Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 176


__ADS_3

Juna menangis ketika ia menerima hukum dipisahkan dari anggota keluarga yang lain.


Juna terisak-isak, "Bu … jangan lama-lama ya hukumannya, Juna kesepian kalau harus jauh dari ibu dan yang lainnya," Juna memelas.


Sesungguhnya persaudaraan Akira tersayat ketika mendengar ucapan Juna seperti itu.


Namun ia tetap harus tegas, agar Juna tidak mengulangi kesalahannya lagi, agar ia juga bisa mengontrol emosinya dari kecil saat ia sedang kesal, agar tidak bertindak seenaknya dan merugikan orang lain.


….


Kesedihan


Kisah nyata yang harus tetap dihadapi.


Esok akan jadi pelajaran berharga di setiap kisahnya.


Susah senang sudah jadi bumbu kehidupan.


Enggan rasanya kesedihan itu datang.


Dengan berharap selalu adanya kebahagiaan datang.


Hari-hari pasti dilalui seiring waktu berjalan.


Ada kebahagiaan ataupun kesedihan di dalamnya.


Namun hari esok akan tetap datang.


Usai mengurus Juna, memberinya pengertian dan pelayanan, Akira memanfaatkan waktu dengan membuatkan makanan siang untuk seluruh anggota keluarganya.


Tidak lupa ia juga tetap memberi perhatian untuk Juna, Akira menyiapkan susu dan makanan siangnya.


Lalu meminta ARTnya untuk mengantarkan semua yang telah ia siapkan ke kamar Juna.


"Bi! Tolong antarkan makan siang ini ke kamar Juna, pasti dia makan, setelah itu suruh dia tidur siang, jika ia membangkang bilang ini perintah." Ucap Akira.


Bi Marni segera mengikuti perintah nyonyanya, ia segera mengambil nampan berisi menu makanan siang untuk Arjuna, lalu membawanya ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Arjuna Bi Marni melihat Arjuna sedang duduk dengan ekspresi wajah penuh harapan, karena ia berharap Ibunya yang menemuinya.


Tapi seketika itu wajahnya berubah lesu ia menundukkan kepalanya, penuh rasa kecewa.


Bi Marni menyapanya, "Hay boy …!" 


"Hay …!" Jawab Juna dengan lesunya.


Bi Marni meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja, lalu mengambil piring berisikan makanan lalu menyodorkan nya kepada Juna, "Ini mm akan siangmu!" 

__ADS_1


Tanpa melihatnya, Juna menggelengkan kepalanya, "Aku tidak lapar Bi!" ucapnya, karena ia tidak berselera untuk makan.


"Tapi, ini perintah dari Ibu, nanti ibu bisa marah dan lebih para lagi menghukummu, apa kamu mau dikirim ke panti asuhan?" kata-kata terakhir Bi Marni membuat Juna terhenyak karena terkejut mendengarnya.


Ia langsung menatap ke arah Bi Marni dengan tatapan tajam, karena ia tidak suka mendengar apa yang di ucapkan oleh Bi Marni, "Apa maksud bibi? Ibu tidak akan mungkin mengirimku ke panti asuhan!" karena Juna yakin Ibunya tidak akan pernah tega melakukan hal itu.


Bi Marni tersenyum seakan mengejek Juna, "Iya, Ibu mungkin tidak akan pernah tega melakukan hal itu, tapi tidak untuk bapak (Gian), dia sangat marah kepadamu bisa saja di membuangmu ke panti asuhan." Bi Marni sengaja berbicara seperti itu karena dia tau Gian tidak pernah suka kepada Juna, ia juga ingin Juna merasa takut dengan ancamannya.


Tapi Juna tidak khawatir dengan hal itu, karena Juna tau, Akira akan selalu membelanya dan tidak akan mengizinkan Gian membuangnya.


"Itu tidak akan pernah terjadi." ketus Juna menimpali Bi Marni.


Bi Marni merasa heran mengapa anak kecil itu tidak takut dengan ancamannya, kemudian bi Marni mencari cara agar Juna mau makan, karena kalau tidak dirinya juga akan mendapat teguran dari nyonyanya.


Lalu Bu Marni teringat, Juna hanya patah kepada setiap perintah Akira, dan itu memang kelemahannya.


"Juna, kamu tidak kasihan kepada ibumu, dia sudah capek-capek menyiapkan ini semua untuk mu, tapi dirimu sendiri tidak mau memakannya, ibumu bisa tambah sedih dengan kelakuanmu ini." Itu memang cara komunikasi antar Juna dan bi Marni, kadang mereka seperti teman, kadang juga seperti musuh, tapi Juna tau bi Marni sangat menyayanginya.


Dan mendengar apa yang diucapkan oleh Bi Marni, mata Juna berbinar ia sangat senang mengetahui ibunya yang menyiapkan itu semua untuknya, ia berpikir Akira masih memperhatikan dan memperdulikan nya, meskipun ibunya kecewa kepadanya.


"Ini sungguh ibu yang membuatnya?" tanya Juna meyakinkan dirinya.


"Iya!" tegas Bi Marni.


"Oke, Bi aku mau makan." Dan akhirnya strategi bi Marni berhasil.


Setelah semua selesai Bi Marni meninggalkan Juna, dan kareena Juna pun sudah bersiap untuk tidur, meskipun usianya masih balita tapi Akira sudah mengajarkan putra-putranya untuk mandiri.



Setelah Gian dan putra kembali, Akira segera mengarahkan mereka untuk makan, karena ia sudah menyiapkannya.


Setelah itu mereka beralih, ke ruang keluarga, keadaan putra pun sudah membaik, meskipun telah berselisih dengan Juna, bahkan Juna telah mencelakai nya, tapi yang namanya anak kecil, sebentar bermain bersama, sebentar berselisih, putra menanyakan keberadaan Juna kepada ibunya.


Akira memberitahunya bahwa Juna sedang di dalam kamarnya, "Juna, sedang ibu hukum, dia tidak boleh bermain dengan putra, karena Juna Naka," terang Akira.


Tapi putra berlari ke kamar di mana Juna berada, dan ternyata Juna sedang berada di balik pintu ia sedang mengintip ibu dan papa nya, serta putra.


Ketika itu Juna mendengar kedatangan putra dan Papa nya, lalu mengintipnya dari dalam kamar ingin rasanya ia menghampiri semuanya tapi ia takut karena sedang di hukum.


Namun, ternyata putra menemuinya, Juna sangat terkejut ketika melihat putra datang membuka pintu, awalnya mereka hanya saling menatap, kemudian putra menundukkan pandangannya karena ia merasa bersalah kepada kakak angkatnya.


Putra tau Juna sedang merasa bersedih karena telah dihukum oleh ibunya, putra mengulurkan tangannya lalu menuntut Juna untuk keluar dari kamar dan menemui kedua orang tuanya.


Sesampainya di hadapan kedua orang tuanya, mereka berdua masih bergandengan tangan.


Gian dan Akira saling memandang ketika melihat tingkah kedua anaknya, lalu beralih menatap ke arah dua anaknya.

__ADS_1


"Putra, Juna sedang ibu hukum jadi biarkan dia di kamarnya," Akira menegur putranya.


Tapi putra malah membela sodara angkatnya, Putra mengakui kesalahannya, bahwa sebenarnya dirinya juga bersalah karena dia telah merusak mainan milik Juna.


Tapi saat Juna meminjam mainan Mikinya, Putra tidak mengizinkan nya maka karena itu lah Juna marah, dan tidak sengaja mendorongnya, Outra mengakui kesalahannya di depan kedua orang tuanya, dan meminta maaf kepada Juna karena telah merusak mainannya, dan juga telah membuatnya marah.


Juna juga, meminta maaf kepada putra karena telah marah dan mencelakai Putra.


Juna juga meminta maaf kepada orang tuanya mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Gian dan Akira merasa terharu melihat dua putranya meskipun masih sangat kecil tapi mereka sudah mengerti kesadaran dari, mengakui kesalahan mereka masing-masing dan meminta maaf atas kesalahannya lalu berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Berkaca kepada dua putranya Gian juga meminta maaf kepada Juna , karena telah memarahinya dan membentaknya bahkan hampir memukulnya.


"Juna, tidak apa-apa kok, pah, Juna sayang Papa!" Juna menimpali permohonan maaf Gian, dan menyesali telah berlaku kasar kepadanya.


"Terima kasih, Juna! Kamu anak pintar dan baik," kemudian balas Gian.


"Pah, boleh Juna minta peluk!" ucap Juna ingin memeluk papa angkatnya.


Gian tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya lalu merentangkan kedua tangannya, sebagai isyarat memperbolehkan Juna memeluknya.


Dengan senang hati Juna segera menghambur pelukannya menyambar tubuh Gian.


Putra juga mengikuti Juna, ikut memeluk papa nya, Gian mendekap dua putranya dalam pelukannya dengan hangatnya.


Akira malah berkaca-kaca melihat momen itu, ia teringat putrinya, yang kini entah berada di mana, dan bagaimana kondisinya bersama kakaknya.


Selamat ini Akira dan Gian sudah berusaha mencarinya. Namun, keberadaan mereka sulit sekali di temukan sampai detik ini, seperti hilang di telan bumi.


Padahal Gian telah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari putrinya, dan telah menyewa tim khusus yang telah proposal dalam hal ini, tapi sampai detik ini usaha mereka belum ada hasil tetap nihil belum menemukan tanda-tanda keberadaan Putri Akira yang telah dibawa kabur oleh Shakira.


Ketika melihat Gian memeluk kedua putranya, air matanya menetes begitu saja.


Karena teringat akan putrinya, yang hilang, Akira berandai-andai seandainya putrinya berada di antara mereka saat ini, mungkin kebahagiaannya akan terasa sempurna.


Namun apa yang Akira rasakan setiap ia merasa bahagia karena kedua putranya ia selalu teringat putrinya, dan memikirkan nasibnya bagaimana.


Gian melihat Akira meneteskan air matanya ketika itu, tapi Akira berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


Gian mengurai pelukannya lalu berucap, "Eh! Ternyata ada yang cemburu ya," Gian memberi kode kepada putra-putranya agar mereka pun memeluk ibu mereka untuk menghibur hatinya.


Karena Gian tau Akira bersedia teringat putrinya, seperti selama ini Akira sering menangis jika teringat putri kandungnya yang hilang, jadi tanpa kata Gian sudah mengerti mengapa Akira bersedih.


Kedua putranya segera beralih menghambur pelukannya kepada ibunya.


"Ibu … kami juga sayang, Ibu …!" teriak keduanya.

__ADS_1


Akira tersenyum, menyembunyikan kesedihannya, agar kedua putranya tidak curiga dengan apa yang sedang ia pikirkan dan ia rasakan.


__ADS_2