
Rasa panik dan rasa penasaran menguasai diri Akira sehingga membuat Akira tergesa-gesa untuk pergi.
Sedangkan ibu dan ayahnya sedang menunggunya di ruang tengah, berharap Akira keluar dan bercerita tentang apa saja yang telah Akira alami selama menjadi istri Gian.
Apakah Akira di perlakukan dengan baik oleh Gian dan keluarganya. Itu lah pertanyaan yang ingin kedua orang tuanya tanyakan kepada Akira.
Sesungguhnya mereka ingin sekali berkunjung ke kediaman papa Arga, akan tetapi mereka terlalu malu untuk melakukannya, sebab ulah dari putri sulungnya, yang sudah mencoreng nama baik keluarga mereka.
Sambil tergesa Akira menghampiri ayah dan ibunya yang sedang duduk di sofa.
Akira pamit untuk pergi, dan meminta izin untuk membawa motornya.
"Akira!" Seru ibu menghentikan langkah Akira yang sudah berlalu.
"Iya Bu" sahut Akira kembali berbalik menghadap ke arah ibunya.
"Ibu kira kamu pulang ke rumah, karena kamu kangen sama Ayah dan ibu." ucap ibu lesu, sebab merasa kecewa Akira ternyata pulang hanya untuk pergi lagi.
Mendengar dan melihat ibunya, Akira merasa tidak tega, ia pun kembali menghampiri ibunya.
"Ibu jangan sedih gini doang Bu, aku juga kan jadi ikutan sedih…" ucap Akira lalu memeluk ibunya.
"Lalu kenapa kamu ingin pergi lagi?" tanya ibu meminta penjelasan.
Kemudian Akira Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bahwa Gian meminta dirinya untuk segera ke rumah sakit saat itu juga.
Tentu ayah dan ibu Akira kaget mendengar penjelasan Akira.
"Siapa yang sakit nak?" tanya Ayah penasaran.
"Aku kurang tau ayah, makanya aku mau kesana sekarang untuk memastikannya, yang jelas bukan menantu ibu dan ayah yang sakit." terang Akira.
"Lalu siapa nak?" kali ini ibu yang bertanya.
"Katanya Sisil Bu, keponakan Kak Gian, tapi anehnya tadi Sisil pas kita berpisah dia masih sehat kok Bu, makanya aku gak yakin kalau Sisil yang sakit." Akira kembali menerangkan agar ibu dan ayahnya mengerti dan tidak merasa khawatir.
"Kalau begitu biar kan ayah mengantarmu kesalahan ya nak." Pinta ayah ingin ikut memastikan siapa yang sakit sehingga putrinya di minta untuk segera ke sana saat itu juga, padahal ia baru saja pulang ke rumahnya.
"Tidak-tidak… jangan ayah, biar nanti aku langsung kabarin ayah dan ibu jika aku sudah sampai di sana." Akira mencegah ayahnya untuk ikut dengannya, karena Akira takut Gian hanya sedang mengerjainya.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu." Ayah tak ingin memaksa, ia tidak ingin merasa Akira tidak nyaman dengan kehadirannya nanti di sana.
" Oke, baiklah aku pergi ya…!" Pamit Akira Sekai lagi, dan segera bergegas pergi, setelah mendapat jawaban iya dari ayah dan ibunya.
…
Selang beberapa waktu Akira, sampai di rumah sakit, tapi Akira tidak tau harus berjalan ke arah mana untuk menemui Gian dan Sisil.
Untuk memudahkan nya, Akira memilih untuk menghubungi babysitter Sisil, menanyakan kabar tentang kebenaran kondisi Sisil saat ini.
Baby sitter pun mengiyakan semua pertanyaan Akira, sesuai dengan apa yang terjadi.
Kemudian Akira juga bertanya di ruangan mana Sisil di rawat.
Baby sitter mengatakan, bahwa Sisil di rawat di ruang ICU.
"Apa?" Pekik Akira terkejut mendengar hal itu,
"Yang bener mbak? Berarti kondisi Sisil parah dong sampai harus di
Rawat di ICU." ucap Akira
"Jadi tidak bercanda." gumam Akira.
Kemudian Akira segera melangkah ingin segera menemui Sisil.
Tapi karena di blm paham linkungan di rumah sakit tersebut, Akira terlihat kebingungan, ia tidak tahu letak ruang ICU di sebelah mana.
Kemudian ia bertanya kepada salah satu sister yang sedang berjaga. Lalu suster menerangkan dan mengarahkan Akira keruang ICU tersebut.
Setelah sesuai mendengarkan Akira segera bergegas.
Setibanya di depan ruang ICU, Akira melihat Gian sedang berdiri kebingungan, baby sitter duduk frustasi, mereka tengah menunggu kabar baik tentang kondisi Sisil.
Akira segera menghampiri baby sitter, "Mbak…!" seru Akira mengejutkan mereka karena tidak menyadari kehadirannya.
"Nona Akira…!" sahut baby sitter, seakan merasa lega akan kehadirannya.
Gian sendiri langsung melihat ke arah Akira, menatapnya dengan seksama.
__ADS_1
Ia malah memperhatikan penampilan Akira yang tomboy abis, memakai celana cargo, kaos t-shirt dibalut sweater dan sepatu anak sekolah.
Entah mengapa melihat itu, Gian malah memiliki brasa kagum di hatinya, penampilan Akira yang asal dan jauh dari penampilan tipe wanita yang Gian inginkan tapi mampu mengalihkan fokusnya Gian.
'Gadis ini, kenapa selalu di terlihat beda di mata ku, padahal aku tidak menyukainya tapi kenapa aku malah merasa candu menatapnya' gumam Gian dalam hatinya.
Akira hanya berdiri memaku ia tidak berminat untuk menghadapi Gian, karena pikirannya percuma berhadapan dengan Gian hanya membuat nya selalu emosi, jadi Akira memilih untuk diam dulu, menunggu reaksi dari Gian kepadanya.
Kemudian babysitter lah yang menghampiri Gian, untuk menanyakan tindakan apa yang harus Akira lakukan, karena apa pun harus. Seizin dirinya karena ia lah yang bertanggung jawab atas Sisil saat itu.
Akira pun tidak berani mengambil tindakan apapun sebab ia sadar di rumah sakit apa lagi di ruang ICU ada ketentuannya bagi pengunjung. Akira juga tidak ingin gegabah dalam bertindak ia takut di salahkan jika terjadi sesuatu.
"Tuan, nona Akira sudah datang!" babysitter basa basa-basi ketika menghampiri Gian.
"Saya sudah tau, saya juga melihatnya." Ketus Gian.
Babysitter hanya tertunduk mendengar jawaban dari Gian.
Karena Gian segera melangkah melewati babysitter dan Akira tanpa berkata lagi, lalu meminta izin ke petugas agar mengizinkan Akira untuk masuk menemui Sisil sesuai saran dari dokter yang menangani Sisil.
Karena itu memang satu tindakan yang harus dilakukan untuk upaya membantu kesembuhan pasien, petugas pun mengizinkan Akira untuk masuk, tapi dengan beberapa ketentuan yang harus Akira patuhi.
Gian menyanggupi persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh Petugas jika berada di dalam ruangan, karena Gian yakin Akira pasti mengerti dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sana.
Setelah mendapat izin dengan beberapa syarat, Gian segera menghampiri Akira dan memberitahukannya bahwa Akira boleh masuk, dengan syarat yang sudah ditentukan.
Akira menyimaknya ia pun mengerti dengan semua penjelasan dari Gian.
Lalu Akira segera masuk kedalam ruangan dengan menggunakan pakaian khusus yang sudah disediakan di sana, karena itu salah satu ketentuan jika ingin masuk ruangan itu.
Akira melihat Sisil tergeletak lemah tidak berdaya, dengan jarum dan selang infus yang menancap di tangan nya.
Selamat oksigen yang menempel di hidungnya sebagai alat bantu pernafasan, sebab kondisi Sisil makin melemah.
Akira sungguh tidak tega melihatnya, ia sampai menitipkan air mata tanpa ia sadari.
"Sisil sayang…" ucap Akira lemah lembut sambil menggenggam tangan Sisil lalu mencium keningnya.
"Anteu datang nak…!"
__ADS_1