
Shilla menangkap momen saat Gian masih bersikap kasar kepadanya, saat Gian mengumbar kebenciannya dan sakit hatinya kepada Akira saat awal-awal mereka menikah.
Meskipun bayangan itu samar-samar. Namun, Akira tau betul sosok lelaki dalam bayangannya itu adalah Gian.
Saat itu Shilla tetap berdiri dengan menundukkan kepalanya dengan mata terpejam, keringat bercucuran di sekujur tubuh, nafasnya tersengal-sengal seperti ia kesulitan untuk bernafas.
Semua bayangan itu menjadi penguat setiap ucapan Anjai yang mengatakan betapa jahatnya Gian, dan itu semua membuat Shilla harus tetap waspada dan menjaga jarak dengannya terhadap Gian.
Sementara Gian dan kedua orang tuanya sudah berlalu hampir memasuki rumah, sementara itu juga Shilla masih dalam posisinya.
Pak sopir yang sedang menurunkan barang-barang bawaan majikannya dari mobil merasa bingung melihat Shilla yang seperti itu, lalu menegurnya, "Nona Akira, anda tidak apa-apa?"
Gian dan keluarganya menoleh mendengar ucapan sopir yang menegur Akira, ternyata mereka melupakannya bahwa Shilla bukanlah Akira yang dulu, kini ia merasa asing dengan lingkungannya lagi.
Dan saat sopir kembali menegurnya tubuh Shilla melemas ia menyandarkan tubuhnya di mobil lalu tubuh itu merosot turun kemudian ia terduduk di bawah tanpa alasan.
Gian dan kedua orang tuanya segera berlari ketika melihat kondisi Shilla seperti itu, Gian menyerahkan putranya kepada Mama Nirmala karena ia berniat untuk menolong Shilla dan ingin membopongnya masuk ke dalam rumah.
Namun Shilla menghalau pergerakan Gian yang hendak membopongnya, dengan mengangkat tangannya seperti gerakan menyetop.
Shilla tidak kehilangan kesadarannya, hanya tenaganya terkuras saat berusaha mengingat jelas bayangan yang ia tangkap, di tambah ia begitu syok saat mengingat perkataan dan tindakan Gian yang begitu kasar kepadanya.
"Akira, kamu baik-baik saja kan? Biar Gian membantu mu untuk masuk ke dalam," mama Nirmala mengkhawatirkan kondisi Shilla.
Tapi Shilla menangis lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak usah," gumamnya.
"Aku sudah mengingat, bahwa aku ini memang Akira, seperti panggilan kalian kepada ku, tapi dia (Tunjuk Akira kepada Gian) dia selalu menyiksa Akira dari tindakan dan ucapannya dia sangat kasar kepada Akira." Shilla mengutarakan bayangan yang baru saja ia tangkap.
Semua tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Shilla mereka hanya saling memandang, mereka merasa bingung mengapa malah momen seperti itu yang Shilla ingat, mengapa tidak momen saat-saat bahagia mereka yang Shilla ingat.
"Akira, bayangan yang kamu ingat itu mungkin belum lengkap, Gian tidak seperti itu dia sangat mencintai dan menyayangimu, Nak!" Mama Nirmala berusaha untuk menjelaskan.
Namun, Shilla mengelak ia tidak mau mendengar apapun penjelasan dari mama nirmala.
"Cukup, dia putra anda, sudah pasti anda membelanya bahkan mungkin anda bersekongkol dengannya untuk memperdaya saya, memisahkan saya dari suami saya ( Anjai)," tuduh Shilla.
"Apa?" Mamah Nirmala sedikit memekik padahal ia selalu menyayangi Akira sudah seperti anaknya sendiri tapi kini Shilla menuduhnya seperti itu, menuduhnya seperti ia seorang penjahat.
"Mah!" Gian menegur Mamanya yang terlihat emosi tersinggung dengan apa yang Shilla ucapkan.
Mama nirmala, melihat ke arah Gian, lalu Gian memberi isyarat kepadanya dengan menggelengkan kepalanya agar mama Nirmala jangan terpancing emosi.
Mama Nirmala mengerti lalu menganggukan kepalanya, "Iya, Nak!"
Gian kembali mengambil putranya dan membawanya masuk langsung ke kamarnya, meninggalkan Shilla bersama kedua orang tuanya, sebab Shilla sudah menolak bantuan darinya.
Kini tugas Mama Nirmala untuk membujuk Shilla, "Akira, terserah mau seperti apa pandanganmu atau penilaianmu terhadap kami, tugas kami membawamu kembali dan mengobatimu, agar bisa sembuh seperti sedia kala, untuk sementara ini kamu menginap dulu di rumah ini, besok atau lusa kami akan mengantarkan mu pulang kerumah orang tuamu, masa iya kamu mau duduk di sini terus, sampai kapan?" bujuk Mama Nirmala.
"Aku ingin kembali, kepada suamiku, aku tidak ingin di sini, kalian semua jahat, termasuk orang tuaku sendiri katanya, kalian memang telah bersekongkol untuk memisahkan aku dengan suamiku kalian semua jahat …." Teriak Shilla sambil menangis karena ia sudah termakan hasutan Anjai.
__ADS_1
Ia merasa sangat tertekan saat ini, kepadanya kembali berdenyut, ia kembali merasakan rasa sakit di kepalanya, ia sampai merintih kesakitan dan pada akhirnya ia kembali kehilangan kesadarannya seperti yang dikatakan oleh dokter Shilla akan terus seperti itu jika merasa tertekan.
Tapi menurut mama Nirmala, Akira lebih baik pingsan saat ini daripada ia terus meraung-raung seperti anak kecil minta pulang.
Dan terpaksa papa Arga yang membopong tubuh Akira untuk masuk ke dalam rumah.
Papa Arga membawanya ke dalam kamar yang dulu di tempati oleh Rima tidak mungkin Shilla satu kamar dengan Gian. karena sekarang kondisi mereka sudah beda cerita.
Rima begitu terkejut melihat Akira kembali, "Mah, pah, ini beneran Akira?" Tanya Rima untuk meyakinkan dirinya.
Mama Nirmala mengangguk, membenarkan keraguan Rima.
"Lalu dia kenapa, Mah?" Rima ingin tau lebih detail.
"Panjang ceritanya Rima, biarkan saja dulu dia beristirahat, mama istirahat dulu ya!" Mama Nirmala butuh waktu untuk bercerita.
Ia memilih untuk beristirahat di kamarnya menyusul suaminya, dan membiarkan Akira.
Rima menatap wajah Akira ia belum begitu yakin dengan apa yang ia saksikan, orang yang di sangka sudah meninggal satu tahun lalu kini ia kembali, sebenarnya Rima penasan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi Rima tidak bisa memaksa mama mertuanya untuk bercerita. Tapi sebenarnya mama Nirmala di kamarnya menghubungi keluarga Akira, dan memberi tahu mereka jika Akira sekarang sudah kembali dan kini sudah berada rumahnya.
Kedua orang tua Akira, merasa tidak percaya mendengar berita itu. Tapi besannya meminta mereka untuk datang menemui putri bungsu mereka.
"Begini saja pak Ayus, jika kalian berkenan datanglah ke rumah kami, dan memang ada yang ingin kamu sampaikan terkait kondisi Akira saat ini." Papa Arga meminta orang Akira untuk datang ke rumah mereka.
…
Sedangkan Rima masih setia menemani Akira yang belum sadarkan diri, Sisil datang menghampirinya di kamar di mana Akira berada saat ini.
Sisil baru saja masuk ke kamar itu dan ia baru saja melihat Akira yang sedang tertidur di sana, Sisil merasa heran ketika melihat Akira.
"Bunda!" Seru Sisil mengejutkan Rima yang sedang fokus dengan pemikirannya.
"Iya," sahut Rima singkat, lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Sisil, ngagetin bunda aja!" Lanjut Rima.
"Bunda sedang apa disini?" tanya Sisil tapi raut wajahnya terlihat syok, matanya tetap tertuju ke arah Akira.
"Bunda sedang menemani anteu baik!" Rima kembali menjawab.
"Ini sungguh Anteu baik, Bun?" Sisil merasa kurang yakin.
"Iya." Rima menjawab meyakinkan Putri sambungnya.
"Tapi, bukannya anteu baik itu sudah meninggal, Bun?" Sisil kembali bertanya karena penasaran.
"Nah, itu bunda juga tidak mengerti, hanya nenek dan kakek Sisil yang bisa menjawabnya, tapi mereka sedang beristirahat dulu." Rima menerangkan.
__ADS_1
Sisil juga bertanya kenapa bundanya berada di sana menemani orang yang sedang tidur.
Tapi Rima kembali menjelaskan bahwa Akira bukan sedang tidur ia sedang pingsan, takut terjadi sesuatu kepadanya jadi Rima menemaninya di sana. Dan barulah Sisil mengerti.
Setelah beberapa saat Sisil berada di kamar itu bersama bundanya ikut menemani Akira.
Dan akhirnya Akira tersadar dari pingsannya ia memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut.
Perlahan ia membuka matanya pandangannya masih buram, lalu indra penglihatan menangkap sosok dua perempuan di hadapannya tidak lain dan tidak bukan dua perempuan itu adalah Rima dan Sisil.
"Anteu, anteu sudah sadar?" sapa Sisil ketika melihat Akira menatap dirinya dengan ekspresi wajah bingung.
Tapi bukannya menjawab Akira malah mengedarkan pandangannya, menyapu pandang ke setiap sudut ruangan kamar itu, semua nampak asing baginya.
"Di mana aku, siapa kalian?" Akira malah melontarkan pertanyaan yang membuat Rima dan Sisil makin bingung.
"Akira, kamu tidak mengenalku?" tanya Rima berniat memastikan.
Akira menggelengkan kepalanya, tapi Akira tidak mau pusing dengan hal itu, ia memang tidak mengenal siapa pun di sana, jadi siapapun mereka tidak penting bagi Shilla saat ini, yang jelas saat ini ia merasakan sakit kepala yang teramat sakit.
Shilla tidak bertanya apapun lagi, ia juga tidak ingin mendengar penjelasan tentang siapa mereka, malah meminta tolong kepada Rima untuk mencarikan obatnya di tasnya.
"Bisa tolong aku?"
Rima segera mengangguk sebab Rima merasa kasihan melihat Akira yang sepertinya sedang kesakitan, sebab ia terus saja merintih dan memegangi kepalanya.
"Tolong carikan obat ku di tasku?" Shilla terpaksa minta bantuan Rima yang sedang hamil karena ia sendiri merasa kesulitan mencari obat di antara barang-barangnya, sedangkan ia sendiri tidak tahu pasti dimana bi Atun menyimpannya.
Setelah membongkar tas yang berisikan barang-barang Shilla Rima dapat menemukan plastik kecil berwarna putih dan berisikan obat-obatan.
"Apakah ini obatnya." Rima menunjukkannya kepada Shilla yang masih merintih kesakitan, untuk memastikan jika benar itu obatnya, untuk ia menghentikan pencariannya.
Shilla mengangguk dengan cepat, "Iya itu obatnya."
Rima segera membawanya dan membantu Shilla untuk segera meminumnya, tapi saat Shilla sudah akan meminum obatnya ternyata tidak ada air minum di sana.
Shilla melihat ke arah Sisil yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, "Sisil boleh anteu minta tolong, tolong ambilkan anteu air minum." Shilla terpaksa meminta tolong kepada anak kecil tersebut.
Sebab ia tidak tega meminta tolong kepada Rima yang sedang hamil harus melayaninya.
Sisil segera mengangguk, dan berlari keluar kamar menuju dapur, tapi Rima sempat berbicara kepada Sisil agar bi meminta Bi Sumi saja yang membawakan air minumnya.
Karena Sisil masih kecil Rima takut Sisil melakukan kesalahan dan malah akan terjadi sesuatu kepadanya, seperti gelas terjatuh pecahan belingnya bisa mengenai kakinya.
Dan ya, sesuai permintaan Rima, Bi Sumi yang datang membawakan seteko kaca beserta gelasnya, sedangkan Sisil berjalan di belakang Bi Sumi.
"Terima kasih, Sisi." Ucap Shilla, lalu ia segera meneguk obatnya dan didorong langsung dengan air minum.
Sebenarnya Rima merasa bingung dengan sikap Shilla, bukannya tadi ia bertanya siapa mereka? Tapi ternyata ia sudah tau nama Sisil, Rima sempat mendengar Shilla menyebut nama Sisil beberapa kali, tapi Rima belum bisa bertanya sebab keadaan masih belum tenang.
__ADS_1