
Semburat kemerahan yang berubah menjadi kuning emas dengan silau sinar yang perlahan muncul, menjadi saat yang banyak dinanti sebagai momen kontemplasi. banyak yang menjadikan momen matahari terbit sebagai penanda kehidupan baru.
Seperti halnya Akira, yang bangun di pagi hari di kehidupan barunya, yang penuh kesakitan yang ia rasakan.
Hari ini adalah hari dijadwalkannya kepulangan Sisil setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit.
Keadaannya sudah berangsur membaik, sisil pun menjadi anak yang pendiam dan penurut setelah kejadian itu.
Asal Akira tetap bersamanya, Sisil akan mengikuti apa kata mereka.
Karena Sisil sudah ketergantungan kepada Akira, ia takut dipisahkan atau ditinggalkan lagi oleh Akira.
Peristiwa kemarin membuat Sisil merasa trauma.
Karena Sisil tidak ingin jauh dari nya maka mengharuskan Akira bermalam bersama Sisil sampai Sisil dinyatakan sembuh dan di ijinkan pulang.
Di kamar rawat Sisil, Akira terbangun lebih dulu.
Di sana tidak hanya ada Sisil dan Akira, di sana ada babysitter dan juga Gian yang ikut menemani Sisil.
Akira melihat semua orang masih tertidur pulas.
Sedangkan dirinya sudah terjaga.
Akira yang tidur di ranjang bersama Sisil perlahan bangkit dari tidurnya.
Lalu berlalu kekamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian menjalankan kewajiban nya.
Setelah selesai menunaikan dua raka'at Akira masih terduduk di atas sajadahnya.
Ketika itu Gian terbangun dan melihat Akira sedang menadahkan tangannya, itu artinya Akira sedang memanjakan doa kepada sang pencipta.
Tapi entah doa apa yang Akira panjatkan Gian tidak tahu, sebab Akira berdoa dalam mode diam ( berdoa dalam hati) tapi terlihat begitu khusyuk.
Sampai Akira tidak menyadari hal di sekelilingnya.
Saking khususnya, Akira pun terlihat menangis karena ia terlihat mengusap air matanya beberapa kali.
Terdengar pula isukkan nya, Gian menjadi penasaran apa doa yang Akira panjatkan.
Apakah Akira menyebut nama Gian di dalam doanya, entahlah hanya Akira dan tuhan yang tau.
Tapi Gian sudah dapat memastikan bahwa Akira menangis, karena Akira sedang mengadu kan semua rasa yang ia rasakan tentang perlakuan Gian luka hati yang ia rasakan karena ulah Gian.
Setelah selesai berdoa, Akira baru menyadari bahwa di sana dia tidak hanya sendiri.
Akira menengok ke kanan dan ke kiri melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Ya tuhan aku lupa, ternyata ada orang lain di sini, aku terlalu khusyuk jadi terbawa suasana, untung mereka semua masih tidur." Ucap Akira bicara sendiri.
Akira tidak menyadari bahwa Gian sudah terbangun dan melihat apa yang terjadi pada dirinya.
Kemudian Akira membereskan semuanya, serta pakaian ganti miliknya yang ada di laci dan memasukkannya kedalam tas, untuk bersikap pulang. Kemudian babysitter terbangun.
"Nona Anda sudah bangun, kenapa tidak membangunkan ku?" ucap babysitter menegur Akira.
"Anda sudah terbangun Bi? Maaf saya mengganggu tidurmu ya?" sahut Akira balik bertanya.
"Oo tidak nona… justru saya tidak enak hati kesiangan seperti ini."
"Tidak apa-apa bi!" Kemudian Gian dan Sisil pun ikut terbang karena waktu pun memang sudah berangsur siang.
Kini Sisil dan semuanya sudah bersiap untuk pulang hanya tinggal menunggu dokter untuk pemeriksaan terakhir.
Cukup lama Sisil, Gian, Akira, dan babysitter menunggu, dan kira-kira pukul sepuluh pagi Dokter barulah datang.
ketika itu tiba-tiba saja Sisil teringat Shafira, "Om keman anteu cantik kok gak pernah keliatan lagi sekarang?"
Mendengar pertanyaan Sisil, raut wajah Gian langsung berubah masam.
"Sisil… bukankah sudah om bilangin jangan pernah tanyakan wanita itu lagi." jawab Gian dengan ketusnya.
Akira langsung melihat ke arah Gian dan memasang ekspresi wajah seakan protes dengan jawaban Gian.
Gian mengerti dengan isyarat yang Akira berikan, tapi dirinya sudah terlanjur emosi.
"Sisil sayang… anteu cantik sedang bertugas diluar kota, makanya gak bisa menemui Sisil."
"Sekarang kan ada anteu baik yang menemani Sisil jadi Sisil gak usah khawatir kita bisa main kapan pun yang Sisil mau." lanjut Akira.
Sisil begitu senang mendengar ucapan Akira, ia tersenyum dan memeluk tubuh Akira.
"Sisil sayang banget sama anteu." Sisil mengutarakan perasaannya.
"Anteu juga sayang banget sama Sisil." jawab Akira.
Suasana kembali ceria dengan canda tawa Sisil bersama Akira, sesekali Gian pun ikut menimpali candaan mereka saat di perjalanan pulang dari rumah sakit sampai di kediaman papa Arga.
Sesampainya di rumah Gian segera memangku Sisil ke kamarnya. Akira segera meminta babysitter Sisil untuk menyiapkan makan siang untuk Sisil dan menyuapinya lalu meminumkan nya obat.
"Sekarang waktunya Sisil untuk istirahat." Akira mengingatkan Sisil.
Dengan patuh Sisil mengangguk dan memlai bersiap untuk tidur siang.
Karena pengaruh dari obat juga tidak lama Sisil pun terlelap.
__ADS_1
"Akhirnya dia tidur juga…!" gimana Akira, karena Akira pun merasa sangat lelah dan ingin beristirahat.
Tapi sebelum itu Akira keluar dari kamar Sisil berjalan menuju kamar Gian ia berniat untuk mengambil barang-barang nya yang masih berada di sana.
Sebab Akira berencana akan tinggal bersama Sisil di kamar Sisil.
Sesampainya di depan pintu kamar Gian Akira mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok, tok, tok… suara pintu di ketuk.
"Masuk …!" seru Gian dari dalam kamarnya.
Akira masuk setelah di perbolehkan, Akira melihat Gian sedang duduk di sofa yang biasa dia duduki sambil menikmati secangkir teh hangatnya.
"Permisi kak." Akira berbasa-basi.
"Iya." sahut Gian.
Akira mengutarakan apa maksudnya kedatangannya ke kamar itu, bawa ia hanya ingin mengambil barang-barang nya untuk di pindahkan ke kamar Sisil.
Ada rasa kecewa di hati Gian ketika mendengarnya.
Karena sesungguhnya Gian ingin memperbaiki hubungannya dengan Akira.
Tapi lagi-lagi Gian terlalu gengsi untuk mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan.
Tidak ada jawaban apapun dari Gian, ia hanya diam, sehingga Akira berlalu untuk mengambil semua barangnya lalu memasukkannya kedalam tas besar miliknya.
Setelah selesai, Akira pun pamit kepada Gian, yang sedari tadi hanya duduk diam tanpa reaksi apapun.
"Saya sudah selesai, saya permis." ucap Akira sebelum keluar dari kamar itu.
Tapi baru saja beberapa langkah Akira melangkah.
Tiba-tiba saja, "Tunggu…!" terdengar seruan Gian menghentikan langkahnya.
Akira mengerutkan keningnya, dan langsung curiga Gian akan membuat perhitungan lagi dengannya.
Akira kembali berbalik ke arah Gian lalu bertanya "Iya ada apa kak?"
"Kamu mau kemana?" tanya Gian.
"Apa kurang jelas yang aku katakan tadi?" Akira balik bertanya sebagai jawaban dari pertanyaan Gian.
"Oo iya… bisa kita bicara sebentar." pinta Gian.
"Bicara apa?" Akira benar-benar Curiga.
__ADS_1
"Bisa duduk dulu…" kemudian Gian meminta Akira untuk duduk bersamanya.
Seperti biasa, Akira hanya bisa pasrah mengikuti apa yang Gian inginkan, jika menolak pun itu tidak mungkin bisa, karena Gian akan tetap memaksa pikir Akira