Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 141


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, kini kandungan Mila sudah menginjak delapan bulan, selama itu ia hidup di fasilitas olah Gian dan keluarganya, dan selama itu juga Gian tidak pernah menemuinya, bertanya kabar pun tidak pernah.


Padahal Mila selalu berharap Gian datang menemuinya atau mengantarkannya untuk memeriksakan kandungannya, ya, Mila sadar betul Gian memang tidak punya hak apapun atas bayi-nya.


Gian menikahinya hanya karena jebakan darinya, bahkan Gian memang tidak pernah menyentuhnya sama sekali, tapi sebagai seorang wanita Mila kadang ingin diperlakukan seperti layaknya seorang istri, dicintai dan disayangi, mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suaminya.


Karena mereka memang sudah menikah, ya, semua itu hanyalah sebuah angan-angan bagi Mila.


Siang itu Mila sedang duduk di sofa apartemennya ia merasa sangat kesepian, ia jenuh dengan hidupnya, ingin keluar tapi keadaannya menyulitkannya, sebab sedang berbadan dua itu membatasi pergerakannya, terlalu banyak berjalan atau kelamaan berdiri saja ia sudah sering kelelahan.


Dan ketika sedang hanyut dalam lamunannya tiba-tiba terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu.


Tok, tok, tok, suara pintu diketuk, awalnya Mila tidak menyadari suara ketukan pintu itu, tapi lama kelamaan suara ketukan pintu itu berhasil memecah lamunannya.


Mila terhenyak dan mempertajam indera pendengarannya, dan saat ia sudah benar-benar sadar dari lamunannya.


Barulah ia yakin ada seseorang yang datang. Entah mengapa hatinya merasa senang ketika itu, ia berharap orang yang ia harapkan lah yang datang yaitu suaminya - Gian.


Dengan perasaan gembira, Mila segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan tapi pasti menuju ke arah pintu, senyum di wajahnya tampak terbit untuk menyambut sang suami.


Tapi saat ia membuka pintu alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang datang.


"Jimi!" seru Mila.


Ya, ternyata Jami lah orang yang datang menemuinya. Raut kebahagiaan di wajah Mila seketika itu sirna, berganti dengan ekspresi wajah penuh kekecewaan, bahkan bercampur dengan kekesalan dengan sorot mata penuh amarah.


"Hay, Honey, apa kabarmu?" sapa Jimi sangat manis.


"Mau apalagi kamu datang kemari, apa belum cukup kau menyakitiku, setelah bersenang-senang kau mencampakkanku begitu saja, membiarkanku menanggung semua beban ini sendiri," ketus Mila penuh emosi.


"Biarkan aku masuk dulu kita bicara di dalam," ucap Jimi sambil menerobos masuk melewati Mila yang masih berdiri di depan pintu.


"Hey, kenapa kamu masuk aku tidak mempersilahkan mu untuk masuk!" pekik Mila dengan maksud mengusir Jimi.


Namun sepertinya Jimi tidak mempedulikan emosi Mila, itu terlihat dari perilakunya karena ia tetap bergaya santai, ia meletakkan paper bag yang ia tenteng di atas meja.


"Honey, ini aku bawakan makan siang kesukaanmu," ucapnya. Kemudian ia duduk di sofa.


"Hey, keluar kau! aku tidak menerima tamu seperti mu!" Mila benar-benar merasa geram kepadanya.


Karena emosi yang meluap-luap, akhirnya Mila merasakan kontraksi di perutnya. Perutnya terasa kram akibat dari emosinya.


"Aawww … ssst …!" Mila mengaduh kesakitan.


Melihat itu, Jimi bergegas bangkit kembali dari tempat duduknya, ia merasa khawatir melihat Mila, Jimi segera menghampiri Mila dan memapahnya untuk duduk.

__ADS_1


"Kamu, kenapa, apa kamu akan melahirkan?" tanya Jimin Panik.


"Usia kandunganku masih lama untuk melahirkan," sergah Mila.


Kepada Gian dan keluarganya Mila mengaku kandungannya masih berusia 7 bulan tapi ternyata usia sesungguhnya sudah menginjak usia kandungan delapan bulan bahkan mungkin sudah lebih dari delapan bulan.


(Othor, gak tau pastin berapa usia kandungannya, karena othor gak tau juga kapan mereka bikinnya).


"Lalu kamu kenapa, apa perlu ke rumah sakit?" tanya Jimi lagi.


Entah mengapa dulu dia tidak peduli dengan keadaan Mila, tapi sekarang tiba-tiba Jimi begitu perhatian dan mengkhawatirkannya.


"Tidak usah, ini hanya kram biasa, nanti juga akan hilang sendiri sakitnya," ketus Mila.


"Jadi kamu sering kesakitan seperti ini?" Jimi terus saja bertanya.


"Iya, kamu pikir ibu hamil itu enak, banyak keluhan yang dirasakan, belum lagi harus menanggung malu sendiri, menjadi cemooh orang karena hamil tanpa bapak!" Mila masih sangat emosional.


"Honey, maafkan aku, justru aku datang kemari ingin memperbaiki semuanya, aku menyesali semua kesalahanku, aku akan bertanggung jawab kepada  mu dan bayi kita," Jimi mengutarakan maksud kedatangannya.


"Tida perlu, semua sudah terlambat, untung saja ada pria ganteng, karya yang berhati baik mau menikahi ku, tidak seperti kamu lelaki pengecut." Mila bicara penuh penekanan.


"Apa, siapa dia? jangan main-main denganku Mila!" Jimi ikut emosi.


"Kenapa aku harus berbohong? Kamu pikir setelah kamu mencampakkan ku dengan keadaan terpuruk, tidak akan ada lagi orang yang menginginkanku lagi? tapi kamu salah buktinya masih ada yang menyayangiku dan juga bayiku." Mila sengaja berbicara seperti itu, agar dirinya tidak terlihat terpuruk di mata Jimi.


Mila merasa Syok dan ketakutan dengan apa yang dilakukan oleh Jimi kepadanya, sehingga urat-urat, atau sarafnya menegang  dan terjadi lagi konterak di perutnya, bahkan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.


Mila berteriak kesakitan, membuat Jimi panik dan melepaskan cengkeramannya, Jimi segera mengambil air minum lalu memberikannya kepada Mila untuk Mila minum.


Meskipun sudah meneguk segelas air minum, rasa krma itu masih menyiksa Mila.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Jimi bingung.


"Pergi saja kau dari sini!" Perintah Mila.


"Aku tidak mungkin meninggalkanku mu dalam keadaan seperti ini." Jimi menolak untuk pergi.


Lalu ia mengelus perut Mila secara perlahan, dengan lembut penuh kasih sayang.


"Sayang, anak papi jangan nakal ya, Nak! kasih mamy kamu kesakitan." ucap Jimi seakan sedang berbicara dengan sang bayi di dalam perut.


"Oo papi ya yang nakal, karena udah ninggalin kamu sama mamy, maafkan papi ya, Nak, Papi tidak akan menyia-nyiakanmu lagi, papi akan mendampingimu sampai kamu lahir ke dunia ini." Jimi terus melakukan hal itu berbicara seakan sedang berbincang dengan bayinya.


Perlahan rasa kram itu pun menghilang, dengan sendirinya, Mila sendiri merasa begitu nyaman merasakan belaian demi  belaian Jimi.

__ADS_1


Melihat lembutnya perlakuan Jimi saat ini kenapanya membuat membuat Mila merasa haru, selama ini belum pernah ada yang memperlakukan Mila selembut Jimi, maka dari itu Mila selalu terbuai olehnya, sampai ia mengandung, dan Jimi meninggalkan.


Mengapa Jimi meninggalkannya saat itu? karena Jimi terpengaruh oleh sahabat Mila yang berselingkuh dengannya, saat itu hati dan pikiran Jimi sedang dikuasai oleh Jesy.


Tapi saat ini Jimi kembali memikirkan Mila ia menyadari semua kejahatannya kepada Mila, dan menyesali semua perbuatannya, ia ingin kembali bersama Mila, maka dari itu Jimi mendatangi Mila.


Mila menangis pilu saat ini, jimi terkejut melihatnya, "Heh, kok, nangis sih, kenapa apa masih sakit?" Jimi makin bingung.


Mila menggelengkan kepalanya, "Lalu kenapa menangis?" tanya Jimi lalu membawa Mila kedalam pelukannya.


Mila makin terharu, karena sekian lamanya ia baru merasakan lagi pelukan hangat itu.


"Jangan khawatir, Honey, mulai saat ini kamu tidak akan kehilangan lagi pelukan ini lagi." Jimi menenangkan Mila sekaligus meyakinkannya.


Mila mendongakkan wajahnya meliha keseriusan di wajah Jimi, Jimi mengangguk sambil tersenyum, dan senyuman itu yang sebenarnya sangat Mila rindukan.


Jimi mengecup kening Mila dengan penuh kasih sayang, lalu mengecup kedua belah pipi Mila.


Namun, bukannya mendapatkan perlawanan, Mila malah terlihat menikmati kecupan manis dari Jimi.


Sehingga membuat Jimi ingin melakukannya. Kemudian Jimi mengecup sekilas bibir Mila, tapi tetap tidak mendapat perlawanan darinya, membuat Jimi makin candu, Jimi mengecup kembali bibir Mila yang terasa kenyal dan hangat.


Namun kali ini Jimi mengecupnya lebih dalam dan lebih lama, membuat Mila benar-benar terbuai h a s r a t nya.


Mila malah membalas kecupan Jimi dengan l u m a t a n lembut tapi penuh gairah. Jimi tersenyum mendapat balasan dari Mila, ternyata Mila pun mengingatkan hal yang sama sepertinya.


Jimi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia kemudian ia m e l u m a t habis seluruh mulut Mila, lidahnya menari-nari mengabsen seluruh rongga mulut Mila.


Tangannya sudah menyusup masuk kedalam baju Mila memainkan bagian sensitifnya, menyentuh lalu m e r e m a s nya, sehiga berhasil membuat Mila mengeluarkan suara erotis, yang membuat gairah keduanya semakin memuncak.


Perlahan tapi pasti sambil  bermain mulut dan lidah Jimi membuka kancing baju Mila satu persatu dan pada akhirnya terlihat jelas gunung kembar milik Mila.


Jimi Mulai turut bermain mengecupi leher Mila dan meninggalkan beberapa jejak percintaannya di sana, tapi tangannya tetap bermain di gunung kembar Mila melepaskan kacamata gunung kembarnya, sampai akhirnya tidak ada lagi yang menutupi gunung kembar itu, Jimi segera melahap nya dengan rakus. Membuat Mila merasakan sensasi geli-geli  n i k m a t yang selama ini ia rindukan.


Keduanya makin menggila, sampai pada akhirnya keduanya mencapai puncak k e n i k m a t a n secara bersamaan.



Selesai melakukan itu Jimi kembali mengenakan pakaiannya, dan ia harus segera pergi karena ia mendapat panggilan telepon dari ayahnya menyuruhnya untuk segera menghadapinya.


Jimi keluar dari kamar apartemen Mila dengan tergesa, keluar dari lift, ia berpapasan dengan Nyonya Nirmala, yang hendak menemui Mila.


Entah mengapa Nyonya Nirmala merasa curiga melihat tampilan Jimi yang berantakan, dan seakan penuh Pelu di raut wajahnya,  tapi karena tidak saling mengenal ya akhirnya berlalu begitu saja.


Sesampainya di depan kamar apartemen Mila, Nyonya Nirmala melihat pintu kamar itu sedikit terbuka, tanpa mengetuknya Nyonya Nirmala segera masuk ke dalam kamarnya, alangkah terkejutnya Nyonya Nirmala menyaksikan Mila tertidur dalam keadaan tanpa busana.

__ADS_1


"Astaga ... Mila!"


__ADS_2