
Putra hanya menatap nampan berisikan menu sarapannya, ia sungguh tidak berselera melihatnya.
Tapi Papa Gian memaksanya agar Putra menyantapnya walaupun hanya sedikit, karena Papa Gian khawatir nanti dokter akan menyuntikkan obat dengan dosis tinggi ketika dokter memeriksa Putra, dan dengan begitu Putra disarankan harus sudah sarapan.
Karena Papanya terus saja memaksanya, akhirnya Putra terpaksa memakannya meskipun hanya satu atau dua suapan saja.
Selang beberapa waktu, kemudian dokter Yuri kembali ke ruangan itu di ikuti seorang suster, lalu dokter Yuri menyapa Putra dan sembari melempar senyumnya yang terlihat sangat manis, merekah menghiasi wajahnya yang sangat cantik.
Sehingga membuat Putra terkesima melihatnya. Namun, Putra malah menampilkan ekspresi datar untuk menyembunyikan rasa kagumnya kepada Dokter Yuri karena kecantikannya.
"Bagaimana Pak Putra, bisa kita mulai sekarang?" kemudian dokter Yuri bertanya apakah Putra sudah siap melakukan pemeriksaan.
Putra tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa ia sudah siap.
Lalu dokter Yuri menyuruh Susternya untuk membuka perban yang menutupi luka-luka Putra, untuk ia lihat bagaimana perkembangan luka itu dan agar Suster itu membersihkan lukanya.
Putra segera menolak ketika suster mendekati dan akan menyentuhnya.
"Stop, jangan sentuh saya!" Putra menghentikan pergerakan suster yang hendak memulai tugas yang dokter Yuri perintah kepadanya.
Putra menyetop sambil mengangkat tangannya.
Suster itu segera melihat ke arah dokter Yuri, sebagai isyarat meminta pendapat dokter Yuri, bahwa dirinya harus bagaimana. Namun Dokter Yuri hanya diam.
"Tapi tuan! luka anda harus dibersihkan lalu diganti dengan perban yang baru," kemudian Suster memberikan keterangannya.
"Tidak usah!" ketus Putra mulai rese.
Dan itu sangat menguji kesabaran suster dan dokter Yuri, suster kembali melihat ke arah dokter Yuri, tapi kali ini dokter Yuri menganggukan kepalanya perlahan sambil memejamkan matanya agar suster mundur.
__ADS_1
Suster mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh dokter Yuri, sehingga ia segera mundur lagu dokter Yuri yang melangkah maju menggantikan suster nya.
"Biar saya saja yang melakukannya," kemudian ucap Dokter Yuri, dan langsung membuka perban nya.
Putra tidak menolak sebab Yuri sudah menyentuhnya dari kemarin, sehingga tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak dokter Yuri.
Putra hanya diam ketika dokter membuka satu persatu perban yang menutupi luka-lukanya secara perlahan.
Luka nya cukup dalam dan memang aga membengkak, dan memang rasanya sedang sakit-sakitnya.
"Ya ampun, ini bagaimana kalau tidak dirawat, luka seperti ini? Ini bisa infeksi dan akan semakin parah!" gerutu dokter Yuri, yang sedikit kesal dengan sikap pembangkangan putra, dan selalu terkesan merendahkannya.
Sedangkan Putra sendiri, tetap terdiam seperti patung, ia tidak merasakan hal apapun kecuali jantungnya yang sedang berdebar kencang tidak karuan, ia diam karena ia merasa tegang menahan debaran jantungnya.
Putra takut Yuri bisa mendengar debarannya, mengapa Putra bisa merasakan debaran jantung sedahsyat itu, sebab kini jarak antara Putra dan Yuri sangat dekat hanya berjarak beberapa Senti saja, bahkan aroma tubuh dokter Yuri begitu jelas Putra hirup, aromanya begitu menyegerakan indera penciuman Putra.
Membuat putra candu akan wanginya, tatapan mata Putra juga hanya tertuju kepada bibir tipis dokter Yuri, yang terlihat merah alami, sepertinya begitu manis jika Putra mencicipinya.
Dan ketika itu dokter Yuri malah tersenyum, membuat degup jantung Putra seakan terhenti melihatnya, ia begitu terpesona melihat senyuman dokter Yuri.
Karena seumur hidupnya ia baru saat ini merasakan hal seperti ini, ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, bisa saja itu sebagai perasaan cinta yang mulai tumbuh.
"Sudah, Pak putra!" ucap Dokter Yuri setelah menyelesaikan tugasnya.
Ternyata Dokter Yuri tersenyum karena ia merasa lega telah menyelesaikan pekerjaannya membuka perban, membersihkan lukanya, mengobatinya lalu memasangkan kembali perban dengan yang baru.
Dokter Yuri begitu telaten melakukan hal itu, dan karena Putra sedang menahan gejolak di dalam dadanya ia sampai tidak menyadari proses yang dilakukan oleh Dokter Yuri atas luka-lukanya.
"A-apa sudah selesai?" Putra merasa tidak yakin dengan ucapan Dokter Yuri.
"Iya sudah, Pak!" Dokter Yuri menegaskan.
__ADS_1
Gian sedari tadi memperhatikan putranya yang terlihat bertingkah sangat aneh. Namun, Papa Gian sudah dapat menebak mengapa Putra bersikap demikian.
Papa Gian tersenyum tipis begitu menyadari apa yang dirasakan oleh putranya.
"Sekarang, Pak Putra! tinggal minum obatnya ya," kemudian lanjut dokter Yuri.
Setelah melihat kondisi luka dan memar Putra saat ini, sedang mengalami pembengkakan dan tentunya Putra sendiri sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa sakitnya, maka dokter Yuri menambah dosis obatnya, dengan mengganti beberapa obat dengan dosis tinggi.
Dokter Yuri mencatat obat itu lalu menyerahkannya kepada Papa Gian agar menebusnya di apotik lalu memintanya untuk menyerahkan nya kepada suster yang akan mengurus obat Putra.
Setelah itu Dokter Yuri pamit untuk undur diri, tapi saat hendak keluar Juna dan Akira masuk, lalu menyapa dokter Yuri dan menahannya agar jangan dulu keluar dari sana.
Terutama ibu Akira ia ingin mendengar penjelasan Dokter tentang kondisi Putrinya saat ini.
"Eeh Dokter! Kebetulan sekali!" sapa Bu Akira dengan nada ramahnya.
"Selamat pagi, Dok!" sapa Juna.
"Pagi juga, Bu, Dokter Juna!" balas Dokter Yuri sambil tersenyum ramah.
Kemudian Akira dan Juna barulah menyapa Papa Gian, serta Putra, setelah itu Akira mengajak Dokter Yuri untuk duduk dan sarapan bersamanya.
Namun, Dokter Yuri menolak dengan halus, sebab itu ia masih banyak pasien yang ingin kontrol terkait penyakit yang mereka derita.
"Maaf Bu, sebenarnya saya ingin sekali duduk bersama kalian menikmati sarapan pagi di sini, tapi sayangnya tugas saya sudah menanti saya, jadi saya tidak bisa memenuhi ajakan Ibu, karena kasihan pasien saya sudah mengantri dan menunggu kehadiran saya," ucap dokter Yuri bicara apa adanya untuk menolak secara halus, dan berharap pengertian dari Bu Akira agar tidak salah paham kepadanya.
Ya, mendengar penjelasan dari dokter Yuri, yang akan segera menjalankan tugasnya, Akira tidak dapat memaksanya. Lalu mempersilahkan nya untuk pergi.
Entah mengapa baik Akira dan juga Yuri, begitu menyukai pertemuan mereka.
Setelah kepergian dokter Yuri, kini tinggallah mereka sekeluarga di sana, Akira meletakkan tas kertas yang ia bawa di atas meja, lalu membuka isinya, yang berisikan beberapa Tupperware yang di dalamnya terdapat beberapa menu makanan, untuk mereka semua sarapan.
__ADS_1
Sebab baik Akira maupun Juna, belum ada yang sarapan, mereka sengaja ingin sarapan bersama di rumah sakit, bersama Papa Gian dan juga Putra.
Iya, kali ini Putra mau makan tanpa harus di paksa oleh siapapun, sebab sarapan kali ini masakkan Ibunya sudah pasti enak menurut Putra, dan itu terbukti Putra menyantapnya dengan lahapnya, meskipun ia sedang sakit.