan membenamkan wajahnya di dada Gian sambil menangis tersedu-sedu.


Kini Akira tidak dapat lagi menahan perasaannya yang selama ini ia selalu tahan dan ia pendam sendiri, berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan terlihat tegar dan kuat.


Gian mengelus-elus punggungnya, "Menangislah, keluarkan semua rasa kesalmu, pukul aku, lampiaskanlah semuanya kepadaku." Gian merasakan apa yang Akira rasakan.


"Aku tau aku bersalah kepadamu, karena selalu mengikuti apa yang Shafira inginkan, aku terkesan mengabaikanmu, jujur Akira aku juga memikirkanmu perasaanmu, aku benci semua ini." Gian mengutarakan apa yang ia rasakan.


....


Respon seperti apa lagi yang akan Akira berikan kepada Gian, akankah Akira meminta berpisah setelah melahirkan?

__ADS_1


__ADS_2