Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 86


__ADS_3

Gian tau bahwa Erwin memang menyukai istrinya maka dari itu Gian sengaja blak-blakan mengatakan bahwa dirinya sedang berbuat sesuatu bersama istrinya ketika menjawab pertanyaan Erwin.


Gian ingin Erwin sadar kalau Akira miliknya dan tidak berharap untuk memilikinya.


Ya, memang tersirat jelas dari raut wajah dan ucapan Erwin terlihat sangat cemburu.


Tapi, Erwin tidak dapat berbuat apapun karena Akira memang bukan siapa-siapa baginya, atau tidak ada haknya Erwin untuk cemburu kepada Akira.


….


Sepanjang perjalanan Akira merutuki dirinya yang merasa malu kepada mertuanya, dan kakak iparnya, ia merasa tertangkap basah sedang berbuat anu.


Meskipun sah-sah saja sebagai pasangan suami istri berbuat sesuatu, tapi tatapan saja Akira merasa malu.


Dengan wajah merah dan ditekuk Akira masuk kedalam rumah orang tuanya saat sudah sampai di sana.


Ketika melewati pintu pagar rumah, ia melihat Lucky - kakak iparnya sedang duduk termenung seorang diri di bangku yang terdapat di teras rumah.


Akira berniat melewatinya begitu saja, tapi Akira mengurungkannya, Karen merasa ada yang aneh dengan kakak iparnya, ia seperti mati rasa bahkan sepertinya tidak merasakan ke datang Akira sama sekali.


Akira pun menegurnya, dan benar saja ketika Akira menegurnya pun Lucky sama sekali tidak menggubrisnya.


Akhirnya Akira menghampirinya untuk menyadarkannya.


"Hay, kak Lucky!" Akira menepuk pundaknya.


Dan itu berhasil membuat Lucky terkejut.


"Astaga …." Seru Lucky yang sedang fokus dengan lamunannya.


"Akira … ada apa?" ia bertanya dengan nada suara memekik sebab masih terkejut.


Akira tersenyum, lalu ikut duduk bersamanya dengan jarak yang terhalang meja yang jadi pemisah di antara mereka.


" Kak Lucky kenapa, kok ngelamunnya sampe segitunya?" Akira bertanya ingin menyelidik.


"Ah ~ aku sedang bingung Akira." jawab Lucky.


Sebenarnya tanpa Lucky berkata seperti itu, Akira sudah tau kalau Lucky memang sedang kebingungan, sebab terlihat jelas dari raut wajahnya.


Tapi bukan itu yang Akira maksud, sebenarnya tanpa harus ia bercerita pun sudah bisa ditebak apa masalahnya, ia tidak bekerja tidak punya penghasilan, istrinya sedang berjuang dengan penyakitnya, Perlu banyak biaya untuk itu.


Sesungguhnya Lucky merasa malu dengan hidupnya saat ini, ia sama putus asanya seperti Shafira, tidak ada kebanggaan dalam hidupnya.


Ia hanya menjadi beban bagi keluarga Istrinya.


"Ya, aku tau kak Lucky sedang bingung, tapi aku ingin tahu lebih detail apa yang membuat kakak bingung?" ucap Akira.


Lucky malah terkekeh mendengar perkataan Akira, "Ha … ha … ha …"


Akira mengerutkan keningnya merasa bingung dengan sikap Kakak iparnya mengapa dia malah terkekeh seperti itu.


"Apa dia sudah gila?" Akira membatin.


"Kak Lucky, kenapa kau malah tertawa, apa ada yang lucu." Kemudian tanya Akira menghentikan tawa Lucky.


Lucky masih terawat geli, "Iya, kamu lucu sekali." ucap Lucky di sela-sela tawanya.


"Aku lucu?" Akira menunjuk dirinya sendiri. Dengan ekspresi wajah bingung.


Akira langsung bereaksi mengecek dirinya sendiri, "Perasaan semua baik-baik saja tidak ada yang aneh, terus apanya yang lucu!" Akira bergumam.


Lucky mendengar gumaman Akira, dan langsung menjawabnya, "Bukan penampilanmu yang lucu, tapi pertanyaanmu, yang lucu." 


Akira tidak dapat berkata-kata lagi, sebab ia tidak mengerti dengan maksud lucky yang terus saja tertawa.


"Ya, tertawa lah jika memang kau ingin tertawa." Batin Akira merasa prihatin atas kondisi kakak iparnya.


Akira pikir, ya, dia sudah gila karena kehidupannya saat ini memang sangat memperihatinkan.

__ADS_1


Setelah merasa puas tertawa, Lucky berusaha mengontrol dirinya.


"Kamu sendiri yang bilang sudah tau kalau aku sedang bingung tanpa aku mengatakannya, berarti kamu juga sudah tau apa alasannya, lalu mengapa dirimu masih bertanya, aku jadi geli mendengarnya." jelas Lucky.


Akira termenung mendengarnya, "Benar juga sih." celetuk Akira menyadarinya.


"Tapi maksudku bukan begitu, aku ingin membantumu." jelas Akira.


Lucky Langsung melempar pandangannya ke arah Akira dan menajamkan pandangannya.


Akira sedikit terkejut dan merasa merinding karenanya.


"Apa kamu sungguh ingin membantuku?" Lucky bertanya untuk meyakinkan ucapan Akira.


"Ya, kalau aku bisa pasti aku akan membantumu."  tegas Akira.


Lalu Lucky mengutarakan keluh kesahnya tentang kebingungannya dan apa harapannya.


"Sebelum semua ini terjadi, aku sempat membuat formula untuk penyakit yang diderita oleh kakakku, tapi karena kejadian itu, Aku tidak dapat mengembangkannya, karena terhalang dana." terang Lucky.


"Soalnya untuk itu butuh berbagai fasilitas, untuk bahan campuran, butuh laboratorium dan sebagainya." Lanjut Lucky.


"Bagaimana kalau kak Lucky minta bantuan suamiku." saran Akira dan menjelaskan bahwa perusahaan suaminya bergerak dalam bidang seperti itu.


"Aku tau itu, tapi aku tidak mau dianggap memanfaatkan orang - orang di sekitarku, image ku sudah seperti itu, dan aku tidak mau semakin memperkuat image itu." terang Lucky.


"Loh, ini kan untuk kebaikan kak Fira, untuk kesembuhannya, bukan untuk keuntungan mu semata, karena jika kak Fira sembuh ayah dan ibuku dan aku juga ikut bahagia karenanya." Akira memberi pengertian.


Lucky tidak menjawabnya ia hanya diam seribu bahasa, ia ragu untuk menjawab iya, dan ia juga tidak dapat menolaknya karena itu memang kesempatan satu-satunya.


"Oke, aku akan tetap berbicara dengan suamiku mengenai masalah ini, nanti jika dia sudah menyetujuinya aku akan bicarakan lagi denganmu." Akira kukuh ingin membantu.


Akhirnya Lucky menganggukkan kepalanya, "Oke, terimakasih." Kemudian ucap Lucky, ketika Akira hendak masuk kedalam rumah setelah pamit terlebih dahulu kepadanya.


Akira merasa sangat lelah dan ingin beristirahat.


Sebenarnya Sahfira ada di balik pintu dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Akira dan juga Lucky -suaminya.


Jadi karena itu Shafira keluar dan melihatnya, dan mendengar semuanya.


Dalam hatinya Shafira menangis tersedu-sedu, ia tidak menyangka orang-orang terdekatnya ternyata sangat menyayanginya, terutama Akira, padahal selama ini mereka selalu bersikap sama-sama cuek.


Tidak menunjukan rasa kepeduliannya, Shafira baru kali ini ia merasakan kasih sayang tulus dari semua orang.


Padahal jika posisi mereka di balik antara Shafira dan Akira, belum tentu Shafira bisa sebaik Akira, apalagi Shafira berpikir Akira telah merebut kekasihnya.


Tapi saat Akira masuk kedalam rumah Shafira memilih bersembunyi di balik pintu, Shafira tidak ingin Akira tau bahwa dirinya mendengar semua pembicaraannya dengan suaminya.


Akira langsung memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya, rasa lelah menguasai dirinya dan tidak butuh waktu lama ia terlelap begitu saja.



Hingga sore menjelang, Akira masih terlelap tidur, di saat Gian kembali dari tempat kerjanya.


Gian mendapati istri cantiknya sedang tertidur lelap, ia masuk dengan langkah hati-hati takut pergerakannya membangunkan istrinya.


Gian langsung berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Kemudian setelah itu barulah ia menghampiri istrinya yang masih terlelap, saking lelapnya ia tidak menyadari kepulangan suaminya.


Gian langsung menciumi istrinya, dan itu berhasil membuat Akira terusik dan bangun dari tidurnya.


Akira menggeliatkan tubuhnya, kemudian membuka matanya, netranya langsung menangkap sosok pria tampan di depan wajahnya.


Dengan masih setengah sadar Akira tersenyum lebar.


"Ya, ampun mimpi indah ku sampai terbawa ke alam nyata." gumam Akira ketika melihat sosok suaminya.


Gian mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud istrinya.

__ADS_1


"Memang kamu mimpi apa?" Kemudian ucap Gian, dan itu berhasil membuat Akira benar-benar sadar dari mimpinya.


Ia langsung menyentuh wajah Gian dengan kedua tangannya.


"Ini nyata?" ucap Akira.


"Lah, kamu pikir ini mimpi, ooo jadi kamu lagi mimpi-in aku ya?" Gian baru mengerti.


"Ko kamu sudah pulang, yang … memang ini sudah jam berapa?" Akira tidak yakin dengan kenyataan.


"Ini sudah mau magrib, makanya aku sengaja mengganggu tidurmu agar kamu segera bangun, pamali loh, ibu hamil jam segini belum mandi." Gian mengingatkan Akira.


"Ya ampun … aku tidur lelap sekali, sampai lupa waktu." gerutu Akira.


"Ayo buruan mandi." Ajak gian berniat memandikannya.


Tapi Akira menolaknya, "Tida … aku tidak mau di mandi-in, kalau kamu yang mandi-in pasti akan lama, aku mandi sendiri aja." Akira segera berlari ke kamar mandi.


"Hey … jangan lari-lari ingat kamu sedang hamil, aku janji tidak akan mengejarmu." Gian mengingatkan Akira agar bisa lebih berhati-hati.


Ya, Akira melupakannya bahwa ia sedang mengandung dan memang harus bergerak lebih berhati-hati.



Kini  Akira sudah mengutarakan apa yang ia bicarakan dengan Lucky tadi siang.


Dan Gian menyanggupi untuk bekerjasama dan memfasilitasi rencana Lucky.


Kini semua keluarga berkumpul di ruang tengah, termasuk Shafira juga ikut bergabung bersama untuk membahas tentang kerjasama antara perusahaan Gian bersama Lucky.


Semua merasa gembira mendengarnya, terutama ayah dan ibu, mereka merasa ada titik terang dari masalah Shafira, mereka merasa ada secercah harapan untuk kesembuhan Shafira.


Maka dari itu, Gian dan juga Lucky mohon support dan doa dari semua keluarga, agar semua berjalan dengan lancar sesuai harapan.


Tentu saja dengan senang hati Ayah dan Ibunya serta semua orang memberikan support dan doa agar semuanya berhasil.



Kurang lebih dua minggu, setelah perjanjian dibuat dan kerjasama dijalin, antara Gian dan juga Lucky,


Akhirnya formula yang di miliki oleh Lucky telah berhasil di buat dengan sempurna, bahkan sudah teruji keampuhannya dalam mengobati penyakitnya seperti penyakit yang Shafira derita.


Namun memang tidak instan, semua butuh proses bertahap agar benar-benar bisa berhasil sempurna.


Kurang lebih tiga bulan berlalu, kini kondisi Shafira berangsur pulih dan dinyatakan sembuh total.


Shafira juga sudah mulai beraktivitas kembali, ia juga menjalin kerjasama dengan perusahaan Gian menciptakan, memproduksi berbagai jenis kosmetik, dan skin care yang sudah terbukti ampuh khasiatnya untuk mempercantik wajah wanita dengan berbagai macam jenis kulit dan berbagai masalahnya.


Shafira juga membuka klinik kecantikan, sebagai usaha barunya.


Begitu juga dengan Lucky ia membuka klinik kesehatan.


Itu semua atas bantuan dari Gian sehingga Shafira dan juga Lucky bisa bangkit dari keterpurukan.


Sesuai dengan rencananya, Shafira dan Lucky sudah mendatangi Vera dan memohon maaf dengan tulus kepadanya, ya, meskipun tidak sesuai harapan, karena sambutan Vera tidak ramah kepada mereka berdua.


Vera masih menyimpan kebencian yang mendalam kepada keduanya, Shafira dan Lucky memahaminya.


Memang tidak mudah untuk melupakan atau memaafkan kesalahan yang Shafira dan Lucky lakukan.


Tapi setidaknya Shafira dan Lucky sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya.


Lucky juga sudah pernah memberikan sedikit uang kepada  putranya, dari hasil usahanya sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, tapi Vera menolaknya mentah-mentah.


Vera juga melarang Lucky untuk menemui putrinya.


Saking bencinya Vera kepada Lucky, ia ingin menghapus segalanya tentang Lucky dari hidupnya.


...

__ADS_1


Setelah kesembuhannya apakah Shafira akan kembali berusaha untuk menggoda Gian dan merebut kembali Gian dari tangan Akira?


Simak kisah selanjutnya ....


__ADS_2