Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 111


__ADS_3

Mendengar Papinya sakit, tetap saja Sisil merasa terkejut, "Apa! Memangnya Papi sakit apa, kenapa sampai harus dirawat di rumah sakit?"


Sisil terlihat sangat panik, Tapi Rima berusaha untuk menenangkannya.


"Sisil sayang kamu tenang dulu, kita kan belum tahu bagaimana kondisi Papi mu di sana bagaimana, makanya kita akan menengoknya, jadi kita doakan saja semoga papi mu baik-baik saja ya. " Ucap Rima sambil mengelus kepala Sisil.


Setelah mendengar kata-kata Rima Sisil menjadi lebih tenang dan dalam hatinya berdoa mendoakan papi nya.


Sekitar tiga puluh menit, mereka telah sampai di rumah sakit di mana Erwin dirawat, sebelum masuk Rima telah menghubungi Giant terlebih dahulu, memberitahunya bahwa mereka sudah ada di depan rumah sakit.


Gian meminta mereka untuk menunggunya di depan rumah sakit karena Gian akan menjemput mereka.


Tidak lama Gian  muncul menghampiri mereka, Sisil langsung berlari ke arah Gian ketika melihat Gian datang.


"Om…. " Seru Sisil sambil berlari.


Gian langsung berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan sang keponakan tersayang.


Sisil berhambur pelukan, Giant mendekatnya dalam pelukannya.


Tanpa basa-basi lagi Sisil langsung menanyakan tentang kondisi Papinya, "Om, memangnya Papiku kenapa sampai harus di rawat di sini."


"Papi mu nakal, dia telat makan jadi masuk angin dan sakit." Gian menggoda Sisil dengan candaannya.


"Makanya, Sisil, tidak boleh nakal, harus makan biar gak sakit!" Gian menasehati Sisil.


"Iya, om." Jawab Sisil patuh.


Sambil digendong oleh Gian, Sisil terus saja berbicara, menanyakan segala hal yang ingin ia tahu, terutama tentang anteunya yaitu-Akira.


Rima mengekor di belakang Gian yang menggendong sisil, tentunya Rima juga mendengar percakapan mereka.


Selang beberapa waktu tidak terasa, ternyata mereka telah sampai di depan ruangan Erwin.


Ruangan yang Erwin tempat ruangan VIP hanya ada satu pasien dan dengan layanan fasilitas terbaik.


Meskipun begitu, namun, Sisil tidak diperbolehkan berada lama-lama di tempat seperti itu.


Gian membuka pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.


Di sana terlihat Erwin yang terkulai lemah tidak berdaya.


Gian membawa Sisil menghampiri Papinya lalu mendudukkannya di samping Papinya di atas bed rumah sakit.


"Papi, papi kenapa, tadi siang papi baik-baik saja, kenapa sekarang begini?" tanya Sisil.

__ADS_1


Memang tadi saat mereka  sampai Erwin sedang tidur, tapi ketika mendengar putri kecilnya bertanya, Erwin langsung terbangun dari tidurnya dan mencoba membuka matanya, tapi mata itu hangat mampu terbuka setelahnya dari biasanya.


Erwin merasa kelopak matanya sangat berat untuk dibuka, karena silau cahaya menambah kepalanya makin pusing.


"Sisil, kamu di sini, Nak." Erwin bertanya untuk memastikan bahwa itu benar Sisil, bukan halusinasinya.


"Iya, ini Sisil putrimu." Tegas Gian.


Erwin menggapai tangan mungil putrinya lalu mengecupnya, "Nak papi tidak apa-apa, Papi cuma butuh istirahat, seperti Sisil kemarin."


"Setelah di rawat di sini Papi juga akan cepat sembuh, Sisil jangan khawatir ya," sambung Erwin.


"Iya, Papi." jawab Sisil patuh.


Dan ini kesempatan untuk Gian memberi tahu Sisil, bahwa Sisil akan pulang bersamanya bertemu anteu baiknya.


Sedangkan Papi Erwin akan bersama mbak Rima di sana, mbak Rima yang akan menemaninya.


Sisil senang bukan main ketika mendengar penjelasan Gian, karena dia akan bertemu dengan Akira, 


"Sisil, gak pa-pa kan, mbak Rima-nya di sini menemani Papi Sisil?" Gian bertanya memastikan .


"Iya, om. Gak pa-pa kok yang penting Papi cepat sembuh.


....


"Ya sudah, Sayang. Kita pulang sekarang anteu Akira sudah menunggumu di rumah kakek Ayus," ajak Gian.


"Ayo, Papi, Sisil pulang dulu ya, Papi cepat sembuh ya, Sisil sayang Papi." Pamit Sisil lalu mencium kedua pipi Papinya.


Gian menurunkannya dari ranjang karena sebelumnya ia duduk di atas ranjang rumah sakit di sebelah Papi.


"Hati-hati ya, Nak," seru Erwin


"Iya, Papi …." Jawab Sisil sambil berjalan mendekati Rima yang berjarak agak jauh dari ranjang rumah sakit, Sisil ingin berpamitan juga kepada Rima.


"Mbak, aku pulang dulu ya, jagain Papi ya mbak!" Sisil berpamitan sekaligus menitipkan Papinya.


Rima tersenyum, "Iya, Sayang, Sisil juga jangan nakal, kasihan anteu Akira-nya, kan! lagi hamil," Rima mengingatkan Sisil.


"Tenang, Mbak. Sisil anak baik kok!" jawab Sisil.


Gian juga berpamitan untuk segera membawa Sisil pulang.


"Tuan Gian, apa tidak merepotkan nona Akira, menitipkan Sisil kepadanya." Rima merasa tidak enak hati, karena Akira sedang hamil besar.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, kami bisa mengatasinya, ada aku, ibu dan ayah mertuaku yang akan ikut menjaga Sisil, lagian Sisil anak baik kok, dia tidak akan merepotkan," ucap Gian, untuk meyakinkan Rima, agar jangan mengkhawatirkan Sisil.


"Kamu fokus aja jagain, mas Erwin!" Lanjut Gian.


"Baik, Tuan." Jawab Rima, kemudian dia mencium pipi Sisil sebelum Sisil pergi dan mengelus kepalanya, Rima sangat menyangi Sisil seperti buah hatinya sendiri.


Erwin melihat jelas setiap perlakuan Rima kepada Sisil memang tidak dapat diragukan lagi, di begitu tulus mencintai dan menyayanginya.


Rima sampai rela membatalkan pernikahannya dengan pemuda pilihan orang tuanya dan menikah dengan Erwin demi Sisil.


Selepas kepergian Gian dan Sisil, kini hanya ada Rima dan Erwin di ruangan itu.


Suasana terasa begitu kaku, Rima bingung akan berbuat apa?.


Sedangkan Erwin tetap berbaring di tempat tidurnya, dengan jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.


Itu menandakan Erwin benar-benar lemas tidak berdaya, ia sungguh butuh istirahat matanya terpejam, seakan tidak memperdulikan keberadaan Rima di sana.


Rima memberanikan diri melangkah dengan ragu mendekati Erwin. Lalu berdiri di samping Erwin yang masih memejamkan matanya.


Rima menatap lekat wajah suaminya yang pucat, tapi tidak melunturkan ketampanannya sedikit pun.


Rima memandangnya dari wajahnya sampai sekujur tubuhnya. Rima berpikir tubuh ini begitu gagah dan bergairah saat menggagahinya, mengapa sekarang terkulai lemas seperti ini?.


Rima berpikir tentang dirinya, apa ini semua salahnya?.


Rima memberanikan diri duduk di kursi di sebelah Erwin.


Rima juga mulai menyentuh tangan dingin Erwin, "Dingin sekali …" gumam Rima.


Tapi Erwin tidak memberikan respon apapun ketika Rima menyentuh tangannya.


Rima berniat untuk menarik tangannya kembali, sebab ia takut pergerakannya malah akan mengganggu Erwin.


Tapi Apa yang terjadi, di sepersekian detik, saat Rima mengangkat tangannya, tangan  Erwin bergerak cepat menangkap tangan Rima.


Alangkah terkejutnya Rima dibuatnya, "Maaf, Tuan saya telah mengganggu anda." Rima ketakutan, jantung berdebar kencang, tubuhnya gemetar karena respon spontan yang diberikan oleh Erwin.


"Rima, genggaman lah tanganku, aku butuh ini," ucap Gian, dengan nada suara lemah dan matanya tetap terpejam.


Meskipun demikian Rima tetap bisa mendengarnya dengan jelas, apa yang dikatakan oleh Erwin, Rima merasa lega ketika mendengarnya, karena sebelumnya Rima berpikir Erwin akan memarahinya.


Rima mulai menggenggam tangan Erwin yang terasa dingin, padahal tubuhnya merasakan demam tinggi.


Rima melakukan gerakan seperti memijat di telapak tangan Erwin serta jari jemarinya, berniat untuk menghangatkannya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan saya lakukan ini, agar tangan anda tidak kedinginan seperti ini." ucap Rima, agar Erwin tidak salah paham kepadanya.


Erwin hanya terlihat mengangguk, iya memang merasakan rasa hangat di telapak tangannya, saat tangannya di genggam oleh Rima.


__ADS_2