Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 79


__ADS_3

Selepas kepergian Gian dengan raut wajah yang seakan kesal karena Akira-istrinya, terlalu fokus untuk mengurusi Kakaknya, sedangkan dirinya tidak mendapatkan perhatian dari sang istri. Gian merasakan cemburu sosial.


Jadi bersikap seperti itu, Akira dapat merasakannya jika Gian memang bersikap dingin pagi ini, Akira juga sadar betul apa penyebabnya.


Akira mematung memandangi kepergian suaminya, yang kini sudah tidak nampak lagi di pandang matanya.


Shafira bisa mengerti apa yang dirasakan atau yang dipikirkan oleh adiknya, saat ini Akira sedang butuh support dari orang-orang terdekatnya.


Shafira menyentuh tangan Akira yang berdiri di dekatnya dengan ekspresi wajah datar.


Sentuhan tangan Shafira membuat Akira terhenyak, "Eeh, iya kak ada apa, apa kakak ingin sesuatu?" Kemudian tanynya kepada sang kakak.


Shafira menggelengkan kepalanya, "Tidak jawabnya pelan." 


Akira mengangguk kepalanya sebagai responnya.


Tapi shafira kembali berkata, "Akira …." saat Akira hendak berbalik meninggalkannya.


"Iya, kak." Sahut Akira heran, sebab sekian lama akhirnya ia mau bersuara.


"Jangan pernah meniruku, pergilah kejar suamimu, sepertinya dia merasa kecewa karena kamu mengabaikannya." Shafira memberikan saran.


Akira mengerutkan keningnya, rasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh kakaknya, tumben sekali dia peduli kepadanya.


"Cukup aku, Akira yang pernah melakukan kesalahan, jangan terjadi kepadamu, temui suamimu buat hatinya senang, perbaiki kesalahan yang kamu buat, jangan menyesal setelah dia pergi." Baru kali ini Shafira berbicara panjang lebar seakan mendukung hubungan Akira dan juga Gian.


Akira tersenyum mendengar setiap penuturan kakaknya. "Oke kak, aku mengerti terima kasih ya kak atas sarannya." 


Akira pamit untuk bersiap, ia akan ikut ayahnya sekalian berangkat.


Tapi saat itu juga ada beberapa warga yang melintas, di depan teras rumah.


Mereka melihat Shafira, dia sana dan langsung mengeluarkan gunjingan mereka.


....


"Eeh, eeh itu bukannya Dokter Shafira pelakor itu ya?" 


"Eeh, iya bener itu pelakur itu."


"Iih kok kondisinya sekarang parah banget ya, kasihan."


"Tidak usah kasihan begitu, dia sedang kena azab itu." 


.....


Sekelompok warga tersebut menggunjinkan Shafira saling menimpali, tepat di depan Shafira, jelas Shafira mendengarnya bahkan Akira juga bisa mendengarnya.


Akira kembali dan menghampiri sekelompok warga tersebut.


"Permisi Ibu-Ibu, ada apa ya, bisik-bisik di situ, Apa ada yang mengganggu kalian?" Akira menegur mereka.


"Oo tidak hanya saja, kami perihatin melihat pelakor kena azab, seperti kakakmu, amit-amit cabang bayi." Salah satu dari mereka terang-terangan mengungkapkan pikiran jahatnya.


Dan itu memancing reaksi yang samada dari warga lainnya.


"Iya ih, dia bisa mencemar lingkungan kita yang Adem ayem, dengan  image buruknya dan dengan penyakit.


"Eeh, jangan-jangan penyakit itu menular." 


"Iya, bener, bener …." 


"Kita harus lapor ketua RT agar tidak mengizinkannya untuk tinggal di lingkungan kita.


Akira begitu gram mendengar ucapan-ucapan mereka.


"Maaf Ibu-ibu yang terhormat, jika saya ingin mencari kejelekan dan kesalahan kalian dan berniat mengumbarnya, itu sangat mudah, karena saya yakin kalian bukan titisan malaikat yang hidup tanpa dosa."


"Perbaiki saja hidup kalian, jangan menggunjing orang lain, kalian juga punya keluarga dan kehidupan tidak ada yang tau kedepannya, ucapan kalian bisa saja berbalik pada diri kalian sendiri."


"Kalian tadi bilang azab, kalian juga bisa kena azab kapanpun, karena Mulu kalian terlalu kotor." Akira bicara santai namun penuh penekanan.


Semua warga bubur setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Akira.

__ADS_1


Bukan sekali, dua kali mereka bersikap seperti itu kepada keluarga pak Ayus, mereka kerap kali bersikap demikian di hadapan Bu Yuli, tapi Bu Yuli tidak pernah menanggapi dan selalu diam.


Mungkin karena itu mereka jadi semakin berani berbicara.


Sahfira tersenyum melihat adiknya yang membelanya.


Akira sedikit heran melihat ekspresi wajah kakaknya, apa yang di khawatir berbanding terbalik dengan kenyataan.


Karena Akira pikir, Shafira akan merasa lebih terpuruk tersinggung dengan ucapan para warga, tapi pada kenyataannya ia malah tersenyum.


"Kakak … baik-baik aja kan kak?" Akira memastikan bahwa kakaknya tidak apa-apa.


Shafira masih tersenyum dan mengangguk, "Aku, tidak apa-apa, terimakasih Akira" 


Akira sungguh terharu mendengar kata terakhir dari kakaknya.


"Terimakasih … (Akira mengulang kata itu), untuk apa berterima kasih?" Akira memastikan apa alasan untuk kata itu.


"Terimakasih untuk semuanya." Tegas Shafira.


Tapi Akira belum bisa memahami sepenuhnya maksud dari ucapan Kakaknya.


Wajah Akira terlihat bingung, Shafira mengerti dengan itu dan menjelaskannya.


Mendengar ucapan Akira yang mengatakan semua orang tidak ada yang luput dari dosa, pikiran Shafira jadi terbuka, banyak orang yang melakukan kesalahan-kesalahan seperti yang ia lakukan bahkan ada yang lebih parah darinya.


Tapi mereka bisa melewati masa terpuruknya, mereka bangkit seiring waktu, memperbaiki kesalahan dengan penyesalan dan bertekad hidup lebih baik lagi.


Shafira merasa punya semangat untuk menghadapi semuanya, dengan ia tetap bersembunyi, tidak membersihkan namanya, atau tidak memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ia perbuat.


"Akira … kamu selalu baik kepadaku, padahal aku sudah sangat jahat kepadamu, maafkan aku atas segala perbuatanku kepadamu." Shafira baru menyadarinya.


Akira tersenyum haru mendengar ucapan Kakak, pada akhirnya mata hatinya terbuka lebar, semoga ia bisa bertaubat memperbaiki hidupnya.


"Boleh aku minta pelukanmu … " Shafira berharap pelukan dari adiknya sebagai bentuk support darinya.


"Tentu saja boleh …!" Akira langsung menghambur pelukannya.


"Ada apa ini, sepertinya Ibu telah melewatkan sesuatu." Ibu Yulia curiga telah terjadi sesuatu kepada putri-putrinya.


Akira dan Shafira mengurai pelukan mereka yang diliputi rasa haru, keduanya terlihat menitikkan air mata.


"Iya, Ibu … aku ingin sembuh, apa bisa aku sembuh dan memperbaiki semua kesalahanku?" Shafira memastikan jawaban dari ibunya.


"Ya, tentu saja nak!" sahut Ibu Yuli meyakinkan putri sulungnya.


Shafira juga memohon ampun di hadapan Ibunya dengan bersimpuh di kakinya.


Karena ia sadar betul semua kelakuannya sangat merugikan bagi Ibunya - kedua  orang tuanya.


Shafira tidak lupa melakukan hal yang sama kepada ayahnya dan juga suaminya, karena selama ini ia hanya bisa merepotkan semua orang.


Shafira telah bertaubat, kini ia miliki semangat baru, ingin sembuh dan bangkit dari keterpurukannya, ia ingin memperbaiki segalanya.


Ia juga ingin meminta maaf kepada Vera, karena belum sempat melakukan hal tersebut, sebab rasa malu, dan rasa bersalah yang mendalam sehingga membuatnya tidak berani untuk melakukan hal itu.


Semua anggota keluarganya sungguh senang mendengar pernyataan Shafira, mereka seperti punya harapan baru untuk kesembuhan Shafira.


Suasana haru, meliputi mereka semua karena perubahan Shafira atau keinginannya, semangatnya. Membuat perasaan mereka bahagia, sekaligus sedih akhirnya Shafira ingin bertaubat, dan memperbaiki semuanya, setelah sekian lama menutup diri dan bersembunyi.


Lepas dari itu semua, Shafira kembali mengingatkan adiknya untuk, lebih memperhatikan suaminya.


"Akira ayo, sana temui suamimu. buat hatinya berbunga-bunga dengan kehadiranmu." 


"Oo … iya kak, Ayah boleh ikut denganmu sekalian jalan."


"Iya, Ayok boleh …."  sahut ayah.


Akira bergeser bersiap lalu pergi bersama ayahnya, tidak lupa adab sebelum pergi yaitu berpamitan dulu kepada orang rumah.


Di tengah jalan Akira minta berhenti di sebuah cafe, di tempat Lisa bekerja, Akira membeli beberapa makanan serta minumannya, untuk suaminya tentunya makanan kesukaannya.


Akira tidak sempat untuk masak atau menyiapkan makan untuk dibawa ke tempat kerja suaminya, maka ia memilih untuk membelinya.

__ADS_1


Lisa, langsung menghampiri Akira ketika melihatnya.


Dan mengajaknya untuk minum kopi bersamanya.


"Hey, apa kabarmu, jangan bilang kamu sedang galau lagi." Tanpa basa-basi Lisa langsung menegur sahabatnya.


"Menurutmu bagaimana?" Akira malah sengaja sok misterius.


Lisa melipat tangan di dadanya, lalu menaruh telunjuknya di dagunya, seakan sedang berpikir untuk menebak suasana hati sahabatnya,


Sebab seperti biasa jika Akira menemuinya pasti ia sedang ada masalah, tapi kali ini, dilihat dari air mukanya Akira tidak terlihat sendu, justru terlihat sebaliknya.


"Sepertinya kamu sedang bahagia." Celetuk Lisa mencoba menebak, tapi dengan ekspresi wajah bingung karena ragu dengan tebakannya.


Dan itu membuat Akira merasa lucu melihatnya, dan mengundang tawa renyah Akira, "Ha … ha … ha … biasa aja dong tuh mukanya, jadi tambah jelek tau." Seloroh Akira.


"Dih … dia malah seneng" Celetuk Lisa lagi dengan nada kesal.


"Berarti bener dong kamu lagi bahagia …" Lisa menegaskan suasana hati Akira.


"Alhamdulillah …" Sahut Akira.


"Ya, syukurlah kalau begitu aku jadi lega dan ikut bahagia." Lisa menimpali.


"Tapi maaf ya, aku buru-buru jadi gak bisa cerita dulu."


"Iih, curangnya dirimu … giliran lagi galau nangis-nangis cerita sama aku, giliran lagi seneng gak mau cerita kabar bahagianya." Protes Lisa.


"Bukan begitu, aku lagi buru-buru ayahku nunggu di mobil, aku janji nanti aku akan menemanimu dan cerita semuanya." 


"Oke, aku tunggu kabar darimu." 


"Aku permisi pamit dulu …!" Lalu Akira segera pergi dari sana.


" Ya, hati-hati say …." Lisa mempersilahkan.


….


Ayah Ayus mengantar putri bungsunya sampai depan gedung kantor Gian, karena Ayah Ayus juga tergesa Sebab ia juga hampir telat masuk kerja.


Jadi ia hanya mengantar sampai depan gerbang masuk saja.


"Nak, ayah antar sampai sini saja ya, sebab ayah sudah hampir telat ini."


"Iya, ayah maafkan aku telah merepotkanmu." Akira merasa tidak enak hati.


"Ya, tidak apa-apa, hati-hati ya nak." Sebenarnya Ayah berat hati, karena. Dia tidak bisa mengantarkan putrinya sampai kantor suaminya.


Tapi keadaan mendesak ia harus segera pergi untuk menjalankan kewajibannya yaitu bekerja.


Akira mulai masuk memasuki lobby kantor dengan menenteng paper bag yang berisikan makan.


Semua pegawai menyapanya, karena mereka sudah tau jika Akira adalah istri dari Giantha Mahendra, pemimpin perusahaan.


Akira melempar senyuman kepada setiap karyawan yang menyapanya.


Dan kebetulan sekali di lobby kantor Akira berpapasan dengan Erwin.


Awalnya Erwin tidak menyadari jika Akira ada di sana, sebab itu hal yang mustahil, setelah kejadian tempo hari mengenai cairan formula rahasia perusahaan, Akira belum pernah lagi menginjak kaki di sana.


Karena Erwin bersikap cuek ketika melihatnya seperti tidak mengenainya.


Akhirnya akira memanggilnya, "Kak Erwin …." 


Seketika itu Erwin langsung berbalik dan melihat ke arah sumber suara yang sudah tidak asing lagi suara siapa yang memanggil namanya.


"Akira …." gumam Erwin, seakan tidak percaya melihat Akira ada di sana.


....


Apa yang akan terjadi antara Akira dan Erwin?


Simak di kisah selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2