Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 51


__ADS_3

'Sial… siapa sih yang datang di jam seperti ini?' gumam Shafira dalam hatinya.


……


Saat Gian membuka pintu, wajah Gian terlihat senang karena  merasa sedikit lega.


Ternyata Erwin yang datang bersama dokter dan suster, sesuai dengan yang Gian minta kepada Erwin.


"Aku sudah menunggumu sejak tadi." Ucap Gian kepada Erwin.


"Ya, sabar dong bro… nyari dokter  dan suster di jam segini itu tidak mudah." Sahut Erwin memberi tau kendala yang membuatnya lama untuk sampai di sana.


Kemudian Gian langsung membawa Erwin dan suster untuk menemui Shafira.


Akira dan Shafira begitu terkejut ketika melihat Erwin yang datang bersama dokter dan suster.


Jika Akira senang melihat kedatangan Erwin dan dokter serta suster, beda halnya dengan Shafira, ia terlihat pucat pasih tegang karena tidak mengira Gian akan mendatangkan dokter untuknya.


"Si- siapa mereka?" tanya Shafira panik.


Tapi ia sudah tau tentang Erwin yang tinggal di negeri itu, Shafira juga sudah bisa menebak jika yang bersama Erwin itu dokter dan suster, sebab mereka datang mengenakan seragam kesehatan tersebut.


"Ini Erwin kakak ku… dia datang bersama dokter yang akan memeriksa kondisimu, beserta suster yang akan merawatmu." Gian menjelaskan.


"Kenapa, untuk apa semua itu, aku kan sudah minum obat dan ada kalian yang merawat ku?" Protes Shafira ingin menolak semua itu.


Gian malah tersenyum seakan mencemooh ucapan Shafira.


"Justru karena itu aku meminta kakakku untuk membawakan tim medis ke sini, sebab aku dan istriku sangat mengkhawatirkanmu, agar mereka yang menangani mu karena mereka lebih paham tentang hal ini." Gian terus menimpali ucapan Shafira dengan Santai namun penuh sindiran.


"Silahkan dok periksa dia!" perintah Gian.


Kemudian Dokter mendekat dan mulai mengecek kondisi Shafira, mulai dari detak jantung, tekanan darah dan obat yang baru saja ia konsumsi.


Karena Shafira dalam mode panik sehingga detak jantung nya berpacu kencang tidak beraturan, sehingga Tekan darahnya pun naik.


Tapi saat dokter memeriksa obat yang Shafira minum, dokter menemukan kejanggalan.


"Ini bukan seperti obat yang anda maksudkan, ini hanya suplemen kesehatan, peningkat daya tahan tubuh atau lebih tepatnya vitamin." Terang dokter.


"Iya memang tubuh saya butuh itu." Sahut Shafira spontan.


"Iya memang anda juga membutuhkan ini, tapi sebaiknya anda banyak istirahat dan banyak minum serta mengonsumsi makanan yang bergizi." Saran dari dokter.

__ADS_1


"Dokter… semua orang juga butuh itu… cuma kepada saya sakit dokter, jantung saya berdebar kencang saya cemas berlebihan, saya tidak tenang, itu kelihatan saya!" Shafira benar-benar sudah dikuasai emosi dia terlihat tidak normal karena merasa tertekan.


"Iya, nona sekarang sebaiknya anda Istirahat dulu, nanti besok anda ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan yang lebih detail tentang kondisi anda, mungkin saya sarankan anda untuk konsultasi dengan psikolog." Saran dokter lagi.


Shafira makin emosi mendengar saran dokter karena dia tersinggung dengan ucapannya.


"Oo jadi anda pikir saya gila begitu, hah?" teriak Shafira tidak terima.


"Kak… kakak tenang dulu." Akira berusaha menenangkan kakaknya.


"Diam kamu… kamu puas kan lihat saya seperti ini?" tuduhan Shafira kepada Akira.


"Kak…!" Terhenti karena Shafira memotongnya.


"Diam…! Keluar kalian semua, tinggalkan aku..!" sergah Shafira.


Tapi semua hanya menatap Shafira dengan tatapan aneh.


"Keluar aku bilang…!" Shafira makin emosi.


Gian langsung menarik tangan Akira agar menjauh dari kakak nya yang makin tidak terkontrol emosi.


Gian takut Shafira akan melakukan hal diluar batas dan melukai Akira.


Mereka semua bergerak untuk keluar meninggalkan Shafira.


"Hiks… hiks… Gian sayang… tidak punya kah kamu hati nurani, tidak adakah sedikit saja rasa belas kasihanmu kepadaku, aku tersiksa dengan perasaanku ini Gian… hiks… hiks." ucap Shafira lirih di sela-sela tangisnya.


Dan berhasil menghentikan langkah semua orang.


Dokter berbisik, "Sepertinya kejiwaannya memang terganggu, hanya anda tuan Gian yang dapat membantunya, karena jika dibiarkan masalah kejiwaannya biasa makan parah."


Jelas Akira merasa tidak tega dengan kondisi kakaknya, ia menatap wajah Gian, dengan tatapan penuh harapan memohon kepada Gian agar mau menenangkan kakaknya.


Dan dengan terpaksa sebagai rasa kemanusiaan Gian akhirnya mengikuti saran dari dokter, ia kembali mendekati Shafira lalu menenangkannya.


"Oke baiklah aku akan menemanimu asal kamu mau mengikuti semua ucapan ku." kemudian ucap Gian saat posisinya sudah di dekat Shafira.


Shafira menghentikan tangisannya, dan tersenyum, ia langsung bangkit lalu menyambar tubuh Gian dengan pelukannya.


"Iya sayang… aku akan mengikuti apapun perkataanmu, kamu minta aku terjun dari gedung ini pun aku mau, akan aku lakukan sekarang juga asal kamu senang." Shafira langsung membuka pintu balkon.


Seakan ia benar-benar akan menjatuhkan dirinya dari gedung itu.

__ADS_1


Semua menjadi panik terutama Akira.


"Kakak… jangan lakukan itu, kak Gian aku mohon lakukan sesuatu." Akira yang histeris melihat tindakan kakaknya.


Dengan sigap Gian langsung menarik tangan Shafira yang seakan-akan ingin meloncat dari gedung itu.


Sesungguhnya Gian pun panik bukan main melihat aksi nekad Shafira.


Setelah berhasil mencegah tindakan Shafira, Gian langsung memeluknya.


"Shafira… jangan lakukan itu, aku tidak ingin dirimu mati sia-sia seperti itu, aku ingin melepaskan mu agar dirimu bahagia dengan pilihanmu, bukan maksudku ingin dirimu tidak." ucap Gian sambil menangis dan mendekap Shafira.


Sesungguhnya perasaan itu masih ada di hati Gian, hanya saja ia berusaha menepisnya untuk menghargai perasaan Akira dan karena rasa kecewa yang Gian rasakan terhadap Shafira, sehingga Gian bersikap seakan tidak perduli lagi kepada Shafira.


Tapi setelah melihat kondisi Shafira dengan gangguan jiwa dan hampir nekat bunuh diri untuk dirinya, hati Gian terenyuh dan tidak tega kepada  Shafira.


"Maaf kan aku Gian… maafkan atas segala salah ku…!" gumam Shafira lirih menangis dalam pelukan Gian.


Mereka berpelukan dan menangis bersama merasa saling bersalah.


Suasana menjadi haru, tapi entahlah bagai Akira ia ikut bersedih apa karena terbawa suasana atau kecewa melihat suaminya masih mencintai Kakaknya.


Namun Akira berusaha untuk kuat, akhirnya Akira tau jika Gian masih sangat mencintai Kakaknya, dan dia tau langkah apa yang harus ia ambil setelah itu.


Setelah itu, Shafira sudah lebih tenang Gian memintanya untuk istirahat dan tidur.


Shafira mengikuti setiap apa yang diperintahkan oleh Gian asal Gian tetap bersamanya.


Setelah itu Gian keluar dari kamar menemui Erwin dan juga Akira, sedangkan dokter dan suster sudah pergi dari sana ketika dirasa keadaan sudah tenang dan aman.


Tapi apa yang dilakukan Shafira setelah Gian meninggalkan nya. Shafira tersenyum bahagia.


Sambil berucap "Yes… yes…" dengan gerakan tangannya mengekspresikan sebuah kemenangan.


"Akhirnya apa yang aku lakukan berhasil mendapatkanmu kembali menjadi milikku." 


"He… he.. he…" Shafira tertawa kecil agar orang lain tidak bisa mendengarnya.


Tiba-tiba ekspresi wajah shafira berubah seketika, raut wajah antagonis dengan tatapan kosong namun penuh kebencian.


.....


Othor : Mau bikin ulah apalagi sih ini Shafira?

__ADS_1


readers penasaran? Othor juga sama...!


simak kisah selanjutnya ya di bab berikutnya...! ☺️☺️☺️


__ADS_2