Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 179


__ADS_3

Hari mulai gelap, seharusnya jam tugas Yuri telah selesai. Namun Yuri masih berada di rumah sakit demi untuk menyelesaikan tugasnya, menunggu hasil pemeriksaan Putra keluar.


Sekitar jam tujuh malam, petugas dari lab mengantarkan hasil pemeriksaan itu ke ruangan Dokter Yuri.


Dokter Yuri sedang duduk, memainkan ponselnya di kejutkan dengan suara ketukan pintu.


Tok, tok, tok, suara  pintu di ketuk, menandakan ada seseorang yang datang, Dokter Yuri segera mendongakkan kepalanya menatap ke arah pintu lalu mempersilahkan orang yang di luar sana untuk masuk.


"Masuk …!" seru dokter Yuri.


Kemudian petugas segera masuk lalu menyerahkan apa yang Dokter Yuri pinta dan yang ia tunggu sedari tadi.


"Terima kasih!" ucap Dokter Yuri, setelah mengambil amplop yang petugas sodorkan kepadanya.


Setelah mendapatkan apa yang ia tunggu sedari tadi, Yuri segera bergegas bangkit dari tempat duduknya dan berlalu menuju kamar rawat inap Putra Mahendra, yang dirawat dengan fasilitas ruangan terbaik di rumah sakit tersebut.


Saat Yuri mengetuk pintu kamar ruang di mana putra dirawat, Yuri merasa suasana kamar sangat ramai, sebenarnya Yuri sempat ragu untuk masuk, tapi ia tetap harus menyampaikan tentang hasil lab-nya kepada keluarga pasien.


Kemudian Yuri tetap meneruskan tujuan awalnya, tok, tok, tok, Yuri mengetuk pintu, "Permisi …!" lanjut Yuri.


Dan hal itu menyita perhatian orang-orang yang ada di dalam ruangan, sehingga semua mata tertuju kepada nya.


Dan Akira yang membukakan pintu, "Dokter, silahkan masuk …!" Akira mempersilahkan dokter muda itu untuk masuk.


Saat Yuri masuk ia menjadi pusat perhatian semua orang, ternyata di ruangan itu, memang sedang banyak orang, sesuai dengan dugaan Yuri.


Ya, papa, kedua nenek dan kakeknya Putra ada di sana, om Erwin, Tante Rima, bahkan Sisil juga ada disana, Akira dan  Juna tentunya masih setia menemani putra, mereka sangat panik ketika mendengar Putra mengalami kecelakaan, dan karena itu mereka datang berbondong-bondong ke rumah sakit untuk menjenguk Putra, dan memastikan keadaannya.


Mereka semua memang menatap Yuri, entah mengapa dari tatapan mata mereka Yuri merasa ada kehangatan yang Yuri rasakan.


Sebab mereka semua menatap Yuri, sambil melempar senyum ramah.


Yuri membalas tatapan dan senyuman mereka satu-persatu, Sambil menunduk hormat.


Juna pun menyapa menyapa Yuri, "Dokter Yuri, anda belum pulang?" 


"Belum Dok, saya sengaja menunggu hasil pemeriksaan pak Putra terlebih dahulu." jawab Yuri menerangkan.


"Hey, sudah kubilang jangan panggil pak!" Putra tidak suka Yuri menyebutnya dengan sebutan itu.

__ADS_1


"Lalu, saya harus menyebut anda dengan sebutan apa?" tegas Yuri bertanya.


"Udah ayang aja …!" celetuk Sisil bercanda.


"Eeh, nanti ada yang marah loh!" Rima menimpali.


"Iih, orang jagoan kita jomblo sejati, mana ada yang marah!" kali ini Erwin ikut menimpali.


Semua tertawa menertawakan Putra yang masih jomblo, apalagi Sisil semakin menjadi mengejek Putra yang jomblo sejati.


Putra sangat kesal dengan guyon mereka, ia mengadu kepada ibunya, meminta ibunya untuk menyuruh mereka pergi, karena Putra merasa terganggu dengan guyonan mereka, tapi semua itu hanya sebuah candaan mencairkan suasana, yang memang terasa hangat.


Yuri menyaksikan semua itu, ia termenung mencerna keadaan, mengapa mereka terlihat sangat akrab satu sama lain, mereka terlihat sangat perhatian kepada Putra, pantas Putra  memiliki sikap egois dan manja, ternyata ia memang kesayangan seluruh keluarga.


Dokter Yuri juga berpikir, alangkah bahagianya hidup sebagai Putra, hidupnya terlihat begitu sempurna, ia masih memiliki kakek, nenek yang lengkap, keluarga yang begitu sangat perhatian dan menyayanginya.


Berbanding terbalik dengan Yuri, ia hanya seorang gadis dari daerah terpencil daerah pedalaman, tidak memiliki keluarga lain selain ayah dan ibunya yang tidak pernah menyayanginya. Yuri merasa iri melihat Putra.


Dan ketika itu Juna memperhatikan Dokter Yuri, yang terlihat termenung, kemudian Juna menegurnya.


"Dokter Yuri!" tegur Juna.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Juna merasa curiga melihatnya.


"Oo iya, saya baik Dok!" sahut Dokter Yuri.


"Kamu pasti heran melihat pasienmu yang satu ini, dia memang aga lain, dia tuan muda kesayangan seluruh keluarga, beda dengan ku, hanya anak buangan." bisik Juna, terdengar nada ke getaran dalam ucapannya.


Yuri mengerutkan keningnya mendengar ucapannya, sontak Yuri segera melihat wajah Juna, yang memandang orang-orang di depan mereka.


Yuri merasa heran mengapa Juna bicara demikian.


"Apa maksudnya anak buangan?" Yuri bertanya ingin lebih jelas.


Juna malah tersenyum pahit, "Tidak usah dibahas ceritanya panjang, yang jelas aku hanyalah anak pungut, tapi aku bersyukur bisa di asuh di keluarga ini, sehingga aku bisa jadi seperti sekarang ini!" Ucap Juna tetap bersyukur." Juna sedikit menerangkan tentang siapa dirinya.


Yuri hanya terbengong menyimaknya, "Pantas saja, kepribadian Juna dan putra sangat berbeda, meskipun mereka berstatus adik kakak," Yuri baru memahaminya.


Kemudian Juna bertanya lagi, "Eh, tadi kamu bilang ingin menyampaikan hasil pemeriksaan Putra, bagaimana hasilnya?" Juna mengingatkan Yuri sekaligus bertanya.

__ADS_1


Ya karena menyimak keadaan di ruangan itu, Yuri sampai melupakan tujuan awalnya.


"Oo … iya," kemudian Yuri menyodorkan amplop yang berisi hasil pemeriksaan Putra, karena Yuri pikir Juna pun pasti mengerti dengan hasilnya yang tercatat di kertas yang terdapat di dalam amplop tersebut.


Namun Juna menolak untuk membuka dan menerangkan kepada keluarganya.


Juna tetap ingin Yuri yang melakukan hal itu, karena itu memang tugasnya, untuk menunjukkan pemahaman Yuri di depan seluruh keluarganya.


Lalu Juna meminta perhatian dari keluarganya , agar menyimak apa yang akan dokter Yuri sampaikan mengenai kesehatan Putra.


Semua mulai diam untuk mendengarkan apa yang akan dokter Yuri sampaikan sesuatu dengan hasil yang tertera.


Di Dalam kertas itu, bahkan di dalam amplop coklat besar terdapat gambar hasil rontgen beberapa anggota tubuh bagian dalam tubuh Putra.


Dan alangkah bahagianya, seluruh keluarga mendengarkan apa yang dokter Yuri katakan, sebab dokter Yuri menyatakan bahwa, Putra tidak mengalami luka dalam, hanya ada beberapa memar saja dan luka di bagian kulit luar yang lumayan dalam.


Tapi itu tidak terlalu jadi masalah, sebab itu masih bisa diatasi dengan meminum obat, tanpa melakukan tindakan operasi, atau semacamnya yang bisa mengancamnya resikonya.


"Syukurlah juga Putra tidak apa-apa!" Nenek dan kakeknya merasa lega.


Setelah selesai menerangkan atau memberi tau tentang hasilnya pemeriksaan pasiennya, dokter Yuri undur diri, dan pamit untuk pulang karena jam tugasnya telah selesai dari sejak sore tadi.


"Jika ada perlu apa-apa atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, anda semua bisa memanggil tim medis yang sedang berjalan," terang dokter Yuri sebelum pergi.


Semua mengerti dengan apa yang dokter Yuri sampaikan.


Karena waktu pun sudah semakin malam, keluarga memutuskan untuk pulang, Juna pun mengajak Ibunya (Akira) untuk pulang.


Awalnya Akira menolak dan tetap ingin menemani Putra di sana. Namun, Juna dan Gian melarangnya dan tetap meminta Akira untuk pulang.


"Ayo, Bu! Aku antar pulang, sekalian aku mau membersihkan diri lalu aku dan papa yang akan menemani Putra di sini!" ajak Juna.


Ya, karena tidak ada pilihan lagi bagi Akira, sebab ingin menolak pun rasanya percuma. Akhirnya Akira ikut pulang bersama Juna.


Kini di ruangan hanya ada Putra dan papanya ( Gian ), Mereka berbincang berdua, "Pah! Aku ngantuk sekali." Putra terlihat menguap dan matanya mulai menyipit, dan perlahan ia terlelap begitu saja, mungkin itu efek samping dari obat yang sebenarnya putra minum.


"Tidurlah nak!" gumam Gian ketika melihat putranya sudah benar-benar terlelap.


Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, ketika ia melihat Dokter Yuri, mengapa ia merasa tidak asing lagi dengan gadis itu, batinnya mengatakan bahwa dirinya sudah mengenal Dokter Yuri cukup lama.

__ADS_1


Sehingga Gian berpikir keras, kapan dan di mana ia bertemu dengan gadis itu, padahal seingat nya ia baru bertemu kali ini dengan Dokter Yuri.


__ADS_2