
Kemudian Riza segera pergi dari sana dengan gugupnya.
Dari sikap dan jawaban Riza Akira bisa menyimpulkan semua informasi yang di berikan Bi Atun tentang putrinya itu benar.
Putrinya masih hidup, tapi dimana dia sekarang? meskipun Akira curiga anak yang Shafira adopsi itu adalah putrinya, tapi ia perlu bukti kuat, setidaknya Akira bisa mendengar pengakuan Langsung dari mulut Riza jika memang putrinya di adopsi oleh Shafira.
….
Selepas kepergian Riza dari sana, Akira menangis sesenggukan, ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan hidupnya, Akira merasa sedang dipermainkan oleh takdir kehidupan, sebenarnya perasaannya kepada Riza hanyalah sebuah rasa kasihan, dan sesungguhnya cintanya hanya untuk Gian.
Kini akira larut dalam pemikirannya, ia sungguh berat harus berpisah dengan Gian, mengingat sidang perceraiannya akan segera diputuskan sebentar lagi.
Tapi ia juga tidak boleh egois, ia harus memikirkan tentang putra - putrinya, karena jelas putra - putrinya menjadi korban dalam permasalahannya dengan Riza.
Saat Akira sedang menangis terisak-isak, meratapi kehidupannya, tiba-tiba ada seseorang sudah hadir di hadapannya, tanpa Akira ketahui kedatangannya.
Tanpa berkata orang itu menyodorkan tisu kepada Akira, untuk Akira menghapus airmata nya.
Ketika itulah Akira menyadari ada seseorang di hadapannya, Akira terperangah ketika menyadari ada orang lain di sana, ia segera mendongakkan kepalanya melihat wajah siapakah yang datang di sana.
Ternyata orang itu adalah Gian, orang yang sedang membuat hati dan pikirannya tidak tenang, membuatnya resah dan gelisah bahkan membuatnya larut dalam kesedihan.
Tanpa berkata, Akira segera bangkit dari tempat duduknya, saat ia menyadari orang itu adalah Gian suami tercintanya.
Tanpa memperdulikan tisu yang Gian sodorkan, Akira segera menyambar tubuh Gian dengan pelukan.
Akira menangis sejadi-jadinya, sampai sesenggukan, awalnya Gian sangat terkejut dengan pergerakan Akira yang tiba-tiba saja menyambarnya dengan sebuah pelukan.
"Hey, Akira! Ada apa, ada apa dengan putra kita?" Gian menjadi sangat panik.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku, aku sangat merindukanmu hiks, hiks, hiks …!" bukannya menjawab pertanyaan Gian, Akira malah berucap seperti itu.
Gian mulai mengerti, ia sedikit merasa lega karena tidak terjadi sesuatu kepada putranya, justru dengan tindakan Akira yang seperti itu Gian yakin kecurigaannya benar, ingatan Akira sudah kembali tentang dirinya.
Kemudian Gian membalas pelukan Akira, ia mendekap erat tubuh langsing Akira, ia pun membenamkan wajahnya di pundak Akira menghirup dalam-dalam aroma tubuh Akira yang sangat ia rindukan.
"Aku juga sangat merindukanmu aku mencintaimu, Sayang …!" gumam Gian.
Namun, mendengar itu Akira malah mengurangi pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Gian.
"Kenapa Akira? Aku tau kamu sudah mengingatku," ucap Gian
Akira menganggukkan kepalanya, "Iya, kamu benar aku memang sudah mengingat semuanya,"
"Tapi, aku tidak pantas untukmu, aku sudah mengkhianatimu, bahkan aku sudah ber s e t u b u h dengan pria lain." Akira menyadari perbuatannya dengan Riza.
"Tidak, Akira jangan bicara seperti itu, aku tetap mencintaimu aku tetap merindukanmu." tegas Gian.
"Tapi, kita harus tetap berpisah,"
"Kenapa Akira, aku bisa menerimamu apa adanya, jangan pikirkan hal lain, pikiran masa depan putra kita."
"Justru karena itu, aku tidak hanya memikirkan tentang putra kita, aku juga sedang memikirkan tentang putri kita," ucapan Akira membuat Gian tidak mengerti.
__ADS_1
"Putri kita?" Gian mengulang kata itu dengan nada bingung.
"Iya, karena sesungguhnya aku telah melakukan dua anak kembar yang berbeda jenis kelamin (kembar fraternal)
"Apa!" seru Gian.
"Tapi bukannya, salah satunya tidak bisa diselamatkan, berarti yang tiada putri kita," Gian memperjelas.
"Tidak, dia masih hidup, dia ada di tengah-tengah kita " ucapan Akira membuat Gian tidak mengerti dengan apa maksudnya.
Gian meminta Akira untuk lebih tenang dan menceritakan semuanya secara detail kepadanya.
Mereka mulai duduk bersama Gian menyodorkan air minum kemasan yang sengaja ia bawakan untuk Akira beserta makanannya,
Akira meneguk air minum yang Gian sodorkan, ia memang membutuhkan itu, untuk menenangkan diri.
Setelah dirasa tenang, Akira mulai menceritakan semua informasi yang ia dapatkan dari BI Atun, tentang putri mereka.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Akira, Gian melakukan panggilan untuk menghubungi anak buahnya, mencari informasi di rumah sakit di mana Akira melakukan operasi sesar, apakah benar Akira melahirkan bayi kembar (kembar fraternal).
Dan apa benar salah satu di antaranya tidak dapat tertolong?.
Anak buah Gian segera menyanggupi permintaan tuannya, dan akan segera memberikan laporan sedetail mungkin.
Gian merangkul pundak Akira dan menariknya kedalam dekapannya.
"Kamu tenang ya, aku akan urus semuanya, semua akan jelas sejelas-jelasnya." Tegas Gian menenangkan Akira.
Tidak lama Gian melihat dan merasakan Akira bernafas dengan teratur, dan pergerakan tubuh Akira naik turun secara teratur pula, Gian baru menyadari bahwa Akira sudah terlelap.
"Tidurlah sayang, aku tau kamu sangat lelah." Gumam Gian sambil mengecup kening Akira, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
Kemudian keduanya terlelap di atas sofa secara bersamaan dengan tubuh Akira yang bertumpu di atas tubuh Gian.
…
Pagi-pagi buta Riza sudah berangkat meninggalkan rumah konteraknya, karena Riza tidak kembali ke rumah orang tuanya, sebab Riza tau kedua orang tuanya pasti akan menyalahkannya, atas tindakan yang telah ia lakukan kepada Akira.
Maka dari itu ia lebih memilih untuk menyewa rumah kontrakan, daripada harus pulang kerumah orang tuanya.
Semalaman Riza tidak bisa tidur ia resah gelisah memikirkan tentang Akira, yang ia curigai bahwa ingatannya sudah kembali.
Karena itu, pagi - pagi buta Riza sudah berangkat ke rumah sakit untuk menemui Akira.
Dan apa yang ia lihat di sana, Riza mengeraskan rahangnya, dengan mata yang memerah, dan wajahnya merah padam, ia juga mengepalkan tinjunya menahan amarah, karena menyaksikan apa yang sedari tadi malam ia khawatir, pagi ini, ia benar - benar melihatnya, Akira dan Gian tidur dengan posisi bertumpu.
Tanpa aba-aba lagi Riza segera menarik paksa Akira.
"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku, kamu bersi keras menyuruhku untuk pulang sedangkan kamu mau berpelukan dengannya, Hah!" pekik Riza penuh amarah.
Akira sungguh terkejut dengan kelakuan kasar Riza, ia yang masih terlelap tiba-tiba di tarik paksa bahkan nyawanya pun belum terkumpul.
"Ada apa ini?" Akira bertanya dengan setelah sadar dan dengan ekspresi panik.
__ADS_1
Sama halnya dengan Akira, Gian pun merasa terkejut dengan keributan yang dibuat oleh Riza, "Apa yang kamu lakukan?" tanya Gian.
Tapi bukannya menjawab Riza malah menghantamkan tinjuan nya tepat di wajah Gian, Gian yang masih syok dan masih setengah sadar, tanpa persiapan apapun langsung tersungkur mendapat tinjuan dari Gian.
"Aaah …!" Akira memekik melihatnya, ia juga berusaha menghalau tindakan Riza yang akan kembali menghantarkan tujuannya kepada Gian.
Namun, Riza malah berbalik menyerang Akira,
Plak … suara tamparan begitu keras mendarat di pipi mulus Akira, saking kerasnya sehingga meninggalkan warna merah yang jelas menggambarkan lima jari di pipi Akira.
Akira merasakan panas dan perih di pipinya, pandangannya sampai buram karena rasa sakit yang ia rasakan, terlebih rasa sakit di hatinya.
Ingin menangis tapi ia tidak bisa melakukannya, hanya rasa sesak yang ia rasakan di dadanya, rasa sesak itu hingga membuat akira kesulitan untuk bernafas, dan perlahan pandangannya semakin buram dan gelap seketika, dan BRAK tubuh Akira lunglai karena ia hilang kesadaran.
"Akira!" pekik Gian, sambil berlari ke arah Akira yang sempat diseret menjauh dari Gian oleh Riza.
"Dasar gila kau …!" Gian mengumpat Riza.
Lalu Gian berteriak meminta tolong untuk menolong Akira, karena Gian tidak bisa meninggalkan putranya seorang diri, ia mengingat cerita Akira tentang Riza yang bisa berbuat nekat kepada putra putrinya.
Karena itu Gian meminta bantuan Suster untuk memberikan pertolongan kepada Akira, Gian memanggil security untuk mengamankan Riza, karena tindakannya sangat membahayakan, dan sangat meresahkan.
Gian juga menghubungi Erwin agar segera datang ke rumah sakit untuk mengurus Riza melaporkannya kepada pihak yang berwajib atas tindakan kekerasan yang di lakukannya.
Mendengar informasi dari Gian Erwin segera bergegas menuju rumah sakit tanpa memberitahu orang tuanya.
Dan Riza pun tidak tinggal diam ia segera menghubungi Shafira dan memberitahukan bahwa ingatan Akira sudah kembali, dan Akira juga sedang mencari informasi tentang putrinya.
Shafira sangat syok mendengarnya, tapi ia sudah melakukan persiapan ia sudah mengatur segalanya.
Saat semua sedang sibuk berpartisipasi dalam acara tujuh bulan Rima, ternyata Shafira sengaja tidak datang ia memanfaatkan keadaan untuk kabur.
Ia membawa bayi itu pergi, dan meninggalkan semuanya. Ternyata shafira terlah bersekongkol dengan Lucky, dan Riza untuk menghancurkan Gian melalui Akira dan putra putrinya.
Mereka bertiga menaruh dendam kesumat kepada Gian karena sikap Gian yang arogan.
(Apa yang dimaksud dengan dendam kesumat?
Dendam adalah rasa marah dalam diri seseorang yang sangat kuat dan disertai dengan keinginan kuat untuk membalas atau menyakiti orang lain. Dendam yang berlebihan sering disebut dengan dendam kesumat.)
Shafira menaruh dendam kepada Gian jelas karena Gian menolak cintanya mentah-mentah, meskipun ia bersikap baik dihadapan semua orang tetapi hatinya masih menyimpan dendam.
Lucky, menyimpan dendam karena Gian kerap kali merendahkannya, jika Gian sedang mengumbar amarahnya, seperti saat insiden tahlilan tujuh hari Akira tempo hari, Gian sempat merendahkan Lucky di depan umum dan itu membuat luka membekas di hati Lucky,
Belum lagi hasutan shafira yang membuat Lucky semakin membenci Gian, padahal Gian telah membantu mereka dari jurang hinaan.
Untuk Riza, sudah jelas dan sudah pasti ia sangat membenci Gian karena telah merampas Akira dari tangannya.
Tapi tidak hanya itu yang membuat Riza sakit hati, karena Akira juga lebih memilih Gian daripada dirinya. Itu yang menyebabkan Riza depresi.
Inilah akibat yang dirasakan oleh Riza karena rasa dendamnya.
Menyimpan dendam dapat mengakibatkan masalah kesehatan mental. Beberapa di antaranya adalah depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pasca trauma, serta menurunkan imun tubuh.
__ADS_1