Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 93


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, menghabiskan jarak tempuh hampir semalam.


Mereka bergantian mengemudikan mobil menerobos jalanan dalam kesunyian malam melawan rasa kantuk dan letih.


Perjalanan Erwin dan Gian sudah memasuki pedesaan di mana rumah Rima Berada.


Saat ini sudah hampir masuk waktu subuh tapi mereka belum sampai di tempat tujuan.


"Menurut google maps, kita sudah sampai di alamat tujuan kita, masalahnya di sini tidak tertera detail rumahnya yang mana?" Gian merasa kebingungan menentukan rumah Rima terletak disebelah mana.


Karena ini pertama kalinya bagi mereka untuk menyambangi rumah Rima.


"Wah, suasana sepi sekali lagi, tidak ada warga yang bisa kita tanyai." Erwin mendukung ucapan Gian.


Ya, keadaan memang sangat sepi pasalnya, waktu masih tengah malam, belum terlihat tanda-tanda aktivitas para warga.


Di tengah kebingungan mereka melihat ada sebuah masjid di depan mereka.


"Berhenti di sini." Seru Gian menyetop sopir untuk menghentikan laju mobilnya.


Karena sudah memasuki pemukiman warga, jadi sang sopir pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah, sehingga saat Gian menyuruhnya berhenti, dengan perlakuan sopir pribadinya menghentikan mobilnya.


Gimana mengusulkan agar mereka turun dan beristirahat sejenak di masjid tersebut sambil menunggu waktu subuh tiba.


Dan menunggu para warga keluar untuk beraktivitas, sehingga barulah mereka bisa bertanya mengorek informasi di mana tepatnya rumah Rima.


"Oke, kita turun dulu di masjid ini, sambil menunggu waktu subuh." Gian mengintruksi Erwin dan juga sopirnya.


Keduanya (Erwin dan sopir) menyetujuinya, dan mereka pun langsung turun dari mobil dan memasuki masjid tersebut.


Mereka segera ke kamar kecil yang terdapat di sana, untuk buang air kecil, lalu membasuh muka mereka masing-masing.


Setelah itu sopir langsung merebahkan tubuhnya untuk meluruskan pinggangnya yang terasa pegal dan kaku, setelah lamanya menempuh perjalanan.


Gian dan Erwin juga duduk bersandar lalu kakinya mereka selonjorkan.


Dan ketika itu ada seorang marbot masjid yang menghampiri mereka.


(Marbot adalah sebutan seseorang yang diberi tugas untuk merawat dan membersihkan masjid, mulai dari mengepel, menyapu lantai dan halaman, bahkan sampai bertanggung jawab dalam hal ibadah sholat. Selain bertugas untuk membersihkan masjid, marbot juga bertanggung jawab akan kelancaran shalat di masjid tersebut.)


Merbot itu memang biasa datang ke mesjid lebih awal dari para warga untuk melaksanakan tugasnya.


Karena tampilan mereka mencurigakan marbot tersebut mengintogasi mereka.


"Maaf tuan-tuan, sepertinya saya baru melihat kalian?" tegur marbot itu.


Gian dan Erwin yang baru saja ingin bersantai segera bangkit dari duduknya karena di tegur oleh marbot itu, dan tidak  menyia-nyiakan kesempatan, mereka  pikir inilah kesempatan bagi mereka untuk mencari informasi di mana rumah Rima.


"Iya pak, kami baru pertama kalinya menginjakkan kaki di sini." Jawab Gian.


"Memang kalian dari mana? Ada perlu apa kalian datang ke desa kami?" Ia bertanya kembali.


"Begini pak, kami Dari kota jakata kami datang kemari atas undangan sodari Rima, katanya beliau mau menikah kami di undang datang dalam pernikahannya." Gian sengaja mencari alasan.


"Apa kalian majikannya Rima?" 


"Ya, bisa dibilang seperti itu." tegas Gian.


"Ya, Rima memang baru sampai tadi sore, tapi pernikahannya hanya ijab Kabul saja dan itu rencananya akan dilaksanakan di KUA, secara sederhana."


"Untuk acara resepsinya katanya nanti akan direncanakan lagi." sambung barbot tersebut.


"Iya pak, kami sudah tau hal itu." Kali ini Erwin yang menjawabnya.

__ADS_1


"Kalau boleh tau yang mana ya rumah, Rima?" Gian sudah penasaran ingin segera tau dimana rumahnya Rima.


"Ada di ujung desa ini, Tuan." jelas marbot itu.


"Kalau mau saya bisa mengantar kalian, tapi sebentar lagi akan subuh saya mau solat berjamaah subuh dulu, kalau kalian tidak mau nunggu ya tidak apa-apa, kalau mau duluan juga silahkan." ucap marbot itu.


"Oke, kami akan menunggu sambil beristirahat, dan kami juga ingin ikut berjamaah solat subuh."


"Oo baiklah silahkan menunggu, saya selesaikan pekerjaan saya lagi." Lalu marbot itu pergi meninggalkan mereka dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Dan sampailah pada waktu subuh, marbot itu segera menabuh bedug sebagai ciri bahwa waktu subuh telah tiba.


Ia juga langsung mengumandangkan adzan subuh, untuk mengundang para warga agar segera berkumpul menunaikan sholat subuh berjamaah.


Saat adzan subuh dikumandangkan satu persatu warga berdatangan untuk melaksanakan solat subuh berjamaah.


Kemudian sholat subuh berjamaah segera dilaksanakan Gian, Erwin dan juga sopir ikut di antaranya, melaksanakan shalat berjamaah dengan khusyuk dan khidmat, dua raka'at telah selesai di tunaikan.


Kini Gian dan yang lainnya menjadi pusat perhatian para warga ketika itu, sebenarnya para warga bertanya-tanya siapa mereka.


Tapi karena singkatnya waktu tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk bertanya.


Sebab marbot yang tadi  segera menghampiri mereka, ingin menepati janjinya.


Mereka pun segera berlalu meninggalkan masjid tapi sebelum itu Gian memasukan beberapa lembar uang kertas berwarna merah ke dalam kotak amal yang tersedia di masjid itu.


Di perjalanan, Gian sengaja bertanya tentang sosok Rima  dan keluarganya di mata masyarakat kepada marbot itu.


"Nak Rima dan orang tuanya orang baik. Mereka termasuk keluar berada, karena penghasilan Nak Rima yang bekerja di kota Jakata katanya cukup besar, sehingga bisa memulihkan perekonomian keluarganya." 


Karena sebelumnya mereka sangat miskin sampai akhirnya Rima dibawa oleh tetangganya memasukannya ke yayasan penyalur tenaga kerja, untuk di salurkan sebagai babysitter.


Dan kebetulan Rima bernasib baik ia bekerja di keluarga Papa Arga sebagai pengasuh Sisil, dengan upah yang lumayan besar.


"Loh, kan jodoh tuhan yang mengatur, mengapa harus dicemooh, diKatain perawan tua?" Gian dan Erwin merasa heran.


"Iya, itu sudah teradisi di desa kami, makanya nak Rima segera dijodohkan dan akan segera dinikahkan saat ini juga." terang marbot itu.


Gian dan Erwin hanya saling memandang ketika mendengar pernyataan marbot itu.


Lalu Erwin bicara berbisik di telinga Gian.


"Bagaimana ini, kok aku ragu bisa membawa Rima kembali bersama kita." Erwin merasa mereka akan mendapat hambatan besar.


"Dah tenang dulu, jangan menyerah sebelum bertarung, bagaimana mau tau hasilnya jika belum mencoba dan berusaha." Gian menimpali dengan berbisik pula.


Dan kini mereka sudah memasuki pekarangan rumah Rima.


Keadaan sudah mulai terang sebab sang Surya sudah berangsur-angsur menampakkan dirinya.


Di rumah Rima pun sudah terdengar bisik-bisik suara manusia, menandakan bahwa penghuni rumah sudah bangun dan sudah beraktivitas.


"Ini rumahnya, Tuan." tunjuk marbot.


"Iya …" sahut Erwin dan Gian serentak.


Lalu semua turun dari mobil dan segera memasuki teras kemudian mengetuk pintu.


Tok … tok … tok … 


"Assalamualaikum ….!" Marbot yang mengucap salam.


Tidak lama ada sosok wanita paruh baya yang membuka pintu sambil menjawab salam, "Waalaikumsalam …." 

__ADS_1


Tapi ia begitu terkejut ketika melihat orang-orang yang datang sebab orang yang datang tidak ia kenal dan berpenampilan seperti orang orang kaya dari kota.


Itu yang membuatnya terkejut karena merasa takut keluarnya memiliki problem dengan mereka.


Lagi pula mereka bertamu di pagi-pagi buta yang membuat wanita paruh baya itu kaget dan merasa takut atau curiga.


"Pak Salim, siapa mereka?" tanya Mimin ibu dari Rima.


Dan pak Salim adalah nama si marbot tersebut.


"Ini Bu Mimin, ada tamu yang mencari Rima." ucap pak Salim mengejutkan Bu Mimin.


Ia makin panik ketika mendengar orang-orang itu datang untuk mencari putrinya, ia merasa kecurigaannya benar bahwa Rima memiliki masalah dengan mereka.


"Maaf ya, ada apa mencari putri saya." dengan suara bergetar dan ekspresi wajah ketakutan Bu Mimin bertanya.


"Maaf Bu apa kami boleh masuk dulu nanti akan kami jelaskan apa maksud kedatangan kami datang kemari." Gian yang berucap.


Erwin hanya menganggukkan kepalanya.


Masih dengan rasa takut Bu Mimin akhirnya mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Baiklah silahkan masuk."


Mereka semua masuk termasuk sopir dan juga pak Salim juga ikut masuk bersama mereka.


Setelah mereka masuk dan duduk di ruang tamu Bu Mimin memanggil suaminya yang sedang berada di belakang rumah memberi makan hewan peliharaannya.


"Pak … pak …!" teriak Bu Mimin memanggil suaminya.


"Ada apa Bu! Teriak-teriak begitu? Kaya orang kesambet aja." suami Bu Mimin sedikit geram mendengar teriakkan istrinya memanggil dirinya.


"Itu pak, di luar ada tamu." Bu Mimin memberi tau.


"Tamu sepagi ini,l? kan jadwal pernikahannya masih lama Bu, ko keluarga besan sudah datang sepagi ini." Suami Bu Mimin mengira keluarga besan atau calon mempelai pria yang datang.


"Bukan pak, bukan mereka yang datang." tegas Bu Mimin.


"Lalu siapa, yang bertamu sepagi ini." Suami Bu Mimin pun merasa heran.


"Sudah ayo temui mereka dulu pak." perintah Bu Mimin.


Dan ya, suami Bu Mimin atau ayah Rima segera membersihkan diri, lalu menemui tamunya.


Sama seperti istrinya ia pun merasa curiga sepertinya ada yang tidak beres dengan kepulangan Rima yang mendadak, dan bahkan siapa untuk dinikahkan saat itu juga.


Padahal sebelumnya mereka sudah sering membujuk Rima untuk pulang dan menikah.


Bapak Rima duduk setelah menyapa para tamunya.


"Maaf sebelumnya kalian ini siapa? Ada perlu apa datang kemari?" tanya bapak Rima penasaran.


Ibu Mimin masuk kembali sambil membawa minuman untuk disuguhkan kepada para tamunya, lalu ia pun ikut duduk bersama di sana, sebab ia juga merasa penasaran atas kedatangan tamu tak di undangnya itu.


"Maaf sebelumnya pak, Bu, juga pak Salim, Terimakasih telah mau direpotkan mengantarkan kami sampai di sini." Gian basa-basi terlebih dahulu.


"Iya, saya hanya ingin membantu." jawab pak Salim.


"Jadi begini, pak, Bu, maksud kedatangan kami kemari, kami ingin memanggil kembali Rima untuk kembali bekerja pada kami sebagai babysitter putri saya." Kali ini Erwin yang berbicara mulai menjelaskan apa tujuan kedatangannya.


...


Akan seperti apa reaksi Bu Mimin dan suaminya setelah itu apa tujuan kedatangan Erwin dan gian ...

__ADS_1


simak cerita berikutnya ya ...


__ADS_2