Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 17


__ADS_3

Dan suara Akira terdengar sangat gaduh, sehingga para penghuni rumah dapat mendengar nya dan merasa heran dan curiga, apa yang terjadi dengannya.


Sehingga semua orang atau pekerjaan berlarian untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


….


"Nona Akira kenapa tuan…!" tanya Salah satu ART.


"Jangan banyak bertanya ayo  cepetan ambilkan kotak P3K, dan air es untuk mengompres luka memarnya." Gian memerintah ART nya.


Lalu ART segera berlari untuk mengambil kan apa yang Gian pinta.


Sementara itu Gian sudah membaringkan Akira di sofa di ruang tengah.


Gian menatap Akira yang masih merintih kesakitan sambil menutup lukanya dengan telapak tangannya.


"Ssstt … aawww … sakit sekali!" rintih Akira.


"Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja melakukannya." melihat Akira Gian benar benar merasa tidak tega, dan merasa bersalah.


Tapi Akira tidak menggubris permintaan maaf Gian.


Tidak lama ART segera datang membawa semua yang Gian minta. "Ini tuan…!" ucap nanya sambil menyodorkannya.


Gian segera mengambilnya, lalu mulai ingin mengompres terlebih dahulu luka memar di kening Akira.


Tapi Akira selalu saja menghindar dan menolak perlakuan Gian.


"Tidak usah biar aku sendiri yang melakukan nya, tidak usah berakting sok baik… padahal dalam hatinya senang bukan main." Ketus Akira.


"Heh… jaga ucapan mu!" Sanggah Gian.


"Aku masih ingat ucap mu yang mengatakan ingin menyiksaku, tapi bukan hanya batin ku yang kau siksa, melainkan pisik ku juga, seharusnya jika kamu mau, ambil saja pistol ku, tembak saja aku sekalian biar aku mati di hadapan mu, di tangan mu, biar kamu puas…!" Akira meluapkan semua emosinya.


"Cukup! Aku sudah minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya.!" Tegas Gian.


"Apa minta maaf, hanya karena ini (Akira menunjuk luka memarnya) lalu bagaimana dengan peristiwa di malam itu, Batin ku, fisik ku kamu hancur kan…!" Pekik Akira sambil menangis, ia mengingat peristiwa malam itu Akira benar-benar merasa hancur saat itu.


Karena itu dan kata-kata Gian yang mengatakan ingin menyiksanya menjadikan dirinya tumbal atas rasa sakit hati yang kakaknya berikan, itu selalu terngiang di telinganya.


Sehingga kini Akira telah salah paham, menyangka Gian sengaja ingin melukainya, padahal Gian benar-benar tidak sengaja dan memang merasa sangat merasa bersalah.


Gian hanya diam mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Akira, karena semuanya memang benar begitu adanya.


Mendengar pertengkaran antara Akira dan Gian, Sisil segera menghampiri keduanya.


Dan melihat Akira sedang bicara penuh emosi sambil menangis kepada om nya Gian.


Dengan rasa takut dan penasaran Sisil mendekat, lalu ia memeluk Gian.


"Om.. anteu kenapa, kok anteu marah-marah sambil nangis?" tanya Sisil sambil ketakutan.

__ADS_1


Dan itu semua membuat Akira bertambah sedih dan merasa malu.


Akira mencoba menahan emosi, sampai harus menangis pilu kemudian ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan untuk mengatur emosinya.


Gian merasa bingung harus menjelaskan apa kepada Sisil, karena usia sekecil Sisil belum mengerti apa-apa.


Kemudian setelah merasa lebih tenang, Akira mencoba menjelaskan kepada Sisil .


Bahwa dirinya tidak apa-apa, hanya saja ia merasa sedih karena teringat ayah dan ibunya.


"Benar anteu tidak apa-apa, lalu kenapa anteu memarahi om?" Tanya Sisil karena sempat melihat Akira bicara penuh emosi kepada Gian.


"Anteu kesel sama om, karena melarang Anteu untuk ketemu sama orang tua anteu." Jawab Akira.


"Oom, om gak boleh gitu dong kasih anteu nya!" Sisil malah membela Akira dan menasehati Gian.


"Iya Om minta maaf." ucap Gian.


"Kok cuma ngomong maaf!" Seru Sisil.


"Lalu,,, om harus ngapain?" tanya Gian bingung.


"Ya, seperti yang selalu Sisil lakukan, kalau Sisil nakal dan minta maaf, om, nenek sama kakek selalu minta Sisil cium kalian, sekarang om juga harus cium anteu seperti yang Sisil lakukan kalau minta maaf sama kalian." Terang Sisil polos dan panjang lebar.


Gian dan Akira terkejut mendengar ucapan Sisil.


"A -apa..!" Pekik keduanya sampai terbata.


"Sisil sayang tidak usah ya, anteu tidak apa-apa kok… anteu sudah memaafkan om, om juga udah kasih izin untuk anteu pulang menemui kedua orang tua anteu." Akira mencoba membujuk Sisil agar Sisil mengurungkan ke keinginannya.


"Iya Sisil sayang… benar itu yang dikatakan anteu tidak usah ya." Gian membantu Akira untuk membujuk Sisil.


"Oom curang giliran Sisil aja yang salah om maksa Sisil buat cium om!" Sisil mulai ngambek. Dan itu senjata pamungkas yang Sisil lakukan jika keinginannya ingin terwujudkan.


Karena takut Sisil menangis dan ngambek, akhirnya terpaksa Gian dan Akira melakukannya.


Kemudian dengan ragu-ragu keduanya mendekat.


Lalu Gian mulai mengecup kening pipi dan bibir Akira sesuai keinginan Sisil…


Sisil tertawa bahagia, "Horeee….!" seru Sisil.


Lalu Sisil bertanya kembali apa yang terjadi dengan kening Akira, karena Sisil baru menyadarinya.


"Om apa itu karena om, jangan-jangan anteu nangis karena itu ya." 


Akira segera mencari alasan agar Sisil tidak curiga dan nanti malah menginginkan hal yang tidak-tidak lagi.


"Oo ini tidak apa-apa kok, anteu cuma kepentok pintu tadi, tapi sekarang sudah tidak sakit lagi kok." Alasan Akira untuk meyakinkan Sisil.


Dan untungnya Sisil percaya sehingga ia tidak membahas lagi masalah itu.

__ADS_1


****************


Hari ini sesuai perintah Gian, Akira tidak lagi pergi untuk menjalankan tugasnya.


Sesungguhnya hati Akira begitu sedih, tapi demi kedua orang tuanya terpaksa Akira mengikuti semua yang Gian inginkan.


Sebab ia selalu mengancam akan berbuat sesuatu hal yang buruk yang dapat menyakiti kedua orang tuanya.


Tapi Akira tidak menampakan kesedihannya.


Ia sengaja menyibukkan diri mengurus dan memperhatikan Sisil.


Sisil sungguh senang dengan sikap Akira yang begitu baik dan perhatian kepadanya.


Sisil merasakan seperti punya ibu, di kasihi dan di sayangi oleh Akira, karena Akira begitu tulus kepadanya.


Hari ini adalah hari dimana pesta ulang tahun sekolah Sisil di selenggarakan.


Dan sesuai janji Akira akan menemani Sisil ke tempat acara.


Akira kini sudah mempersiapkan dirinya dan juga Sisil.


Akira mengepang dua rambut Sisil dengan kepangan rambut modern ala-ala pesta, sehingga Sisil terlihat sangat rapi dan sangat cantik, dengan gaun pestanya.


"Iih kamu cantik sekali sih…!" Seru Akira kepada Sisil dengan gemesnya.


"Kan anteu yang dandani aku… anteu juga sangat cantik…!" Sisil memuji Akira.


Padahal Akira hanya mengenakan pakaian sederhana, dan makeup natural.


Tapi Akira memang terlihat sangat cantik.


"Aah bisa aja kamu sil…!" Akira menyangkal pujian dari Sisil.


"Anteu percaya deh sama aku anteu memang cantik sekali…!" Sisil kukuh dengan pendapatnya.


"Ooo ya! Terimakasih jika begitu."


Karena mereka berdua sudah siap untuk pergi dan supir pun sudah menunggu untuk mengantarkan mereka ke tempat acara ulang tahun sekolah Sisil, maka Akira mengajak Sisil untuk mereka segera pergi.


Tapi Sisil engga pergi, "Aku tidak mau berangkat kalau om Gian gak ikut." Sisil malah tidak ingin pergi.


"Iya nanti Om Gian akan menyusul kita, karena sekarang dia masih sibuk sayang." Bujuk Akira , tapi Sisil tetap tidak mau pergi kalau Gian tidak ikut bersamanya.


Sudah berbagai cara Akira lakukan untuk membujuk Sisil.


Namun hasilnya nihil, "Ampun ni anak kok watak keras nya mirip banget sama om nya, yang jutek itu ( Gian lah yang Akira maksud)".


Akhirnya Akira menyerah dan tidak lagi merayu Sisil, Akira malah menyuruh salah satu ART untuk menelpon majikan nya (Gian) dan melaporkan sikap Sisil seperti itu.


Agar Gian lah yang menangani Sisil, pikir Akira.

__ADS_1


__ADS_2