
Seorang Erwin, yang terlihat sempurna, dari fisik dan materi, secara fisik dia sungguh tanpa postur tubuh tinggi dan atletis, bahkan Erwin lebih tinggi dari Gian.
Kedudukannya pun lebih tinggal dari pada Gian, sesungguhnya Erwin lebih unggul segalanya dari pada Gian, hanya saja Erwin tidak bisa setegas Gian.
Gian lebih tegas dalam bersikap, sehingga di perusahaan Gian yang sering mengambil keputusan dari hal apapun.
Erwin bersifat cuek dalam hal apapun ia lebih dingin daripada Gian terutama dalam hal percintaan, kecil kepada orang yang ia anggap penting dan berarti baru ia akan berkorban mati-matian untuk orang tersebut.
Karena terlihat sempurna, sama halnya seperti Gian Erwin juga idola para wanita terutama di kantornya.
Setelah para wanita disana patah hati karena Gian sudah memiliki pasangan dan terlihat sangat bucin terhadap pasangannya, para karyawan wanita di sana kini berpindah haluan mencintai atau menyukai Erwin yang memang baru pulang dari luar negeri.
Lisa saja wanita berkelas yang sangat dingin terhadap lelaki dan menutup diri untuk lelaki lain setelah pernah di kecewakan, kepada Erwin lisa bisa luluh mulai membuka diri karena Lisa menyukainya, tapi Lisa kembali harus menelan pil pahit karena Erwin kini telah menikahi Rima.
Tapi sayangnya, saat para wanita memuja Erwin dan berharap bisa memiliki Erwin, Duren yang penuh pesona, tapi oleh istrinya sendiri yang hanya seorang babysitter, Erwin di acuhkan.
Di situlah Erwin merasa tidak dihargai, merasa harga dirinya direndahkan oleh Rima.
Sehingga Erwin benar-benar merasa kesal, apalagi ketika Erwin melihat nasi yang ia bawa tidak disentuh sama sekali oleh Rima.
"Apa maunya perempuan ini?" Erwin bertanya pada dirinya sendiri, sebab ia tidak memahami pemikiran Rima.
"Jangan harap aku akan, mengejarmu." Erwin masih membatin, dengan ketusnya.
Karena Erwin berpikiran Rima sok jual mahal kepadanya, padahal sebenarnya Rima merasa minder dan sadar diri, sehingga Rima menjaga jarak agar dirinya tidak merasa lebih sakit hati, ketika menerima kenyataan Erwin memiliki pasangan lebih segalanya dari dirinya.
Atau ketika pada suatu saat nanti Erwin memiliki pasangan yang lebih sepadan dengannya.
….
Rima kembali masuk kedalam kamar Sisil dengan tampilan yang sudah rapi lengkap dengan seragam babysitternya.
Ia juga membawa semangkuk bubur yang telah ia masak sendiri sesuai dengan selera sisi, agar Sisil lebih berselera ketika menyantapnya.
"Sisil makan dulu ya sebelum minum obat." ucap Rima.
Rima bersikap biasa saja seperti sebelumnya, ketika ia belum menjadi istri Erwin.
Akira yang duduk di sebelah Sisil, melirik ke arah Erwin, karena Rima seakan tidak merasakan canggung lagi sebagai istri Erwin.
Kemudian Akira pamit dari sana karena ini mengecek keadaan suaminya, dan bukan hanya itu sebenarnya tujuan Akira, ia ingin memberikan kesempatan kepada Erwin dan Rima agar lebih intens.
"Sisil, antue permisi keluar dulu ya mau lihatin om, apa sudah bangun apa belum."
Sisil yang sedang mengunyah bubur di mulutnya mengangguk, "Iya, antue." ucapannya.
"Saya, keluar dulu ya, Mbak Rima, kak Erwin." Akira juga pamit kepada mereka berdua.
Lalu segera pergi setelah keduanya mendapat respon respon, mempersilahkan Akira untuk pergi.
Erwin tetap duduk di sana, memperhatikan putrinya yang sedang menikmati bubur buatan ibu tirinya tapi Sisil belum tau kalau Rima adalah ibu tirinya.
"Sisil …" Erwin membuka suara memecah keheningan.
__ADS_1
Keren papinya menyerukan namanya, Sisil segera melihat ke arah papinya. "Iya, papi?" kemudian jawab Sisil.
" Papi, boleh bertanya gak?"
"Papi, mau nanya apa?"
"Emang papi gak boleh nikah, kasih ibu tiri buat Sisil?" pertanyaan Erwin membuat Sisil dan Rima terkejut, terlebih Rima.
Deg, seketika jantung Rima terasa berhenti, Rima merasa takut dengan jawaban Sisil.
"Boleh ko, Papi … tapi nyari ibu tirinya yang sayang sama Sisil, jangan yang jahat kaya di dongeng dongeng …." Sisil mengizinkan tapi Sisil juga mengingatkan Papinya agar tidak salah pilih.
"Tapi itukan hanya di cerita dongeng." Erwin menimali, di dunia nyata belum tentu ibu tiri itu jahat.
"Tapi, papi …. Temanku punya ibu tiri jahat, dia sering dimarahi katanya, sering dipukul dan dicubit juga, ibu tirinya jahat seperti cerita di dongeng-dongeng." Sisil menerangkan.
"Sisil sayang … Sisil dari mana dapat cerita seperti itu? " Rima bertanya.
"Temenku sendiri yang ceria sama aku, dia juga kasih nunjukin luka lebam bekas pukulan dan cubitannya." Sisil kembali menerangkan.
Erwin penasaran dengan cerita Sisil, "Emang Papinya tidak tau, kalau ibu tirinya jahat seperti itu?"
Sisil menggelengkan kepalanya, "Katanya kalau di depan Papinya, ibu tiri baik banget, giliran papinya gak ada baru deh dia galak dan jahat."
"Yang mana sih nak , teman mu yang seperti itu, dan kapan dia bercerita seperti itu kepadamu." Kali ini Rima yang kepo.
Karena Rima mengenal hampir semua teman Sisil, jadi Rima tentu tau teman Sisil yang sedang Sisil ceritakan, Rima juga merasa heran kapan mereka bercerita sebab Rima hampir dua puluh empat jam bersama Sisil, tapi dia tidak tau kapan ada teman Sisil bercerita seperti itu.
"Itu loh Mbak, Cika yang mami tirinya yang suka antar jemput dia, Cika setiap hari cerita sama aku kalau lagi dikelas." masih terang Sisil.
'Iya Mbak, kalau didepan orang dia baik banget, tapi kalau lagi berdua dia jahat katanya, pengasuhnya aja di pecat supaya dia bisa leluasa marahin Cika," yang Sisil kembali menerangkan.
"Astaghfirullah … Mbak gak nyangka loh, kasihan sekali Cika." Rima bersimpati kepada Cika.
Tapi Erwin malah berekspresi datar tidak begitu antusias menanggapinya, ketika Rima ikut bicara.
"Sisil, kamu dikelas kerjaannya ngobrol ngomongin orang gitu." tegur Erwin.
"Nggak kok pih, Cika ceritanya pas Bu guru belum masuk kelas."
"Terus menurut Sisil, siapa yang cocok jadi istri Papi menurut penilaian Sisil?"
Sisil terlihat berpikir, "Yang baik sama Sisil banyak pih~." kemudian ucap Sisil, dan terdengar memotong kalimatnya, dan terlihat Sisil masih berpikir.
"Terus …." Erwin penasaran dengan kelanjutannya.
"Tapi, Sisil rasa yang sayang sama Sisil selain kakek dan nenek, papi, sama om Gian, cuma antue Akira sama Mbak Rima." Lanjut Sisil.
"Kalau Papi, nikah sama orang lain, seperti sama Tante Lisa contohnya, gimana?"
Sisil diam tidak menjawab, "Sisil gak tau pih, tapi Sisil gak mau tinggal sama tante siapapun, Sisil takut." Secara tidak langsung Sisil menolak.
"Kalau nikahnya sama Mbak Rima, gimana?" Erwin meminta pendapat dari Sisil tentang pernikahannya dengan Rima.
__ADS_1
Erwin sengaja memancing jawaban Sisil, tentang penilaiannya untuk Erwin pertimbangkan.
Sisil tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu, "Papi mau nikah sama Mbak Rima?" Sisil malah balik bertanya.
"Iya, menurut Sisil bagaimana?" Erwin juga mendesak jawaban dari Sisil.
"Makannya sudah habis, Mbak simpen ini dulu ya!" Karena tidak terasa makan Sisil memang sudah habis, dan Rima tidak ingin mendengar pembicaran Sisil dengan papinya lebih lanjut.
Karena jujur saja, semua itu membuat Rima tidak nyaman di buatnya.
Dengan begitu Rima memilih untuk keluar dengan alasan ingin menyimpan mangkuk bekas Sisil makan.
Rima segera keluar, dari sana dan Erwin menatapnya tajam.
"Kenapa dia, malah pergi, padahal aku kan sengaja bertanya kepada Sisil, tentang dirinya, supaya dia tau penilaian Sisil tentang dirinya." Batin Erwin, yang menayangkan kepagian Rima.
"Eeh, bagaimana Sisil tadi pertanyaan papi belum Sisil Jawab." Erwin kembali memastikan jawaban Sisil atas pertanyaannya yang belum Sisil jawab karena Rima memotongnya.
"Apa tadi pertanyaannya?" tanya Sisil.
"Kalau Papi, nikahnya sama Mbak Rima, gimana?" dan pertanyaan itu Erwin ulang kembali, meminta pendapat dari Sisil tentang pernikahannya dengan Rima.
"Oo iya itu, Mbak Rima orangnya cantik, baik, sayang banget sama Sisil, jadi Sisil setuju kalau Papi jadi'in Mbak Rima jadi Mami Sisil." dengan senang hati Sisil menerimanya.
"Kalau Mbak Rima-nya gak mau gimana, kayanya Mbak Rima gak suka deh sama papi."
"Ah tidak mungkin, Papi-kan ganteng, keren juga, masa Mbak Rima gak mau sih." Sisil tidak percaya ada wanita yang menolak Papinya.
"Eeh buktinya seperti itu, dia cuekin Papi terus."
"Dia bukan tidak suka sama Papi, mungkin dia malu, sama Papi."
"Ko, malu sih."
"Iya, abis Papi malu-maluin sih."
"Wah … kamu mulai gak sopan sama Papi."
Percakapan Sisil dan Papinya berakhir dengan candaan, karena Erwin akhirnya menggelitik Sisil karena ia merasa sangat gemas dengan putrinya yang memang sangat menggemaskan.
Dan membuat Sisil tertawa dan berteriak, karena papinya terus saja menggodanya.
Ketika itu Dokter Eva datang bersama suster, untuk memeriksa kondisi Sisil.
"Wah … seru sekali candaan kalian, Sisil sudah bisa tertawa dan berteriak, kemajuan yang sangat luar biasa." Dokter Eva berdecak kagum. Melihat kondisi sisil yang sudah terlihat segar bugar, berbanding terbalik dengan terakhir ketika Dokter Eva mengecek kondisinya sangat lemah, dan tidak sadarkan diri.
"Iya dong Dok, aku sudah sehat sekarang." Sisil menimpali.
"Good … anak pintar." seru Dokter Eva memuji Sisil.
Kemudian dokter Eva segera mengecek kondisi sisil dengan cara seperti bias.
Dan semua sudah normal kembali.
__ADS_1
Dokter menyuruh susternya melepaskan selang infus yang masih menancap di pergelangan tangan Sisil.