
Hati Gian terlanjur sakit, di penuhi amarah yang meletup-letup, ia sangat membenci penghianatan, dan kini ia merasakan kembali rasa sakit itu.
"Dosa ku terlalu besar, Tuhan! sehingga aku harus kembali merasakan rasa sakit ini, bahkan rasa sakit ini lebih sakit dari pada ketika Shafira yang melakukan nya." Gian membatin.
Ia menatap wajah Shilla yang belum sadarkan diri.
"Kenapa sayang, kenapa semua ini harus terjadi kepadaku, kurang kah kasih sayang yang aku berikan kepadamu? sehingga dengan mudahnya kamu melupakanku dan memadu kasih dengan b a j i n g a n itu." Masih batin Gian.
Amarah dan kesedihan menguasai jiwanya, ia menatap wajah putranya yang sangat menggemaskan yang belum mengerti apa-apa, "Kau putraku penguat cinta ayah dan bundamu, bisakah kamu mengembalikan keutuhan keluarga kita, kebahagiaan kita lagi seperti dulu?" Sekarang Gian merasa ragu dengan pernikahannya apa akan kembali utuh seperti dulu.
Sedang Akira sendiri kini tidak lagi mengingatnya, bahkan ia menolak Gian dan malah mengagung-agungkan musuhnya yaitu Riza.
…
Selepas kepergian dokter, tibalah Anjai di villa di mana kini Shilla berada.
Karena Bi Atun sempat menghubungi Anjai dan memberitahu kondisi Shilla saat ini. Tanpa menunggu waktu lagi Anjai segera bergegas untuk menemui Shilla dan memastikan sendiri keadaannya.
Di ruang tamu, Anjai melihat Gian sedang duduk mematung dengan tatapan kosong seorang diri, Anjai membulatkan matanya ia merasa syok tidak mengira di sana ada Gian.
Bagai disambar petir di siang bolong rasa kaget yang dirasakan oleh Anjai, ia sendiri tidak dapat meneruskan langkahnya karena kakinya terasa berat untuk melangkah.
Ia pun hanya bisa memaku, menatap Gian dari kejauhan dengan ekspresi wajah syoknya.
Namun tibalah bi Atun yang berjalan dari arah dapur ia melihat Anjai sedang mematung, Bi Atun segera menyapanya "Tuan Anjai …!"
Ucapan Bi Atun mampuh mengalihkan perhatian Gian ia segera menoleh kearah Bi Atun, lalu beralih mengikuti kemana arah pandangan bi Atun.
Barulah Indar penglihatan Gian bisa menangkap sosok lelaki yang sangat ia benci, ia nunggunya sedari tadi karena Gian ingin membuat perhitungan dengannya.
Gian bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Riza, dan tanpa aba-aba lagi, Gian membabi buta menghajar Riza melampiaska semua amarahnya, sehingga wajah Riza babak belur di buatnya, meskipun Riza sudah berusaha melawan tapi kekuatan Gian yang dipenuhi amarah tidak dapat Riza patahkan.
Bi Atun berteriak berusaha menghentikan perkelahian dua lelaki dewasa di hadapannya tapi ia tidak mampu menghentikan nya, kemudian Bi Atun berteriak meminta tolong karena hanya itu yang dapat Bi Atun lakukan.
Papa Arga dan Mama Nirmala yang sedang berada di kamar menemani Akira dan mengajak main cucu mereka segera berhamburan keluar kamar karena mendengar teriakan Bi Atun.
Dan mereka pun melihat putra mereka sedang mengumbar amarahnya menghajar habis-habisan orang yang menjadi dalang di balik kemelut rumah tangganya.
"Gian, hentikan Nak …!" Teriak mama Nirmala, tapi Gian tidak menggubrisnya.
Ia tetap menghajar Riza dengan amarah yang menggebu-gebu. Papa Arga yang sedang menggendong cucunya segera menyerahkan cucunya kepada Mama Nirmala.
Papa Arga berusaha merelai Gian namu Gian seperti sedang dirasuki setan, tenaganya tidak terelakkan papa Arga kewalahan tidak mampu merelai putranya.
Dan pada akhirnya bi Atun berlari ke keluar villa dan memanggil para pekerja dan anak buahnya Anjani yang ikut bersamanya saat itu.
Mendengar Bi Atun berteriak minta tolong semua orang yang mendengarnya segera berhamburan menghampirinya.
"Ada apa, Bi?" tanya mereka panik.
__ADS_1
Bi Atun segera berlari ke dalam villa di ikut semu pekerja, dan baru lah mereka mengerti dengan maksud Bi Atun yang tidak sempat menjelaskan permasalahannya.
Para pekerja serta anak buah Anjai segera berlari ke arah Anjai dan Gian.
Posisi Anjai sudah tergeletak di lantai ia sudah terkulai lemas tidak berdaya karena mendapat hantaman bertubi-tubi dari Gian.
Meskipun begitu Gian masih saja menghajarnya. Dan orang segera membantu Papa Arga ikut merelai Gian memeganginya dan menjauhkannya dari Anjai yang sudah tidak berdaya.
Namun Shilla yang baru saja siyuman dari pingsannya ia segera bangkit dari tempat tidur karena mendengar kegaduhan, dan alangkah terkejutnya ia melihat suaminya tergeletak di lantainya dengan wajah babak belur.
Dengan langkah yang terseok-seok Shilla berusaha menghampiri Anjai. Lalu menubruk tubuh Anjai dan menangis tersedu di atas dada Anjai. Shilla tidak tega melihat kondisi suaminya.
"Sayang, bangunlah …! hiks, hiks, hiks," ucap Shilla sambil menangis tersedu.
Bi Atun menghampiri Shilla dan membangunkannya, "Nona, jangan seperti ini, Tuan Anjai harus segera diobati dia harus segera dilarikan kerumah sakit." Bi Atun memberi tau Shilla dan membawa Shilla kembali ke kamar yang tadi ia tempati.
Para anak buah Anjai segera mengangkat Anjai dan melarikannya ke rumah sakit.
…
Menyaksikan Akira yang begitu mengkhawatirkan Riza, sampai memeluk tubuh riza dan menangisi riza di depan matanya, perasaan Gian begitu hancur.
Ia benar-benar sadar dirinya sudah tidak ada lagi dalam ingatan wanita yang sangat ia cintai dan sangat ia dambakan itu.
Hatinya terasa sakit, rasa sesak menghimpit jantungnya, ia sampai merasa kesulitan untuk bernafas, Gian menjatuhkan tubuhnya di sofa tubuhnya lemas kehabisan tenaga setelah mengumbar amarah membabi buta di tambah pemandangan yang tidak mengenakkan matanya membuat Gian terlihat sangat hancur dan rapuh.
Khayalan indah yang selama ini ia nanti, bertemu dengannya, kembali memadu kasih tapi itu semua hanyalah sebuah angan-angan semata.
Pada kenyataannya begitu pahit terasanya melebihi pahitnya empedu, Mama Nirmala ikut merasakan apa yang putranya rasakan, kedua orang tuanya ikut meneteskan air matanya melihat putra bungsu mereka kini terlihat begitu rapuh.
Padahal Gian baru saja memiliki semangat untuk bangkit dari keterpurukannya, tapi kini ia harus kembali jatuh bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Mama Nirmala memeluk putranya dan ikut larut dalam kesederhanaannya.
"Sabar, Sayang! Tuhan masih ingin menguji mu, seberapa tangguhnya dirimu Nak!" Mama Nirmala berusaha untuk menguatkan putranya.
"Tapi aku manusia biasa mah, aku bisa merasakan rasa sakit juga, dan aku rasa aku tidak kuat lagi untuk menahan perasaan ini, apa aku harus menyerah, mah!"
"Lihat aku, mah! Aku telah kalah, lebih baik aku tiada atau mereka yang tiada, daripada aku harus merasakan rasa sakit sesakit ini, lebih baik aku hidup dalam rasa penasaranku seumur hidupku daripada harus seperti ini mah." Gian terus saja mengeluhkan rasa sakit hatinya.
"Tuhan memberimu kesempatan untuk memberi Ganjaran kepada orang yang telah mendzalimi mu, Nak!" Mama Nirmala juga terus saja menguatkan putranya.
Ia memberikan segelas air minum untuknya agar perasaannya lebih tenang.
Lalu menyuruhnya untuk beristirahat di kamarnya, sekarang Akira memang bukan lagi istri Gian meskipun status mereka dalam hukum masih berstatus suami istri karena belum pernah ada perceraian dalam rumah tangga mereka.
Tapi kini haram bagi Gian untuk bersentuhan dengannya, karena kini Akira bukan lagi Akira sebagai istri Gian.
Kini Akira telah menjadi Shilla, dan telah menjadi istri Riza. Jadi tidak ada hak lagi bagi Gian atas Akira, meskipun mereka bertemu tanpa Akira menikah dengan siapapun, jika sudah sekian lama tidak bertemu apa lagi Akira dalam keadaan lupa ingatan mereka harus menikah kembali.
__ADS_1
Apalagi saat ini, Akira beridentitas sebagai Shilla dan berstatus sebagai istri Anjai (Riza), ia juga tidak mengingat dan tidak menginginkan Gian, jadi Akira yang sekarang bukan lagi siapa-siapa bagai Gian.
Hanya Anjas yang menjadi alasan Gian untuk mempertahankan haknya sebagai ayah dari anak itu.
Papa Arga tetap melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib, atas semua kejahatan yang Riza lakukan.
Papa Arga sudah mempunyai bukti-bukti tentang kejahatan yang Riza perbuat, papa Arga mendapatkan semua bukti melalui tangan anak buah Gian, tentang kelahiran putra Akira, tentang kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri yang sempat diduga Akira dan Riza lah korban nya, ternyata itu tidak luput dari permainan Riza untuk menutupi jejaknya yang telah melarikan Akira pada saat itu.
…
Setelah beberapa hari Akira dan putranya serta Bi Atun masih tinggal bersama keluarga Mahendra, itu semua atas permintaan keluarga Mahendra.
Rencana keluarga Mahendra datang ke lokasi itu untuk meninjau lokasi proyek mereka, kini Gagal total, karena permasalahan yang sedang mereka hadapi saat ini, papa Arga sibuk mengumpulkan semua bukti untuk menjebloskan Riza kedalam jeruji besi.
Mama Nirmala sibuk mendekatkan diri kepada cucu dan menantunya.
Sedang Gian sendiri, tetap berdiam diri mengurung dirinya di dalam kamarnya. Ia belum siap menerima kenyataan tentang apa yang terjadi kepada Akira yang melupakannya dan malah menikah dengan orang yang menyebabkan penderitanya sendiri.
Namum hari ini Akira memohon dan meminta kepada keluarga Mahendra untuk mengizinkannya menemui suaminya, karena Shilla tetep menganggap bahwa Anjai adalah suaminya.
Shilla belum bisa menerima jika dirinya adalah Akira dan sebelumnya ia adalah istri Giantha Mahendra.
Mama Nirmala mengabulkan permintaan Shilla, untuk menemui Anjai yang kini berada dalam hotel kesakitan.
Di sana Shilla melihat kondisi Anjai begitu mengenaskan, ia terduduk di lantai dengan lutut yang di tekuk dan dua tangannya memeluk lututnya kepalanya ia tundukkan dan wajahnya ia benamkan di atas lututnya.
Shilla menangis meratapi kondisi sang suami ia sungguh tidak tega melihatnya, karena menurutnya Anjai orang baik penuh cinta dan kasih sayang serta penuh perhatian kepadanya.
Mata hati Shilla sudah di buatkan ucapan Anjai, ia sudah berhasil mencuci otak Shilla, sehingga shilla sudah termakan omongan Anjai meskipun keluarga Mahendra telah membeberkan semua bukti tentang kejahatan Anjai tapi Shilla tetap bersikukuh Anjai adalah orang baik.
"Sayang ...!" seru Shilla menyapa Anjai.
mendengar suara wanita yang ia kenal, wanita yang sangat ia cintai, Anjai segera mengangkat wajahnya melihat ke arah sumber suara.
Dan ketika itu Shilla berteriak histeris melihat wajah suaminya yang masih babak belur, masih menyisakan banyak luka bengkak, dan lebam.
"Ya Tuhanku, kondisimu makin parah, Sayang!" Seru Shilla sambil menangis.
"Aku tidak apa-apa kok! asal kamu tetap sehat aku akan semakin kuat, maka dari itu jaga dirimu dan putra kita, percayalah aku sangat mencintaimu!" Anjai berkata seperti itu dengan maksud menguatkan shilla.
Ya memang, Riza sangat mencintai Akira, karena rasa cintanya, mampu membuat dirinya gila dan sampai mengambil tindakan sejauh ini, hanya karena ingin bisa hidup bersama Akira.
Riza menghalalkan segala cara, demi untuk hidup bahagia bersama Akira, dia pun rela menerima putra Gian dan menganggapnya seperti putranya sendiri.
...
Shilla juga mengadu kepada Riza bahwa keluarga Mahendra akan membawanya pulang dan mengembalikannya kepada kedua orang tuanya.
"Iya, pulanglah, tapi perlu kamu ketahui bahwa sesungguhnya kedua orang tuamu yang punya Andil penting dalam memisahkan hubungan kita dulu, tapi tetaplah tenang sayang, nanti setelah keluar dari p e n j a r a, aku akan menjemputmu dan putra kita," Riza tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia tetap memanfaatkan kondisi Shilla yang masih lupa ingatan, dengan terus saja menghasut pemikiran Shilla tentang orang tua Akira. Sehingga Akira tetap berada di pihaknya,
__ADS_1