
"Wah gawat, aku lupa ada meeting pagi ini." Erwin baru saja mengingatnya.
….
Kemudian Erwin, menghubungi Gian balik, sambungan telepon langsung terhubung.
"Halo …." Terdengar suara Gian dengan nada kesal, sepertinya dia sangat marah.
"Iya halo …!" jawab Erwin santai.
"K a m p r e t, Lo! Kemana aja loh, dihubungi dari tadi gak di angkat, di chat gak di respon." Gian meracau.
Gian sangat kesal karena Erwin ingkar dari jadwal meetingnya.
"Iya, sabar dulu dong biar aku jelaskan dulu." Erwin mencoba menenangkan Gian, dan meminta kesempatan untuk dirinya memberi alasan kenapa dia terlambat.
"Bisa loh bilang sabar, Lo mau bikin perusahaan bangkrut, karena perbuatanmu bisa membuat klien kita kabur, kamu bikin mereka lama menunggu, kita bisa di anggap tidak profesional dan tidak ada tanggung jawab dalam menepati janji, kita bisa tidak di percaya lagi kalau seperti ini, untung aku segera datang dan bisa menghandle-nya." Panjang lebar Gian bicara dengan nada yang menggebu-gebu.
"Iya, iya, aku mengaku salah, maafkan aku,"
"Gampang sekali kamu cuma minta maaf," jawab Gian.
"Lalu aku harus apa?" tanya Erwin.
"Segera datang ke kantor, karena selepas makan siang ada meeting penting lagi," perintah Gian.
" Gian dengarkan aku dulu!" ucap Erwin sedikit keras meminta waktu kepada Gian yang ngomel-ngomel sedari tadi, tanpa memberi kesempatan kepada Erwin untuk berbicara.
"Iya, ada apa?" ketus Gian.
Erwin mulai menjelaskan bahwa dirinya sedang tidak enak badan.
"Oke, aku mengerti kalau kamu sedang tidak sehat, tapi setidaknya ada konfirmasi darimu, jangan hilang kabar begitu saja," Gian mengingatkan.
"Aku kesiangan jadi aku baru bisa menghubungimu," jawab Erwin.
"Alah, alasan!" ketus Gian lagi.
"Ya sudah, sekarang bagaimana kondisimu, berobat sana kalau tidak enak badan." kemudian tanya Gian sekali memberi saran.
" Ya, maka dari itu aku menghubungimu, aku ingin menyampaikan, permohonan maaf untuk ketidakhadiran diriku di acara meeting tadi." jelas Erwin
"Untuk meeting yang kedua saya akan usahakan untuk hadir," terang Erwin.
"Oke jika begitu, tapi kalau memang benar-benar sakit lebih baik kamu istirahat saja dulu, biar pekerjaan kantor aku yang handle semuanya, termasuk meeting nanti." sebenarnya Gian tidak tega jika mendengar Erwin sedang tidak enak badan.
Lalu menyarankan Erwin untuk beristirahat saja.
"Ya, nanti saya akan hubungi kamu lagi, saya sedang ada perlu dulu saat ini." Erwin memberi tahu jika dirinya sedang ada urusan lain.
"Apa, berarti kamu sedang ada di luar rumah? jadi sedang tidak enak badan itu hanya alasanmu saja." Gian kembali naik pitam ketika mendengar Erwin lebih mementingkan hal lain ketimbang pekerjaannya.
"Iya, ini lebih penting dari segalanya." Jawab Erwin, dan langsung mematikan handphonenya.
Gian makin geram di buatnya, "dasar k a m p r e t, gak sopan banget dia, seenaknya." Gian makin meracau.
…
Kini Erwin sudah sampai di sekolah Sisil, suasana sangat sepi, karena aktivitas para murid sedang belajar hanya ada pak satpam yang menjaga gerbang.
Erwin turun dari mobil dan menghampiri pak satpam, lalu menyapanya.
__ADS_1
"Iya, Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Pak satpam membalas sapaan Erwin.
"Iya pak, saya wali murid dari siswa yang bernama Sisil, saya ada perlu ingin menemuinya." Erwin mengutarakan maksudnya.
Kebetulan pak satpam itu memang mengenal Sisil.
"O'y, para siswa-siswi sedang belajar, Tuan. Jika ingin menemuinya, Tuan bisa langsung ke kelasnya saja." Kemudian pak satpam mengarahkan Erwin menunjukkan di mana kelas Sisil berada.
Erwin langsung paham dengan petunjuk yang diberikan oleh pak satpam.
"Oke, Terimakasih ya, Pak. saya tinggal dulu." Erwin pergi menuju kelas Sisil setelah berpamitan dengan pak satpam.
Di sana memang terlihat ada beberapa pengasuh yang sedang menunggui siswa-siswi yang sedang belajar, sebagai majikan mereka, atau sebagai wali murid.
Tapi mata Erwin tertuju kepada satu gadis yang memisahkan diri dari orang-orang di sana, di tempat khusus untuk menunggu, tapi dihimbau untuk mereka agar tidak membuat keributan yang mengganggu aktivitas belajar.
Ya, dengan begitu meskipun ada beberapa orang di sana, tapi suasana terdengar senyap, karena jika ada yang melarang, membuat keributan mereka akan dikenakan sanksi, atau diusir dari lingkungan sekolah.
Jadi, mekipun ada yang mengontrol merek hanya berbisik-bisik saja, selebihnya merek sibuk masing-masing bernama hp dan lainnya untuk menghilangkan rasa bosan saat menunggu.
Seperti Rima, gadis yang diperhatikan oleh Erwin, iya terlihat memisahkan diri dari orang lain, ia duduk di bangku agak jauh dari orang-orang, Rima menyandarkan kepalanya di dinding sambil memejamkan matanya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Sepertinya Rima sangat kelelahan, dia memang merasa tidak enak badan makanya dia seperti itu.
Setelah cukup lama Erwin berdiri memperhatikan Rima yang tidak menyadari ke kehadirannya.
Erwin kemudian menghampiri Rima, yang masih tetap dalam posisinya.
Indera penciuman Rima sangat tajam, meskipun ia dalam posisi seperti itu, terlihat sedang tertidur, sebenarnya Rima tetap berusaha waspada dengan lingkungan sekitar, sehingga ia bisa mencium bau parfum Erwin, yang sudah ia hapal betul baunya.
"Apa ini, ko seperti bau parfum, Tuan Erwin?" Rima membatin ketika Erwin mendekatinya.
"Ah, itu tidak mungkin Tuan Erwin, sepertinya mustahil sekali Tuan Erwin datang kemari, ini hanya halusinasiku saja." Rima menepis indera penciumannya, yang menyadari kehadiran Erwin di sana.
Dan akhirnya Erwin menyapanya dengan menyerukan namanya dengan nada datar, "Rima!" Rima mendengarnya tapi tidak menggubrisnya.
"Tadi, hidungku yang mencium bau parfum, Tuan Erwin, sekarang telingaku yang mendengar suaranya, ya Tuhanku, aku sudah hampir gila karenanya, aku sampai menghalau sampai segitunya." Rima kembali membatin, dan tetap menepis keberadaan Erwin di sana.
"Rima?" Erwin kembali menyerukan namanya karena tidak mendapat respon dari Rima.
Rima mulai merasa-rasa, apa benar Erwin ada disana, tubuh Rima mulai bergerak memberi respon, namun ia belum membuka matanya.
Lalu Erwin menyentuh pergelangan tangan Rima yang masih bertautan di depan dadanya.
"Rima, apa kamu bisa mendengar ku?" ucap Erwin.
Semua terasanya, dan Rima benar-benar yakin jika itu benar-benar Erwin.
Rima, langsung membuka matanya, dan pandangannya menangkap sosok pria tampan yang sedang berdiri didepannya, tapi sayang pria tampan itu malah sangat Rima hindari, karena pria tampan ini sudah mengaduk-aduk perasaannya.
Sehingga hidup Rima merasa diteror, resah gelisah.
Rima tersentak dan spontan langsung bangkit dari tempat duduknya, Rima terlihat ketar-ketir, rasa takut, malu dan rasa yang lainnya bercampur jadi satu.
Rima sangat gugup dibuatnya, ia berdiri menunduk sempurna, ia tidak sanggup untuk menatap Erwin.
"Maaf Rima, saya mengganggumu." ucap Erwin.
"Tidak Tuan, maaf, tumben sekali anda datang ke sini apa ada masalah?" Rima memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan denganmu." Erwin langsung to the point.
__ADS_1
Deg … jantung Rima serasa dihantam benda keras ketika mendengar ucapan Erwin yang mengatakan ingin bicara dengan,
Dengan kepala yang masih tertunduk, Rima membulatkan matanya dengan sempurna, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, Rima sungguh terkejut Erwin ingin membahas tentang kejadian semalam.
Ya, Rima yakin Erwin ingin membahas tentang kejadian semalam.
"Si-silahkan Tuan, apa yang ingin anda bicarakan," ucap Rima.
"Tapi tidak di sini, kita harus cari tempat lain." Erwin ingin mengajak Rima pergi dari sana.
Rima semakin gugup di buatnya, "Tempat lain? Tapi ke mana?" Rima mengulang kata yang di bicarakan oleh Erwin dengan nada bicara bertanya, sekaligus bertanya Erwin akan mengajaknya ke mana?.
"Iya, kita bisa bicara di cafe dekat-dekat sini saja." Masukan dari Erwin.
"Ta-tapi Tuan, Non Sisil akan mencari saya saat ia keluar istirahat nanti." Rima mencari alasan untuk menghindar atau menolak ajakan Erwin.
"Tenang saja, saya akan izin terlebih dahulu kepada Sisil dan menitipkannya kepada gurunya selama kita pergi," Tegas Erwin.
Karena Rima tidak dapat menolaknya akhirnya Rima mengiyakan ajakan Erwin.
"Baiklah, Tuan." ucap Rima sambil mengangguk.
Erwin tidak mengulur waktu, dia segera mengetuk pintu ruangan Di mana Sisil sedang belajar.
Pintu memang ditutup, untuk menjaga tata tertib proses belajar.
Tidak lama Ibu guru Sisil segera membuka pintu, "Iya, pak ada apa ya?" tanya ibu guru.
"Saya ingin menemui putri saya Bu, dan ingin bicara sebentar dengannya." ucap Erwin.
"Putri bapak siapa?" Ibu guru bertanya kembali, sebab ia memang tidak mengenal Erwin, para guru dan petugas sekolah hanya mengenal Gian yang sering hadir di acara sekolah Sisil, sebagai wali dari Sisil.
"Oo iya, perkenalkan saya papinya Sisil." Erwin memperkenalkan dirinya, sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ibu guru.
"Oo … jadi ini Papinya Sisil, selama ini kami hanya mengenal Tuan Gian sebagai wali Sisil, tapi hari ini akhirnya saya dapat berkenalan dengan Papinya Sisil." Ibu guru berbasa-basi.
Erwin tersenyum manis membalas basa-basi Ibu guru Sisil. Membuat sang guru berona merah, karena berhadapan dengan duda keren tampan rupawan.
Kebetulan sang guru juga berstatus single, jadi ia menjadi salah tingkah dan sedikit cari perhatian kepada Erwin, dengan berbasa-basi.
"Ternyata, Papi Sisil masih muda, dan tidak kalah tampan dengan Tuan Gian," celetuk sang guru memuji Erwin.
"Oo Terima Kasih … tapi tidak usah berlebihan Bu!" Erwin merasa tidak enak hati.
"Maaf bisa tolong panggilkan sisil-nya sebentar, Bu!" Erwin tidak ingin kelamaan basa basa-basi.
""Oo iya … nanti tunggu sebentar saya panggilkan sisil-nya dulu ya, Pak." Sang guru malah keasikan ngobrol dengan Erwin, Erwin sampai ingin menyudahinya untuk menyingkat waktu.
Tidak lama, sang guru keluar kembali bersama Sisil, merek berdiri di depan kelas, Erwin tidak diperbolehkan masuk karena siswa-siswi sedang belajar.
"Papi …!" seru Sisil
Erwin langsung berjongkok menyambut putrinya.
"Hay, Sayang." sapa Erwin.
"Ada apa, Papi, menemui-ku?" tanya Sisil.
"Papi, mau pinjam, Mbak Rima, dulu ya sebentar, Papi usahakan sebelum istirahat, Mbak Rima, sudah di sini lagi." Erwin meminta izin untuk membawa Rima keluar.
"Papi, mau bawa mbak Rima kemana?" Sisil khawatir akan di tinggalkan oleh Rima.
__ADS_1
Sedangkan Rima sendiri sedang merasa cemas, dan takut, ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, apa Erwin akan mencaci makinya, karena dianggap telah merayu Erwin sehingga kejadian semalam terjadi.
"Sisil aku mohon jangan kasih izin," Rima berharap Sisil tidak mengizinkannya pergi.