
Seiring waktu berlalu, Akira seakan sudah terbiasa dengan luka hatinya.
Ia hanya ingin mencoba membuka hati, mencoba berdamai dengan keadaan, yang menyiksa batinnya.
Dengan memberi kesempatan kepada Gian, berumah tangga sebagaimana mestinya, sebab kadang Akira berpikir akan sampai kapan ia bertahan, dengan luka hati yang teramat dalam yang hanya akan membuat luka itu semakin parah.
Karena itu Akira berusaha menerima Gian sebagai suaminya dan memberinya satu kesempatan.
…
Saat ini, mereka sudah berada di bandara dan akan segera terbang ke jepang.
Mama Nirmala dan papa Arga mengantarkan mereka ke bandara, mereka berharap perjalanan Akira dan Gian membuahkan hasil sesuai harapan mereka.
Yaitu hubungan antara Gian dan Akira bisa lebih intim lagi. bisa memberikan kabar baik menambah cucu untuk mereka.
Saat perpisahan mereka bersama mama Nirmala dan papa Arga, mereka pamit kepada keduanya.
"Hati-hati ya kalian disana, jaga kesehatan dan keselamatan kalian." Amanat Mama Nirmala dan papa Arga.
"Iya…!" jawab semuanya serentak, tidak terkecuali Sisil.
"Kakek, nenek Sisil berangkat ya…!" Pamit Sisil lalu memeluk kakek dan neneknya.
Karena Akira lebih dulu berpamitan, Akira menuntun Sisil berjalan lebih dulu.
Kini tinggal Gian yang terakhir berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Gian…! mama dan papa berharap kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk memenangkan hati Akira, kamu harus lebih peka, untuk meluluhkan hati Akira." Nasehat kedua orang tua Gian.
"Iya mah, pah, aku minta doanya semoga aku bisa meyakinkan hatinya." Sahut Gian meminta doa restu dari kedua orang tuanya.
"Iya nak, udah sana berangkat." Mama Nirmala menyuruh Gian untuk segera bergegas, karena Akira Sisil dan babysitternya sudah menunggu Gian.
Gian pun langsung bergegas mengejar rombongannya.
Sampai di pesawat, Sisil duduk bersama babysitternya.
Akira sudah pasti duduk bersebelahan dengan Gian.
Gian terlihat begitu aneh dari biasanya, pasalnya Gian terlihat selalu mengulum senyum di bibirnya.
Beda dengan Gian biasanya, yang selalu bermuka masam dan datar.
Sampai Sisil dan babysitternya pun membahas perubahan Gian sambil berbisik.
__ADS_1
"Bi, itu kenapa om, kok senyum-senyum terus?"
"Mungkin lagi seneng non, ya aneh sih memang, tapi itu lebih baik, daripada mukanya kaya kanebo kering kaku, kucel." Sahut babysitter.
Kemudian mereka terkekeh berdua, "He… he… he…!"
Akira mengerutkan keningnya, melihat gelagat orang-orang yang bersamanya begitu aneh ketika itu.
'Mungkin saking senangnya kali ya mereka mau liburan jadi pada aneh begitu.' Akira bicara dalam hati, karena sesungguhnya ia tidak begitu antusias dengan perjalanan liburnya.
Akira tetap bermuka datar, meskipun Gian selalu tersenyum kepadanya.
Saat keberangkatan mereka, Gian pun menggenggam tangan Akira.
Akira sedikit risih dengan perlakuan Gian, 'Giliran kemaren bersikeras tidak mau berangkat, sekarang malah senyum-senyum seperti itu.' Akira ngedumel sendiri dalam hatinya.
Sikap Gian begitu baik dan manis selama penerbangan itu, Gian begitu pengertian dan perhatian.
Tapi semakin manis sikap Gian semakin ilfil juga Akira melihatnya, entah mengapa, harusnya Akira senang diperlakukan seperti itu, ini ia malah semakin ingin menghindarinya tapi karena di dalam pesawat jadi Akira tidak bisa mencari alasan untuk menghindar.
Kemudian ia lebih memilih untuk memejamkan matanya, pura-pura tertidur.
Akira sendiri tidak habis pikir dengan dirinya sendiri, mengapa saat Gian bersikap manis seperti itu, ia selalu teringat Riza, dan saat Riza seperti itu Akira selalu senang dan bahagia.
Tapi entah mengapa, ketika Gian yang bersikap seperti itu, Akira malah merasa risih dan ilfil.
Gian tau itu, ia menyadari Akira belum bisa percaya kepadanya, Akira tidak merasa senang dan bahagia di sampingnya.
Tapi selama Akira masih memberinya kesempatan, Gian tidak akan menyerah begitu saja.
Ia terus berusaha untuk meyakinkan Akira, salah satunya dengan bersikap baik, sebaik mungkin, dan mencoba terbuka kepada Akira, Gian menceritakan kegiatan-kegiatannya selama ini apa saja.
Gian juga meminta pendapat Akira dalam kendala yang ia temui.
Ya, Akira menanggapinya dengan baik, sehingga rasa canggung di antara mereka berangsur berkurang dan menghilang.
…
Setelah menempuh perjalanan, Tujuh jam tiga puluh menit adalah rata-rata waktu penerbangan dari Soekarno-Hatta Jakarta ke Tokyo Narita.
Kini mereka sudah berada di negara Jepang.
Dan di negara itulah papi kandung Sisil tinggal dan bekerja, ia sudah diberi tau akan kedatangan Sisil, Gian dan Akira ke negara Jepang.
Sehingga ia sudah menyiapkan semua keperluan yang akan dibutuhkan oleh mereka selama di sana.
__ADS_1
Saat di Bandar Udara Internasional Haneda, mereka di sambut oleh orang-orang suruhan Erwin papi Sisil, yang ditugaskan untuk menjemput mereka.
Sedangkan Erwin sendiri telah menunggu mereka di mansion miliknya.
Sampainya di mansion mewah, dimana tempat Erwin tinggal.
Sopir segera membukakan pintu mobil untuk mereka segera turun dari mobil.
Mereka langsung diarahkan untuk masuk ke dalam mansion.
Para pelayan langsung menyambut kedatangan mereka, kebetulan Erwin mempekerjakan semua pelayanannya yang berasal dari Indonesia, sehingga bahasa mereka sama.
"Selamat datang tuan dan nyonya." sambutan ramah dari para pelayan sambil membungkuk hormat.
Rombongan Gian kembali membungkukkan badan membalas dengan senyuman dan dengan hormat pula.
"Silahkan masuk, tuan Erwin Mahendra sudah menunggu kedatangan kalian." Lalu pelayanan mengantarkan mereka untuk menemui Erwin yang sedang menunggu di meja makan.
Ketika melihat kedatangan mereka, Erwin yang sedang duduk sambil memainkan handphonenya, langsung bangkit dari tempat duduknya.
Lalu menghampiri mereka sambil merentangkan kedua tangannya, memeluk Gian adiknya yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Hay… bro! Apa kabar mu?" ucap nya senang.
"Aku baik!" Jawab Gian datar, sikap Gian memang tidak seramah Erwin.
"Ya, syukurlah…!"
Kemudian Erwin melihat gadis kecil yang tidak bukan dan tidak lama adalah putri kandungnya.
"Hay Sisil…!" seru Erwin kepada Sisil tapi Sisil terlihat takut melihat Erwin, karena mereka jarang sekali bertemu.
Akira membujuk, Sisil agar tidak takut kepada papanya sendiri.
Setelah dibujuk oleh Akira barulah Sisil mau mendekat kepada Erwin, dengan senang hati Erwin langsung memeluk mencium Sisil lalu menggendongnya.
"Maafkan papi ya nak." gumam Erwin lirih, ada kesedihan dalam hatinya, bertahun-tahun ia meningkatkan putri kecilnya.
Karena egonya yang memutuskan untuk tinggal di luar negeri, dengan satu alasan ingin melupakan semua kenangan nya bersama sang istri yang telah meninggal dunia saat setelah melahirkan Sisil.
Karena cintanya kepada sang istri, maka saat ditinggalkan oleh nya hidup Erwin begitu terpuruk, kehidupannya seakan ikut mati.
Dengan begitu Erwin memutuskan ingin melupakan semuanya, ia ingin bangkit dari ketrpurkannya, lalu ia berusaha untuk melupakan semuanya, dengan memutuskan mengembalikan bisnis keluarga di negri jepang.
Semenjak ia pergi, ia tidak pernah ingin kembali, karena ia tidak ingin teringat masa-masa dirinya bersama sang istri yang sangat melukai hatinya jika ia teringat masa-masa indah itu.
__ADS_1
Sampai detik ini Erwin belum bisa menerima kenyataan atas kepergian sang istri, karena itu ia juga memerlukan penanganan dokter kejiwaan agar emosinya bisa selalu terkontrol.