Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 87


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, mengiringi proses kebangkitannya Shafira dan Lucky dari keterpurukan. Sering itu pula membesarnya kandungan Akira.


Dan kandungan Akira kini telah menginjak usia 7 bulan.


Sesuai adat dan kebiasaan, sesuai rencana juga diusia tujuh bulan biasa digelar tasyakuran, agar calon ibu dan calon bayi mendapatkan keselamatan sejak dalam kandungan hingga tumbuh dewasa.


Dan semua perhelatan sudah rampung digelar, acara diselenggarakan secara sederhana sesuai keinginan Akira, dan bertempat di kediaman orang tua Akira.


Susunan acara sudah dirancang sedemikian rupa sesuai adat.


Tahapan dan Prosesi Acara 7 Bulanan


Sungkeman. Sungkeman menjadi tahapan pertama dalam acara 7 bulanan atau upacara mitoni. ...


Siraman. Siraman menjadi tahapan kedua dalam acara 7 bulanan. ...


Pecah telur. ...


Memutus janur. ...


Brojolan. ...


Pecah kelapa. ...


Mengganti busana dengan 7 jenis kain. ...


Menjual cendol dan rujak.


Semua  tamu undangan sudah hadir di tempat acara, hanya keluarga inti dan kerabat dekat yang diundang.


Lisa terlihat hadir dalam acara, ia datang bersama Erwin, karena setelah pertemuan tempo hari Erwin sering menemuinya di cafe tempat Lisa bekerja, mereka sering bertemu dan ngobrol bersama.


Sehingga hubungan mereka menjadi lebih dekat dan terlihat sudah akrab.


Namun belum ada kepastian dalam hubungan mereka, karena Erwin belum menyatakan cinta atau belum ingin serius dengan Lisa.


Erwin masih belum bisa melupakan cintanya kepada Akira, sehingga perasaannya masih bimbang untuk mencintai wanita lain.


Di acara tersebut Erwin memperkenalkan Lisa kepada kedua orang tuanya dan kepada Sisil - Putrinya.


Rima (babysitter Sisil )menatap Lisa dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


Sepertinya Rima merasa patah hati melihat Erwin membawa seorang wanita dan mengenakannya kepada keluarganya.


Sebenarnya selama ini dalam diam Rima menyukai Erwin, tapi Rima tidak berani untuk menunjukkan perasaannya, karena ia sadar betul siap dirinya, tidak akan pernah pantas bersanding bersama majikannya.


Rima juga berpikir Erwin tidak akan pernah menyukainya, sebab Erwin selalu cuek kepadanya meskipun mereka sedang berada dalam satu ruangan.


'Cantik sekali perempuan yang Tuan Erwin bawa, dia berkelas, sepadan dengan Tuan Ewin, ya tentu saja tuan Erwin memiliki selera tinggi seperti nona Akira karena ia seorang bos besar, Tampan dan gagah, mana mungkin dia mau sama aku, melirik pun dia tidak akan sudi.' batin Rima sambil melamun, merasa insecure.


Dan ketika itu Sisil menarik tangan Rima membuat Rima tersentak, karena merasa kaget di kejutkan oleh Sisil.


"Iya, Sisil ada apa sayang." Rima menyayangi Sisil sudah seperti anaknya sendiri.


"Mbak, menurut mbak Tante yang bersamaan papa itu siapa?" Sisil bertanya tentang Lisa kepada Rima.


Sisil ingin tahu kejelasan tentang perempuan itu.


"Emang kenapa, Sisil?" Rima balik bertanya mengapa Sisil bertanya seperti itu kepadanya.


"Apa itu pacarnya, Papi?" tanya Sisil lagi ingin memastikan.


"Mbak tidak tau, Sayang ... siapa dia, karena mbak juga baru melihatnya, memangnya kenapa dia cantik sekali ko. Ya mungkin saja dia calon ibu tiri mu." jawab Rima sambil menduga-duga.


"Tapi aku tidak suka kepadanya, Mbak." tegas Sisil.


"Loh … kan Sisil belum mengenalnya ko dah gak suka aja?" Rima merasa heran, Rima ingin tau apa alasan Sisil tidak menyukai Lisa.


"Nggak tau, pokoknya Sisil tidak suka kalau dia jadi pacar papi " tegas Sisil.

__ADS_1


Sifat Sisil memang seperti itu, jika tidak sudah tidak menyukai seseorang dari awal berkenalan, maka akan sulit bagi siapa pun untuk mendekatinya.


Karena Sisil akan menutup diri untuk di dekati, karena Sisil tidak merasa nyaman dengan orang tersebut.


Mendengar penuturan Sisil, Rima memiliki firasat buruk tentang hubungan Erwin dan Lisa, mereka akan mendapat halangan besar karena tidak mendapat restu dari Sisil.



Kini upacara adat dalam acara tujuh bulanan Akira segera dimulai dari berbagai rangkaian acara satu persatu dijalankan dengan lancar dan khidmat.


Para tamu juga menyaksikan dengan antusias.


Raut kebahagiaan terpancar dari wajah Akira dan Gian, tidak henti-hentinya bibir keduanya mengembangkan senyum, ketika acara berlangsung.


Sorak Sorai dari para tamu dan keluarga menambah kemeriahan acara.


Setelah semua rangkaian acara telah selesai di jalankan, acara dianggap selesai.


Dan kini tempat acara sudah mulai sepi para tamu sudah berangsur pergi meninggalkan tempat acara.


Tinggalkan keluarga terdekat yang masih berada di tempat acara.


Ketika menyaksikan prosesi acara tersebut Shafira tidak henti-hentinya berkhayal, seandainya dia tidak salah langkah mungkin kini dirinya yang berada di posisi Akira.


Harusnya ia lah yang merasakan kebahagiaan tersebut.


Shafira sungguh menyesali perbuatannya, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua penyesalan sudah terlambat.


Shafira sadar ketika Lucky merangkul pundaknya, bahwa ada Lucky yang sekarang sangat mencintainya.


Ia juga berpikir tidak akan mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya, ia harus menjaga hubungannya merelakan Gian dan Akira bahagia.


Meskipun hati kecilnya masih sangat mencintai Gian.


Sebenarnya perasaannya kepada Lucky hanya nafsu semata, dan karena ia tidak bisa mengendalikannya, akhirnya ia terjerumus dalam dosa dan itu merubah hidupnya.


Tapi kini ia berusaha memperbaiki semuanya, ia berusaha untuk mencintai Lucky seperti ia mencintai Gian, meskipun butuh proses yang cukup lama tapi ia akan tetap bertahan dengan pernikahannya sebab Lucky memang sangat mencintainya.


Shafira berusaha untuk ikhlas dalam menjalankan kehidupannya saat ini, meskipun ia berkhayal dan berandai-andai saat itu, tapi ia tetap ikut bahagia melihat Akira dan Gian bahagia.


...


Lisa mencoba untuk mendekati Sisil, tapi Sisil selalu menghindarinya.


Akira melihat jelas bahwa sikap Sisil tidak menyukai Lisa.


Akira merasa tidak enak hati kepada Lisa atas sikap Sisil kepadanya.


"Mbak …!" Teriak Sisil menghampiri Rima saat sedang membantu pekerjaan lain membereskan bekas acara.


"Ada apa, sayang." sahut Rima sambil memeluknya.


"Tante, itu selalu mengejarku …." tunjuk Sisil kepada Lisa, Sisil mengadu kepada babysitternya.


Dan Lisa mendekati keduanya untuk menjelaskan maksudnya agar tidak terjadi salah paham.


"Maaf mbak, jangan salah paham, saya cuma ingin berkenalan dengan Sisil." terang Lisa.


"Tapi aku tidak mau, mbak." rengek Sisil menolak enggan dipaksa dan meminta perlindungan dari bebysitternya.


"Maaf Nona, mendekati Sisil harus pelan-pelan, jika dipaksakan Sisil akan semakin menjauh dan akan merasa takut." Rima memberi tau Lisa.


"Oo begitu ya, tapi saya tidak memaksa, saya hanya ingin  berkenalan dan bertanya Sisil sedangkan apa, cuma itu ko, tidak lebih." Lisa mencoba menjelaskan apa yang ia lakukan.


"Iya, tapi buktinya Sisil ketakutan Nona." Ucap Rima penuh penekanan.


Lisa menjadi serba salah, "Oke, maafkan Tante ya Sisil, sayang …." Lisa merasa bersalah dan ingin mengelus kepala Sisil.


Tapi Sisil malah bersembunyi di balik tubuh Rima sambil menangis.

__ADS_1


Erwin yang melihat putranya menangis, segera menghampiri dan mereka menjadi pusat perhatian semua orang.


"Ada apa ini?" tanya Erwin.


Lisa menundukkan kepalanya sambil berucap, "Ini salahku, terlalu memaksa ingin berkenalan dengan Sisil, Sisil jadi ketakutan karena aku." Lisa mengakui kesalahannya.


Erwin mengelus kepala putrinya, lalu membujuknya agar jangan menangis dan tidak perlu takut dengan Lisa.


"Sisil sayang, Tante Lisa ini orang baik ko, jadi Sisil tidak perlu takut dengannya." bujuk Erwin.


"Tapi papi, aku tidak menyukainya."


"Tapi kenapa?" 


"Dia, pacar papi kan, pasti dia akan mengambil papi dariku." ternyata karena itu alasan Sisil tidak menyukai Lisa.


Erwin menatap Lisa, ia jadi bingung harus menjelaskan seperti apa, sedangkan di antara mereka memang belum ada ikatan apapun, hubungan mereka tanpa setatus.


Lisa hanya menunduk, ia sudah siap kecewa. Karena ia Sudah mewanti-wanti dirinya sendiri jika ingin dekat dengan pria ia sudah harus siap untuk kecewa, karena setiap perjalanan pasti ada batu sandungannya, pasti menemukan batu kerikil, entah itu membuat perjalanan tetap berjalan sampai tujuan, ataupun harus terjatuh sekalipun.


Akira menghampiri dan merangkul, pundak Lisa, "Sa … kamu tidak apa-apakan?" 


Lisa tersenyum kaku, "Aku tidak apa-apa ko." Lisa meyakinkan Akira yang mengkhawatirkan dirinya.


Akira juga mengelus punggung Sisil yang sedang digendong oleh papinya.


"Sisil … sayang, Tante Lisa ini temen antue baik, jadi dia sudah pasti baik ko." Akira ikut menyakinkan Sisil.


"Tapi dia pacaran Papi dan akan jadi ibu tiriku, aku gak mau punya ibu tiri." Sisil seperti trauma dengan kata ibu tiri.


"Loh … kenapa dengan ibu tiri?" 


"Ibu tiri itu jahat, kata mbak Rima juga." terang Sisil.


Semua mata tertuju kepada Rima, Karena menyangka Rima lah yang telah menghasut Sisil.


Rima menjadi gugup dan takut lalu mencoba menjelaskan.


Tapi Erwin dan semua orang merasa kecewa kepada Rima karena telah mempengaruhi anak sekecil Sisil.


"Bu-bukan seperti itu, se-sebenarnya Tuan, sa-saya bisa jelaskan sebelumnya." Rima gelagapan karena merasa di pojok oleh semua orang.


Tentu mereka percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sisil, karena Sisil masih anak kecil yang masih polos, dia juga selalu jujur dalam berucap.


Lagipula hanya Rima salah satu orang yang paling dekat dengan Sisil sedari Sisil masih bayi.


"Cukup, Rima … tidak usah menjelaskan apapun." Erwin tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Rima.


Ia segera berlalu meninggalkan tempat itu dan membawa Sisil bersamanya, dan menggandeng tangan Lisa.


Rima memaku sambil menundukkan kepalanya, hatinya sungguh sakit melihat sikap Erwin kepadanya.


Sekuat tenaga ia menahan air matanya yang sudah terbendung di kelopak matanya, agar tidak terjatuh depan banyak orang, karena kini ia masih berada di rumah orang tua Akira dan semua keluarga masih berkumpul di sana.


Hanya Erwin yang pergi membawa Sisil di ikut oleh Lisa.


Sebenarnya Akira juga merasa kecewa kepada Rima Karena telah menghasut Sisil seperti itu.


Tapi Akira lebih tidak tega lagi melihat Rima seperti itu, ia terlihat sangat sedih karena merasa tertindas.


Akira mendekatinya dan menguatkannya, "Jangan sedih mbak Rima kalau kamu memang tidak salah, kak Erwin seperti itu karena merasa kecewa." Akira mengelus pundak Rima.


"Nona Akira … tolong percaya kepada saya." pinta Rima sambil memelas.


"Saya bisa jelaskan yang sebenarnya." Lanjut Rima.


....


Akankah Akira mau mendengarkan penjelasan Rima? Dan apa yang akan terjadi kepada Rima?

__ADS_1


Simak cerita selanjutnya di bab berikutnya ...


__ADS_2