Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 65


__ADS_3

Sesampainya di rumah gian memarkirkan mobilnya, dan segera turun lalu membukakan pintu mobil untuk akira.


Gian juga membantu Akira untuk turun dan melindungi kepala akira dengan telapak tangan nya agar tidak terantuk bagian atas pintu mobil.


Akira sungguh bahagia dengan perlakuan gian kepada dirinya yang begitu perhatian itulah mengapa Akira merasa takut untuk kehilangan Gian dan tidak rela melepaskan Gian untuk kakaknya.


'Tapi Gian memang milik kak Fira sebelumnya, dan kini aku ingin menguasainya tidak rela untuk melepaskannya, lalu mengapa kemarin aku sampai berjanji akan melepaskannya untuk kak Fira dan pada akhirnya aku tidak mampu menepati nya…?' hati Akira terus bertanya-tanya. 


Akira tidak mengerti dengan perasaan nya yang begitu labil menuntutnya sendiri.



Gian menggandeng tangan Akira ketika masuk kedalam rumah, suasana rumah sedang sepi hanya ada beberapa ART yang sedang mengejar tugas-tugas mereka.


Karena papa Arga dan mama Nirmala serta Erwin langsung pergi ke kantor sepulangnya dari rumah sakit.


Gian dan Akira menuju taman belakang rumah untuk bicara lebih santai dan terbuka.


Di sana tersedia bangku besi panjang untuk bersantai.


Gian meminta Akira untuk duduk terlebih dahulu.


Sedangkan dirinya sendiri masuk ke arah dapur, Akira sempat bingung dan bertanya-tanya mau kemana suaminya, pertanyaan itu tidak sempat keluar dari mulutnya.


Karena Gian menginstruksikan nya untuk tetap duduk diam di sana.


"Sebentar duduk dulu, nanti aku segera kembali." Itu ucap Gian lalu ia berlalu pergi.


Selang beberapa waktu Gian kembali dengan membawa sebuah nampan yang berisikan dua cangkir teh hangat dan cemilan biskuit untuk mereka berdua.


Akira tersenyum melihatnya, "Aku kira kamu mau ngapain?" Akira tidak menyangka Gian akan melakukan hal itu.


"Ya supaya kita lebih santai ngobrolnya." Gian menyiasati situasi tegang yang akan terjadi sebelum pembicaraan serius dimulai.


Gian meletakkan nampan yang ia bawa di kursi besi panjang, kemudian ia duduk di antara nampan dan Akira di sebelahnya.


Gian menyodorkan secangkir teh hangat itu untuk istrinya dan meminta Akira untuk minum bersamanya.


Akira sungguh bahagia dengan sikap Gian, ternyata Gian yang ia kenal arogan, menyebalkan dan sangat ia benci, bisa menyenangkan seperti itu.


Tidak henti-hentinya bibir Akira mengembangkan senyum atas perlakuan Gian kepadanya, sehingga Akira melupakan masalah tentang kakak nya yang awalnya ingin mereka bahas.


'Pantas saja kak Fira tergila-gila kepadanya, di balik sikap arogannya ternyata selain dia tampan, dia juga sangat lembut dan perhatian.' Akira bicara dalam hati mengagumi sosok Gian.


Gian bertanya bagaimana mana perasaan Akira saat ini, untuk membuka pembicaraan mereka.


"Aku sudah lebih baik" jawab Akira.


"Ya, syukurlah jika seperti itu." Sahut Gian.


Lalu Gian mulai menyinggung pembicaraan tentang kondisi Shafira, sebab itu memang harus mereka bicarakan agar tidak terjadi salah paham di antara mereka.


"Masalah Kakakmu, jujur saja aku merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada nya, tapi masalah ini tidak sepenuhnya kesalahan ku, jadi bukan aku tidak mau bertanggung jawab memperbaiki semuanya." ucap Gian tidak ingin terlibat dalam masalah Shafira.


Senyum di bibir Akira seketika lenyap ketika Gian mulai membahas tentang Shafira, raut wajah akira berubah sendu.

__ADS_1


Jujur Akira juga sebenarnya tidak ingin membahas masalah ini, karena itu membuat moodnya menjadi mellow.


Gian meraih tangan Akira dan menggenggamnya, "Akira semua yang terjadi kepada Shafira bukan salahku atau salahmu, ini terjadi karena ini pilihannya."


"Dia pergi begitu saja, dan menyiksa dirinya dan kita semua, andai dia mengutarakan apa yang akan dia lakukan semua ini tidak akan terjadi, aku tidak akan menyakitimu saat itu, dan aku juga tidak akan menikahimu dan mengenalmu seperti sekarang ini."


"Ini semua karena tindakannya sendiri Akira, jadi jangan pernah punya pikiran kita Egois kita yang bersalah atas kondisi Shafira karena sesungguhnya tidak seperti itu, ini takdir tuhan kehendak tuhan, Akira buktinya tuhan menitipkan bayi di perut mu hasil perbuatan kejam ku, karena tuhan ingin kita tetap bersatu." Panjang lebar Gian memberi pengertian kepada Akira.


Agar pikiran Akira tidak merasa dirinya egois atau merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada kakaknya.


Justru sebenarnya Shafira lah orang yang egois, dan licik serta tamak.


"Apa kamu tidak ingin kembali kepadanya?" tanya Akira seperti nya Akira masih merasa ragu dengan persamaan Gian terhadap Akira.


"Jika memang ia, kamu masih mencintainya, dan ingin kembali kepadanya, aku rela kita berpisah sampai anak ini lahir." ucap Akira, dan ucapan itu membuat Gian marah dan kecewa kepada Akira.


"Apa…?" Pekik Gian dengan bingung atas sikap Akira,


"Apa kamu tidak menginginkan ku berada disisimu, membesarkan buah hati kita bersama?" Gian mulai emosi,


Gian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, wajahnya memerah menahan amarah.


"Bukan begitu maksudku…" terhenti.


"Cukup Akira…" Gian menghentikan kata-katanya yang ingin akira katakan.


"Aku sudah tau apa tujuan dari pembahasan yang ingin kamu sampaikan, aku sudah tau dari awal kamu memang ingin pergi dari ku, kamu tidak pernah bisa menerimaku, meskipun sudah ada janin di perut mu darah dagingku, aku juga sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya tapi itu semua tidak cukup untuk memupuskan rasa sakit hatimu, sehingga kamu tetap Bersikeras menginginkan perpisahan diantara kita." Gian tidak memberikan kesempatan untuk Akira berbicara.


"Baiklah jika begitu aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan, jika itu bisa membuat mu bahagia." Gian mengambil keputusan sendiri tanpa ingin mendengarkan penjelasan Akira.


"Tunggu dulu…" ucap Akira, di sela-sela kata-kata Gian.


Tapi sepertinya Gian sudah terlanjur emosi dan sudah tidak ingin mendengar apapun lagi dari Akira.


Gian memilih pergi meninggalkan Akira seorang diri di sana.


Akira berusaha untuk mengejarnya, untuk menjelaskan semuanya, "Kak Gian tunggu dulu biar aku jelaskan dulu apa yang ingin aku sampaikan." Akira sedikit berteriak sambil mengejar Gian.


Tapi hasilnya nihil karena Gian langsung masuk kedalam mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya entah ia mendengar atau tidak teriak Akira.


Padahal akira sempat berhasil mengejar Gian.


Namun percuma Gian sudah di dalam mobilnya dan mesin mobilnya sudah menyala, Akira berusaha mengetuk kaca pintu mobil Gian.


Tok, tok, tok.


"Yang… tolong buka dulu aku belum selesai berbicara." Akira memohon.


Tapi Gian tidak menggubris dan malah melajukan mobilnya.


"Kak gian…tolong dengarkan aku dulu, aku memang mau mengalah kak melepaskan mu bersama kak Fira, tapi sesungguhnya aku sangat mencintai mu, aku takut kehilanganmu… kak Gian…!" teriak Akira tapi Gian tidak bisa mendengarnya karena mobil Gian sudah melaju pergi.


Akira menangis, menyesali salah paham antara dirinya dan Gian tubuhnya melemah sampai  ia terduduk tanpa alas di bawah sana.


Salah satu ART melihat Akira dan segera menghampirinya.

__ADS_1


"Nona Akira ada apa denganmu?" ART itu panik, dan segera membantu Akira untuk bangun.


Lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


Kini akira sudah berada di kamarnya, berulang kali Akira mencoba untuk menghubungi Gian, menelponnya, dan mengirim chat WhatsApp tapi tidak mendapat respon darinya.


Akira pun mencoba menelpon ke kantor, tapi sekertaris nya mengatakan bahwa Gian tidak di kantor.


Akira sungguh gelisah memikirkan tentang suaminya. Akira mencoba ngehubungi kedua mertuanya dan juga kakak iparnya, menanyakan keberadaan Gian.


Tapi di antara mereka tidak ada satu pun yang tau di mana Gian berada.


Akira tidak enak makan dan tidak enak tidur memikirkan suaminya.


"Ya tuhan, dimana sebenarnya kamu kak Gian?" Akira bertanya sendiri dalam kebingungannya.


Akira benar-benar merasa jenuh dan tersiksa atas masalah yang sedang ia hadapi. 


Berjam-jam berada di kamar ia merasa semakin sesak dan stres, akhirnya ia memutuskan untuk menemui kedua orang tuanya di rumah sakit, untuk bergantian menemani kakaknya.


Akira bergegas membersihkan diri lalu bersiap untuk pergi.


Akira memesan taksi online untuk mengantarkannya ke rumah sakit, dengan berjalan gontai tanpa semangat Akira menyusui koridor rumah sakit setapak demi setapak Akira melangkah kan kakinya.


Sampai tidak di sadari ia sudah berada di depan pintu kamar ruang rawat shafira.


Tanpa mengetuk pintu Akira langsung masuk, karena ia pikir di dalam sana hanya ada kedua orang tuanya dan kakaknya, Akira memang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, sebab ia punya pemikiran takut mengganggu mereka yang sedang beristirahat.


Akira mulai menekan handle pintu secara perlahan untuk memastikan apakah orang yang di dalam sana sedang tertidur atau tidak.


Namun baru saja pintu sedikit terbuka, Akira di kejutkan dengan pemandangan yang lumayan membuat sesak jantungnya.


Matanya terbelalak membulat sempurna, dengan mulut yang menanga-nga, ketika Akira melihat kenyataan di depan matanya.


"Ya tuhan apa ini, mengapa rasanya sakit sekali " gumam Akira, dan mengurungkan niatnya untuk masuk.


Akira berbalik lalu menyandarkan tubuhnya di dinding, napas nya terngah-engah sesak menghimpit dadanya.


Ia sampai kesulitan menelan Salivanya karena sesak yang menyerangnya.


Akira berusaha mengontrol emosinya, mengatur nafas nya, mengusap air mata yang tidak terasa berlinang membanjiri kelopak matanya.


"Akira, tenang Akira…!" Ia berusaha mengintruksi dirinya sendiri.


Ia tetap mematung karena sulit sekali menghilangkan gejolak dalam dirinya saat itu, ingin pergi rasanya dari sana, namun kakinya terasa berat untuk melangkah.


Ingin menangis sejadi-jadinya namun sesak mehimpit jantungnya.


Dengan langkah sempoyongan, dengan tangan yang menggapai dinding untuk menopang tubuhnya mencari keseimbangan agar tidak terjatuh. Akira berusaha pergi dari sana.


....


Apakah yang sebenarnya Akira lihat? Mengapa ia sampai merasakan sakit sesakit itu?


Tunggu kisah selanjutnya, di Cinta Antara 2 Pilihan....!

__ADS_1


__ADS_2