Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 119


__ADS_3

Mama Nirmala tidak ingin Erwin mempermainkan Rima, karena dari awal Erwina tidak menginginkan pernikahan itu.


"Lalu apa yang terjadi, Rima?" Kali ini Gian yang bertanya, karena merasa geram melihat Rima, yang terkesan mempermainkan rasa penasaran mereka.


Gian seakan tidak mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Rima, padahal Rima sendiri sedang bergulat dengan perasaannya yang tidak karuan, tapi Rima tetap dituntut untuk mengutarakan tentang kejadian malam itu.


Rima tertunduk, mengatupkan bibirnya, lalu memejamkan matanya secara kasar, Manarik nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar, Rima melakukan hal itu untuk mengumpulkan keberaniannya, untuk  bicara tentang kebenaran Malam itu.


"Lalu … terjadilah, kejadian …  a-anu, terjadi begitu saja, tanpa paksaan, ataupun tanpa kekerasan." Akhirnya Rima bisa mengungkapkannya, tapi diakhir ucapnya ia malah menangis.


Semu bingung melihat Rima, kenapa ia malah menangis. Erwin melepaskan genggaman tangannya, lalu memegangi kedua pundak Rima, "Heh, kamu kenapa, kok menangis," tanya Erwin.


"Maaf kan saya, karena kejadian itu tidak anda kehendaki tuah, sehingga Anda sampai jatuh sakit, karena hal itu."  Rima tetap merasa ia yang bersalah sebab Rima dalam keadaan sadar saat melakukan hal itu sedangkan Erwin sendiri sedang dalam pengaruh minuman beralkohol.


"Sudah aku bilang ini bukan salahmu," Erwin menenangkan Rima.


"Oke semua sudah jelas ya, Erwin. Rima sudah menjadi istrimu seutuhnya, jaga dia, bahagiakan dia, mama tidak ingin mendengar rumah tangga putra-putra mama berantakan, karena itu akan menyakiti bagi mama." Mama Nirmala tidak hanya mengingatkan Erwin, tapi ia juga mengingatkan Gian.


Mengingat pernikahan Gian juga awalnya tanpa adanya rasa cinta, meskipun sekarang hubungan rumah tangga mereka sudah membaik penuh cinta, tapi tetap saja mereka harus tetap diingatkan agar rasa cinta mereka makin kuat.


"Rima, sekarang kamu sudah jadi anggota keluarga kami, kamu istri Erwin, jadi kamu harus bisa mengimbangi kami terutama mengimbangi suami-mu, dari penampilan, dan bahasamu, seperti Akira dulu mama akan merubah penampilanmu agar lebih berkelas jangan lagi kamu menggunakan seragam babysitter-mu."


"Karena mama akan mencarikan penggantimu."  lanjutnya.


"Tapi Nyonya ~" terhenti.


"Apa?" Nyonya Nirmala langsung memotong ucapan Rima yang ingin protes.


"Tidak ada tapi-tapian laga, suka tidak suka, kamu harus mengikuti peraturan di rumah ini, biasakan panggilan saya Mama, seperti yang lain, dan panggilan suamimu dengan sebutan yang layaknya seorang istri memanggil suaminya, untuk awal-awal Saya memaklumi jika kamu masih merasa canggung tapi tetap harus dibiasakan, jika kamu masih bersikeras seperti kemarin tidak mau mengikuti peraturan di rumah ini, jangan salahkan saya jika saya tidak berpihak padamu nanti." 


Mama Nirmala sengaja bersikap tegas agar tidak ada yang membangkang atas peraturannya.


"Untuk kamu Erwin, dukungan istri-mu untuk perubahannya, jika perlu, lanjutkan pendidikannya untuk mengimbangi-mu, libatkan dia dalam setiap urusan mu." Mama Nirmala juga memberi saran kepada Erwin.


"Iya, Mah!" sahut Erwin patuh.


"Oo iya, ada satu hal lagi yang ingin mama sampaikan." 

__ADS_1


Semua mengerutkan keningnya, merasa penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Mama Nirmala.


"Pernikahan ini harus dipublikasikan, agar tidak terjadi fitnah, seperti bi Sumi, yang telah salah paham dengan kejadian antara kalian berdua (Erwin dan Rima)" 


Bi suami adalah ART yang telah mengumpulkan bukti-bukti tentang kejadian malam itu, iya merasa curiga telah terjadi sesuatu kepada Rima dan Erwin maka dari itu, ia melaporkannya.


Karena Bi suami belum tahu jika Rima dan Erwin sudah menikah, sehingga ia berpikir yang macam-macam.


Karena itu mama Nirmala ingin mengadakan resepsi untuk pernikahan Erwin dan Rima, Kebetulan juga mama Nirmala dan Papa Arga ternyata sudah mengunjungi orang tua Rima saat keluar kota kemarin.


Mereka sengaja menyambangi rumah Rima di kampungnya, bersilaturahmi dengan besan mereka, dan memperkenalkan diri mereka sebagai mertua Rima.


Dalam pertemuan itu, dua pasang orang tua telah sepakat akan mengadakan resepsi pernikahan tersebut di kampung Rima tapi mama Nirmala dan Papa Arga memilih hotel bintang lima sebagai tempat resepsinya.


Awalnya kedua orang tua Rima meminta resepsi di gelar di kediaman mereka, tapi mama Nirmala memberi pengertian, bahwa mereka juga akan mengundang banyak tamu, mulai dari kerabat serta kolega, jadi butuh tempat yang lebih layak, untuk menyambut para tamu terhormat mereka.


Dan akhirnya kedua orang tua Rima mengerti dan menyerahkan segala urusannya kepada keluarga besannya.


"Jadi mama sudah mengatur semuanya?" tanya Erwin.


Ya, baik Erwin maupun Rima hanya bisa pasrah mengikuti apa yang sudah direncanakan oleh Mama Nirmala, karena itu juga memang untuk kebaikan mereka semua.


Erwin dan Rima, juga mengingat Suster Eka yang telah salah paham kenapa terhadap hubungan mereka, maka untuk mengantisipasi hal itu terjadi kembali maka Erwin dan Rima menyetujuinya.


Semua telah selesai di bahasa, dan kini waktunya makan siang, Mama Nirmala mengajak semua untuk makan siang bersama.


Ketika semua hendak beranjak dari ruang keluarga beralih ke meja makan Rima tetap duduk anteng di sana.


Rima menjadi pusat perhatian semua orang, "Mbak Rima, kenapa?" tanya Akira merasa heran melihat tingkah Rima  yang aneh.


Dan tanpa menatap siapapun Rima menjawab, "Saya memikirkan tentang Sisil," semua tercengang mendengar apa yang diucapkan oleh Rima.


Semua kembali duduk untuk membahas masalah Sisil, yang jadi beban pikiran Rima.


"Kenapa dengan Sisil?" tanya mama Nirmala Setelah duduk kembali.


"Siap yang akan menggantikan saya, sebagai babysitter Sisil, dan apakah Sisil akan mau di asuh oleh orang lain kecuali oleh saya?" Rima melontarkan pertanyaan secara beruntun tentang bagaimana dengan Sisil nantinya.

__ADS_1


Mengingat Sisil sangat ketergantungan terhadap Rima, Rima tidak ingin pernikahannya dengan Erwin Malah akan jadi bumerang bagi Sisil, sedangkan tujuan awal pernikahan mereka memang  demi Sisil.


"Terima kasih, Rima. Kamu tetap memikirkan cucu saya, tapi tidak usah khawatir tentang itu, kamu tidak diminta untuk meninggalkan Sisil, kamu memang harus tetap memperhatikan Sisil karena sekarang dia juga telah menjadi anakmu,"


"Tapi karena sekarang tanggung jawabmu bukan hanya mengurus Sisil kamu akan  keteteran, Rima. Maka dari itu saya akan menyewa babysitter untuk membantumu dalam mengurus Sisil, tapi tetap dalam pengawasan-mu."  Panjang lebar mama Nirmala menjelaskan kepada Rima.


"Apa Sisil akan mau jika ada babysitter baru untuknya?" Rima merasa tidak yakin.


"Sayang, Sisil anak pintar dia akan mengerti ketika sudah dijelaskan dan diberi pengertian nanti. "Erwin juga ikut menenangkan istrinya yang terlalu mengkhawatirkan akan seperti apa kedepannya.


Setelah diberi pengertian akhirnya mengerti dan terlihat lebih tenang, sesuai rencana yang tertunda merek beralih ke meja makan untuk makan siang.


Setelah semua telah duduk di meja makan, mereka semua merasa bingung karena Rima tidak ada di antara mereka.


Mama Nirmala bertanya, kepada Erwin kemana perginya Rima, Erwin sendiri tidak tahu.


"Tadi bukanya dia sudah ikut bangkit dari tempat duduknya, kupikir dia ikut bersama kita, lalu kemana perginya dia." Penjelasan Erwin lalu balik bertanya.


"Lah, kamu gimana sih, Win! Kamu kan suaminya, istri tuh di gandeng biar gak ilang," ucap papa Arga menggoda Erwin.


Semua menertawakan Erwin yang belum peka atau belum terbiasa dengan hadirnya Rima sebagai istrinya.


Baru saja Mama Nirmala menyuruh salah satu ART-nya untuk memanggil Rima, yang menurut mereka Rima pasti menemui Sisil di kamarnya, jadi mama Nirmala menyuruh ART memanggil Rima di kamar Sisil.


Tapi dari arah kamar Sisil, Rima dan Sisil berjalan sambil bercanda gurau. Sesuai dugaan mereka Rima pasti menemui Sisil. Karena Rima tidak akan bertindak tanpa memperhatikan atau mempedulikan Sisil terlebih dahulu.


Keduanya duduk di tempat biasa, Sisil duduk diantara Erwin dan Rima, ya ... Rima memang sering ikut bergabung bersama mereka di meja makan, tapi hanya untuk menyuapi Sisil.


Berbeda dengan hari ini, Rima duduk bersama mereka sebagai istri Erwin, dan kali ini ada ART yang akan menyuapi Sisil, sehingga Rima dan Sisil harus bertukar tempat, kini Rima yang duduk tepat di sebelah Erwin.


Semua terasa canggung bagi Rima, karena ia belum terbiasa dengan status barunya, sebenarnya ia lebih nyaman hanya menjadi seorang babysitter, daripada menjadi seorang istri Erwin.


Mengapa Rima merasakan perasaan seperti itu? Karena Rima merasa minder, dia kurang percaya diri, ini yang harus menjadi tugas Erwin, ia harus membuat Rima pede, dan merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka sebagai menantu di sana.


Erwin mengerti, apa yang harus ia lakukan, padahal Erwin baru pulang dari rumah sakit, tapi kali ini Erwin yang melayani Rima, menyendok nasi dan lauk pauknya, serta menyiapkan air minum untuk Rima.


Padahal Rima sudah mencegahnya agar dirinya saja yang melakukannya tapi, Erwin menghiraukannya.

__ADS_1


__ADS_2