
Mila melangkah dengan hati gembira, penuh kemenangan, karena apa yang ia inginkan telah ia dapatkan.
Ia merasa menang telah mengalahkan egonya Gian, yang selama ini sering merendahkannya.
Selama dalam perjalanan pulang menuju apartemennya, senyuman tidak pernah luntur menghiasi bibirnya, dan itu menggambarkan suasana hatinya yang sedang berbunga dan bangga kepada dirinya sendiri.
Sesampainya di kamar apartemennya, Mila melempar tasnya ke sembarang arah. Kemudian ia menjatuhkan bokongnya di sofa, ia meletakan kedua tangannya masing-masing di sanggahan sofa tersebut, lalu ia mengangkat kedua kakinya dan menumpangkan kakinya diatas meja.
"Semua berjalan sempurna, sesuai keinginanku, h'm … jangan pernah meremehkan aku maka tanggung sendiri akibatnya." Mila bicara lalu menyunggingkan senyum.
"Maaf kan aku , Tuan Gian, telah menjadikanmu kambing hitam dalam masalahku, aku sungguh terpaksa melakukannya, salahmu sendiri selalu menyakitiku," lanjut Mila.
"Padahal malam itu aku mengambil foto dan video, hanya untuk sekedar bermain-main denganmu, tapi ada untungnya juga bisa ku jadikan senjata untuk menyerangmu," Mila masih bicara sendiri.
"Ya tuhanku Terima kasih, engkau telah menolongku menyelamatkanku dari kesulitanku, akhirnya akan ada orang yang bertanggung jawab atas anakku, jadi aku tidak akan merasa malu kepada ayah dan istrinya," Mila merasa lega.
Lalu Mila bersiap untuk acara nanti malam, karena rencananya mereka (Mila dan Gian) akan melakukan pernikahan nanti malam, di rumah salah satu ustadz kenalan Papa Arga dan beliau lah yang akan menikahkan mereka.
Tidak lupa Mila menghubungi ayahnya memintanya hadir untuk jadi walinya, biar bagaimana pun, ia masih punya ayah dan beliau wajib menjadi wali dalam pernikahan Mila.
…
Malam telah tiba, Mama Nirmala dan Papa Arga beserta Mila dan juga ayah Mila serta istrinya sudah hadir di rumah pak ustadz.
Tinggal Gian yang masih sibuk dengan pekerjaannya ia belum bisa hadir di sana.
Beberapa kali mama Nirmala dan Papa Arga menghubunginya dan memintanya untuk segera hadir untuk melangsungkan ijab qobul nya.
"Brengsek, dasar perempuan ******, dasar sial, kenapa juga aku bisa terperangkap dalam permainannya, aku yakin aku tidak melakukan apapun kepadanya, dan anak itu bukan anakku." Gian bicara sendiri dan terus mengumpat, ia juga menyesali apa yang telah terjadi.
Ia sangat kesal, karena merasa terperangkap dalam permainan Mila, kedua orang tuanya juga tidak henti-hentinya menghubunginya untuk segera hadir di tempat acara.
Erwin sendiri tidak hadir di acara itu, karena Gian juga melarangnya untuk hadir, hubungan Gian dan Erwin semenjak hari itu kurang harmonis.
Dengan terpaksa Gian menyudahi pekerjaannya dan dengan terpaksa juga Gian menuju rumah pak ustadz sesuai arahan dari mamanya.
Di sana Gian sudah di tunggu, dan Mama Nirmala segera menggiringnya masuk.
Tanpa basa-basi lagi Gian segera duduk di hadapan pak ustadz untuk segera melaksanakan ijab qobul.
Tapi saat ijab qobul akan dilakukan, ayah Mila mengajukan rasa keberatan atas pernikahan tersebut, ia menuntut anaknya dinikahi secara legal. Bukan secara siri seperti itu.
Sehingga acara ijab qobul tertunda karena perdebatan yang dibuat oleh ayah Mila.
Ia sangat menyayangkan, keluar calon menantunya orang kaya, punya masa depan yang bagus, tapi mengapa menikahi putrinya hanya secara siri, ia ingin putrinya diakui sebagai istri dari orang kaya tersebut.
Papa Arga menjelaskan duduk perkaranya, kalau pernikahan itu dilakukan hanya untuk sebuah status untuk bayi yang Mila kandung tidak lebih dari itu,
"Loh, justru sudah ada anak dalam perut Mila, maka dia harus bertanggung jawab secara hukum dan agama, mana bisa seperti ini." Ayah Mila tetap ngotot ingin pernikahan dilangsungkan secara resmi.
Tapi Gian tetap menolak, untuk melakukan hal yang diinginkan oleh ayah Mila.
"Sekarang begini mau nikah di bawah tangan atau tidak ada pernikahan sama sekali," tehgas Gian ia merasa sudah jengah dengan permainan yang Mila buat.
Mendengar ucapan Gian seakan mengancam, Mila merasa ketar ketir dibuatnya, ia segera minta izin untuk bicara berdua empat mata dengan ayahnya.
__ADS_1
Semua mempersilahkan. Mereka berdua (ayah dan anak) kemudian masuk kesalah satu kamar yang telah di tunjuk oleh pak ustadz untuk mereka berbicara.
" Ayah aku mohon jangan menghambat proses ijab qobul ini, jangan buat semua berantakan aku sudah susah payah berusah agar dia mau menikahi ku, sekarang apa yang ayah lakukan ayah hampir membuat pernikahan ini gagal." Keluh Mila kepada ayahnya.
" Mila, jangan bodoh kamu, enak sekali dong mereka mau lepas dari tangga jawab, sudah membuatmu berbadan dua mereka ingin enaknya saja, status apa yang mereka maksud tetap saja kamu orang yang dirugikan, kamu tidak diakui, kamu tidak dapat apa-apa." tegas ayahnya, dengan maksud ingin membela hak putrinya.
Mila menarik nafas panjang, merasa lelah berdebat dengan ayahnya yang selalu ingin menang sendiri, karena itulah Mila dan ayahnya tidak pernah akur.
"Cukup Ayah, aku memberitahumu dan memintaku untuk menjadi waliku karena aku masih menghormatimu, tapi kalau sikap ayah seperti ini aku jadi menyesal memintamu untuk hadir dan menjadi waliku." Mila kecewa atas sikap ayahnya.
"Kamu b o d o h Mila, mau saja di perdaya oleh mereka." ketus ayahnya
"Sekarang begini, Ayah, lebih baik menikah siri atau tidak sama sekali." Mila mengulang pilihan yang Gian berikan.
"Ya kita tuntut mereka ke jalur hukum apa-apaan dia mau enaknya saja." ayah Mila makin emosional.
"Ayah, masalah akan tambah besar mereka orang-orang yang berkuasa kita bisa kalah dengan segala kekuasaan mereka, nanti semua orang akan tau aib ku kita akan tambah malu ayah," tegas Mila mengingatkan ayahnya atas kemungkinan yang akan terjadi jika ngotot ingin menempuh jalur hukum.
"Sekarang yang penting anakku ini ada yang mengakui, masalah status pernikahan biar nanti aku urus itu semua seiring berjalannya waktu." keputusan Mila.
Setelah susah payah Mila membujuk ayahnya, akhirnya ayah Mila dapat berpikir dengan jernih, dan menyetujui kata-kata Mila.
"Baiklah kalau begitu, ayah setuju tapi ingat kamu harus buat status pernikahanmu menjadi resmi, agar kamu dan anakmu bisa mendapatkan hak kalian." tagasnya lagi.
"Oke!" Jawab Mila sambil menganggukkan kepalanya.
Lalu keduanya keluar dari ruangan setelah mendapatkan kesepakatan.
"Baik silahkan dimulai pak ustadz, saya sudah setuju dengan pernikahan Ini." Ayah Mila mempersilahkan acara dimulai.
Gian yang duduk di luar, berharap pernikahan ini gagal, namun, ia dipanggil kembali untuk segera melangsungkan acara ijab qobul.
Prosesi ijab qobul hanya berlangsung beberapa menit, sehingga semua selesai di langsungkan.
Tanpa basa basa-basi Gian segera pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke rumahnya untuk beristirahat.
Baik orang tua Gian maupun, Mila dan ayahnya, tidak ada yang dapat berkomentar melihat sikap Gian yang seperti itu, karena mereka semua memaklumi Gian membenci pernikahan itu, dia terpaksa melakukannya.
Tapi, untuk menghargai ayah Mila, Mama Nirmala sengaja mengajak Mila pulang ke rumahnya.
Dirimu Papa Arga, Mama Nirmala meminta Mila tinggal di kamarnya yang pernah ia tempati.
"Loh, itu kan kamar baby sitter, aku sekarang kan menantu mama, masa aku harus tinggal di kamar baby sitter sih, Mah!" Mila protes.
"Ini kan hanya untuk sementara, kamu tidak akan selamanya akan tinggal disini? lagian pernikahan kalian bukan pernikahan yang seperti pada umumnya, bisa dibilang pernikahan palsu, jadi kamu hanya menantu palsu di rumah ini." ucap Mama Nirmala membalas Mila, dengan maksud menyadarkan Mila siapa dirinya, agar tidak banyak maunya.
Melihat sikap Mila yang belum apa-apa sudah berani mengajukan protes, jauh berbeda dengan menantu-menantunya sebelumnya, membuat mama Nirmala merasa tidak suka kepada Mila, dan beranggapan pendirian Gian benar, dan merasa curiga kepada Mila.
"Ya kan, pernikahan saya sama Gian itu sah, jadi mau tidak mau, suka tidak suka saya tetap menantu di rumah ini, setidaknya biarkan saya satu kamar dengan suami saya." Mila semakin melunjak.
"Saya yakin Gian akan menolaknya, dan yang saya khawatir dia akan berbuat kasar kepadamu, kamu kan sedang berbadan dua saya takutkan nanti dia malah akan mencelakaimu." Terang Mama Nirmala.
Mila diam, ia mengingat beberapa kali Gian memang melakukan hal itu, tapi itu membuat Mila malah merasa tertantang dan malah ingin tetap tinggal di kamar Gian.
Mila mengetuk pintu kamar Gian berkali-kali, dan tindakannya sangat menggangu bagi Gian, sehingga dengan terpaksa Gian membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Setelah pintu itu terbuka, tanpa aba-aba dan tanpa di persilahkan Mila langsung masuk kedalam kamar Gian.
Gian menarik tangannya dengan kuat dengan maksud mencegahnya untuk masuk tapi dia tetap menerobos masuk.
Ingin rasanya Gian melempar wanita menyebalkan macam Mila ini ke luar angkasa, tapi Gian menjaga kondisi wanita itu, karena Gian mengingat wanita itu sedang hamil, Mila juga tidak tinggal diam, Mila mengancam Gian untuk jangan menyakitinya.
"Jangan sakiti aku, ingat aku sedang hamil, aku bisa melaporkan mu atas tindakan kekerasan atau KDRT," Ancam Mila.
Gian hanya bisa menahan amarahnya ketika Mila mengancamnya.
"Pergi dari sini, sudah ku bilang kamu tidak punya hak apapun atas hidupku." Gian mengingatkan Mila.
"Tapi aku ingin tinggal di kamar ini, jadi aku akan tetap tinggal di sini." Mila tetap ngeyel dan membuat darah Gian mendidih.
Gian sudah ingin meluapkan amarahnya, Namun, mama Nirmala segera menenangkannya menggenggam tangan lalu menuntutnya membawanya ke kamar Mama Nirmala.
Di kamar mama Nirmala, di sana terlihat Papa Arga sedang duduk memainkan ponselnya, ia tersentak melihat anak dan istrinya bergandengan tangan masuk kedalam kamar.
"Kalian ada apa? sudah kaya truk aja pake gandeng segala!" Papa Arga merasa heran melihatnya.
Mama Nirmala Menjelaskan bahwa Mila membuat masalah, ia seakan sengaja ingin menguras emosi semua orang.
Mama Nirmala juga menenangkan Gian agar tetap tenang, jangan terpancing emosinya oleh tingkah Mila.
"Biar Mama yang mengatasinya." ucap mama Nirmala agar Gian tenang.
Kemudian mama Nirmala kembali menghampiri Mila, dan bicara empat mata dengannya, agar Mila mau keluar dari kamar Gian. Tentunya dengan sebuah imbalan.
Mama Nirmala sudah tau harus seperti apa menghadapi sifat Mila yang seperti itu, ia seperti gila hidup mewah dan matre, seperti ayahnya.
Mama Nirmala memberikan imbalan untuk menambah uang bulanan yang akan diberikannya setiap bulan dan sebuah mobil baru untuknya agar Mila keluar dari rumahnya.
Tanpa berpikir panjang, Mila segera menyetujuinya untuk keluar dari rumah itu, karena Mila memang sangat butuhkan semua yang di tawarkan oleh mama mertuanya.
"Oke, aku akan keluar dari rumah ini sekarang juga, asal mama tepat janji Mama." Mila memastikan janji Mama Nirmala.
"Iya besok mobilnya sudah siap." Mamah Nirmala meyakinkan Mila.
Mila melenggang dengan bahagia keluar dari rumah itu, "Ya, Tuhan, ternyata mudah sekali membodohi orang-orang kaya ini, Ha, ha, ha," batin Mila, dengan ekspresi wajah menyeringai.
"Lihat, ayah belum apa-apa aku sudah untung banyak, hebatkan aku?" masih batin Mila, merasa bangga pada dirinya sendiri karena selama ini ia selalu disepelekan oleh ayahnya.
….
"Mila sudah keluar dari rumah ini, Nak!" Mama Nirmala memberi tau Gian ketika ia kembali ke kamarnya.
"Mah, aku sudah tidak kuat lagi menghadapi wanita itu, percayalah mah kepadaku, aku tidak pernah melakukan apa pun kepadanya." Gian berusaha meyakinkan orang tuanya.
"Gian, bagaimana dengan foto dan video mu?" Papa Arga mengingatkan Gian tentang bukti kuat yang Mila beberkan.
"Itu fitnah pah, itu hanya jebakannya saja, aku yakin anak yang dia kandungannya bukanlah anakku." tegas Gian.
"Oke, Gian mama setuju denganmu, mama juga curiga akan hal itu, kita harus bermain cantik, lihat nanti kapan ia melakukan?"
"Jika nanti ia melakukan sesuai dengan usia kandungan yang ia katakan saat ini, bisa saja itu benar anakmu, tapi jika dia lebih cepat melahirkan, itu baru yakin bukan anakmu, nanti kita lakukan tes DNA tanpa sepengetahuannya," rencana Mama Nirmala.
__ADS_1
Dan mendapat anggukan kepala dari Papa Arga dan juga Gian, mereka setuju dengan rencana Mama Nirmala.
Mama Nirmala juga akan merebut semua bukti-bukti berupa foto dan video yang Mila punya, untuk mencegah Mila menyebar luaskannya untuk menjatuhkan Gian.