
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, dan itu adalah ungkapan yang pas untuk keadaan Akira saat ini, meskipun akira berusaha untuk menghapus semua apa yang telah terjadi itu tidak akan pernah bisa terjadi.
Akira hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang ada.
Gian masih bersujud di kaki Akira memohon maaf berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Kemudian Akira berjongkok dan memeluk suaminya, Akira pun ikut menangis bersama suaminya yang menyesali perbuatannya.
"Yang, bisakah kita perbaiki semuanya dan lupakan segalanya, kita bantu kak Shafira sembuh tapi kita tetap harus berpegang teguh dengan hubungan kita demi bayi kita."
Akira ingin bekerja sama dengan suaminya untuk menghadapi permainan Shafira, tanpa disalahkan atau merasa bersalah di akhir permainan nantinya.
"Kamu sungguh memaafkan ku sayang."Gian meminta kepastian.
Akira mengangguk dengan yakin, melihat jawaban atas pertanyaannya Gian kembali meraih Tubuh istrinya lalu kembali memeluknya.
"Terimakasih, Sayang …."
Dan disaat itu ternyata Erwin berada di sana mendengar semua yang terjadi antara Akira Gian dan juga Shafira, Erwin tidak menyangka Akira bisa berhati besar memaafkan kesalahan Gian meskipun ia telah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Erwin merasa semakin mengagumi Akira, "Kamu sungguh beruntung Gian bisa di cintai oleh wanita seperti Akira." gumam Erwin.
Tapi Erwin tidak ingin mengganggu suasana di antara keduanya, lalu ia memilih untuk pergi ke kamarnya dan meninggalkan mereka, tanpa Akira dan Gian sadari keberadaan dan kepergiaan Erwin dari sana.
Tapi setelah di kamar pun Erwin terus saja mengingat tentang Akira, ia merasa tidak rela Gian memperlakukan wanita sebaik Akira seperti itu.
Karena Erwin merasa berhutang Budi kepada Akira telah menyayangi Sisil seperti seorang ibu menyayangi putrinya sendiri.
Karena itu Erwin berharap Akira benar-benar bisa menjadi ibu pengganti untuk Sisil.
Tapi pada kenyataannya Akira telah dimiliki oleh Gian.
Namun Gian sendiri tidak bisa menghargainya menurut Erwin.
"Akira apakah aku salah ingan memilikimu, Akira apakah aku salah telah mencintaimu?" batin Erwin berkecamuk.
Iya justru memikirkan bagaimana caranya Akira bisa menjadi miliknya.
"Haruskah aku menyingkirkan Gian, oh tidak, itu tidak mungkin, karena sejatinya Gian Lah yang telah menggantikan ku menjadi seorang ayah bagi Sisil selama ini." Erwin berpikir kemungkinan apa yang harus ia lakukan.
Tapi ia tidak mungkin tega jika harus menyakiti salah satu dari Akira atau Gian hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Aah sudahlah, lupakan Akira Erwin! harusnya kamu memberi dukungan kepada mereka, bukan malah ingin menghancurkan mereka." Erwin terus saja berbicara dengan dirinya sendiri.
Berusaha untuk menepis perasaannya kepada Akira yang ingin memilikinya.
….
Di pagi hari seperti biasa semua keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan sebelum mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Seperti biasa juga Sisil selalu jadi primadona di sana, karena tingkah Sisil selalu jadi pusat perhatian mereka semua.
Karena Sisil yang membuat suasana seakan hidup, memancing canda tawa di tengah-tengah keluarga.
__ADS_1
Momen pagi itu yang selalu mereka rindukan dan tidak pernah mereka lewatkan untuk berkumpul bersama.
Karena di setiap hari hanya pada waktu itu mereka bisa berkumpul sebab kesibukan mereka masing-masing yang tidak memungkinkan mereka berkumpul di waktu lain selain di pagi hari.
Sisil bersekolah dari pagi sampai sore hari baru kembali kerumah.
Begitu juga para orang dewasa, mereka sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing yaitu bekerja dan kadang pulang sampai larut malam.
Secepat-cepatnya para orang dewasa tiba di rumah itu sehabis magrib, itu pun mereka kadang masih sibuk dengan urusan mereka seperti ingin beristirahat dan memainkan hp, tidak ada waktu untuk berkumpul lagi selain pagi menjelang baru bisa berkumpul bersama di meja makan.
Kini anggota keluarga telah lengkap dan sudah di posisi masing-masing.
Selama ada Sisil mereka tidak membahas urusan orang dewasa, mereka hanya fokus kepada tingkat dan ocehan Sisil memberi tanggapan positif untuk membangun mental Sisil agar lebih percaya diri dalam lingkungannya.
Sisil pun merasa, dirinya diperhatikan dan disayangi seluruh keluarga. Meskipun tidak memiliki seorang ibu tapi Sisil tidak merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya.
Setelah Sisil berangkat sekolah, para orang dewasa masih duduk di posisi mereka masing-masing karena masih punya waktu untuk bercakap sebelum waktunya mereka berangkat bekerja.
Kini Akira yang menjadi pusat perhatian mereka.
Mama Nirmala menatap Akira, lalu teringat kemarin Akira sempat menanyakan Gian kepadanya, dan mama Nirmala membuka pembicaraan di antara mereka dengan membahas masalah itu.
Mama Nirmala bertanya kepada Gian dari mana saja Gian kemarin sehingga Akira mencari-carinya dan mengapa handphonenya tidak aktif karena mama Nirmala sempat menelponnya.
Gian langsung terlihat gugup mendapat pertanyaan dari mamanya.
Gian menatap istrinya karena bingung harus menjelaskannya seperti apa.
Akira hanya mengangguk sebagai isyarat bahwa Gian boleh menjawab apapun, karena ia akan tetap mendukungnya apa pun jawab dari suaminya.
"Kemarin aku sempet menemui Shafira mah, pah atas permintaan ayah Ayus." Gian bicara sejujurnya.
"Tapi kenapa handphonemu di matikan membuat orang-orang cemas terutama istrimu " Mama Nirmala sedikit kesal mendengar Gian diam-diam menemui Shafira karena Mama Nirmala tidak suka mendengarnya, dan apapun alasannya.
Melihat reaksi mama Nirmala seperti itu, Akira yang berinisiatif untuk menjawabnya, sebab suasana sudah terasa tegang, Gian bisa lebih emosional jika terus di pojokan, Akira sudah sangat paham dengan situasi.
"Handphone kak Gian ternyata lowbat mah, jadi tidak bisa di hubungi." Sergah Akira ikut menjelaskan.
Gian menatap Akira, karena Akira seakan membelanya.
Erwin yang sudah tau semua kejadian tetap diam dan sedikit mencibir menatap Gian.
"Ya harusnya kamu memberi kabar dong jangan seperti itu, sekarang ada istri mu yang sedang hamil yang lebih membutuhkanmu, bagaimana jika dia butuh sesuatu, dan amit-amit jika dia butuh pertolonganmu." Mama Nirmala memberi pengertian kepada putra bungsunya agar bertindak lebih memikirkan kondisi istrinya.
"Iya Gian, jangan sampai tindakanmu atau keegoisanmu membuat kamu menyesal akhirnya" Erwin sedikit menyinggung Gian.
"Apa maksudmu?" Gian sepertinya mulai merasa tidak nyaman merasa di sudutkan.
"Ya, kamu harus bisa mengambil sikap, harus lebih tegas kepada Shafira, jangan karena dia sakit kamu mengikuti semua apa yang dia inginkan, tanpa kamu pikirkan perasaan istrimu sendiri, jika kamu menyangi Akira jangan mau diperdaya oleh Shafira, dan Akira yang harus berkorban perasaan." Erwin bicara seakan tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Padahal Akira dan juga Gian sudah berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi kemarin agar Mama Nirmala dan papa Arga tidak mengetahuinya.
Sebab Mama Nirmala akan mengambil tindakan oper protektif untuk mencegah Akira maupun Gian bertemu atau membantu penyembuhan Shafira sesuai rencana Akira dan Gian.
__ADS_1
Suasana hati Gian sudah terlihat tidak nyaman dengan ucapan Erwin, Akira bisa merasakannya.
Maka dari itu Akira menggenggam tangan Gian agar Gian lebih tenang.
Gian mengerti dengan isyarat yang Akira berikan. Dengan begitu Gian sedikit mengangguk bawa ia mengerti.
"Iya, aku mengaku salah, karena tidak memberi kabar." Gian menjawab ucapan Erwin.
"Kak Gian sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Akira masih membela Gian.
Papa Arga hanya diam menyimak obrolan keluarganya.
Erwin menatap Akira, "Akira … Akira … kenapa dirimu begitu membela Gian, padahal jelas-jelas Gian sudah melakukan kesalahan." Erwin tidak habis pikir dengan pemikiran Akira.
Akira juga meminta izin kepada Gian di hadapan semua orang untuk pergi ke rumah sakit bergantian dengan ayah dan ibunya untuk menemani Shafira.
Selama ayah dan ibunya pulang terlebih dahulu untuk membersihkan diri.
Tapi mama Nirmala merasa sangat keberatan jika Akira menemani Shafira seorang diri disana.
Mengingat kejadian kemarin melihat kebrutalan Shafira sampai darah berceceran membuat Mama Nirmala merasa ngerti membayangkan jika Akira hanya seorang diri menemaninya.
Dengan begitu Mama Nirmala tidak memberikan izin kepada Akira jika hanya dirinya seorang diri di sana.
Gian sendiri tidak bisa menemani Akira karena ada rapat penting yang tidak bisa di tinggalkan.
"Ya sudah biar aku yang menemani Akira." Erwin menawarkan diri.
"Apa …." seru Gian tidak percaya mendengarnya.
"Iya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan terjadi kepada Akira, kan lebih baik kita mencegah dari pada mengobati setelah terjadi." Erwin terkesan mencari kesempatan menurut Gian.
Sehingga kini Gian lah yang merasa sangat keberatan.
Karena Gian merasa curiga bahwa Erwin menyukai Akira, sedari di luar negeri Gian sudah merasakan hal itu.
Tapi Gian selalu berusaha untuk menepis kecurangannya.
Namun pada pagi ini semua kecurigaan Gian terasa nyata, dari ucapan Erwin yang sengaja menyudutkannya, dan dari tatapan Erwin menatap Akira begitu berbeda, di tambah Erwin ingin menemani Akira, seakan sedang mencari kesempatan untuk bisa berduaan dengan Akira.
Gian sungguh tidak rela jika Erwin tetap menemani Akira di rumah sakit menjaga Shafira walaupun hanya sementara selama ayah dan ibu Akira pulang untuk bergantian pakai.
"Kenapa Gian sepertinya kamu merasa keberatan jika aku yang menemani Akira, kalau begitu kamu sajalah yang menemaninya." Erwin sengaja menantang Gian.
Gian hanya bisa diam karena meeting nya kali ini benar-benar penting dan tidak bisa di tundan.
Akira mengambil jalan tengah agar mereka jangan mengkhawatirkannya.
Akira mengutarakan agar ayah ibunya bergantian pulangnya agar salah satu di antara mereka tetap bisa menemaninya di sana.
"Jangan khawatir kak Fira tidak seganas yang mama khawatirkan."
....
__ADS_1
Apakah sebenarnya rencana Erwin, apakah benar-benar ingin merebut Akira dari tangan Gian?