Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 163


__ADS_3

Di rumah sakit, Akira segera menuju kamar rawat inap putranya, ia tidak memperdulikan tentang Gian maupun Riza, Akira hanya fokus kepada putranya.


"Assalamualaikum …!" Akira mengucapkan salam sebelum ia masuk.


Di susul oleh Lisa yang sedari tadi mengekor di belakang Akira, Lisa belum bisa meninggalkan Akira dalam situasi genting seperti itu, maka dari itu Lisa masih setia mendampinginya.


Karena yang Akira butuhkan saat ini memang suporter dari orang terdekatnya seperti Lisa, dan keluarganya.


"Waalaikumsalam …!" Jawab semua orang yang di dalam ruangan, yaitu para orang tua.


"Akira, Lisa! Kalian dari mana?" tanya Bu Yuli.


"Di mana Gian, bukannya Gian mencarimu, Akira?" Tanya mama Nirmala mengkhawatirkan putranya.


"Mungkin dia masih di belakang, mah!" Lisa yang menjawab.


Karena Akira sudah tidak perduli dengan apa pun di sekelilingnya, ia segera menghampiri putranya yang sedang memejamkan matanya.


Akira meraih tangan mungil putranya, ia mencium lembut tangan itu, bulir bening menganak sungguh di pipinya , meskipun ia sudah berusaha untuk terlihat tergar.


Namun perasaan seorang ibu tetap tidak tega melihat kondisi putranya yang masih balita dalam kondisi sakit, dan salah satu tangan mungilnya harus di tancapkan jarum infus, serta hidupnya harus di pasai selang oksigen.


Betapa hancurnya hati seorang ibu menyaksikan keadaan putranya dalam kondisi seperti itu.


"Nak, maaf kan bunda ya, bunda jahat, bunda egois …." ucap Akira sambil menangis pilu.


Dan ketika itu Gian masuk di susul oleh Riza. Semua orang tua merasa bingung mengapa Gian dan Riza datang secara bersamaan hanya selang beberapa menit saja.


Mereka semua hanya menyaksikan tangis pilu Akira. Riza berusaha mendekati Akira dengan maksud ingin menenangkannya.


Semetara Gian tetap menjaga jarak dengan Akira, sebab Gian tau diri, ia merasa Akira masih lupa ingatan ia tidak ingin Akira histeris jika Gian mendekatinya, mengingat Akira yang sekarang memang sangat membencinya.


Ketika Riza mendekati Akira Riza menyentuh pundak Akira dan merangkulnya, hal itu menyadarkan Akira yang sedang larut dalam kesedihan nya, ia berbalik menatap wajah Riza, sesungguhnya Akira berharap yang melakukan hal itu adalah Gian.


Namun Gian hanya berdiri di belakangnya bersama dengan yang lainnya. Lisa tau betul apa yang di rasakan oleh Akira, dan apa yang dia inginkankannya.


Lisa segera menghampiri Riza dan Akira, Lisa juga melepaskan rangkulan tangan Riza di pundak Akira.


"Akira, yang sabar ya, Akira tidak menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya, sebab Akira takut salah bicara dan menimbulkan kecurigaan bagi mereka semua tentang ingatannya.


Lisa memeluk Akira untuk memisah jarak antara Akira dan Riza, "Kamu jangan khawatir, putramu pasti akan baik-baik saja, kamu juga tidak sendiri ada kamu yang akan selalu menemanimu!" ucap Lisa sengaja menyindir Riza, agar Riza tidak sok berkuasa atas Akira seperti sebelumnya.


Akira kembali menganggukkan kepalanya, Akira tau Lisa berbuat seperti itu untuk menghargai Gian dan keluarganya serta orang tua Akira, yang telah di anggap bersalah atas hubungan Akira dan Riza sebelumnya.


Dan ucapan Lisa cukup membuat Riza tersentil, ia mundur dua langkah menjauh dari Akira, dan Lisa lah kini yang menguasai Akira.

__ADS_1


Di saat itu Lisa mendapat telepon dari suaminya, lalu kemudian Lisa pamit undur diri.


Riza merasa sedikit lega ketika Lisa pergi dari sana, ia kembali ingin mendekati Akira, kembali merangkul pundak Akira, dan hal itu membuat Akira merasa risih, sebab kali ini Akira bukan Shilla yang akan diam dan pasrah ketika Riza memperlakukan seperti apapun darinya.


Kali ini Akira sudah kembali menjadi Akira yang dulu, karena itu Akira melepaskan rangkulan tangan Riza dari pundaknya.


"Anjai, aku mohon berikan aku, ruang dan waktu untuk bersama dengan putraku," pinta Akira menolak Riza dengan cara halus.


Riza sungguh syok mendengar perkataan Akira, yang ingin dirinya pergi secara tidak langsung.


Ia merasa curiga jika ingatannya sudah kembali, "Sayang, kamu menolak ku!".


"Tidak, bukan begitu, aku hanya ingin fokus kepada putraku, aku tidak ingin merasa egois lagi, dan karena itu putra ku jadi kurang kasih sayang dan perhatian dariku." Akira memberi pengertian.


Tapi Riza tetap tidak mengerti dengan hal itu, ia tetap memaksa ingin berada di sisi Akira, ia sadar betul jika dirinya pergi dari sana, Gian dan keluarganya pasti akan menguasai Akira, dan menjadikan keadaan putra Akira sebagai senjata untuk Akira dan Gian tetep bersama.


Suasana menjadi sangat kaku, sebab Riza tidak sedikitpun meninggalkan Akira, sementara Akira sendiri merasa sangat riskan dengan kehadirannya di sana.


Gian pun punya penilaian sendiri, meskipun Akira tidak berkata apapun, tapi ia tahu ada perubahan terhadap sikap Akira yang sekarang, ia merasa Akira berubah bukan lagi Akira yang kemarin (Shilla)yang membencinya.


Di mata  Shilla Gian melihat sorot mata penuh kebencian terhadapnya, tapi kali ini sorot mata itu menggambarkan kedukaan, Gian menyadari itu.


Gian sudah curiga jika ingat Akira sudah kembali. Namun, Gian juga tetap diam, karena Gian tau Akira seperti itu pasti ia punya alasannya, sesungguhnya Gian ingin sekali tau tentang itu, tapi Gian butuh waktu tidak harus tergesa-gesa, apa lagi dalam situasi seperti ini, butuh waktu juga untuk mendekati Akira, karena Riza pun tidak memberinya kesempatan untuk Akira bebas darinya.


Malam menjelang, dua keluarga masih  berada di rumah sakit, kondisi putra Akira dan Gian pun sudah berangsur membaik, tapi masih tetap membutuhkan perawatan medis.


Akira sudah berjanji ia tidak akan lagi bersikap egois memikirkan dirinya sendiri dengan segala masalah yang sedang ia hadapi, ia akan mementingkan putranya, di atas segalanya.


Ibu dan ayahnya meminta Akira untuk pulang dan beristirahat. Sebab terlihat jelas kondisi Akira terlihat sangat lelah.


"Nak, pulanglah dulu untuk beristirahat beberapa waktu di rumah nanti baru kita bergantian dengan keluarga besan untuk menemani putramu di sini." Ucap kedua orang tua Akira membujuk putri mereka.


"Tidak, ayah ibu, kalian pulanglah dulu, biarkan aku tetep disini menemani putraku," tolak Akira.


Akira juga bicara kepada Gian dan keluarganya, jika ingin bergantian untuk menunggui putranya, sebaiknya mereka yang pulang duluan.


Orang tua Gian menyetujuinya, termasuk Gian Karen Gian yang akan mengantar orang tua Akira. Gian memang mengikuti apa yang Akira pinta.


Tapi bukan berarti dia ingin mengalah begitu saja, justru ia ingin mengikuti alur dari permainan yang sedang Akira jalankan, agar Riza tidak curiga.


Setelah kepergian Gian dan semua orang tua, Akira juga membujuk Riza untuk pulang, dengan lemah lembut, dan bersikap seperti Shilla yang manja, Akira merayu Riza untuk pulang.


"Sayang, pulanglah dulu, besok kamu boleh ke sini lagi, ini sudah malam beristirahatlah dulu," Akira, baru bisa berakting seperti itu setelah tidak ada orang lain, sebab Akira harus menghargai Gian dan juga orang tuanya.


Namun, seperti biasa Riza menolak untuk pergi, dengan alasan tidak tega untuk meninggalkan Akira dan juga Anjas disana.

__ADS_1


"Sayang, tenang saja jika terjadi sesuatu, kepada Anjas ada tim medis yang akan bertindak, tapi seperti yang kita lihat Anjas sedang beristirahat dengan lelap, jadi kamu tidak perlu khawatir," Akira masih memberi pengertian kepada Riza dengan sangat hati-hati.


"Tapi aku mengkhawatirkanmu!" tegas Riza penuh penekanan.


Akira mengerutkan keningnya, tapi Akira tau apa yang dimaksud oleh Riza. Sesungguhnya Riza tidak mengkhawatirkan tentang putranya, tapi yang ia khawatir hanyalah tentang Akira, Riza takut Akira akan kembali lagi membina rumah tangga bersama Gian, karena hal itulah yang membuat Riza hilang akal sehatnya.


Ditambah hari  ini sikap Shilla tidak seperti biasanya, Riza merasakan ada perubahan sikap Akira terhadapnya, ia lebih banyak diam karena merasa tidak enak hati kepada Gian dan keluarganya.


Sedangkan saat Akira menjadi Shilla, ia tidak pernah memperdulikan hal itu, Shilla akan tetap bersikap manja kepada Riza dan selalu berpihak kepadanya.


Akira juga tau apa yang dipikirkan oleh Riza, ia tetap berusaha membuat Riza mengerti dan pergi dari sana.


"Kamu tidak mempercayaiku? aku tau semua penderitaanmu, itu semua karena aku, dan aku berjanji kepadamu meskipun ingatanku kembali aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, biarlah takdir tuhan yang bekerja menyatukan Akira dengan siapa, aku sudah pasrah,  yang terpenting sekarang adalah putraku suatu-satunya." Akira bicara dengan nada mengiba.


Dan itu berhasil membuat hati Riza terenyuh. Akara memanfaatkan momen itu untuk mengorek informasi tentang anaknya yang katanya meninggal.


"Sayang, kamu tau? Sebenarnya aku sempat membayangkan jika kedua putra ku bisa selamat, mungkin aku sangat bahagia melihat mereka bisa hidup dan tumbuh secara bersamaan, mereka pasti sangat menggemaskan,"  Akira sengaja bicara seperti itu untuk memancing reaksi dari Riza.


"Anakmu memang kembar, tapi yang tiada itu perempuan, mereka beda jenis kelamin." celetuk Riza.


Akira langsung bereaksi antusias, "Benarkah, dia perempuan? dia pasti cantik seperti aku bukan?"  Akira masih berakting memancing respon Riza.


"Tidak, justru yang mirip dirimu itu Anjas, bukan putrimu, " tegas Riza menyala ucap Akira, karena anak itu mirip dengan Gian maka Riza membuangnya.


Akira berekspresi sendu, "Apa, kamu tidak memotretnya? aku ingin sekali melihatnya." tanya akira.


"Tidak." Jawab singkat Riza dan tidak ingin lagi membahas tentang putri Akira yang memang ia sembunyikan keberadaannya.


Tapi Akira bisa tau jika anak kembarnya memang berbeda jenis kelamin.


"Sayang, selama ini aku belum pernah melihat kuburan putriku, aku ingin berziarah ke kuburannya, apa boleh?" pinta Akira sambil memelas.


Mendengar keinginan Akira yang ingin melihat kuburan putrinya dan ingin berziarah, Riza berubah ekspresi menjadi sangat panik terlihat dari kegugupan nya.


"Bi-bisa, nanti setelah urusan mu di sini selesai,  kita akan menikah secara resmi dan kita akan kembali ke sana (tempat terpencil) nanti baru akan aku antar kamu melihat kuburan putrimu, dan kamu boleh berziarah setiap hari di sana." Ucap Riza sangat gugup, karena sesungguhnya tidak pernah ada kuburan putri Akira.


"Oke, kalau begitu aku pulang dulu ya, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal di sini sendiri," sambung Riza, ia ingin menghindari pembicaraan tentang putri Akira.


"Oke, pulanglah aku tidak apa-apa kok sendiri di sini." Tegas Akira.


Kemudian Riza segera pergi dari sana dengan gugupnya.


Dari sikap dan jawaban Riza Akira bisa menyimpulkan semua informasi yang di berikan Bi Atun tentang putrinya itu benar.


Putranya masih hidup, tapi dimana dia sekarang, meskipun Akira curiga anak yang Shafira adopsi itu adalah putrinya, tapi ia perlu bukti kuat, setidaknya Akira bisa mendengar pengakuan Langsung dari mulut Riza jika memang putrinya di adopsi oleh Shafira.

__ADS_1


__ADS_2