
"Anda, di rumah sakit, Tuan, Anda telah koma selama 3 hari ." Suster memberi tahu.
"Kenapa aku?" Gian kembali bertanya, karena ia belum mengingat apapun.
…
"Tuan, sebaiknya Anda, istirahat dulu!" saran Suster.
Ya, Gian memang tetap berbaring, tapi ia juga tetap mencoba mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi, perlahan terlintas bayangan saat-saat mengerikan itu.
Mata Gian membulat ketika ia mengingat sosok m a y a t yang diduga sebagai istrinya itu dengan wujud mengerikan.
Seketika itu ekspresi wajah Gian menjadi tegang, emosinya memuncak, kering mulai membasahi permukaan wajahnya, spontan ia berteriak dengan keras dan lantang, "DIA, BUKAN ISTRIKU … BUKAN!"
Teriakan Gian membuat suster tadi menjadi terkejut dan segera menghampirinya kembali, dan salah satu Suster yang lainnya segera memanggil dokter yang menangani kondisi Gian.
Lalu Suster itu juga menghubungi keluarga Gian, memberi tahu bahwa Gian sudah siuman.
Dan kebetulan, Papa Arga dan Mama Nirmala, juga Erwin serta Rima memang sedang berada di rumah sakit mereka sedang menjenguk besan mereka yaitu kedua orang tua Akira, yang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Gian.
Ketika mendengar kabar tentang Gian semua keluarga segera menuju ruangan ICU, dan terlihat Gian sedang mengamuk dan memberontak sampai-sampai suster dan para petugas medis yang lain terlihat kewalahan untuk menanganinya.
Semua jadi panik melihat keadaan Gian, mereka berpikir, "Ya, Tuhan kenapa lagi ini?" Papa Arga dan Erwin segera masuk kedalam ruangan untuk memastikan ada masalah apa dengan Gian, mengapa ia bisa brutal seperti itu.
Dokter sedang memberikan suntikan penenang kepada Gian, karena hanya itu cara satu-satunya agar dapat melumpuhkan pergerakannya.
"Kenapa dia, Dok?" tanya Erwin.
Dokter mulai menjelaskan bahwa Gian mengalami Syok psikologis.
Syok psikologis disebabkan oleh peristiwa traumatis dan juga dikenal sebagai gangguan stres akut. Jenis syok ini menyebabkan respons emosional yang kuat dan dapat menyebabkan respons fisik juga.
"Lalu apa yang akan terjadi kepadanya, dok?" tanya Erwin lagi dengan nada khawatir.
"Kami, akan melakukan yang terbaik untuk pasien, kita lihat perkembangan berikutnya, setelah itu kami baru akan mengambil tindakan berikutnya," terang dokter
Erwin mengangguk mengerti, "Oke, Dok, terima kasih." ucap Erwin, sebelum dokter itu pamit undur diri untuk kembali ke ruangannya.
Mama Nirmala diizinkan untuk masuk melihat lebih jelas putra bungsunya.
Suasana sendu masih menguasai jiwanya, ketika itu pun air matanya tak henti mengalir membasahi pipinya.
"Putra Mama, Sayang! sembuh lah, Nak!" Mama Nirmala bicara dengan nada sendu sambil mengelus kepala putranya, lalu mencium keningnya.
Setelah beberapa waktu mereka menunggu di sana, Gian mulai tersadar kembali dan masih bereaksi seperti itu.
Ia kembali berteriak dan memberontak ia seperti orang yang sudah hilang akal.
"Istriku belum meninggal, dia masih hidup." Kata-kata itu yang Gian teriakan.
__ADS_1
Kali ini mama Nirmala meminta izin untuk masuk dan menemui putranya, ia ingin menenangkan putranya.
"Cukup Gian, lihat Mama, nak!"
Gian seakan terhipnotis mendengar ucapan Mamanya, "Mama …." gumam Gian.
"Hiks, hiks, tolong jangan seperti ini, Nak! Apa kamu tidak menyayangi mamamu ini, yang menyayangimu sedari kamu kecil, kamu tau, nak, mama tersiksa melihatmu seperti ini." Mama Nirmala berusaha untuk meluluhkan hati Gian.
Mendengar dan melihat mamanya menangis, Gian ikut menangis sambil dipeluk oleh mamanya, "Kenapa, Mah, kenapa Akira harus pergi dengan cara seperti itu." sesal Gian.
"Ini takdir, Tuhan Nak, tidak ada satu orang pun yang bisa menyangkalnya, karena itu sudah dituliskan dalam garis takdir semua orang, sebelum lahir ke dunia, meski seperti apapun kita menjaganya, apapun dan siapapun tetap akan pergi dan menghilang jika tuhan sudah menghendakinya." Mama Nirmala memberi pengertian.
Keduanya menangis pilu sambil berpelukan. "Kenapa, aku tidak mati saja sekalian, kenapa aku harus bangun dari koma, Mah," ucap Gian putus asa.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang, kamu tidak memikirkan perasaan Mama, Nak?"
"Mama juga bisa mati jika putra-putra mama meninggal Mama," lanjut mama Nirmala.
"Kita, lewati ini sama-sama ya sayang, kita doakan istri dan anak-anakmu bahagia di alam sana, mereka akan sedih jika melihat Papinya rapuh seperti ini." Dengan kekuatan yang Mama Nirmala miliki, kekuatan seorang ibu, dapat meredakan emosi sang putri, menjadi patuh kepadanya.
….
Tiga hari berlalu, kondisi Gian mulai stabil meskipun masih murung dan lebih banyak diam, tapi ia sudah dinyatakan sehat dan diperbolehkan untuk pulang.
Tapi ketika itu, hatinya terasa sangat sakit mengingat sosok Akira, yang bisanya Akira akan selalu menyambutnya setiap Gian pulang dari mana saja.
Tapi kini ia merasa hampa, separuh jiwanya hilang.
Raut wajah Gian terlihat sangat sendu, matanya berkaca-kaca, sesekali air mata menetes dari kelopak matanya, meskipun Gian sudah berusaha untuk menahannya.
Gian terlihat mengusap air matanya untuk menghilangkan jejak kesedihannya, tapi tetap saja guratan kesedihan itu terlihat nyata.
Mama Nirmala mengelus pundak Gian untuk menguatkan putarannya. Gian mendongakkan kepalanya melihat ke arah Mamanya yang berada di posisi di sebelahnya.
Gian nampak menahan tangisnya sekuat tenaga dengan mengatupkan bibirnya, mama Nirmala membalasnya dengan senyuman yang meringis, bukti bahwa dirinya juga sama sedihnya tapi ia tetap berusaha untuk tegar.
….
Sampai di rumah, kesedihan Gian bertambah, ia semakin merasa kehilangan, jiwanya semakin terasa hampa, meskipun semua orang menyambut kedatangannya. Tapi tidak ada kebahagiaan sedikitpun dalam hatinya.
Gian segera masuk kedalam kamarnya, ia meminta namanya dan semua orang untuk meninggalkannya dengan alasan ia ingin beristirahat.
Gian mengunci dirinya sendiri di dalam kamarnya, dan ternyata Gian menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara agar tidak ada yang mendengarnya.
"Akira Sayang, dimana dirimu sekarang, aku merindukanmu, sungguh aku sangat merindukanmu …!"
"Hiks, hiks, hiks, maafkan aku, Sayang! aku tidak bisa menjagamu dan anak-anak kita, ini semua salahku, seharusnya aku tidak mempercayai orang lain untuk menjagamu, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu dan anak-anak kita,"
"Akira, aku sangat menyesal … aku sungguh menyesal …" Gian meluapkan semua isi hatinya, ia menangis sesenggukan seorang diri.
__ADS_1
Kepalanya terasa berdenyut, ia merasa kelelahan dan matanya terasa berat lalu terpejam tanpa disadari ia terlelap dalam tidurnya.
Waktu berdekat begitu cepat, tak terasa hari sudah malam sang Surya sudah Tenggelam dalam peradaban malam, dan di gantikan sang rembulan yang bersinar redup penerang Malam.
Malam ini adalah malam ke tujuh yakin malam terakhir dilakukan tahlilan.
Tahlilan adalah ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam kebanyakan di Indonesia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke- empat puluh hari dan ke- seratus hari.
Tujuan tahlilan mendoakan agar mendiang dapat dilapangkan kuburnya dan dilindungi dari siksa kubur.
Jamaah tahlil sudah berdatangan, untuk ikut mendoakan mendiang almarhumah Akira, dan setelah pimpinan tahlilan Kiya haji Husein hadir, maka tahlil segera di mulai.
Saat sedang berlangsungnya acara tahlilan dan bacaan tahlil berkumandang dari setiap jamaah tahlil menggema di seluruh ruangan rumah papa Arga, tiba-tiba Gian terbangun karena mendengar gema'an suara tahlil yang di lantunkan.
Mendengar suara itu, entah mengapa bulu kuduk Gian berdiri, ia merasa merinding dibuatnya, Gian segera keluar dari kamarnya lalu berteriak, "HENTIKAN …!" seketika itu semua mata terfokus kepada Gian yang berteriak.
Erwin, papa Arga dan Mama Nirmala segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri Gian. "Apa ini, Mah? untuk apa semua ini?" tanya Gian.
Dan pertanyaan Gian membuat semua orang yang mendengarnya tercengang, "Mengapa orang itu bertanya seperti itu?" Pertanyaan para jamaah dalam benaknya.
"Ini untuk mendoakan almarhumah Akira dan juga anak-anaknya." jawab Mama Nirmala.
Tapi Gian mengangkat satu tangannya, untuk menghalau agar tidak ada lagi yang bicara, karena dirinya yang akan bicara.
"Hentikan semua ini, silahkan doa'kan anak dan istriku, tapi jangan anggap mereka telah meninggal, karena mereka masih hidup." ucap Gian tetap tidak terima jika Akira di katakan sudah meninggal.
Iya berlari ke tengah-tengah para jamaah yang sedang duduk melingkar, para jamaah sempat terkejut dengan pergerakan Gian seperti itu, mereka langsung waspada, takut Gian mengamuk dan mengancam keselamatan mereka semua, Namun apa yang dilakukan oleh Gian, ia mengambil foto Akira yang sengaja disimpan di tengah-tengah para jamaah yang dipakai sebagai simbol ia lah orang yang di doakan oleh para jamaah.
Gian mengambil foto itu lalu mendekapnya. "Istriku belum meninggal dia masih hidup, jangan lakukan ini kepadanya!" ucap Gian.
Erwin begitu geram melihat tingkah Gian, yang sudah seperti orang gila. Erwin menghampiri Gian lalu menariknya agar menjauh dari para jamaah.
Tentu saja Gian menolak dan memberontak, karena itulah semakin memicu amarah Erwin, "GIAN! Kesabaran ku sudah habis, sejak kemarin aku selalu diam melihat tingkahmu seperti ini, sadarlah dan terima kenyataan bahwa Akira dan bayinya sudah meninggal"
Baru saja Erwin selesai berbicara, sebuah hantam mendarat di wajahnya.
Blam …! Sebuah tinjuan Gian menghantam wajah Erwin
"Aaaah …!" Erwin kesakitan.
Seketika suasana menjadi ricuh karena ulah Gian.
"Kurang ajar kau!" pekik Erwin.
"Kau, yang kurang ajar, sudah ku bilang istri dan anak-anakku masih hidup beraninya kau berkata demikian," tegas Gian.
"Oke, jika istri dan anak-anakmu masih hidup dimana mereka sekarang, hah, tunjukkan, dimana mereka!" Gian diam tidak dapat menjawabnya
"Dengarkan aku, Giantha Mahendra! Sampai menangis darah pun kau berharap kehadiran mereka, itu tidak akan mungkin terjadi, sudah jelas semua bukti menyatakan bahwa istri beserta anak-anakmu telah meninggal, dan kamu juga tahu sendiri bukti kuat dan akurat dari cincin itu, sudah jelas terdapat sidik jari Akira, apa yang membuatmu membantah semua itu. hah!" emosi Erwin sudah memuncak.
__ADS_1
Sesungguhnya Erwin seperti memang sengaja ingin menyadarkan adiknya. Agar ia bisa membuka mata hatinya untuk dapat menerima kenyataan.
Tapi, tetap apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Erwin tidak berpengaruh sama sekali, tidak menggoyahkan sedikit pun keyakinan Gian bahwa Akira dan anak-anaknya masih hidup .