
Mata Gian langsung membelalak membulat sempurna, saking ia terkejutnya, dengan gerakan spontan Gian menjauhkan tubuh Mila dengan mendorongnya menggunakan kaki dan tangannya dengan cukup kuat, sehingga seketika itu juga Mila terjatuh dari tempat tidurnya.
BRAK … tubuh Mila menyentuh lantai dengan kuatnya ….
….
"Aaaaw …!" pekik Mila.
Bukannya hanya sakit yang Mila rasakan, tapi ia juga merasa sangat terkejut, tiba-tiba tubuhnya merasakan benturan hebat, sedang ia masih terlelap. perutnya terasa sangat sakti, ia sampai meringis kesakitan.
Sementara itu reaksi Gian hanya melongok dari atas tempat tidur, tidak ada niatan untuk menolongnya, apa lagi merasa panik.
"Dimana aku?" tanya gimana.
"Kenapa aku bisa berada di sini, kau mau menjebak ku, kau mau ambil keuntungan dari ku, dasar Beby sister sialan kau," lanjut Gian malah menuding Mila sambil mencaci makinya.
"Ssst aaaaw! Anda sendiri semalam yang ingin ikut denganku." Mila membela diri.
"Tidak mungkin, kau pasti yang merayuku, dan membawaku ke sini, ingat ya, kau bukan levelku, walaupun dalam keadaan tidak sadar aku tidak akan pernah menyentuhmu, cuih! dasar perempuan murahan!" umpat Gian, sambil mengenakan pakaiannya.
Sementara Mila masih meringkuk di lantai sambil kesakitan ia tidak mampu menjelaskan apapun, karena merasakan rasa sakit yang lumayan dahsyat.
Tapi Mila masih bisa menyimak setiap kata-kata yang keluar dari mulut Gian, cacian makian yang Gian lontarkan untuknya. menambah rasa perih di hatinya.
Setelah memakai semua pakaiannya Gian berniat untuk pergi dari sana, tapi Mila menghentikannya.
"Tunggu, Tuan!"
Seketika Gian menghentikan langkahnya, "O'y, aku melupakan sesuatu, kamu minta bayaran kan?" Gian segera merogoh dompetnya dan mengambil sepuluh lembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya lalu melemparkannya ke wajah Mila.
"Tuan, bukan ini yang aku maksud, bisakah kau menolongku, bawa aku ke klinik terdekat, ini sungguh sakit, Tuan!" Mila meminta bantuan sambil meringis kesakitan, dengan nada memohon.
"Jangan bersandiwara, aku tidak akan terpengaruh dengan sandiwara murahanmu." Ucap Gian, lalu ia meneruskan langkahnya dan pergi dari sana.
"Tuan, tolong aku, Tuan ini sakit sekali." Mila sampai berteriak memohon pertolongan.
Perutnya terasa kram, di bagian b o k o n g nya terasa panas, susah payah Mila berusaha bangkit ia meraih pakaiannya dan berniat keluar mencari pertolongan.
Sedang Gian, menghubungi sopirnya karena ia akan segera pulang, dan si sopir ternyata sudah siap ia setia menunggu dari semalam.
Sesampainya di depan gedung Gian segera masuk kedalam mobil, Gian meminta penjelasan kepada sopir, mengapa dirinya bisa berada di tempat itu.
Sopir menceritakan semua kejadian yang dia tahu. Bahwa memang dirinya sendiri yang ingin ikut bersama Mila.
"Berengsek kalian menjebakku.!" umpat Gian .
"Maaf, Tuan saya hanya mengikuti perintah anda." Pak sopir membela dirinya, inilah yang ditakuti oleh pak sopir, Gian mengamuk dan menyalakan si sopir.
…
Mila berjalan tertatih-tatih, melangkah ke luar dari kamar apartemennya, ia melihat keadaan di luar apartemennya suasananya sangat sepi tidak ada satupun yang bisa ia mintai tolong.
__ADS_1
Kemudian ia menghubungi security yang bertugas menjaga keamanan gedung apartemen tersebut, Mila meminta tolong kepadanya untuk membantunya turun kelantai dasar, karena Mila juga sudah memesan taksi online untuk mengantarkannya ke klinik terdekat.
Dan security segera datang menemui Mila yang tengah duduk di lantai bersandar di depan pintu kamar apartemennya.
Security itu melihat Mila terkulai lemas menahan rasa sakit, tubuhnya dingin dengan wajah pucat pasih.
"Astaga … Nona, apa yang terjadi kepadamu?" Security terkejut melihat kondisi Mila.
"Tolong aku, Pak, perutku sakit sekali." pinta Mila dengan suara lemah nyaris tak terdengar.
Security, segera membopong tubuh Mila dan membawa Mila ke lantai dasar, saat ia akan membawanya ke rumah sakit, Mila menolaknya.
"Jangan, Pak, aku sudah pesan taksi Online, dan di depan sudah menungguku, tolong bawa aku kesana saja! Biar aku berobat sendiri ke Kelin terdekat."
Pak security mengikuti permintaan Mila dan membawanya ke mobilnya taksi online yang sudah Mila pesan dan sudah menunggunya.
"Terima kasih, Pak." Ucap Mila lalu ia ingin memberikan uang kepadanya sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongnya.
Tapi pak security menolaknya, "Tidak usah, Non, ini sudah kewajiban saya menolong dan mengamankan keadaan, itu buat Nona berobat saja, semoga cepat sembuh." ucap pak security menolak.
"Oke, terima kasih ya, Pak!" ucap Mila, lalu segera meminta Pak sopir taksi online untuk segera membawanya ke klinik yang terdekat.
Sesampainya di klinik, sopir taksi online segera membantu Mila dan membawanya masuk ke dalam klinik, sopir taksi online juga membantu pendaftarannya.
Dokter segera menanganinya, dan Kebetulan Dokter yang menangani Mila kali ini masih sama dengan dokter yang waktu itu memeriksa dirinya.
"Oo, Anda Nona." Dokter masih mengenali Mila.
"Iya Dok!" jawab Mila.
"Ya, tuhan itu bahaya sekali …!"
Dokter segera memeriksa dan memberikan penanganan, "Ya ampun untung kandungan Anda termasuk kandungan yang kuat nona, jadi masih bisa diselamatkan." Dokter memberikan obat pereda rasa sakit dan sedikit memberikan pijatan (gerakan mengurut) untuk membetulkan posisi bayi ke posisi semula karena memang posisinya bergeser dari posisi seharusnya akibat terjatuhnya Mila.
Dan bukan hanya saat itu, Mila terjatuh, sebelumnya juga Mila sempat terjatuh karena tertunduk oleh Gian, bahkan Gian juga sempat mendorong tubuh Mila dan terjatuh pula saat di kediaman Papa Arga, ketika Mila terakhir berada di sana.
Dan Mila harus dirawat selama beberapa waktu untuk pemulihannya.
Sopir taksi online menghampiri Mila, karena Mila memang belum membayarnya. Ia menanyakan bagaimana kelanjutannya, "Bagaimana, Nona, apa mau saya antar pulang lagi?"
"Tidak usah, Pak, saya harus dirawat beberapa waktu dulu di sini." Ucap Mila lalu memberi uang kepadanya.
Selepas itu Mila hanya bisa berbaring di ranjangnya karena harus melakukan bed rest.
Tapi Mila juga memikirkan biaya perawatannya. "Dokter, apa saya bisa pulang saja dan beristirahat di rumah?" Kemudian tanya Mila, saat dokter menemuinya.
"Iya bisa tapi harus ada yang melayani Anda, tapi untuk satu atau dua hari ini , biarlah anda di sini dulu." Saran dokter.
"Baiklah!" Mila menyetujui saran dokter, karena memang tidak ada satupun yang bisa ia andalkan untuk merawatnya.
Tapi karena itu hatinya makin terasa perih, disaat terpuruk seperti ini, ia harus berjuang seorang diri, ia menyesali semua perbuatannya yang selalu menentang orang tuanya, kini ia merasakan sendiri dampak dari perbuatannya.
__ADS_1
Ia hamil tanpa Ayah, sahabat dan kekasihnya berselingkuh di belakang, di tambah niat baiknya malah mendapat cacian dan makian.
Ya, niatnya hanya menolong Gian, ia tidak bermaksud lebih dari pada itu, tapi Gian malah menuduhnya yang tidak-tidak.
Gian mencemoohnya, mencaci maki dirinya, dan karena Gian juga Mila mengalami kondisi seperti sekarang ini, kejamnya lagi Gian tidak punya hati nurani untuk menolongnya dan malah meninggalkannya begitu saja.
Mila menangis mengingat semuanya, ia sangat rapuh saat ini, tapi tidak satu orang pun ada yang menguatkannya.
"Hiks, hiks, aku tidak boleh rapuh, aku harus kuat demi bayi yang ada di dalam kandungan ku." Batin Mila, sambil menyeka air matanya.
Rasa sakit hati yang ia rasakan tidak membuatnya lemah, ia malah bertekad untuk membalas semua kesakitannya.
Lalu timbul, ide-ide jahat dalam benaknya, ia akan menuntut balas kepada Gian atas perbuatannya yang sangat melukai perasaannya dan membuat dirinya dan bayinya celaka.
Mila juga akan membuat Jimi dan sahabatnya menyesali perbuatan mereka.
"Lihat saja nanti, jangan anggap aku lemah, kalian bisa hancur di tanganku, terutama kau Giantha Mahendra." Senyum sinis muncul di bibir Mila. Wajah menyeringai penuh dendam.
…
Dua Minggu berlalu, kondisi Mila sudah membaik, dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa, tapi selama itu Mila telah memikirkan rencana untuk membalas dendam, ia telah memantapkan hati dan tekadnya untuk membuktikan ucap Gian tentangnya, yang mengatakan dia perempuan murahan yang hanya ingin mengambil keuntungan darinya dan telah menjebaknya.
Dengan demikian Mila bersiap untuk melancarkan aksinya, ia berjalan keluar apartemennya melangkah dengan yakin menuju kediaman Arga Mahendra untuk menemui Gian.
Sesampainya di kediaman Arga Mahendra, Mila menemui pak satpam yang berjaga di pintu gerbang rumah mewah itu.
Dan rupanya semua tuan rumah sudah pergi beraktivitas termasuk Gian.
Ya, Gian sudah kembali beraktifitas seperti biasanya, karena dorongan dari Mama Nirmala yang selalu memotivasinya untuk kembali bangkit dari keterpurukannya.
Bukan karena Gian sudah melupakan Akira, tapi karena Gian memang sengaja ingin mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya agar tidak selalu mengingat anak dan istrinya, yang ia anggap masih hidup, tapi pada kenyataannya memang sudah tidak ada.
Gian sengaja menyibukkan diri bekerja tanpa henti dan makin menggila, perhan beberapa kali ia tidak pulang ke rumah karena tidak menyadari waktu, sehingga sampai larut malam ia masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
Namun Mama Nirmala selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu memforsir tenaga, pikiran dan waktunya, karena mama Nirmala khawatir Gian malah akan jatuh sakit.
…
Karena apa yang di carinya di kediaman Arga Mahendra tidak Mila temukan, maka Mila pun berniat untuk mendatangi Gian di kantornya. Mila kembali memasuki mobil taksi online yang ia minta untuk menunggunya.
Mobil taksi online segera menuju kantor Gian sesuai dengan alamat yang Mila berikan.
Sampai di sana, Mila segera masuk menghadap resepsionis, bertanya dimana letak ruangan Gian atau mama Nirmala.
"Maaf, apa anda sudah ada janji?" tanya resepsionis.
"Oo iya saya lupa saya memang belum membuat janji dengan mereka, tapi saya yakin pasti mereka mau menemui saya,"
"Oke, siapa nama anda?" Resepsionis seperti sedang mengintrogasi Mila.
__ADS_1
Mila menjawab setiap pertanyaannya. Lalu resepsionis segera menghubungi sekertaris Nyonya Nirmala, dan memberi tahunya bahwa ada tamu bernama Kamila, yang mengaku telah mengenal ibu Nirmala dan ingin menemuinya karena ada hal penting.
Seketika segera menghubungi Nyonya Nirmala, dan menyampaikan pesan dari resepsionis, awalnya Nyonya Nirmala merasa heran siapa orang itu, tapi mendengar ada hal penting yang ingin di sampaikan nya membuat Nyonya Nirmala penasaran dan mempersilahkan orang itu untuk datang menemuinya di ruangannya.