Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 11


__ADS_3

"Akira tunggu…!" Seru papa Arga menghentikan Akira.


"Iya pah,,, ada apa?" tanya Akira bingung.


"Kamu mau kemana" papa Arga balik bertanya.


"Aku mau nunggu taksi online yang ku pesan, sebentar lagi dia sampai." Jawab Akira.


"Tidak usah naik taksi online, kamu sama Gian kan satu arah jadi ikut saja sama Gian." Perintah papa Arga.


"Tidak usah pah, aku naik taksi online saja." Akira menolak satu mobil dengan Gian.


"Akira ini perintah jadi jangan membangkang." Tegas papa Arga.


Sehingga Akira tidak dapat menolaknya.


Tanpa di persilahkan oleh Gian Akira langsung masuk kedalam mobil Gian.


"Maaf kak, papa yang meminta ku untuk ikut bersama mu." ucap Akira ketika sudah di dalam mobil, karena Gian sudah lebih dulu masuk mobilnya.


Tapi Gian tidak menjawab ucapan Akira, ia tidak menolak atau pun mengiyakan.


"Hhmm,,, percuma bicara sama orang bisu, biasanya kalau orang bisu itu tuli juga, jadi wajar lah dia kaya patung bernyawa." Akira kesal dan ngedumel sendiri.


Gian jelas mendengar ocehan Akira yang mengatainya.


Gian langsung melirik tajam ke arah Akira, ia merasa tidak terima di katai.


"Eeh apa yang kamu bilang?" tanya Gian untuk memastikan pendengarnya.


"Hah…!"  Akira terkejut Gian merespon ucapannya padahal selama ini Gian tidak pernah mau bicara dengannya, meskipun mereka tidur satu kamar.


Gian masih menatap Akira dengan tatapan mengintimidasi, membuat Akira menjadi gugup.


"A-aku tidak mengatakan apa-apa kok… serius." ucap Akira meyakinkan.


"Aku tidak tuli, dan juga tidak bisu, aku hanya malas berbicara dengan pemain cadangan sepertimu, tidak penting." Gian bicara dengan penuh ke angkuhan.


Membuat hati Akira begitu sedih ketika mendengarnya.


Kemudian hanya ada keheningan di antara mereka.

__ADS_1


Karena sikap Gian yang tidak pernah mau bersahabat dengan Akira.


Selang beberapa menit mereka sampai di tempat tugas Akira, ia segera turun dari mobil mewah milik Gian, tapi sebelumnya Akira berterimakasih kepada Gian dan sopirnya.


Dan ternyata Akira dan Reza bertugas di satu tempat yang sama.


Pada saat Akira tiba di sana kebetulan Reza pun tiba dengan mengendarai motor polisinya berhenti di depan Akira yang baru saja turun dari mobil Gian, bahkan Gian sendiri masih ada di sana.


Reza langsung menyapa Akira, "Ra,,, kamu dah mulai tugas lagi?" Reza berbasa-basi, Akira hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya.


"Apa kabar mu Ra,,, aku sangat merindukan mu" Sapa Reza seperti sengaja ingin membuat Gian cemburu.


Gian masih bisa melihatnya dari dalam mobil, kemudian Gian membuka kaca mobilnya dan berucap "Aku tidak buta." Tegas Gian, karena sebelumnya Akira mengatai Gian bisu dan tuli.


Akira tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.


"Za kamu apa sih…?" ucap Akira menepis ucap Riza.


Entah mengapa Gian merasa panas hati melihatnya, ia langsung memerintahkan sopir pribadi untuk segera melajukan mobilnya.


Akira pun segera berjalan untuk segera masuk ke dalam ruangannya di kantor polisi meninggalkan Riza yang masih menunggangi motornya.


Tapi Akira tidak menggubrisnya ia tetap berlalu meninggalkan Riza.



Siang hari di kantor polisi.


Para polisi  mendapatkan laporan akan ada sebuah mobil yang melintas di salah satu daerah di kawasan tempat mereka bertugas.


Mobil itu dikabarkan membawa obat-obatan terlarang.


Sehingga semua anggota kepolisian saat ini diinstruksikan turun ke jalan termasuk para polwan, untuk melakukan pemeriksaan.


Pimpinan mereka membagi anggota menjadi 3 bagian, dan ditempatkan di tiga Titik ruas jalan untuk menangkap pelaku yang membawa obat-obatan terlarang tersebut 


Tiap anggota terdiri dari 10 personil, dan kebetulan Akira satu tim bersama Riza, dulu mereka memang tak terpisahkan, kemanapun bersama, sampai memutuskan untuk menikah, akan tetapi tuhan berkata lain.


Meskipun mereka saling mencintai, menjalin hubungan sudah sangat dekat bahkan berencana akan segera menikah, tapi jika tidak berjodoh tetap akan berpisah bagaimanapun caranya.


Riza merasa sangat senang bisa satu tim dengan Akira, tapi tidak dengan Akira, ia justru malah ingin menghindar dari Riza.

__ADS_1


Sebab Akira merasa bersalah telah mengkhianatinya dan membuatnya sakit hati, Akira tidak ingin lebih dalam lagi menyakiti perasaan Riza.


Akira sempat protes untuk pindah tim dengan anggota lain, tapi itu telah jadi keputusan dari atasan mereka sehingga sudah tidak bisa diganggu gugat.


Semua berangkat ke titik ruas jalan yang telah ditetapkan.


Disana mereka segera menjalankan tugas mereka masing-masing, menyetop setiap kendaraan mobil yang melintas.


Mereka memeriksa setiap kelengkapan surat-surat kendaraan dan identitas pengemudi serta para penumpangnya, tak luput menggeledah isi mobil atau barang bawaannya, itu diberlakukan kepada setiap kendaraan yang melintas tanpa terkecuali.


Dan ketika itu mobil mewah Gian melintas ke ruas jalan tersebut, kebetulan Gian sedang terburu-buru ingin menghadiri rapat penting penentuan yang menentukan tender besar jatuh ke tangan siapa, meskipun tender itu akan di menangkan oleh Gian, tapi jika Gian tidak hadir di acara itu, maka sudah dapat di pastikan, tender itu akan gagal Gian dapatkan.


Karena kelien akan menilai Gian tidak konsisten, tidak sungguh-sungguh ingin menjalin kerjasama, karena untuk menghadiri acara rapat keputusan pemenang tender saja Gian tidak hadir, itu terkesan Gian menyepelekan kerjasama itu, dan akan membuat pihak kelien berubah pikiran.


Sebelum melintas di titik jalan yang sedang ada pemeriksaan, Gian sudah terjebak maca lebih dulu di titik ruas jalan Sebelum nya, karena itu ia tergesa-gesa takut terlambat.


Namun mengapa di titik jalan itu mobil Gian malah di berhentikan oleh polisi.


Gian sempat protes karena ia sedang buru-buru, tapi ini sudah prosedur kepolisian yang harus tetap dijalankan sesuai tugasnya.


Dan saat didata  ternyata yang mendata identitas pengemudi beserta penumpangnya dan apa saja yang ada di dalam mobil ternyata Akira lah orangnya.


Akira begitu terkejut ketika melihat Gian dan sopirnya yang sedang melakukan pemeriksaan.


Meskipun Gian suaminya atau keluarga Akira yang lainnya tetap saja Akira tidak bisa membela siapapun saat sedang melakukan tugasnya.


Akira bertingkah seperti tidak mengenal Gian dan sopirnya.


"Maaf pak bisa tunjukkan kartu identitas nya." pinta Akira kepada Gian, setelah mencatat identitas sopir Gian sebelumnya.


Gian menatap Akira dengan tatapan tajam, "Kamu tidak mengenal saya?" tanya Gian.


"Maaf pak saya hanya sedang menjalankan tugas." Jawab Akira Santai.


"Aku sedang buru-buru akan menghadiri rapat penting, kalau aku telat aku akan kehilangan tender besar bermiliar-miliar jumlahnya." Gian bicara seakan meminta Akira untuk melepaskan nya untuk tidak mengikuti serangkaian pemeriksaan.


"Maaf pak, bapak boleh pergi setelah pemeriksaan selesai." jawab Akira lagi tetap berpegang teguh akan tugasnya.


Gian begitu kesal dengan sikap Akira, yang tidak ingin menolongnya atau membelanya.


"CK… Sialan…!" gumam Gian sambil berdecak kesal.

__ADS_1


__ADS_2