
"Aanteu… jangan pergi, aku ikut anteu…!" Teriak Sisil sambil menangis.
Akira langsung berbalik ke arah Sisil lalu menggendongnya.
"Ayo…!" ajak Akira, lalu membawa Sisil keluar dari mobil Gian.
Tapi Gian melarang Akira untuk tidak membawa Sisil bersamanya.
"Hey,,, jangan bawa Sisil bersamamu… biarkan dia tetap bersamaku." ucap Gian meneriaki Akira.
Karena Akira tidak mau pusing meladeni Gian, ia berniat mengembalikan Sisil kedalam mobil Gian.
Tapi Sisil malah histeris tidak ingin kembali.
"Aku gak mau anteu, aku pengen ikut anteu aja…!" Teriak Sisil.
Tapi saat itu, Gian sudah turun dari mobilnya, dan menarik Sisil dari gendongan Akira.
Namun Sisil berpegangan erat di tubuh Akira sehingga terjadi adegan seperti tarik menarik, padahal Akira tidak menarik Sisil sama sekali, bahkan tubuh nya ikut terhuyung-huyung, kesana kemari.
Akira berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Beberapa warga melihat adegan tersebut, dan menghampiri mereka, lalu bertanya karena adegan itu mengundang keributan, dengan tangisan Sisil, bentakan Gian dan paksaan Gian.
Warga berusaha melerai keributan yang terjadi, mencoba memisahkan agar tidak terjadi tarik-menarik, sebab si anak yang jadi korban atas tindakan mereka (Sisil dan Gian )
Karena para warga berpikir Gian dan Akira sepasang suami istri yang sedang memperebutkan hak asuh anak.
Sehingga terjadi tarik-menarik memperebutkan sang anak.
"Cukup,,, hentikan,,, kasihan si kecil yang jadi korban ego kalian berdua!" seru salah satu warga yang melerai mereka.
Sehingga berhasil menghentikan tindakan Gian, dan membuat Gian agak menjauh dari Akira yang menggendong Sisil.
"Kalian sudah dewasa, coba berpikir dan bersikap lah sesuai umur kalian, kasihan anak kalian yang jadi korban keegoisan kalian." Warga menasehati Gian dan Akira.
"Anak…?" Ucap Gian dan Akira secara bersamaan.
Di situ lah Gian dan Akira mengerti bahwa para warga telah salah paham kepada nya.
Sehingga Gian menyeringai, karena dia punya ide buruk untuk memberi pelajaran kepada Akira.
__ADS_1
"Anak ini keponakan saya, dia mau mengambilnya dari saya." ucap Gian Sambil menunjuk kepada Akira.
"Hah jadi, perempuan ini siapa…?" tanya warga tidak mengerti.
"Dia bukan siapa-siapa, tapi dia mempengaruhi keponakan saya agar menjauh dari saya, dan membenci saya…! Dia mau menguasai keponakan saya?" Terang Gian sengaja memojokkan Akira.
Tapi Akira tidak tinggal diam, dia segera menyangkal ucap Gian.
"Dia bohong dia, om yang jahat dia menindas keponakan nya sendiri, maka dari itu saya mau menolong gadis kecil ini." sangkal Akira
"Gadis kecil ini sendiri yang meminta tolong kepada saya dan mau ikut dengan saya, tapi om nya yang tentramental ini mencoba menghalangi saya." lanjut Akira membalas Gian, dengan kembali memojokkan Gian.
"Jika kalian tidak percaya ini kartu identitas saya." Akira sengaja menunjukkan kepada warga jika di adalah seorang polwan, karena ia masih memiliki kartu identitasnya sebagai polwan.
Agar warga percaya bahwa Akira bukan orang jahat yang dituduhkan Gian kepada nya.
Sehingga semua warga menatap Gian dengan tatapan mengintimidasi, dan langsung beranggapan Gian lah memang orang yang jahat dalam kejadian itu.
Gian langsung gelagapan mendapat respon seperti itu dari warga.
"Tu- tunggu, tunggu… ini tidak seperti yang kalian duga." Gian mencoba membela dirinya.
"Wanita ini, istri saya dan anak ini keponakan saya, saya hanya ingin mengajak mereka pulang tapi mereka menentang saya, saya juga tidak melukai mereka, jadi kalian jangan salah paham!"
Akira sedikit ragu untuk mengiyakan pertanyaan warga, karena selama ini Gian tidak pernah menganggap ada nya pernikahan di antara mereka.
Begitu juga dengan perasaan Akira tidak pernah menganggap Gian sebagai suaminya, malah lebih seperti musuh.
"Nona,,, apa orang ini benar suami anda?" warga kembali mengulang pertanyaan karena Akira tidak menjawab.
Gian langsung, membuka pola di hp nya dan memperlihatkan foto pernikahan mereka yang sengaja ia simpan untuk bukti jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti saat ini.
Semua warga percaya setelah melihat foto tersebut.
"Oo jadi ini masalah keluarga,,, tapi meskipun begitu, seharusnya kalian selesaikan secara baik-baik jangan bersikap memancing keributan." Ucap salah satu warga menyalahkan sikap mereka berdua (Gian dan Akira).
"Apalagi anda, sebagai polwan harusnya bisa bersikap lebih bijak, bukan malah membuat keadaan semakin ricuh." Lanjutnya seakan menyalahkan Akira.
Mendengar itu Gian tersenyum kecut, ia merasa siasat nya berhasil membuat Akira yang harus harus di salahkan.
"Maaf…!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Akira, padahal hatinya sungguh panas melihat tampang Gian, yang makin hari makin menyebalkan bagi Akira.
__ADS_1
"Ya sudah selesaikan masalah kalian berdua secara damai." ucap warga lalu meninggalkan mereka.
"H'm… kamu puas?" tanya Akira kepada Gian penuh penekanan, sebab terlihat ekspresi wajah kepuasan dari wajah Gian.
"Ha..ha..ha…! Makanya jangan coba bermain - main dengan ku." ucap Gian sambil mengambil Sisil dari gendongan Akira.
Akira hanya bisa pasrah melepaskan Sisil, dan memang dari awal Akira tidak memaksa Sisil untuk ikut dengan nya, Sisil sendiri yang malah bersikeras ingin ikut dengan Akira.
"Anteu…!" seru Sisil karena tetap ingin bersama Akira.
Sedangkan Akira hanya berdiri mematung, menyaksikan Gian melangkah menjauh dari nya sambil membawa Sisil.
Akira sungguh tidak tega melihat Sisil yang di paksa pergi.
…
Di sepanjang perjalanan, Sisil terus saja menangis dan menyebutkan kata "Anteu"
Tapi hati Gian benar-benar merasa ia tidak menggubrisnya sama sekali.
Sehingga akhirnya Sisil merasa lelah dan terlelap.
Saat tidak lagi terdengar Isak tangis dan rintihan Sisil, Gian menoleh ke arah Sisil untuk memastikan keadaan Sisil, terlihat Sisil sedangkan terlelap.
Gian menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
"Aku tidak akan kalah dari mu (Akira), urusan Sisil mudah untuk aku tangani, jangan berani-berani nya kamu jadikan Sisil sebagai senjatamu."
"Sisil ingin bersama mu, tapi itu hanya sekejap, buktinya ia bisa tidur nyenyak dan melupakan mu dengan waktu singkat." Lanjut Gian bicara sendiri, merasa menang atas Akira.
Sedangkan Akira, setelah ditinggalkan oleh Gian, ia tidak pulang.
Akira lebih memilih untuk menemui temannya yang bekerja sebagai manajer sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari tempat nya saat itu.
Di cafe Alabik cafe, Alika duduk dan memesan minuman serta makanan ringan.
Ia juga menghubungi teman nya yang sedang bekerja di sana, Akira meminta teman nya untuk menemuinya, sebab Akira ingin menceritakan apa yang terjadi pada nya.
Lisa teman Akira dari kecil tapi mereka beda profesi.
Lisa anak pertama dari 3 saudara, ibu nya meninggal sejak ia masih kecil, karena ia anak sulung, ia yang bertanggung jawab mengurus adik -adiknya, sehingga keadaan menuntut Lisa untuk lebih dewasa.
__ADS_1
Karena itu, Lisa pun menjadi teman curhat Akira, karena Lisa selalu bisa memberikan nasihat-nasihat kepada Akira yang membuat akira nyaman menceritakan semu masalahnya, daripada kepada keluarganya.