Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 155


__ADS_3

Di tengah perbincangan Shilla dan Anjai, mama Nirmala dan Papa Arga menghampiri mereka, untuk mengajak Shilla pergi dari sana karena memang waktu jam besuknya sudah habis.


Di sana Shilla memohon agar keluarga Mahendra membebaskan Anjai dari p e n j a r a karena Shilla benar-benar tidak tega melihat kondisi Anjai seperti itu.


"Saya akan ikut kalian dengan suka rela, jika kalian membebaskan Anjai," Shilla berusaha bernegosiasi dengan keluarga Mahendra.


Mama Nirmala dan Papa Arga saling menatap seakan saling meminta pendapat, "Kami akan mempertimbangkannya nanti." Kemudian ucap Papa Arga.


Kedua orang tua Gian juga meminta Anjai untuk mengucapkan kata talak kepada Shilla saat itu juga.


Awalnya Anjai menolak untuk mengucapkan kata talak itu, Shilla sendiri tidak ingin diceraikan oleh Anjai tapi Mama Nirmala memberi pengertian kepada Shilla jika pernikahan mereka itu bisa di bilang tidak sah, sebab saat Anjai menikahi Shilla ia masih berstatus istri Gian.


Mama Nirmala memberi pengertian kepada Shilla bahwa mereka melakukan semua itu untuk kebaikan Shilla dan cucu mereka.


Gian dan kedua orang tuanya juga berjanji kepada Shilla tidak akan memaksa Shilla untuk kembali kepada Gian jika Shilla tidak ingin kembali.


Tapi mereka punya tanggung jawab dan punya hak atas putra Shilla yang mereka panggil Anjas, mereka akan tetap membawa Shilla untuk dipulangkan kepada kedua orang tuanya.


Sebab itu sudah menjadi tanggung jawab Gian karena saat hilang dulu Akira masih istri Gian dan saat Gian menemukannya di harus mengembalikannya kepada kedua orang tuanya, karena Akira sendiri tidak ingin kembali bersama Gian.


"Jika urusanmu dengan Gian sudah selesai, atau perceraian kalian sudah diurus, kalau kalian ingin kembali bersama lagi silahkan." Ucap mama Nirmala tidak ingin menghalangi hubungan mereka, tapi semua harus clear sesuai aturannya.


Padahal harapan mereka Akira bisa mengingat kembali ingatannya, dan bisa mempertahankan rumah tangganya bersama Gian.


Sesungguhnya Gian masih sangat mencintai Akira, tapi rasa sakit di hatinya mengalahkan rasa cintanya, penolakan Shilla membuat Gian sadar diri, Akira yang sekarang bukan Akira yang dulu, bukan lagi Akira istrinya.


Ia tidak mengenal Shilla, jika pun Shilla tidak mengingat kembali ingatannya tentang Gian, tentang masalalu mereka, Gian akan menganggap Akira istrinya sudah tidak. Namun, akan tetap hidup dalam hatinya, dengan kenangan indah yang Gian punya.


Gian merasa sudah mati rasa, sehingga semua di urus oleh kedua orang tuanya, ia sudah tidak perduli lagi tentang Anjai mau pun Shilla, kini Gian hanya fokus kepada putranya, satu-satunya kenangannyata bukti cintanya dengan Akira.


Mengapa Gian bersikap seperti itu, seakan tidak ingin memperjuangkan cintanya dengan Akira, membantu Shilla mengingat semua masalalu bersama Gian.


Karena Gian sudah merasa lelah, dipermainkan oleh cinta, setelah lama bertahan dengan keyakinannya dengan cintanya , tapi pada kenyataannya sangat menyakitkan.


Terlebih sikap Shilla sendiri yang menganggap Gian seperti musunya, karena hasutan dari Anjai sebelumnya, yang mengatakan Gian adalah duri dalam hubungannya dengan Anjai, ia bercerita seakan Gian penjahat dalam kisah mereka berdua, di tambah perbuatan Gian yang membuat Anjai babak-belur membuat semakin kuat image buruk Gian bagi Shilla.


Sehingga Shilla sangat membenci Gian, menutup diri untuk Gian.


Dan karena itulah Gian merasa asing dengan Shilla perilaku serta kepribadian Shilla berbanding terbalik dengan Akira, jadi meskipun Akira dan Shilla adalah orang yang sama tapi beda kepribadian, bukan Shilla wanita yang Gian cinta, melainkan Akira dengan wujud dan keberaniannya.

__ADS_1



Sebelum Shilla menyetujui permintaan kedua orang tua Gian untuk di ceraikan oleh Anjai, dan ikut pulang bersama mereka, Shilla kembali mengajukan satu syarat, yaitu meminta mereka untuk membebaskan Anjai.


Karena hal itu yang selalu diminta oleh Shilla sebagai Syarat, maka Papa Arga menyanggupinya, "Baiklah, tapi biar anak buah kami yang akan mengurus kebebasan Anjai, kita akan tetap pulang ke kota jakata hari ini juga." Tegas papa Arga.


Shilla pun menyetujuinya dan memegang janji keluarga Mahendra untuk membebaskan Anjai, dan akhirnya disaksikan kedua orang tua Gian dan beberapa polisi yang bertugas di sana Anjai menjatuhkan talak satu kepada Shilla dengan perasaan berat hati dan terpaksa.


Shilla sendiri menangis saat Anjai menjatuhkan talak satu atas dirinya.


Setelahnya Papa Arga dan Mama Nirmala segera keluar dari sana untuk bergegas kembali ke villa, tapi Shilla meninggalkan dirinya karena masih ingin berbicara dengan Anjai.


"Sayang, maafkan aku, karena aku harus meninggalkanmu disini." ucap Shilla sambil terus menangis.


"Tenang, sayang. semua ini hanya sementara, setelah semua urusanmu dengan si b a j i n g a n itu beres, dan urusan ku di sini selesai, kita akan kembali bersama, aku berjanji." janji Anjai kepada Shilla untuk tetap mempengaruhi Shilla.


Shilla mengangguk, Anjai mencium keningnya lalu memeluknya, "Hati-hati ya kamu di sana, jaga kesehatanmu, aku sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu." itu ucapan perpisahan dari Anjai, yang sebenarnya ia pun sangat berat hati dan sedih hati di tinggalkan oleh wanita pujaannya.


Namun Anjai masih bisa bernafas lega dan memiliki harapan untuk bisa bersama Shilla lagi, meskipun Shilla sudah tau tentang semua kebenarannya Shilla masih mempercayai Anjai dan masih sangat perduli kepadanya, karena itu Anjai merasa pede bahwa ia bisa kembali bersama Shilla.


Karena Anjai akan terus mempengaruhi Shilla mencuci otaknya, agar tetap membenci orang-orang yang ingin memisahkan cinta Antara Shilla dan Anjai.


Padahal sebenarnya seorang petugas tengah berada di sana untuk mengingat Shilla bahwa waktu mereka sudah habis, tapi Shilla dan Anjai meminta waktu sebentar lagi untuk bersama.


Dan akhirnya petugas kedua datang lalu memaksa Shilla untuk segera keluar, dan Anjai sendiri di giring paksa untuk kembali ke sel.


Padahal hasrat Anjai ingin sekali m e n g g a u l i Shilla, setelah beberapa waktu tidak bertemu, sekuat tenaga ia menahan nafsu, dan ketika bertemu hasrat itu memuncak. Namun, tidak ada kesempatan sama sekali untuknya bahkan ia malah di paksa untuk menceraikan nya.


Anjai mengamuk di dalam selnya, ia menghantamkan tinjuan nya berkali-kali ke dinding sampai tangannya mengeluarkan banyak darah, polisi segera menenangkan Anjai yang sedang kalap.


….


Sesampainya di villa semua barang-barang Shilla dan putranya sudah di kemas dan siap di angkut ke dalam mobil.


Shilla melirik tumpukan barang-barangnya yang sudah bi Atun kemasi, lalu menghampiri Bi Atun yang sedang berada di dapur bersama dengan adiknya.


Shilla memberi beberapa pesan kepada Bi Atun agar melaporkan apa pun tentang Anjai kepadanya, karena Bi Atun tidak ikut bersama Shilla.


Kemudian setelah selesai berbicara dengan bi Atun Shilla baru menyadari dimana keberadaan putranya, "Dimana Anjas Bi?" 

__ADS_1


"Oo, den Anjas sedang bersama Tuan Gian di kamarnya." terang bi Atun.


"Apa?" pekik Shilla seakan tidak rela putranya di asuh oleh orang jahat.


Shilla segera bergegas menuju kamar Gian untuk mengambil putranya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Shilla langsung membuka pintu kamar Gian dengan kasarnya, dan membuat Gian terperanjat karena terkejut.


Dan ternyata, Anjas sedang tertidur pulas di pangkuan Gian. Lalu Gian melihat ternyata Shilla yang menerobos masuk ke dalam kamarnya.


Gian meletakkan telunjuknya di bibirnya, sebagai isyarat agar Shilla bergerak perlahan supaya tidak membangunkan putranya, "Sssst, jangan berisik."


Seketika itu Shilla langsung mematung karena ia takut mengejutkan putranya dan membangunkannya.


Gian tidak memberikan putranya kepada Shilla ia malah berjalan keluar kamar sambil memangku putranya, melewati Shilla begitu saja, Gian menuruni anak tangga menuju lantai dasar karena sesuai rencana sepulangnya mereka dari tahanan mereka akan langsung pergi dari sana untuk kembali ke kota asal mereka.


Shilla sendiri mengikuti langkah Gian, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi, semuanya sudah sesuai dengan rencana dan perjanjian.


Barang-barangnya yang tadinya masih menumpuk di ruang tengah kini sudah tidak ada, mungkin pak sopir sudah memasukkannya kedalam mobil.


Gian langsung menuju mobilnya karena mereka sudah bersiap untuk pulang saat itu juga, Shilla sedikit terkejut melihat pergerakan mereka yang tanpa jeda langsung bergegas untuk pulang.


Perasaan Shilla sepertinya belum siap untuk melakukan perjalanan, tapi ia tidak mampu lagi untuk mengelak, sebab keluarga Mahendra telah mengikuti semua keinginannya sebagai syarat agar ia ikut bersama mereka.


Gian duduk dibangku tengah sambil  memangku putranya bersama dengan Papa Arga, sedangkan Mama Nirmala dan Shilla duduk di bangku belakang.


Selama dalam perjalanan suasana di dalam mobil begitu hening, hanya Papa Arga dan Mama Nirmala yang sesekali berbicara saling menimpali itu pun hanya pembicaraan seperlunya saja.


Anjas begitu tenang dan anteng berada dalam pelukan Gian, menyandarkan kepalanya di dada ayahnya, hanya sesekali berinteraksi ketika ia meminta minum susu.


Beda sekali jika Anjas sedang bersama Anjai ia lebih aktif bahkan cenderung rewal, apa lagi jika berpergian jauh seperti sekarang ini, jika bersama Anjai Anjas pasti sudah rewel serba salah.


Anjas seakan tau suasana hati orang tuanya. Sampai tiba di rumah Mahendra tempat dimana seharusnya ia berada Anjas tidak rewel sama sekali selama dalam perjalanan, selama itu ia juga lebih sering berada di pangkuan Gian ketimbang di pangkuan Shilla.


Kini mereka sudah sampai di kediaman Mahendra, mereka segera turun dari mobil, ketika Shilla menginjakkan kakinya, Shilla merasa tidak asing lagi dengan lingkungannya, ia memaku melihat rumah mewah itu, ada perasaan aneh yang ia rasakan, entah perasaan apa.


Yang jelas ia merasakan perasaan gugup, ia sampai menarik nafas panjang dan menghembuskan secara kasar memejamkan matanya lalu menundukkan kepalanya, Shilla berusaha menenangkan dirinya.


Dan seketika itu tiba-tiba muncul kembali bayangan berupa klise dalam memory Shilla tapi kali ini Shilla bisa menangkap suara dari bayangan itu, ia mengingat kata-katanya.

__ADS_1


Tapi bayangan dan kata-kata yang ia ingat bukan saat momen kebahagiaan melainkan sebaliknya.


__ADS_2