Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 137


__ADS_3

Seminggu berlalu, Jimi tidak pernah lagi menemui Mila, setelah kejadian itu, ia benar-benar ingin lepas dari tangga jawab, Mila sudah sangat prustasi memikirkan keadaannya.


Mengadu kepada orang tuanya? itu tidak mungkin, karena mereka pasti hanya akan mencibir dan akan membuatnya semakin merasa tertekan, dan menambah beban  di hatinya.


Meminta tanggung jawab kepada keluarga Jimi juga itu tidak mungkin karena dari awal hubungan mereka, keluarga jimi sudah sangat menentang hubungan mereka.


Mila benar-benar bingung harus bagaimana, sedangkan perutnya makin hari akan makin membesar, ia juga akan butuh biaya lebih besar untuk biaya persalinan dan untuk memenuhi kebutuhannya dan bayi nya nanti.


Berhari-hari, Mila mengurung diri ia merasa sangat jenuh dengan  keadaannya, kemudian ia memutuskan untuk hangout bersama temannya pergi ke sebuah klub malam.


Ia berpenampilan seperti biasa dengan pakaian minim bahan, yang dapat mengekspos bagian sensitif tubuhnya, seperti p a h a mulusnya, dan belahan gunung kembarnya, bahkan setengah dari gunung kembarnya bisa terlihat sempurna.


Temannya datang menjemputnya, tapi temannya tidak tahu jika Mila sedang hamil anak Jimi.


Padahal temannya itu sendiri sering berhubungan badan dengan Jimi, tanpa sepengetahuan Mila.


Dan saat mereka tiba di klub malam, ternyata Jimi juga sudah ada di sana bersama beberapa perempuan penggoda.


Mila merasa kepanassn melihat itu semua, ia menghampirinya dan mencaci makinya, tapi respon Jimi tidak peduli kepadanya.


Ia malah tertawa-tawa seakan mengejek Mila, "Hey, ada apa denganmu, mengapa semarah itu, santai dong." Kata Jimi.


"Kamu bilang santai setelah apa yang telah kamu lakukan kepada ku!" 


"Iya, itu memang sudah biasa kita lakukan, Jesy sahabatmu itu juga sering melakukannya bersamaku dia biasa saja.!" Jimi mengatakan hal itu dengan sangat santai.


"Apa?" sedangkan Mila merasa terkejut mendengarnya, ia berbalik melihat ke arah sahabatnya yang menjemputnya. Mila seakan minta penjelasan kepadanya atas apa yang telah dikatakan oleh  Jimi.


"Maaf, Mil." hanya kata itu yang diucapkan oleh Jesy sahabatnya karena apa yang dikatakan oleh Jimi memang benar adanya.


Mila sungguh kecewa mendengarnya, ia benar-benar merasa marah dan kecewa, tapi ia sudah tidak dapat berkata-kata lagi.


"Jadi kalian mengkhianatiku ?" ucap Mila lemah.


"Bukankah itu sudah biasa, honey, kita melakukan itu memang untuk bersenang-senang, jadi tidak usah lebay seperti itu." Jimi memang tidak pernah ingin berkomitmen dengan wanita manapun.


Padahal selama ini Mila merasa Jimi hanya miliknya dan hanya mencintainya tapi pada kenyataannya, ternyata Jimi seorang penjajah wanita.


"Mereka tidak bodoh sepertimu, mereka tau cara untuk tetap bisa menikmati hidup bebas tanpa ikatan dan beban." Sambung Jimi mengejek kebodohan Mila yang bisa hamil karenanya.


Mila tidak berdaya, ia hanya bisa diam menahan segala rasa, ia memang menyadari kebodohannya dan hanya sebuah penyesalan yang ia rasakan.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Mila melangkah keluar untuk meninggalkan klub malam tersebut. Dengan rasa penyesalan yang mendalam.


Tapi tiba-tiba di depan pintu keluar ada seseorang yang menubruk tubuhnya dari belakang, sehingga membuat Mila tersungkur kedepaan dan membuat kepalanya terbentur pintu.


Mila sangat terkejut, dan kesakitan, "Dasar sial!" Pekik Mila kesal.


Lalu ia berbalik dan melihat orang tersebut, dan alangkah terkejutnya Mila ternyata orang yang menabraknya seorang pria yang sedang mabuk berat, dengan penampilan acak-acakan.


"Tuan Gian!"


Ya, pria itu adalah Giantha Mahendra, ia sengaja datang ke klub malam untuk mencari hiburan, untuk menghilang segala rasa yang ia rasakan, Namun ia tidak henti-hentinya menikmati minuman beralkohol dan menyebabkan dia mabuk berat.


Iya berjalan sempoyongan, kehilangan keseimbangan, karena itu ia bisa menubruk Mila yang berjalan di depannya.

__ADS_1


"Awas-awas kau minggir lah dari hadapanku,!" Gian bukannya meminta maaf kepada Mila, ia malah bersikap semakin menyebalkan.


Mila segera minggir, karena pikirannya percuma mengumpatnya juga, itu tidak akan berpengaruh apapun kepadanya.


Tapi baru saja Gian melangkah beberapa langkah ia kembali hilang keseimbangan dan kembali terjatuh.


BRAK … suara tubuh Gian terjatuh.


Banyak orang yang berusaha meraih tubuhnya, untuk menolongnya, dan sepertinya Gian memang sudah hilang kesadarannya sehingga ia kesulitan untuk berjalan.


Karena Mila mengenalnya maka ia merasa kasihan dan ingin menolongnya, pada akhirnya Mila mengambil alih tubuhnya Gian dari orang yang lain.


Lalu memapahnya sampai parkiran mobil, ada sopir pribadi  Gian yang sedang menunggu di sana.


Mila menyerahkan Gian kepada supirnya dan menjelaskan merek bertemu di dalam, lalu Mila membantunya. Pak sopir segera membantu memasukan Gian kedalam mobil, tapi saat Mila ingin keluar setelah berhasil meletakkan Gian di dalam mobil, tiba-tiba tangan Gian menyambar tangan Mila.


"Jangan pergi! temani aku, aku sangat kesepian, aku membutuhkanmu," ucap Gian dalam keadaan mabuk.


Mila berusaha melepaskan diri tapi tangan Gian begitu kencang memeganginya, sehingga Mila kesulitan untuk melepaskan cengkeraman tangan Gian.


"Pak Supri, bagaimana ini?" tanya Mila.


"Saya tidak tahu." jawab singkat pak Supri karena ia tidak ingin di salahkan jika terjadi sesuatu.


"Jalan, pak. Dia akan menemaniku Malam ini." ucap Gian memerintah pak Supri nya.


Tapi pak Supri merasa bingung dan serba salah, ia masih berpikir untuk membawa Mila bersama mereka sedangkan pakaian Mila sungguh sangat menantang iman. Pak sopir merasa risi untuk hal ini.


Tapi Gian memaksa pak sopir untuk segera menjankan mobilnya dan membawa Mila bersama dengan mereka.


"Ba-baik, Tuan!" kemudian pak sopir segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya.


Diperjalanan Gian selalu mengoceh segala macam ia Oce, ia juga sampai muntah tepat di bagian belahan dada Mila.


"Ya ampun apa yang dilakukan? dia membuat ku kotor seperti ini!" ketus Mila.


"Pak, antara saya dulu ke apartemen saya, aduh jiji sekali aku ini, eeww!" pintu Mila dengan memasang raut wajah seakan sangat jijik.


Pak sopir mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Mila, dengan begitu ia menyetujui permintaan Mila untuk mengantarkannya terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah papa Arga.


Sesampainya di depan gedung apartemen Mila, Mila segera turun dari mobil Gian, tapi Gian malah ikut turun.


"Tuan, anda mau kemana, ini belum sampai ke rumah anda, ini masih di apartemen saya, " ucap Mila bermaksud untuk mengingatkan Gian.


"Aku mau ikut denganmu, aku butuh teman, aku kesepian." celoteh Gian.


Dan ia memaksa ingin ikut, Mila merasa sangat frustasi menghadapi orang mabuk seperti Gian saat ini.


"Pak sopir, bagaimana ini?" tanya Mila.


"Saya tidak tahu, Non!" Pak sopir kembali menjawab dengan jawaban yang sama.


Kemudian Mila meminta pak sopir untuk membantunya memasukkan kembali Gian ke dalam mobilnya.


Tapi Gian menolak , dan mengancam akan memecatnya jika pak sopir memaksanya dan melaporkannya kepada orang rumah.

__ADS_1


"Ya, sudah pak bantu bawa dia ke kamar Saya, dari pada dia merepotkan seperti ini." pinta Mila.


Apa yang dikatakan oleh Mila memang benar Gian sangat merepotkan. Lalu pak sopir memapahnya menuju kamar apartemen Mila.


Sesampainya disana tubuh Gian di baringkan di tempat tidur Mila.


"Pak, bapak boleh keluar, tapi bapak jangan laporkan ini sama Bu Nirmala ya! kasihan dia bakalan sedih banget lihat anak kesayangannya seperti ini."  pinta Mila, agar pak sopir merahasiakan apa yang terjadi.


"Baik." jawab Pak sopir patuh lalu bergegas pergi.


Setelah pak sopir keluar, Mila membantu melepaskan semua pakaian Gian, karena  bau dan basah terkena muntahan nya sendiri.


Kemudian Mila juga membersihkan diri dan berganti pakaian, ia memakai tank top dan celana short, karena malam sudah sangat larut Mila juga sudah sangat ngantuk dan lelah.


Gian sendiri sudah tertidur pulas, tidak dasarkan diri.


Mila menatap wajah tampan Gian begitu yang tenang dalam tidurnya, 'Sebenarnya kamu tuh ganteng  banget tau, tapi kamu tuh, belagu nyebelin banget, jadi aku tuh takut sama kamu!' Mila malah bicara sendiri memuji ketampanan Gian.


Dan  terbesit ide gila di dalam benaknya, ia malah mengambil handphonenya dan naik keatas tempat tidurnya.


Mila berpose seakan mereka sedang melakukan hubungan i n t i m.


"Kapan lagi bisa seperti ini sama dia, mumpung dia lagi gak sadar, walaupun memang mustahil dia akan mencumbiku, tapi setidaknya aku punya fotonya buat kenang-kenangan, hi … hi … hi …" Mila bicara sendiri dan malah cekikikan merasa senang karena bangga bisa satu ranjang bersama Gian  walaupun tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


Setelah mengambil beberapa gambar dengan beberapa pose yang menggambarkan k e i n t i m a n. Mila melihat-lihat lagi foto itu, dan tanpa di sadari ia terlelap begitu saja di samping Gian.


Sedangkan Mama Nirmala sibuk mencari-cari putra bungsunya, ia khawatir terjadi sesuatu kepadanya karena kejiwaannya masih terguncang.


Gian memang pamit kepada mamanya sebelum pergi, dengan alasan ingin cari angin. Mama Nirmala mengijinkannya asal ada pengawasan darinya. Kemudian Mama Nirmala meminta sopirnya yang untuk menemani dan mengawasinya.


Saat meminta ke klub malam, si sopir memang ragu dan ia juga merasa takut, ia takut tidak di izinkan oleh nyonya Nirmala. Tapi Gian memaksanya dan mengancam.


Lalu terpaksa si sopir membawa Gian ke klub malam sesuai dengan yang diinginkannya.


Tapi tidak memberi tahu Bu Nirmala kemana ia membawanya, saat Bu Nirmala bertanya melalui sambungan teleponnya.


Dan ketika malam sudah larut, Gian belum kunjung pulang, mama Nirmala menjadi resah gelisah, ia kembali menghubungi pak sopir untuk menanyakan putranya.


Pak sopir mengatakan, Gian sedang berada di apartemen temannya dan entah pulang jam berapa, tapi pak sopir masih setia menunggunya.


Mama Nirmala tidak merasa curiga sama sekali tentang apa yang telah terjadi kepada putranya, ia merasa percaya dan merasa tenang jika putranya dalam keadaan baik-baik saja.



Pagi hari, matahari sudah di atas kepala jam menunjukan sekitar pukul sepuluh pagi. Gian mulai terbangun dari tidurnya,, kepadanya terasa berat dan berdenyut sakit.


Perlahan Gian membuka matanya dan melihat sekitar. Gian merasa asing dengan apa yang ditangkap oleh indera penglihatannya.


"Dimana aku?" Pikirnya.


Saat ia mencoba mengingat-ingat, pandangannya melihat kesamping tempat tidur, alangkah terkejutnya nya ia melihat seorang gadis tertidur lelap dalam dekapannya.


Mata Gian langsung membelalak membuat sempurna, saking terkejut dengan gerakan spontan Gian menjauhkan tubuh Mila dengan mendorongnya menggunakan kaki dan tangannya dengan cukup kuat, sehingga seketika itu juga Mila terja dari tempat tidurnya.


BRAK … tubuh Mila menyentuh lantai dengan kuatnya ….

__ADS_1


 


__ADS_2