
Di sebuah kamar rumah sakit, kelas VIP. Terdapat sepasang sejoli yang masih terlelap,
Setelah perbincangan tempo hari antara Rima dan Erwin, kini hubungan mereka mulai membaik, hari ini adalah hari ke empat Erwin di rawat di sana, dan sesuai jadwal dokter, hari ini Erwin di perbolehkan pulang.
Selam disana Rima merawatnya dengan telaten, menemaninya, menjaganya.
Erwin bisa merasakan ketulusan cinta dan kasih sayang Rima, ia begitu nyaman dengan perlakuan Rima kepadanya yang memperlakukannya, memanjakannya seperti memperlakukan dan memanjakan Sisil.
'Pantas saja Sisil sangat ketergantungan dengannya, memang sangat nyaman berada bersamanya.' Batin Erwin setiap merasakan perlakuan lembut dan penuh kesabaran dari Rima.
Meskipun hubungan mereka sudah membaik, tapi Rima masih merasa canggung berhadapan dengan Erwin, sebab Rima belum percaya diri, ia masih merasa rendah diri dihadapan Erwin, Rima juga bisa merasakan bahwa Erwin belum mencintainya sepenuhnya.
Meskipun Erwin bersikap baik kepadanya, tapi Rima merasa sikap Erwin masih kaku kepadanya, masih ada jarak di antara mereka.
…
Pagi ini Rima terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya, lalu menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Ia melirik suaminya yang tertidur di atas bed rumah sakit, ia nampak masih terlelap dalam tidurnya, dengan nafas yang teratur terlihat dari gerakan tubuhnya yang turun naik beraturan.
Rima juga melirik jam dinding yang terdapat di ruangan itu, sudah waktunya ia bangun.
Ia segera beralih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tapi sebelum itu ia merapikan dulu perlengkapan tidurnya.
Rima tidur di sofa, padahal Erwin pernah memintanya untuk tidur bersamanya, tapi Rima merasa tidak enak hati, tidak leluasa, karena terlalu sempit tidur berdua di bed itu.
Erwin mengerti dengan alasan Rima menolak permintaannya dan mengizinkan Rima untuk tetap tidur di sofa.
Selesai mandi Rima sudah rapi dengan dandanan sederhananya, ia mengenakan rok span panjang tapi terdapat belahan di bagian depan roknya, dengan atasan berbahan berwarna hitam.
Rambut nya ia dijepit asal kebelakang dari kedua sisinya,
Rima melihat Erwin masih terlihat tertidur, maka ia memilih untuk mengemasi semua barang-barangnya untuk dibawa pulang.
...Kurangin lebih seperti ini penampilan Rima pagi ini, terlihat berbeda dari biasanya, karena biasanya ia selalu memakai seragam babysitternya....
Tapi saat Rima sedang fokus mengemasi semua barang-barangnya meliputi dan memasukkannya kedalam tas satu-persatu.
Tanpa Rima sadari ada sepasang mata memandang, memperhatikannya dalam diam.
Setelah Rima selesai mengemasi barang-barangnya, ia melihat sekilas ke arah Erwin, saat itulah ia sadar bahwa Erwin sedang menatapnya.
Rima kembali menoleh ke arah Erwin, dan menajamkan pandangannya.
Saat Rima membalas tatapannya, wajah Erwin seketika berubah ekspresi, yang tadi menatapnya tajam dengan ekspresi datar, tiba-tiba berubah ekspresi, ia terlihat mengembankan sebuah senyuman terlihat itu terlihat jelas dari matanya yang menyipit.
Sungguh terlihat kontras menurut Rima, sehingga Rima berpikir ada sesuatu yang dipikirkan oleh Erwin tentang dirinya.
padahal sesungguhnya Erwin sedang tertegun melihat Rima, yang terlihat begitu cantik dengan penampilan sederhananya.
Karena mereka kurang terbuka tentang perasaan mereka masing-masing, itulah mengapa sering terjadi salah paham di antara keduanya, sebab hanya saling menduga-duga , tidak berani bertanya dan enggan mengungkapkan tentang pemikiran, perasaan masing-masing.
Dengan ragu Rima menghampiri, Tuannya sekaligus suaminya, tidak lupa ia pun ikut tersenyum membalasnya.
"Anda sudah bangun, tuan?" sapa Rima.
__ADS_1
Iya belum bisa move on dari sebutan pormalnya.
"Kamu, belum bisa menganggapku sebagai suamimu?" Erwin malah balik bertanya, mendengar sapan Rima kepadanya.
Rima menggelengkan kepalanya, "Sampai kapan Rima kamu akan memanggilku dengan sebutan itu?" Erwin mencecar Rima dengan pertanyaannya.
"Aku belum siap tuan, karena Sisil juga belum tau tentang status kita, bagaimana jika Sisil menolaknya?" ucap Rima.
Banyak sekali yang Rima pikirkan, yang memenuhi pikirannya tentang kemungkinan yang akan terjadi, dan bagaimana kedepannya hubungannya dengan Erwin, intinya Rima belum yakin dengan hubungannya bersama Erwin akan langgeng dan berjalan sebagai mana mestinya.
"Sisil menyukaimu, dan bahkan mencintaimu, jadi sudah pasti dia akan menerimamu," jawab Erwin meyakinkan Rima .
"Dia menyukaiku dan menyayangiku itu hanya sebagai babysitternya, bukan sebagai ibu tirinya." ucap Rima, sambil memalingkan wajahnya yang terlihat sendu.
Erwin menarik tangannya, agar tidak beranjak meninggalkannya.
"Aku berjanji, aku akan memastikan Sisil menerimamu sebagai ibu sambungnya." Erwin sangat yakin dengan ucapannya.
"Ya semoga saja." sahut Rima, dengan nada bergumam.
Dan ketika itu, Suster yang kemarin beranggapan buruk tentang Rima dan Erwin ternya sudah ada di depan pintu dan mendengarkan semua percakapan keduanya.
Dia semakin yakin dengan kecurigaannya bahwa Rima memang seorang pelakor.
Suster itu masuk membawa handuk tangan dan air hangat dalam panci alumunium untuk mengompres tubuh Erwin, tapi seperti biasa Rima lah yang melakukannya.
"Selamat pagi …!" sapa suster itu, dengan raut wajah ketusnya.
"Pagi …!" sahut Rima dan Erwin secara bersamaan.
Rima langsung menyambut suster dan mengambil nampan berisikan perlengkapan mandi Erwin. Tapi kali ini Erwin menolak untuk di kompres.
"Aku gak mau dikompres, aku maunya mandi-in," ucap Erwin tegas.
Rima melirik kepada Suster yang masih berada di sana, dan di balas tatapan kembali oleh sang suster, dan kembali sang suster membuang muka sambil mencibirkan bibir kebencian.
Saat itu juga terdengar seseorang mengucapkan salam dari luar pintu, "Assalamualaikum …!"
Semua mata tertuju kepada orang yang memberi salam, "Waalaikumsalam …!" Ucap mereka yang ada di dalam menjawab salam termasuk si Suster.
Ternyata yang datang adalah Akira bersama Sisil.
"Sisil …!" seru Rima spontan, karena dia bahagia bisa bertemu lagi dengan Sisil setelah beberapa hari.
Suster itu mempunyai asumsi sendiri setelah melihat Akira dan Sisil yang baru pertama kali iya lihat.
"Ya Tuhanku, kasihan sekali Nyonya ini sedang hamil besar, sedangkan suaminya tega berselingkuh dengan babysitter anaknya sendiri, pantesan dia tidak menemani suaminya yang sedang sakit, ternyata di sedang hamil besar." Suster itu berpikir seperti itu dalam hatinya.
Ia merasa iba melihat Akira, yang tidak tahu jika dirinya telah diselingkuhi oleh suami dan babysitternya.
Akira menyapa semua orang yang di dalam ruangan, sambil berjalan perlahan seakan keberadaan membawa perut buncitnya.
Rima langsung menghampirinya memapahnya, "Mari saya bantu, Nona.." ucap Rima lalu mengulurkan tangannya.
Suster sangat muak melihat tingkah Rima yang menurutnya berkedok malaikat maut berhati iblis.
"Modus (modal dusta)" gumam sang suster sambil mencibirkan bibirnya.
Tapi Rima tidak memperdulikannya meskipun Rima mendengarnya, ia terus memapah Akira mendekat ke arah Erwin yang sedang duduk di ranjangnya.
__ADS_1
"Hay, Mas, sudah membaik ya?" Akira menyapa dengan ramah.
Sisil terus bergelayut manja kepada Rima setelah posisi Akira duduk di kursi dan ngobrol bersama Erwin, Rima membawa Sisil duduk di sofa dan memangkunya.
Sisil bercerita tentang kegiatannya selamat tidak bersama Rima, dan Rima sendiri menyimak cerita Sisil dengan antusias.
Suster itu masih berdiri memperhatikan mereka, dia semakin jijik melihat Rima, "Pintar sekali wanita ular ini bersandiwara, dasar bermuka dua, dan kasihan sekali istri sahnya di tikam dari belakang, dia sedang hamil pula, bagaimana perasaannya jika tahu suaminya berselingkuh dengan wanita berbisa ini." Batin suster yang diketahu bernama Eka itu.
Karena masih satu ruangan, Akira dapat mendengarkan cerita Sisil dan sesekali ikut menyatui percakapan Sisil dan Rima.
Tapi tiba-tiba Akira berkata, "Eh, Mbak Rima, aku lihat mbak Rima makin cantik aja!" Akira memuji Rima.
Mendengar pujian Akira, Erwin yang malah tersenyum bangga, Suster Eka jelas melihat senyuman Erwin, Rima sendiri langsung bersemu merah.
"Idih, menjijikan sekali mereka, di hadapan istri sahnya aja seperti itu, Nyonya peka dong dirimu sedang ditikam dari belakang." Suster Eka terus saja menggerutu dalam hatinya dan terus memperhatikan mereka, matanya seperti kamera pengintai bergerak kesana kemari tapi tanpa menoleh.
Rima benar-benar merasa malu mendengar pujian dari Akira, yang terus saja melontarkan pujian untuk Rima, karena Akira saat itu tidak hanya memuji penampilannya saja, Akira memuji kepribadian Rima yang kalem tapi terlihat elegan, Akira memuji sifat Rima juga yang penyabar, penyayang, tulus dan ikhlas, ia juga pandai mendidik Sisil mengarahkan Sisil menjadi anak yang disiplin, cepat tanggap, pandai berinteraksi, berkomunikasi dengan baik.
(Tidak pendiam, tidak pemarah, atau hal-hal buruk lainnya).
Erwin benar-benar bangga kepada Rima, setelah mendengar pujian-pujian Akira.
"Nona tidak usah berlebihan, saya ya apa adanya saya aja." Rima ingin menepis semua ungkap Akira tentang dirinya, yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Loh, siapa yang berlebihan, saya juga berkata apa adanya. Iya gak Sisil?" Akira menegaskan perkataannya dan bertanya kepada Sisil untuk lebih meyakinkan.
Sisil mengangguk dan berkata "Iya,"
Suster Eka menggelengkan kepala mendengar Akira dan Sisil mengagung-agungkan si pelakor, menurut pemikirannya.
"Eeh, Sisil sayang, bagaimana kalau Mbak Rima ini jadi ibumu?" Akira bertanya untuk memancing jawaban dari Sisil.
Rima dan Erwin tersentak mendengar pertanyaan Akira kepada Sisil, mereka merasa cemas akan jawab Sisil, takut Sisil akan menolaknya.
Rima menatap Erwin, dengan mata yang membulat terlihat sangat tegang, Erwin tau kecemasan Rima, ia mencoba menenangkan Rima dengan memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya beberapa kali, memberi isyarat agar Rima jangan khawatir.
Sama halnya dengan Suster Eka dia begitu tercengang mendengar pertanyaan Akira kepada Sisil, mana ada istri sah berbuat seperti dirinya, pikir Suster Eka.
Sisil terlihat berpikir, kemudian Akira kembali bertanya untuk memastikannya, "Bagaimana Sisil?"
"Aku setuju, Mbak Rima itu kan cantik, dan baik hati pula, pokoknya is the best." Ucap Sisil sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Ya Tuhan, kenapa keluarga kalian begitu gila!" gumam suster Eka, ia berkata sambil membulat kan matanya ia begitu tercengang mendengar jawaban dari Sisil.
Semu mendengar gumaman suster Eka, dan semua mata tertuju padanya.
Dia memang tetap di sana sedari tadi, karena menerima perintah dari dokter yang menangani Erwin, agar dirinya stand by disana sebelum dirinya sampai ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan terakhir kepada Erwin.
Akira mengerutkan keningnya merasa bingung dengan Suster itu, "Kenapa suster?" Akira bertanya kepadanya.
"Saya heran kepada anda," Suster berkata.
"Loh, kenapa saya memangnya, perasaan tidak ada yang aneh!" Akira makin bingung.
"Hati Anda terbuat dari apa, Nona?"
"Ya, seperti manusia pada umumnya," jawab Akira apa adanya.
"Anda berhati malaikat, Nona."
__ADS_1
Akira makin bingung dong, dengan si Suster ini, kenapa bicaranya seperti itu, mengapa menilainya seperti itu? pikiran Akira mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, yang membuatnya bingung kepada suster Eka.