
Tapi Mila merasa panik, sebab apa yang ia cari di ponselnya tidak ia temukan.
"Astaga, kemana semua foto dan video itu, kenapa menghilang." Mila baru menyadari Bahwa semua bukti yang ia simpan di dalam ponselnya sudah tidak.
…
"Pasti seseorang telah menghapusnya, ya Tuhan … kenapa aku bisa kecolongan seperti ini, aah ... b o d o h! B o d o h sekali diriku!" Mila mencaci dirinya sendiri setelah menyadari ia kehilangan video dan foto-fotonya untuk ia jadikan senjata menjatuhkan Gian dan juga keluarganya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, habis sudah riwayatku, jika begini." Mila sudah putus asa.
Mila melihat wajah putranya yang sedang terlelap. Hatinya merasa sangat sedih melihatnya.
"Nak, mama begini hanya untuk mu memperjuangkan hakmu tapi mama telah salah langkah, bagaimana nasibmu nanti jika nanti mereka tetap menuntut mama dan menjebloskan mama kedalam penjara bagaimana nasibmu, Nak?" Mila bicara dengan nada suara sendu.
Mila merasa kebingungan, dari awal ia menantang penuh keberanian, sebab ia merasa punya senjata untuk menjatuhkan lawannya, atau mempunyai kartu mati lawannya.
Tapi saat ia menyadari tidak ada lagi yang bisa di jadikan senjata untuk menjatuhkan lawannya, kini mental Mila melempem seperti mental tempe, yang awalnya mental Mila ke kuat baju.
Tapi Mila kembali menyemangati dirinya, aku harus kuat, demi putraku aku yakin pasti ada jalan keluarnya, pikir Mila lalu ia melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen, Mila melihat pintu apartemennya terbuka Mila mengerutkan keningnya dan merasa curiga, dan bertanya dalam batinnya, Pasti ada orang yang masuk ke dalam apartemennya, tapi siapa orangnya.
Perlahan Mila masuk secara mengendap-endap, untuk memastikan tidak ada bahaya yang mengancam nyawanya, dan alangkah terkejutnya ia melihat ada seorang lelaki sedang duduk di sofa di ruang tamunya.
Mila membulatkan matanya dengan sorot mata penuh kebencian, ia juga mengepalkan tinjuan tangannya. Ia sangat membenci orang yang tengah duduk itu dengan santainya.
Mila segera menghampirinya ketika ia sudah menyadari siapa orang tersebut.
"Mau apa kamu datang kemari lagi? pergi kamu dari sini b i a d a b!" seru Mila penuh emosi.
Karena orang itu adalah Jimi, dia datang dan pergi sesuka hatinya, tanpa memikirkan perasaannya, kesulitan dan penderitaan Mila selama ini.
__ADS_1
"Tenang Mila, aku datang kemari bukan untuk menyakitimu." Ucap Jimi menangkan Mila.
"Mau apa mau melampiaskan nafsumu, pergi dari sini cari j a l a n g di luaran sana, aku tidak sudi lagi berhubungan denganmu!" Emosi Mila meluap-luap.
Tapi itu semua tidak membuat Jimi takut, ia malah semakin mendekat dan malah memeluk Mila.
Dan tindakan Jimi, membuat Mila ketakutan, ia berteriak histeris berusaha melepaskan diri, sementara dia sedang mengendong putranya, Tapi bukannya melepaskan Jimi malah semakin mendekap Mila.
Membuat Mila semakin berontak dan bayi mereka hampir terlempar dari gendongan Mila, untung Jimi segera menangkap bayinya sehingga tidak sampai terjatuh.
Mila terdiam dengan ekspresi wajah tercengang saat menyadari putranya terlepas dari gendongannya.
Bayi itu menangis kejer meskipun belum sempat terjadi apapun kepadanya, mungkin karena reaksi kaget yang di rasakan oleh bayi itu sehingga ia bisa menangis kejer.
Jimi segera memangku putranya, lalu menenangkan sang bayi agar berhenti menangis.
"Cup, cup, Sayang! jangan menangis, maaf kan Papi ya Nak!" ucap Jimi sambil menciumi putranya.
Dan kini ia sedang dalam masalah karena itu.
Usah Jimi menenangkan putranya berhasil karena sang bayi menghentikan tangisnya, ia malah anteng berada dalam panggung sang Papi.
Jimi mendekati Mila yang sedang menangis, Jimi dapat merasakan Mila sedang menanggung beban berat dalam hidupnya karena ulahnya.
Jimi merangkul pundak Mila, tapi Mila menepis tangan Jimi, seakan Mila tidak sudi lagi di sentuh oleh Jimi.
"Sayang, aku tau aku banyak salah kepadamu, tolong maafkan aku ya!" Jimi merayu Mila.
Tapi Mila tidak merespon perkataan Jimi, ia terus saja terisak. Lalu Jimi menjelaskan bahwa, pada siang itu ayahnya memanggilnya dan mengajaknya untuk berangkat keluar negeri.
Selama beberapa bulan Jimi di luar negeri bersama ayahnya menjalankan bisnis di sana.
__ADS_1
"Padahal selama di sana aku selalu mengingatmu, aku slalu mencoba untuk menghubungimu, tapi tidak pernah satu kali pun panggilan teleponku, kamu jawab, chat juga tidak pernah kamu balas." Jimi menjelaskan apa alasannya ia pergi begitu saja siang itu dan baru kembali saat ini.
"Maka saat aku kembali, aku langsung menuju kesini, dan aku yakin kamu sudah melahirkan putra kita." Sambung Jimi, ia menatap wajah putranya.
"Dia tampan sekali, mirip aku?" kemudian ucap Jimi narsis sambil tersenyum menggoda Mila.
Tapi Mila tetap diam, "Mila aku mengerti perasaanmu, aku mohon maafkan aku, aku juga minta kamu bersabar ya, sebentar lagi aku akan memperkenalkan mu kepada keluargaku." Jimi menggenggam tangan Mila dan berusaha meyakinkan Mila.
Dan seperti biasa Mila selalu luluh dengan kata-kata Jimi.
Lalu Mila menceritakan problemnya kepada Jimi dengan nada penuh emosi.
Jimi malah menyarankan Mila untuk segera bercerai dengan Gian karena dia akan menepati janjinya yang akan menikahinya, sudah pasti dia akan bertanggung jawab kepada putranya.
"Omong kosong! janjimu palsu, bukanya kamu sering berjanji kepada ku akan segera menikahi ku, sampai aku hamil dan melahirkan, malah orang lain yang menikahi ku." Mila sudah tidak termakan lagi oleh janji manis Jimi.
"Iya Sayang, aku janji dan kali ini aku akan menepati janjiku, tapi ku mohon bersabarlah dulu, aku masih perlu waktu untuk meyakinkan kedua orang tuaku."
"Masalah perkara dengan suami mu dan keluarganya, sudahlah jangan di perpanjang lagi." saran Jimi.
Namun Mila, tetap ingin melawan Gian dan keluarganya, Mila juga merasa sudah sangat sakit hati kepada Gian dan keluarganya maka dari itu Mila meminta bantuan Jimi untuk membantunya.
"Jika kamu benar-benar ingin serius dengan ku bantu aku, bagaimanapun caranya agar anak kita Mendapat bagian dari keluarga mereka." Tegas Mila, berusaha membujuk Jimi.
"Perlu kamu ketahui, status putra kita di keluarga Mahendra adalah tuan muda, pewaris terkuat di dalam status keluarga Mahendra, jika kita bisa menang melawan mereka sudah pasti kita bisa menguasai kekayaan Mahendra grup." Ucap Mila penuh ambisi, ekspresi wajahnya menyeringai.
"Baiklah, (ucap Jimi) aku akan membantumu," akhirnya Jimi mengikuti apa yang Mila mau.
Mila merasa punya dukung dan sedikit merasa lega.
"Sekarang, kamu jangan pikirkan apapun lagi, serahkan semuanya kepada ku, biar aku dan anak buahku yang akan mengurus semuanya." Jimi yang akan menghadapi Gian dan keluarganya.
__ADS_1
"Kamu, rawat saja putra kita dengan baik." Lanjut Jimi.